Apakah ESQ Sesat?

Juli 20, 2010

Pelatihan ESQ yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian sedang menghadapi tekanan hebat. Pasalnya, seorang Mufti Persekutuan di Malaysia,  Datuk Hj. Wan Zahidi Bin Wan Teh, menyatakan program ESQ sesat dan haram diedarkan di Malaysia. Setidaknya tidak disebarkan di wilayah Kuala Lumpur, Putra Jaya, dan Labuan. Daerah ini adalah domain fatwa Mufti Persekutuan, Datuk Wan Zahidi.

Dalam situs mui.or.id seperti mengutip berita dari harian Surya, disebutkan artikel berikut: Ulama Malaysia : ESQ Ginanjar Sesat. Berikut alasan penyesatan yang ditempuh oleh Mufti Malaysia:

(1)   ESQ dinilai mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Alquran dan As-Sunnah secara bebas. ESQ mengajarkan pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah benar dan sama.

(2)   ESQ juga dinilai menganggap para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini bertentangan dengan akidah Islam soal Nabi dan Rasul.

(3)   ESQ dituduh telah mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat ESQ menekankan konsep ’suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruk suatu perbuatan.

(4)   ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Alquran dan Hadis. Mukjizat juga tidak dipandang di ESQ karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang serba logik.

(5)   ESQ dinilai salah karena menggunakan Kod 19 rekaan dari Rasyad Khalifah untuk menafsirkan Alquran. Rasyad Khalifah mengaku sebagai rasul dan membawa agama baru yang dinamakan ’submission’. Teori ini bahkan dipandang lebih tinggi dibanding Alquran.

(6)   ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam dengan ajaran Bushido Jepang. ESQ dianggap telah menafsirkan makna kalimat syahadat dengan triple one. Menurut Mufti, itu adalah tafsiran bid`ah dan sesat.

Masalah menjadi menarik ketika manajemen ESQ mengklaim bahwa program pelatihan mereka sudah dinyatakan HALAL atau TIDAK SESAT oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Manajemen ESQ pernah menyantumkan link download hasil rekomendasi dari DDII. Mereka juga mencantumkan pernyataan dari KH. Amidhan Shabirah, salah seorang Ketua MUI Pusat.

Namun belakangan, DDII memberikan klarifikasi, bahwa DDII tidak pernah memberi rekomendasi resmi kepada ESQ. Kalaupun ada, ia bersifat pribadi, oleh salah seorang pengurus DDII, bukan oleh board DDII sendiri. Pernyataan DDII disampaikan di situs eramuslim.com. Lihat tulisan ini: Pernyataan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat tentang Rekomendasi untuk ESQ.

Pelatihan ESQ Dipersoalkan di Malaysia.

Semula saya sudah merasa tenang dengan adanya fatwa DDII dan MUI tersebut. Ternyata kemudian ada koreksi. Wah, jadi bertanya-tanya lagi tentang status pelatihan ESQ tersebut. Ustadz Muhammad Al Khatthat dari FUI baru-baru ini memberi pernyataan, “Jika memang benar ada penyimpangan ajaran Islam di dalam pelatihan ataupun buku-buku ESQ, maka perlu di luruskan oleh para ulama. Wajar jika ada ulama yang mengkoreksi, dan justru salah besar jika ulama mendukung kesesatan.” Sedianya, Ary Ginanjar akan diundang dalam diskusi FKSK yang rutin digelar oleh FUI setiap bulannya. Disana akan diundang juga Datuk Wan Zahidi.

Jadi intinya, pelatihan ESQ belum “bisa lolos” dari penyelidikan para ahli dan pakar Islam. Diperlukan tinjauan yang lebih teliti lagi. Siapa tahu, selama ini kaum Muslimin di Indonesia terlalu terlena, sehingga tidak peka dengan unsur-unsur kesalahan seperti yang dikatakan oleh Datuk Wan Zahidi itu.

PANDANGAN PRIBADI

Terus terang, saya tidak mengerti banyak tentang ESQ ini. Saya belum pernah mengikuti pelatihan ESQ, kecuali pelatihan amatir yang pernah diadakan sebagian anggota ESQ. Itu pun terjadi sekitar tahun 2005-2006 lalu. Ada buku best seller Ary Ginanjar tentang ESQ. Tapi entahlah, ada rasa enggan untuk membacanya. Di mata saya, pokoknya tahu tentang ESQ secara global. Dari sisi perincian, sulit diandalkan.

Tetapi kalau membaca alasana-alasan yang disebutkan oleh Mufti Persekutuan Malaysia tersebut, ada rasa kaget luar biasa. Benarkah kesalahan ESQ sampai sedemikian parahnya? Jika benar seperti itu, berarti memang ESQ tidak halal untuk disebarkan dimanapun, tidak di Indonesia atau di Malaysia. Tetapi pihak yang mengangkat fatwa harus memberikan bukti-buktinya.

Sungguh, kalau pihak Datuk Wan Zahidi memiliki bukti-bukti kuat bahwa pelatihan ESQ mengandung unsur-unsur seperti yang beliau katakan, itu adalah bencana. Maksudnya, bencana bagi kaum Muslimin di Indonesia-Malaysia yang selama ini memakai program ESQ. Pelatihan seperti itu sama saja dianggap telah menyebarkan “ajaran JIL” secara halus melalui program-program pelatihan motivasi. Ya disebut bencana, sebab selama ini kita memandang pelatihan ESQ baik-baik saja. Dianggap tidak ada masalah.

Tetapi semua itu butuh bukti yang kuat, bukan klaim palsu, niat kedengkian, atau sengaja ingin menyebarkan fitnah di kalangan Ummat. Mufti Persekutuan Malaysia harus membuka bukti-buktinya, agar bisa dikaji dan dinilai oleh para ahli Islam. Jika tidak demikian, masalah ini akan menjadi fitnah, dan tentu sangat merugikan Ummat. Bagus sekali jika FUI berniat membuat diskusi khusus sepertar masalah ini.

Pihak manajemen ESQ harus legowo. Mereka tidak boleh membela diri dengan cara-cara yang tidak substansial. Misalnya, menyebut jumlah Mufti Malaysia yang pernah ikut program ESQ, menyebut Mufti Persekutuan belum pernah bertemu dengan pihak ESQ, mereka mengklaim memiliki Panel Syariah, atau mereka membawa legitimasi dari surat pribadi tokoh-tokoh tertentu. Jawaban board ESQ harus SUBSTANSIAL, ke inti alasan penyesatan itu sendiri.

Kalau secara substansi ESQ tidak memiliki materi/ajaran seperti yang dituduhkan, hendaklah mereka tenang saja. Insya Allah, kaum Muslimin akan membela ESQ, jika program ini sesuai Syariat Islam. Namun jika secara substansi program ESQ memang bermasalah, mereka harus segera merombak ajaran-ajaran itu. Tak ada pilihan lain. Konsep ESQ harus di-halal-kan dulu, sebelum disebar ke khalayak kaum Muslimin.

Kini kita tunggu klarifikasi dari Datuk Wan Zahidi bin Wan Teh, tentang bukti-bukti di balik fatwa mereka. Kata Nabi Saw, “Orang yang menuduh harus menunjukkan bukti-bukti, sedang yang menyangkal tuduhan harus membawa saksi (bahwa dirinya benar).”

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan