SEJENAK MENGHIBUR DIRI

September 30, 2015

Bismillah. Jujur ini mau curhat. Mau introspeksi & review kembali.
===
Sampai saat ini hati selalu gelisah. Kehidupan Ummat kita semakin terpuruk di segala sisinya. Ekonomi, agama, moral, sosial, sampai budaya. Jangan tanya lagi soal politik.
===
Kalau kualitas hidup buruk, nasib agama juga akan buruk. Ingat pesan Nabi Saw: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, dari Mukmin yang lemah.” Pasti sabda ini ada dong relevansinya dengan agama kita.
===
FAKTA: para Shahabat Nabi Saw, masing-masing sudah punya KEAHLIAN sebelum masuk Islam. Ada yang ahli perang, penyair, pedagang, juru tulis, diplomat, petani, produsen barang, dll. Ketika jadi Muslim, mereka langsung berkiprah sesuai keahlian masing-masing.
===
DEBAT dan sebagainya bukan sesuatu yang asing. Sejak SMA saya sudah aktif diskusi. Tapi kegelisahan besar, tentang kualitas Ummat terus menghantui. Ini apa? Mau ke mana? Kok begini? Bagaimana ke depan? Sangat menggelisahkan.
===
Bertahun-tahun saya buat blog. Misinya pencerahan. Ngajak berpikir lebih cerdas. Sampai pernah ada komentator yang meledek: “Kalau mau bikin perubahan, sana cari uang yang banyak!” Dia paham bahwa perubahan butuh biaya, tapi cuma meledek saja. Membantu tidak. Pahit tentu.
===
Banyak orang tidak mengerti: “Antum maunya apa dan ke mana?” Andai pun dijelaskan & mereka mengerti; belum tentu akan sepakat.
===
KONSEP saya sederhana. Mari kita jaga EKSISTENSI agama ini. Caranya: mari kita loyal pada Islam dan memperbaiki kekuatan diri kita. Tiga aspek kekuatan: wawasan ilmu, spiritual, dan ekonomi.
===
Kita menjaga agama ini dengan MEMBERDAYAKAN PRIBADI MUSLIM. Seperti umpama, negara-negara membentuk “garda nasional” untuk menjaga negaranya.
===
TAPI konsep ini terbentur beberapa masalah krusial yaitu: a. Realita Ummat kita yang sudah terkotak-kotak sangat kuat; b. Kecurigaan yang tiada habisnya; c. Ketidakpahaman akan konsep ini; d. Kelemahan daya dukung. JUJUR sekian lama hanya mampu sabar & sabar.
===
MAKNA konsep ini: Mari kita ngaji. Tapi jangan agama melulu. Mari “ngaji organisasi”, “ngaji fisik”, “ngaji media”, “ngaji mental”, “ngaji bisnis”, dan lain-lain. Polanya ngaji, tapi materi bervariasi. Unsur kekuatan dunia juga harus dibangun.
===
Keragaman bendera, jamaah, partai, organisasi; tidak menjadi masalah. Kita bisa kerjasama dan bantu-membantu. Bagi saya, memberdayakan orang NU, Muhammadiyah, PKS, FUI, Salafi, Mujahidin, atau siapa saja di antara Ummat Ahlus Sunnah; tidak masalah. Membantu mereka menguatkan SDM-nya, no problem. Karena diharapkan, nanti mereka akan MEMPERKUAT AGAMA ini lewat komunitas masing-masing.
===
Kalau kami menafikan kelompok-kelompok itu, siapa kami ini? Apa daya kami? Tapi kalau kita gontok-gontokan terus, kan gak baik. Buat apa? Gak ada manfaatnya. Maka itu KERJASAMA jadi jalan terbaik.
===
Kami ingin berbagi inspirasi-inspirasi pemberdayaan Muslim. Kami perkuat kader-kader muda Muslim; untuk nantinya dia berkiprah bagi Islam lewat lembaga (komunitas) masing-masing. Pesan kami: “Perkuat dirimu, lalu bantu agamamu!”
===
Ha ha ha…sudah kejauhan ya curhatnya. Tapi ini kami sudah terus terang bingits lho… Unik ya, ada “manhaj pemberdayaan”. Manhaj apaan Bro? Ha ha ha. Tapi jangan heran. Sebenarnya kaum Muslim selama ini juga aktif lewat proses PENDIDIKAN. Itu pemberdayaan juga kan.
===
Apa bedanya konsep pemberdayaan lewat jalur pendidikan dengan konsep kami? MUDAH saja. Ini independen. Tidak terikat Diknas, Depag, atau lembaga tertentu. Ini fokusnya MENDIDIK KADER PEDULI UMMAT. Cirinya: loyal ke Islam dan berdaya! Oh ya, kami suka terus terang. He he he.
===
BAIK deh… Segitu dulu. Nanti disambung lagi ea. Insya Allah. Ya Allah berikan kami taufiq untuk melaksanakan amanat agama-Mu. Amin ya Rauf ya Rahiim. Alhamdulillah…

(RainNight).

Iklan

Apresiasi Sikap Politik SALAFI…

Juni 7, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita harus mengucapkan syukur “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin” tatkala melihat sikap kepedulian saudara-saudara kita dari kalangan Salafi terhadap isu perpolitikan nasional. Banyak pihak tak menyangka, bahwa kalangan Salafi akan bersikap sedemikian terbuka dan bijaksana; karena selama ini kesan yang ada, mereka anti politik, mereka kurang memahami realitas, dan mereka cenderung menjauhkan diri dari isu-isu publik. Alhamdulillah, kesan negatif itu agak berubah.

Sikap para Salafiyun yang ikut mendorong partisipasi dalam pemilu 2014, serta mendukung salah satu kandidat dalam Pilpres Juli 2014, menunjukkan kepedulian mereka yang nyata terhadap masalah-masalah Ummat. Jika sebelumnya Salafi selalu identik dengan sikap “golput”, maka kini mereka banyak berbenah. Dalam pemilu April 2014 lalu, sebagian mereka memilih PKS, sebagian lain memilih partai-partai Muslim lain.

"Bijak Memandang Realitas Ummat"

“Bijak Memandang Realitas Ummat”

Seorang kawan PKS bercerita. Sehari atau dua hari sebelum Pileg 2014, dia didatangi seorang aktivis kajian Salafi. Orang itu secara jujur menanyakan bagaimana keadaan PKS, sikap politik, programnya, dan lain-lain. Setelah jelas yang ditanyakan, dia janji akan memilih PKS dalam pemilu. Hal ini sesuai anjuran Ustadz Firanda dan kawan-kawan dari Madinah. Tapi ada juga Salafi lain yang memilih partai lain, selama masih partai Muslim.

Sikap terbuka dan peduli ini tentu tidak sepi dari tanggapan dan reaksi di kalangan Ustadz Salafi lain, yang sebelumnya sudah merasa “standar” dengan pilihan golput-nya. Tak jarang timbul perselisihan dan rasa kekurang-percayaan akibat terbitnya fatwa Ustadz Firanda yang dianggap “lebih maju dari zaman-nya” itu. Tapi meskipun begitu, mereka tetap konsisten dengan pilihan politik, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Alasan terkuat kalangan Salafi menjadi peduli dengan isu-isu politik, justru dipantik oleh masuknya sejumlah kader-kader Syiah Rafidhah ke gelanggang politik, khususnya merapat ke PDIP. Selain itu juga karena banyaknya pengikut Liberal, aliran sesat lain, yang juga merapat ke PDIP. Para Salafi jelas tahu dengan sejelas-jelasnya, bagaimana kejahatan Syiah Rafidhah hari ini di Yaman, Bahrain, Suriah, Libanon, Irak, apalagi Iran. Kalau para Ahlus Sunnah menarik diri dari gelanggang politik, khawatir akan terjadi tragedi-tragedi serupa. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Di titik ini, menurut kami, sikap kawan-kawan Salafi lebih baik daripada Partai An Nuur di Mesir. Mengapa demikian? Karena Salafi menyelaraskan sikapnya dengan memperhatikan sikap kaum Muslimin lainnya; termasuk mencermati buku penyimpangan Syiah yang diterbitkan oleh MUI Pusat. Sedangkan di Mesir, Partai An Nuur justru berseberangan dengan banyak elemen-elemen dakwah Islam di sana.

Sekali lagi, apresiasi, kesyukuran, dan terimakasih untuk para IKHWAH Salafi di Nusantara. Barakallah fikum jami’an wa syukran jazakumullah khair. Demikian, alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).