Tahun Baru Imlek dan Tragedi Gambir

Januari 24, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita masih ingat, 26 Desember 2004. Waktu itu sehari setelah hari Natal. Bangsa Indonesia “dihadiahi” bencana alam paling dahsyat, yaitu gempa bumi dan terjangan Tsunami di Banda Aceh dan sekitarnya. Kini, di saat sebagian orang ramai-ramai merayakan Tahun Baru Imlek, 23 Januari 2012, terjadi KECELAKAAN TRAGIS yang belum ada duanya di Indonesia.

Seorang wanita pedugem, dengan mengendarai mobil Xenia warna hitam, dengan kecepatan sekitar 100 km/jam, dia membantai 9 nyawa manusia di sebuah trotoar, di dekat hakte Tugu Tani Gambir, Jakarta Pusat. Wanita pedugem yang bernama Afiyani Susanti itu kemudian diketahui sedang teler akibat miras dan narkoba (ekstasi). Orang teler mengendarai mobil, jelas sangat fatal akibatnya.

Bukan Sekedar Tradisi, Tapi Tradisi Kemusyrikan.

Ini adalah kecelakaan yang sangat tragis. Dalam sebuah aksi pengeboman oleh pelaku terorisme, belum tentu jatuh korban sampai 9 orang. Namun ini, seorang wanita pedugem dan kawan-kawan, terbukti “sukses” memulangkan manusia ke alam baka secara instan.

Kalau di Saudi, seorang sopir mobil secara tidak sengaja menabrak manusia, sampai wafat, akibatnya dia akan dijatuhi hukuman denda uang sangat mahal. Bisa miliaran rupiah. Bayangkan, dendanya sama dengan nilai 100 ekor onta. Kalau seekor onta seharga 15 juta rupiah, maka dia harus mengeluarkan uang senilai 1,5 miliar. Kalau korbannya lebih dari satu, lebih tinggi lagi.

Dalam konteks hukum Islam, pelaku penabrakan seperti Afriyani Susanti itu bisa dihukum mati. Alasannya, dia menabrak manusia sampai mati, setelah mengendarai mobil sangat cepat di lingkungan ramai, dan dia mengendarai dalam keadaan teler (akibat pengaruh miras dan narkoba). Orang seperti ini bisa dianggap “telah sengaja” membunuh manusia. Apalagi korbannya hingga 9 jiwa manusia. Lazimnya orang lagi teler, dia tidak boleh menyentuh kendaraan sedikit pun. Sebab sudah dimaklumi, para pengendara mabuk sangat mengancam jiwa manusia yang lain.

Kalau hari Natal 2004 selalu diingat manusia karena berdekatan waktunya dengan Tragedi Tsunami di Aceh; maka Tahun Baru Imlek tampaknya perlu diingat-ingat dengan KECELAKAAN TRAGIS di Tugu Tani Gambir.

Sebagai manusia Muslim, kita sangat mual melihat perayaan Imlek yang kian hari kian ramai itu. Di era Soeharto, tidak pernah ada perayaan Imlek. Namun di zaman Abdurrahman Wahid -semoga Allah membalas perbuatannya dengan hisab sempurna- dia buka keabsahan perayaan Imlek tersebut. Padahal sudah dipahami oleh setiap Muslim, tradisi China itu sangat dekat dengan warna-warna kemusyrikan.

Lihat saja, setiap Imlek dirayakan, orang-orang China datang ke kuil-kuil (klenteng). Mereka menyalakan hio, menghiasi rumah dengan lampion, bagi-bagi angpao, membakar petasan, ucapan ‘Gong Xi Fat Chai’, membuat parade Barongsai mengitari jalan-jalan, dan aneka macam tradisi; yang kesemua itu memiliki MAKNA SPIRITUAL menurut mitos yang mereka yakini.

Kegiatan-kegiatan ritual itu, menurut mitos China, tujuannya untuk mengusir roh-roh jahat; mengusir unsur-unsur sial; mendatangkan rezeki dan kemakmuran lebih melimpah-ruah. Bahkan mereka menjuluki setiap tahun dengan binatang-binatang tertentu; lalu meramal kehidupan di tahun itu dengan mitos Shio tersebut.  Semua ini adalah ajaran yang tidak ramah terhadap kemurnian Tauhid Ummat.

Tradisi China pekat dengan nilai-nilai paganisme (kemusyrikan). Disana ada keyakinan dewa-dewa, Feng Shui, Hong Shui, ideologi Tao, Konfusian, teologi Budha, dan lainnya. Hal-hal demikian saat merusuhi keyakinan Tauhid setiap Muslim. Ketika di TV ada banyak simbol-simbol Imlek, kami melarang anak-anak kami melihatnya. (Masih lebih baik nonton Shaun The Sheep, daripada melihat simbol-simbol paganisme itu).

Menurut ajaran Islam, peringatan Hari Raya Imlek tidak berbeda dengan perayaan Hari Natal. Keduanya sama-sama simbol agama dan peradaban kaum non Muslim. Semua itu haram didukung atau dirayakan oleh setiap Muslim. Dalil-dalilnya sama dengan larangan ikut merayakan Hari Natal.

Kalau di negeri kita semakin ramai dan meriah merayakan hari-hari paganisme ini, ya alamat banyak bencana dan masalah bakal terjadi. Untuk sementara, Tragedi Tugu Tani di Gambir sebagai “DP”-nya. Nanti, akan menyusul tragedi-tragedi lain, selama hari kemusyrikan dimeriahkan di negeri-negeri kaum Muslimin. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa li sa’iril Muslimin.

Turut berduka atas wafatnya kaum Muslimin di halte Tugu Tani Gambir. Semoga setiap yang wafat diampuni oleh Allah, diberikan tempat yang luas di alam barzakh. Semoga keluarga korban diberi ketabahan, diberi pertolongan berupa rizki dan ketenangan. Semoga Allah menggantikan untuk mereka anugerah dan karunia yang lebih baik. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

 

AM. Waskito.