Jangan Terlalu Berharap Kepada Ketua KPK Baru!

Desember 28, 2011

Ketua KPK periode 2012-2016 sudah terpilih. Dia bernama Abraham Samad. Tokoh muda 44 tahun ini menggantikan Busyro Muqaddas yang saat ini beralih posisi menjadi Wakil Ketua KPK. Abraham Samad (apakah ada hubungan dengan Bibit Samad?), terpilih secara aklamasi oleh anggota Komisi III DPR dengan 43 suara (dari 55 suara).

Seperti biasa, rakyat Indonesia sangat berharap kepada pemimpin KPK yang baru ini. Harapan rakyat sangat besar agar aksi pemberantasan korupsi benar-benar efektif dan adil. Ya, negara mana yang akan maju kalau fenomena korupsi merata dimana-mana?

Lebih Sejuk Melihat Rumput. Daripada Melihat Wajah Kaum Elit.

Tetapi masalahnya, apa harapan itu benar-benar nyata, atau hanya impian kosong saja? Jujur, kalau melihat kehidupan elit-elit politik selama ini, termasuk sosok para Ketua KPK, sangat sulit berharap. Mereka selama ini lebih banyak omong ketimbang banyak guna.

Coba perhatikan artikel berikut ini: Mau Tahu Gaji Abraham Samad Cs? Coba perhatikan rincian gaji tersebut! Misalnya, gaji pokok Rp. 5 juta. Sedangkan tunjangan jabatan sampai Rp. 15 juta lebih. Ditambah lagi tunjangan kehormatan, tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, tunjangan hari tua, dan asuransi kesehatan. Total gaji Ketua KPK, Rp. 72.200.000,- (tujuh puluh dua juta, dua ratus ribu rupiah). Sedangkan gaji Wakil Ketua KPK, Rp. 63.120.000,- (enam puluh tiga juta, seratus dua puluh ribu rupiah).

Mungkin, ke depan gaji Ketua KPK Cs. bisa ditambah lagi dengan: tunjangan santai, tunjangan wisata, tunjangan nonton film, tunjangan popularitas, tunjangan anak-cucu, tunjangan pelesir ke luar negeri, tunjangan BBM, tunjangan main facebook-an, tunjangan kegelisahan, tunjangan duka-cita, tunjangan pernikahan anak, tunjangan memelihara burung kicauan, dan seterusnya. Jadi list tunjangan-tunjangan ini bisa diperpanjang, sehingga kegiatan pokok anggota KPK hanyalah memelototi gaji bulanan mereka, di rekening-rekening yang “cepat gendut” itu.

Mungkin, dasar pemikirannya, “Gaji Ketua KPK Cs perlu dibesarkan, biar mereka tidak ngiler kalau menghadapi penyuapan dari para koruptor.” Masalahnya adalah: dengan gaji yang nilainya bisa mencapai 60 kali atau 70 kali UMR itu, mental mereka justru letoy. Mereka jadi takut mati, karena setiap bulan selalu menanti-nanti gaji besar. Para pemulung yang penghasilan cuma Rp. 25 ribu sehari, mereka berani mati, mengais sampah plastik di kiri-kanan rel kereta api. Tetapi dengan gaji 60-70 jutaan, mental manusia jadi rapuh. Yang dia pikirkan hanyalah gaji doang, day to day.

Saya sarankan agar bangsa Indonesia tidak usah banyak berharap kepada sosok Abraham Samad Cs. Jangan berharap banyak. Biasanya, manusia-manusia seperti ini (serupa dengan anggota DPR dan menteri-menteri Cs), sudah terkena TIGA PENYAKIT MEMATIKAN.

Apa saja 3 penyakit itu? Pertama, BANYAK OMONG. Kedua, BANYAK GAYA. Dan ketiga, BANYAK BERKELIT.

Mereka itu hanya pandai ngomong dan ngomong saja. Keahlian utama mereka adalah “bibir dan lidah” saja. Omongannya banyak, mengepul bagai asap rokok. Membuat batuk-batuk bagi manusia yang sehat. Mereka juga banyak gaya. Senang ketemu wartawan-wartawan. Tidak menolak gaul dengan anggota DPR dan pejabat. Kenal dengan artis-artis dan dunia selebritas. Pakaian, kendaraan, alat elektronik, dan sebagainya berkelas. Dan nanti kalau dikritik oleh rakyat (termasuk melalui kritik seperti ini) mereka banyak membela diri, defensif, mencari-cari alasan. Seperti gayanya Chandra Hamzah yang tidak berani dikonfrontir dengan Nazaruddin itu.

Singkat kata, pejabat-pejabat KPK selama ini seperti manusia-manusia yang secara mental-ruhani bermasalah. Mereka nafsu menjadi anggota KPK, tetapi setelah menjabat tidak menunjukkan keberaniannya untuk babat habis korupsi di Indonesia. Maklumlah, para pencari kerja beda dengan penegak keadilan. Karena mungkin merasa tak bersaing mencari kerja di bursa eksekutif muda, akhirnya nyari-nyari di KPK (mencantolkan kerah bajunya ke beban keuangan negara).

Kita tidak tahu bagaimana reputasi Abraham Samad ini. Apakah akan ada perubahan atau sama letoy-nya dengan Busyro Muqaddas? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Tahu. Kalau nanti Abraham ini juga tertimpa 3 penyakit di atas (banyak omong, banyak gaya, banyak berkelit); ya sudah, tak ada harapan banyak di negeri ini; baik generasi tua (Busyro Muqaddas) maupun generasi muda (Abraham Samad) sama-sama brengsek-nya.

Oke deh…begitu saja! Selamat berjuang, Bung Abraham Samad! Semoga Anda diselamatkan dari 3 penyakit berbahaya itu, dan efektif bisa memberantas korupsi di negeri ini! Amin ya Rabbal ‘alamiin. Termasuk amanah yang sering dikatakan oleh para pemimpin, bahwa akar korupsi berada di lingkaran Istana Negara (ingat informasi Wikileaks). Nanti, arah perjuangan Anda, harus masuk juga ke titik itu. Soal akan di-antasari azhar-kan atau tidak, tawakkal sajalah!

Selamat berjuang, Bung!

Blog Abisyakir.

Iklan

Antara Kita, KPK, dan Fahri Hamzah

Oktober 5, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini anggota DPR Fahri Hamzah, membuat “gebrakan” lagi. Mungkin karena seringnya “gebrak-menggebrak”, mungkin suatu saat dia akan tersandung, jatuh, lalu…gedubraakkk!

Kali ini Fahri membuat usulan mencengangkan, “Bubarkan saja KPK. Ia sudah jadi institusi superbody yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi. KPK bisa seenaknya saja menyadap orang lain.” Begitulah logika sederhananya.

Silakan Nak, Hancurkan Korupsi! Babat Habis Ya...

Dalam blog ini kita sudah berikan kritik sangat pedas ke elit-elit KPK, terutama sosok seperti Chandra Hamzah, Bibit Samad, Ade Rahardja, dkk. Kesalahan elit-elit seperti ini terutama Chandra-Bibit, ialah dalam kasus “Kriminalisasi” yang melahirkan gerakan sejuta facebookers tahun lalu.

Kesalahan mereka ialah: Kemana-mana selalu berlindung di balik isu KRIMINALISASI. Tetapi ketika ditantang untuk membuktikan ada atau tidaknya kriminalisasi melalui jalur hukum; mereka tak mau. Nah, ini yang kacau. Penegak hukum kok tak mau dengan solusi jalur hukum. Seolah, sebagai pejabat KPK mereka ingin diperlakukan sebagai “insan suci”. Ini tidak benar.

Tapi meskipun begitu, kita juga tak setuju dengan ide Fahri Hamzah. Inti masalahnya ialah MENTALITAS ketua-ketua KPK yang lemah dan gampang goyang oleh tekanan-tekanan politik. Mental seperti itu harusnya diganti oleh orang yang “berani mati”. Tetapi gimana ya…mereka menjadi pejabat KPK juga dalam rangka “mencari nafkah”, kok bisanya disuruh “berani mati”? Rasanya, harapan kita terlalu muluk ya.

Singkat kata, bangsa Indonesia masih butuh KPK. Kalau mau diperbaiki, ya orang-orangnya itu di-reshuffle. Ganti saja, orang-orang kaya yang berani mati. Kalau tak ada, bolehlah KPK dibubarkan.

Sebagai rakyat biasa, kita tentu tak takut dengan KPK. Wong, memang kita tak berurusan dengan dana-dana negara kok. Bagi anggota DPR, seperti Fahri Hamzah dkk. bisa jadi mereka “ngeri juga” kalau tiba-tiba ditetapkan oleh KPK sebagai “tersangka”. Nanti mereka bersungut-sungut, “Lha wong, saya dipilih oleh puluhan ribu rakyat. Masak gerak-gerik saya dipantau terus oleh KPK? Ini namanya pelecehan. Saya tak terima deh.”

Inilah bedanya kita dengan Fahri Hamzah. Kita lebih menyoroti mentalitas pemimpin-pemimpin KPK yang sangat lemah. Sedang Fahri Hamzah justru menginginkan KPK dibubarkan karena “mengancam” kepentingan para anggota DPR.

Andaikan nanti KPK dibubarkan… Sebaiknya masyarakat mendukung gerakan “Jihad Anti Korupsi” yang sedang digalakkan oleh Habib Rieziq Shihab dan FPI. Siapa tahu, itulah cara yang efektif untuk menumpas para koruptor satu per satu. Allahumma amin.

Intinya: Berantas korupsi, jangan berantas usaha-usaha menumpas korupsi!!! Tahu kan bedanya? Semoga.

AMW.