Itu Lho, Lady Gaga & Irshad Manji…

Mei 21, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sungguh dalam soal Lady Gaga & Irshad Manji, saya tidak memiliki banyak catatan informasi. Dalam sebuah diskusi internal sampai saya meminta seorang kawan menjelaskan, “Ada apa dengan Irshad Manji?” Kayaknya…pertanyaan yang kuper banget ya. Maklum sih, sudah lelah mengikuti berita-berita media. Kata orang…sudah cuaaaapek!

Tertarik untuk ikut berkomentar, karena memang isu “Lady Gaga & Irshad Manji” ini sudah sebegitu populer dan gegap gempita. Klas beritanya, mengalahkan kehebohan kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak. Siapa tahu, dengan sedikit goresan kecil ini, bisa memberikan taste berbeda.

Mari kita lihat…

“Enalin…owe Lady Gagak sejati, gitu.”

[1]. Kaum Muslimin di Nusantara ini seperti tidak berdaya. Kita selama ini selalu menjadi “konsumen isu” begitu gembul dalam menelan setiap isu-isu yang beredar. Kita belum sampai ke taraf: “analis isu”, “pemicu isu”, atau “regulator isu”. Kita baru sampai di tingkat “konsumen isu”. Selama bertahun-tahun, utamanya sejak Reformasi (atau sejak tahun 2000-an), kita selalu menjadi “sasaran permainan isu”. Jarang sekali kaum Muslimin menjadi “kreator isu“; apalagi sampai menjadi “regulator isu“. Dalam isu seputar Irshad Manji dan Lady Gaga, lagi-lagi kita menjadi “konsumen isu”. Begitu terus. Setiap ada isu baru, kita akan menggumulinya, tanpa tahu jelas kemana arah isu bergulir dan bagaimana mengambil manfaat dari beredarnya isu tersebut.

[2]. Publikasi Lady Gaga & Irshad Manji yang berlebihan, tak lepas dari bisnis media yang memang sangat butuh isu. Media-media berita (termasuk TV), mereka sangat butuh isu seperti itu, untuk mendapatkan nafkah. Termasuk eksploitasi pemberitaan Sukhoi juga untuk tujuan cari iklan. Ya di zaman seperti itu tidak usah basa-basilah, akui saja secara jujur. Seiring terjadinya kemelut-kemelut sosial, apapun masalahnya, ada yang merasa berduka, tetapi bagi orang-orang media itu adalah “rizki jariyah” (rizki terus mengalir, selama masih ada masalah sosial).

[3]. Ada yang mengatakan, blow up kasus Lady Gaga & Irshad Manji, tidak lepas dari upaya menutupi kasus korupsi seorang pimpinan partai politik, yang kasusnya sedang didalami oleh KPK. Senyampang semua mata dan kesadaran melihat isu Lady Gaga dan Irshad, maka kasus korupsi ketua partai politik berwarna biru itu terlewat dari pandangan. Benar kan?

[4]. Ummat Islam mestinya jangan terus menjadi “pemakan isu”. Janganlah… Sampai kapan kita akan jadi bulan-bulanan isu media. Kita ini harus bersatu dan punya agenda bersama; lalu menjalankan agenda itu secara bertahap; lalu konsisten dengan agenda itu sampai membuahkan hasil. Adapun soal mengomentari isu ini dan itu, serahkanlah kepada ahlinya. Jangan semua kesadaran, pikiran, kekuatan, emosi, dicurahkan semua disana. Nanti kapan proyek-proyek pembangunan Ummat akan kelar, kalau pikiran kita terbawa terus oleh isu-isu seperti itu?

[5]. Sebenarnya, kalau ada isu-isu negatif, pikiran kita jangan melulu tertuju ke obyek itu (seperti Lady Gaga dan Irshad Manji). Mereka ini kan layaknya pion-pion (figuran); di belakang mereka ada tangan-tangan kuat yang bermain. Mestinya perhatian kita juga diarahkan ke “kekuatan di balik layar” itu. Salah satunya adalah hegemoni media. Saya yakin, masalah Lady Gaga dan Irshad Manji itu akan sangat kecil; kalau tidak dibesar-besarkan oleh media. Jadi, saat kita “berperang” menghadapi Lady Gaga dan Irshad Manji, sebenarnya kita sedang berperang menghadapi “gelombang opini” yang berhasil diproduksi oleh media-media massa (khususnya TV) yang membesar-besarkan kedua obyek itu (Lady Gaga dan Irshad Manji). …tapi jangan pula nanti arah pikiran kita jadi masuk ruang labirin seperti ini: “Nah, makanya sudah saatnya kita punya TV sendiri. Mari kita bangun TV Islami yang lebih baik dari TV-TV sekuler itu.” Jangan begitu berpikirnya, sebab hal itu sudah ribuan kali dipikirkan kaum Muslimin di negeri ini, dan faktanya hasilnya nihil. Jangan bermimpi pengusaha-pengusaha Arab akan menggelontorkan investasi untuk membangun TV Islami; sebab mereka sudah sibuk membeli klub-klub bola di Inggris. Solusi counter media tidak melulu membuat TV Islami (apalagi kalau kita tidak ada uang untuk membuatnya). Ummat Islam mestinya berpikir kreatif tentang cara-cara menghadapi hegemoni media.

[6]. Ada kemiripan pesan yang dibawa oleh Lady Gaga maupun Irshad Manji, yaitu: konfrontasi terbuka dan terang-terangan terhadap nilai-nilai MORALITAS manusia (khususnya sesuai ajaran Islam). Kampanye-kampanye Homoseks, Gay, Lesbian, marak dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berkaitan dengan perang KONTRA MORAL yang dijalankan agen-agen Zionisme (Freemasonry). Bahkan sebutan “Kiamat 2012” itu seperti sebuah simbolisasi agressi kontra moral yang sangat massif, dimulai tahun 2012.

[7]. Bagaimanapun juga, jangan putus-asa terhadap makar manusia-manusia anti Allah dan Rasul-Nya. Jangan putus-asa. Sehebat-hebatnya makar Zionisme, nanti ujungnya juga akan runtuh. Kaum Zionis pada dasarnya sangat tahu “jadwal sejarah” itu; tapi mereka berusaha menikmati senikmat-nikmatnya proses menuju ujung kekalahan nanti. Solusi atas masalah ini: jangan lepas-lepas dari Al Qur’an, Sunnah, dan ilmu-ilmu ulama Salaf. Jadilah Muslim Ortodoks, karena ia sangat ditakuti oleh Zionisme dan sekutunya. Kalau kita hidupkan semua itu, tak ada yang dikhawatirkan dari Lady Gagak, Irshad Manji, dan kawan-kawan.

Akhirnya…

Sebagai upaya nahyul munkar terkait munculnya isu-isu sosial seperti Lady Gaga dan Irshad Manji, tentu sangat boleh kita melakukan upaya-upaya penolakan. Hanya saja, ada beberapa catatan, perlu diperhatikan: Kita jangan hanya menjadi pemakan isu, kita harus lebih berdaya dari itu; kita jangan hanya melihat obyek isu, tetapi lihat juga siapa penggeraknya; kita jangan melupakan agenda-agenda kongkret ummat yang sudah disepakati untuk dijalankan dan bersikap konsisten di atasnya.

Oke, sampai disini dulu. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.

Iklan