Lebih Bijak Memahami Posisi Pejuang Suriah (Piagam Kehormatan Revolusi)

Mei 24, 2014

Alhamdulillahi Rabbil’alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram wa sallim ‘alaihim ajma’in. Amma ba’du.

Baru-baru pimpinan Jabhah Islamiyah Suriah, Syaiikh Hassan Aboud dan sejumlah pimpinan faksi pejuang Islam Suriah menanda-tangani teks yang disebut “Piagam Kehormatan Revolusi”. (Isi teks ini dapat dibaca pada edisi terjemahan berikut: http://www.kiblat.net/2014/05/22/tokoh-jihad-nilai-piagam-jabhah-islamiyah-diintervensi-asing/).

Setelah teks piagam ini beredar, segera mendapat tanggapan dari faksi-faksi Mujahidin, khususnya Jabhah Nushrah dan para pemimpin Jihad internasional. Jabhah Nushrah adalah sebuah gerakan Jihad Islam, telah banyak berjasa bagi Ummat ini, telah berkorban habis-habisan dalam membela Ummat di Suriah. Mereka pantas bereaksi, pantas bersikap, dan alhamdulillah pernyataan sikapnya sangat baik, tidak keluar dari ranah Syariat Islam. (Isi teks tanggapan Jabhah Nushrah bisa dibaca pada edisi terjemahan ini: http://muqawamah.com/penjelasan-sikap-jabhah-nushrah-terhadap-piagam-kehormatan-suriah.html).

Munculnya “Piagam Kehormatan Revolusi” ini bila dipahami secara tekstual, bisa menimbulkan kerugian bagi para Mujahidin, baik di Suriah atau Mujahidin secara umum. Minimal akan membuat perpecahan yang ada selama ini semakin membesar. Oleh karena itu sebaiknya kita memandang isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu dalam bingkai yang lebih luas; terutama berusaha menangkap pesan-pesan tidak langsung darinya.

"Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!"

“Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!”

Mari kita mulai melihat makna “Piagam Kehormatan Revolusi” ini lebih bijaksana…

[1]. Posisi Jabhah Islamiyah (di bawah pimpinan Syaikh Hassan Aboud) selama ini cukup terjepit. Mereka berada di antara dua titik berbeda, yaitu Jabhah Nushrah yang berangkat dari Irak dan kaum Muslimin Ahlus Sunnah asli Suriah. Saat Jabhah Islamiyah menandatangani piagam tersebut, bukan berarti meninggalkan Jabhah Nushrah atau membuat jarak dengannya; bukan sama sekali. Posisi Jabhah Islamiyah di sana adalah sedang dikelilingi oleh para pejuang asli Suriah yang sedang mengajukan banyak tuntutan dan tekanan. Hal demikian harus dimaklumi.

[2]. Di antara isi piagam itu memang ada yang terkait dengan posisi Jabhah Nushrah. Hal ini janganlah dipandang sebagai sikap ashabiyah kebangsaan atau kesukuan. Tapi seolah memberikan pesan, pihak-pihak internal pejuang Ahlus Sunnah di Suriah, ingin lebih dihargai, ingin memikul peran lebih besar, atau menginginkan agar Jabhah Nushrah lebih mengerem mobilitasnya. Tidak mungkin mereka menolak atau bersikap buruk kepada Jabhah Nushrah, karena memang sejak awal mereka sangat membutuhkan keberadaan para pejuang Islam dari negeri lain.

[3]. Lahirnya piagam tersebut tak bisa dipisahkan dari kejadian tragis yang menimpa mujahid Jabhah Islamiyah, Abu Miqdam rahimahullah wa taqabbalallah fihi. Tersebarnya informasi penyembelihan Abu Miqdam yang dikenal sebagai “Qanaz Dababat” sangat mengguncang para Mujahidin Suriah. Khususnya para Mujahidin Jabhah Islamiyah. Di sini muncul berbagai ketidak-percayaan mereka kepada jamaah Daulah (ISIS) dan pihak-pihak yang masih berhuhungan dengannya. Sementara itu para pejuang Suriah sangat tahu bagaimana komunikasi balas-balasan tulisan yang terjadi antara Dr. Aiman Al Zhawahiri dan juru bicara ISIS selama ini. Di sana mereka melihat, bahwa Jabhah Nushrah sedikit atau banyak masih terkait dengan ISIS. Hal itu mulai membuat kepercayaan para pejuang Mujahidin Suriah mulai melemah, meskipun mereka juga tahu bahwa Jabhah Nushrah juga sama-sama diperangi oleh tentara ISIS. Potensi fitnah ini bisa diselesaikan dengan cara pembicaraan langsung ke pimpinan-pimpinan Mujahidin Suriah, jangan melalui media. Para pejuang senior Mujahidin perlu turun untuk membendung fitnah akibat terbunuhnya Abu Al Miqdam ini.

[4]. Perlu diketahui juga, negeri Suriah berbeda dengan negeri Muslim yang lain. Mereka selama puluhan tahun ditindas oleh rezim minoritas Nushairiyah. Mereka tetap Sunni,tapi diitindas oleh minoritas Syiah. Hal ini menimbulkan kekuatan perlawanan secara luas di masyarakat Suriah, hanya saja perlawanan diam-diam. Maka itu saat terjadi konflik, banyak sekali faksi-faksi Jihad muncul dari negeri ini. Keadaan demikian berbeda dengan situasi di negeri-negeri Muslim lain ketika Jihad berkumandang, hanya kelompok Mujahidin saja yang relatif sibuk. Perlu diingat, sejak era Hafezh Assad gerakan Jihad sudah berkembang di Suriah, bersama Ikhwanul Muslimin. Bahkan mereka itu aktif berhubungan dengan kelompok perlawanan Hamas di Palestina. Maka cara kita mendekati kancah peperangan di negeri ini harus berbeda dengan negeri-negeri lain. Intinya, perlu menjaga perasaan dan kehormatan saudara yang sejak lama tumbuh di negeri perjuangan.

[5]. Selain itu, isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu juga terkait sikap kelompok-kelompok Jihad Suriah terhadap gerakan ISIS. Secara jelas di sana disebutkan, mereka bereaksi keras terhadap klaim murtad yang dilontarkan oleh ISIS terhadap para pejuang dan rakyat Suriah yang tidak mendukung dirinya. Secara basa-basi jubir ISIS, Abu Muhammad Al Adnani, menolak bahwa ISIS mengkafirkan kaum Muslimin. Tapi dalam statement yang berjudul “Udzran ya Amir Al Qa’idah” jelas-jelas mereka mengkafirkan negeri-negeri Muslim Arab, Mesir, dan lainnya; bahkan berniat memerangi semua itu di bawah seorang Khalifah. (Menaklukkan Nuri Al Maliki saja belum bisa, tapi mau memerangi Jazirah Arab, Mesir, Afrika, dan lainnya?). Presiden Mursi saja mereka sebut murtad. Al Adnani tak segan-segan menyebut Jabhah Islamiyah dengan sebutan “Jabhah Laa Islamiyah”. (Ada yang aneh. Al Adnani menyebut pihak tertentu sebagai kelompok “Sururiyah”; di sisi lain mereka mencela pemerintah Saudi sebagai Ibnu Salul. Padahal yang mula-mula mengenalkan istilah “Sururiyah” itu adalah ulama-ulama dukungan pemerintah Saudi. Mana ada ulama Ahlus Sunnah sedunia yang peduli dengan istilah “Sururiyah” selain yang pro pemerintah Saudi? Ini adalah fakta kecil yang bisa bermakna besar). Di titik seperti inilah banyak pihak menyimpulkan perkara khawarij pada diri mereka. Para pendukung ISIS tidak boleh marah atau mengingkari, karena ia jelas-jelas disebutkan juru bicara ISIS dalam pernyataannya. Bahkan pernyataan itu disiarkan di berbagai media pendukung, termasuk di Indonesia. Adanya pernyataan-pernyataan Al Adnani itu harus disyukuri, karena ia memperjelas posisi ISIS di mata kaum Muslimin. Menjadi hak kaum Muslimin Suriah untuk membela diri, karena dalam hadits shahih dijelaskan, siapa yang wafat karena membela harta, agama, keluarganya, dia mati dalam keadaan syahid.

[6]. Adalah suatu reaksi yang bisa dimaklumi tatkala para pejuang Suriah melancarkan perang kepada ISIS, meskipun mereka sendiri sedang diperangi Nushairiyah. Mengapa demikian? Karena selama ini mereka telah ditindas secara kejam oleh Basyar Assad, lalu mereka berjuang ingin bebas, ingin lepas, ingin merdeka dari penindasan. Tapi anehnya, saat mereka sedang berjuang melawan rezim Assad, tiba-tiba datang “penindas” lain dari arah Irak. Pakaian dan simbol mereka seperti Mujahidin, tapi maksud dan tujuan untuk menguasai negara Suriah. Kalau diumpamakan begini: Bangsa Indonesia sedang berjuang mengusir Belanda, lalu tiba-tiba datang pasukan dari Malaysia, seragam dan simbolnya sama seperti pejuang kita; tapi maksud kedatangan mereka untuk menjajah Indonesia, menggantikan Belanda. Di sini Anda bisa memahami perasaan masyarakat Ahlus Sunnah di Suriah? Mungkin ada yang akan membantah, “Jangan terpaku pada konsep batas negara menurut Sykes Picot. Lemparkan itu ke tong sampah!” Jika demikian, kami balik bertanya, “Memang batas negara ISIS itu sendiri seperti apa? Apakah ISIS punya tapal batas yang jelas? Bagaimana petanya? Bagaimana bukti penguasaan mereka atas wilayah dalam peta itu? Bagaimana wujud pemerintahan di sana?” Andaikan ISIS punya tapal batas yang benar-benar jelas, diakui oleh kawan dan lawan; apakah adil ketika mereka datang ke Suriah lalu bermaksud merebut wilayahnya, lalu memaksa rakyatnya berbaiat kepadanya? Apakah tidak sebaiknya ISIS membantu rakyat Suriah lebih dulu untuk membebaskan diri dari penindasan rezim Assad, baru setelah itu mereka memberi pilihan kepada rakyat Suriah untuk mendukung ISIS atau mandiri? Andai perjuangan ISIS di Suriah sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin di sana, pastilah mereka dengan rela akan mendukung kelompok itu. Inilah yang selalu dipertanyakan Ummat selama ini, ISIS mengklaim sebagai Daulah Islamiyah tapi tidak jelas batas dan bentuknya.

[7]. Bagi setiap Mukmin pasti sangat mendambakan sebuah Daulah Islamiyah seperti di masa-masa sejarah Islam yang sudah berlalu. Banyak gerakan-gerakan Islam modern dibangun untuk tujuan ke sana, meskipun caranya berbeda-beda. Namun Daulah ini tentulah suatu tatanan pemerintahan dan masyarakat yang membawa rahmat di muka bumi. Mereka membuka diri dari seluruh Muslim untuk berhijrah kepadanya; mereka mencintai kaum Muslimin dan tidak menuduhnya murtad; mereka menjanjikan pertolongan bagi setiap Muslim, bukan ancaman diperangi; mereka memberi keamanan dan keselamatan, bukan menebar pembunuhan, kekejaman, intimidasi; mereka menghargai kesepakatan dan perjanjian, bukan mau menang sendiri; mereka bertanggung-jawab penuh atas kesejahteraan, keamanan, dan kehidupan Umat; mereka mencintai para pejuang,memberi perlindungan, membantu keperluan, bukan memurtadkan pejuang, membunuhnya, lalu mempertontonkan kekejaman di hadapan manusia; mereka mendukung perjuangan Jihad bukan memporak-porandakan persatuan para Mujahidin; mereka memberi solusi, bukan memperparah keadaan. Kalau gambaran Daulah yang muncul itu penuh masalah, jauh dari karakter Daulah Nabawiyah; jangan salahkan kalau umat manusia meremehkan Daulah itu.

[8]. Tentang keadaan faksi-faksi Mujahidin Suriah sendiri, bisa jadi kondisi mereka saat ini sangat membutuhkan dukungan logistik, peralatan, pendanaan, dukungan politik, dan sebagainya dari internal bangsa Suriah maupun berbagai negara Muslim. Bisa jadi mereka melihat proses konflik di Suriah ini masih panjang, dibutuhkan sangat banyak bekal dan modal. Untuk itu mereka berusaha meraih simpati internal dan eksternal dengan tidak memperlihatkan permusuhan yang tegas terhadap konsep-konsep manusia seperti nasionalisme, demokrasi, sekularisme. Hal ini dipandang sebagai upaya politik, bukan sikap akidah. Betapapun faktanya negeri Suriah saat ini sudah hancur-lebur; para penduduk Suriah kehilangan negeri mereka seperti dulu; untuk membangun negeri ini kembali –sebagai suatu perkara yang memotivasi perjuangan bangsa Suriah saat ini- dibutuhkan tentusaja uluran tangan banyak pihak. Jika hanya mengandalkan modal dan kekuatan para Mujahidin, bisa jadi ada rasa kurang percaya dari diri sebagian pejuang Suriah.

[9]. Kalau dicermati tujuan “Piagam Kehormatan” ingin mencapai negara yang bebas dari penindasan, berdaulat, berkeadilan. Hal ini sebenarnya merujuk kepada konsep-konsep kenegaraan Islam, hanya dibahas dengan ungkapan yang bersifat umum. Bukankan setiap negara berdasar Syariat Islam diharamkan penindasan, rakyatnya merdeka, dan keadilan terlaksana di sana? Hal-hal demikian mesti dibaca sebagai kalimat diplomasi, bukan akidah sekuler. Tidak mungkin para pejuang Islam akan menggadaikan keyakinan dengan kekuasaan sekularisme. Mereka tidak perlu berjuang sebagai Mujahidin jika tujuannya sekularisme.

[10]. Juga perlu dipahami posisi gerakan Ikhwanul Muslimin di Suriah, sebelum pecah konflik dan sesudahnya; kemudian dikaitkan dengan posisi IM di Timur Tengah secara umum. Jabhah Islamiyah diyakini banyak didukung oleh para pejuang Al Ikhwan. Bahkan disebut-sebut, mereka adalah putra-putra para pejuang Islam di era Hafezh Assad di masa lalu. Al Ikhwan saat ini menghadapi tekanan sangat hebat dari pemerintah Saudi, Mesir, UEA, Bahrain, Israel, dan lainnya. Syaikh Al Qaradhawi sampai pindah ke Tunisia, setelah posisi Al Ikhwan di Qatar terdesak. Faksi-faksi Jihad yang berafiliasi ke Al Ikhwan di Suriah berada pada posisi sulit. Maka itu, satu sisi mereka terus mendukung perjuangan untuk menggulingan Bashar Assad, di sisi lain mereka tidak mau membuat musuh baru dari negara-negara di Timur Tengah dan lainnya. Kebijakan pemerintah As Sisi di Mesir benar-benar membahayakan posisi Al Ikhwan, terutama setelah penangkapan tokoh-tokoh seniornya. Bukan hanya itu, asset kekayaan, saluran dana, komunikasi, dll. juga banyak dibekukan. Kalau dikatakan lahirnya piagam itu karena “tekanan eksternal”, mungkin saja. Sebab bagaimanapun, yang berjasa memperpanjang umur gerakan perlawanan Suriah, sebagian besar dari luar.

Demikian, semoga pandangan seperti ini bisa memberikan nuansa lebih bijak tatkala kita melihat realitas perjuangan di bumi Syam yang diberkahi Allah dan didoakan Sayyidul Mursalin SAW. Amin Allahumma amin. Terimakasih.

(Mine).

Iklan