Mencari Presiden RI dan Kegalauan Ummat Islam

April 20, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hasil Pileg April 2014 memberikan arti tersendiri. Suara partai-partai Muslim rata-rata membaik, sedikit penuruan terjadi pada PKS. Hal ini mementahkan sebuah asumsi bahwa politik Ummat Islam sudah “tidak laku”. Faktanya Ummat bergairah mendukung partai-partai Muslim ketika mereka merasakan hadirnya “musuh bersama” (Jokowi dan koalisi Islamphobia di belakangnya).

Namun setelah hasil diperoleh, sesuai quick count, Ummat Islam masih kesulitan untuk mengajukan calon Presiden/Wapres dari kalangan politisi Muslim sendiri. Selain sulit mencari siapa tokoh yang didukung semua kekuatan Muslim; sulit menyatukan partai Muslim; juga adanya keraguan tentang peluang keberhasilan tokoh tersebut dalam Pilpres Juli 2014 nanti.

Berikut beberapa ulasan sebagai masukan, renungan, atau pertimbangan…

"Pemimpin Islami Lahir dari Investasi Politik Islami"

“Pemimpin Islami Lahir dari Investasi Politik Islami”

[1]. Politik itu pada hakikatnya adalah INVESTASI. Kita menginginkan perubahan, perbaikan, kemajuan, tetapi harus investasi dulu dalam sejumlah waktu tertentu. Politik tidak bisa instan; sekarang kita minta, sekarang juga jadi. Tidak bisa begitu. Sebagai contoh, munculnya pemimpin-pemimpin Masyumi sebagai pejabat negara yang amanah dan tidak korup di era Sokarno, hal itu sebagai buah dari proses belajar, perjuangan, pergerakan kemerdekaan sejak awal-awal tahun 1900-an. Sebagian tokoh Masyumi itu pernah menjadi anggota Volkrad (dewan rakyat di era Belanda) dan anggota MIAI (dewan Muslim di era Jepang. Termasuk kemenangan AKP dan Erdogan, ia juga tidak instan. Ia telah dirintis sejak era politik Najmuddin Erbakan pada tahun 1970-an.

Pemimpin hebat seperti Muhammad Fatih juga disiapkan sejak kecil. Begitu juga Shalahuddin Al Ayyubi lahir dari keluarga prajurit, perwira, para pahlawan. Tidak ujug-ujug muncul. Termasuk sosok Khalifah Umar RA lahir dari tempaan kehidupan panjang. Di masa mudanya, beliau jagoan gulat di Pasar Ukadz. Nabi SAW bersabda: “Khairukum fil jahiliyah khairukum fil Islam idza faqahu” (sebaik-baik kalian di masa jahiliyah adalah sebaik kalian di masa Islam, jika dia memahami agama). Hadits ini menjelaskan betapa pentingnya investasi kebaikan untuk mencapai prestasi yang hebat.

[2]. Ide PRESIDEN SYARIAH yang digagas FUI, FPI, Habib Rizieq, secara teori termasuk ide yang menarik. Asumsinya, kalau ada bank syariah, asuransi syariah, gadai syariah, dan sebagainya; maka boleh dong ada ide Presiden Syariah. Hanya masalahnya, konsep Presiden Syariah itu harus dibawa masuk ke ranah politik praktis, dicarikan saluran resminya, serta kompetitif saat diperjuangan di tengah pergulatan politik umum. Ide demikian harus bisa meyakinkan para politisi dari aneka partai, dapat meyakinkan para ahli hukum dan ketata-negaraan, dapat meyakinkan akademisi dan ahli teori, dapat meyakinkan media massa, dapat meyakinkan pelaku pasar, dan utamanya dapat meyakinkan kaum Muslimin dari berbagai kelompok dan strata. Kalau ide ini hanya beredar di sekelompok para aktivis Islam saja, sangat sulit untuk menjadi kenyataan.

[3]. Untuk menjadi Presiden RI; sekedar menjadi ya, tanpa dipertimbangan kualitas dan hasil kepemimpinannya; dibutuhkan 3 unsur: POPULARITAS, ELEKTABILITAS, dan STRATEGI. Pada tahun 1999 Partai Keadilan (PK) pernah mengajukan Ustadz Didin Hafiduddin sebagai calon presiden. Di kalangan aktivis Islam beliau dikenal, tapi di mata masyarakat umum masih sedikit yang mengenal. Ketika Pilkada Jakarta 2012, sosok Foke memiliki popularitas dan elektabilitas; tapi sayang strateginya salah, sehingga hasil akhirnya negatif. Jujur saja, untuk mencari sosok calon pemimpin Islam yang popular, elektabilitas tinggi, lalu didorong dengan strategi yang bagus, untuk saat ini sangat sulit.

[4]. Bahaya yang dihadapi kaum Muslimin saat ini ialah kepemimpinan Jokowi. Jika sosok ini menjadi Presiden RI diduga akan lebih parah dari SBY. Jokowi didukung oleh konglomerat-konglomerat pengemplang BLBI yang ingin aneksasi negeri ini. Untuk menghadang Jokowi diperlukan sosok lain yang populer, elektabilitas tinggi, dan ia memiliki mesin dan strategi politik bagus. Misalnya kita sebut sosok politisi dari kalangan Muslim seperti: Amien Rais, Hatta Rajasa, Muhaimin, Suryadarma Ali, Yuzril Ihza, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, Ahmad Heriyawan, Habib Rizieq, Ustadz M. Khattath, dan lainnya. Apakah mereka bisa menandingi popularitas dan elektabilitas Jokowi? Cobalah pertanyaan ini dijawab secara obyektif, tanpa emosi; adakah tokoh kita yang saat ini sekuat Jokowi? Kalau misalnya tidak ada, jangan merasa risau; kembali ke teori awal, POLITIK ITU INVESTASI. Bahkan untuk sosok Jokowi sendiri, media massa telah memoleskan selama bertahun-tahun. Itu investasi juga.

[5]. Dalam pandangan kami, untuk Pilpres 2014 ini, sulit bagi Ummat Islam untuk mendapati pemimpin ideal sesuai nilai-nilai Syariat Islam. Dalam tinjauan kami, itu sangat sulit. Mengapa demikian? Ya karena untuk menjadi pemimpin nasional dibutuhkan popularitas, elektabilitas, dan strategi yang bagus. Sedang investasi kita di bidang ini sangat kurang. Apa buktinya? Ketika berbicara tentang Pilpres kita sangat mengandalkan keputusan/kebijakan partai-partai Muslim peserta pemilu. Maksudnya, kita tidak memiliki partai yang benar-benar mewakili aspirasi perjuangan politik Islam. Hal ini menunjukkan bahwa investasi kita di bidang politik ini masih minim. Andai investasi kita bagus, mungkin tinggal menggerakkan kader-kader yang berada di berbagai partai Muslim, untuk mendukung agenda yang kita sodorkan. Jadi tidak dikesankan “meminta-minta”.

[6]. Meskipun peluang terpilihnya pemimpin Islami cukup lemah, bukan berarti pejuangan politik menjadi buntu. Tidak sama sekali. Perjuangan politik bisa digerakkan dengan daya sekecil apapun, di tengah situasi sesulit apapun. Maka jika kita sulit menemukan pemimpin sesuai Syariat, maka lakukanlah tindakan ini: Pilihlah sosok pemimpin Muslim mana saja yang diperkirakan potensi maslahatnya terbesar dan potensi madharatnya terkecil! Di antara tokohg-tokoh calon pemimpin RI yang ada, pilih kandidat yang peluang maslahatnya besar, peluang madharatnya kecil, dan tentiu saja dia punya peluang besar sukses menjadi Presiden RI. Pasti ada sosok seperti itu!

[7]. Kami nasehatkan kepada Ummat Islam secara umum, jika saat ini kita belum mendapati pemimpin negara yang sesuai Syariat, jangan berkecil hati. Dasar pemikirannya adalah: [a]. Pemimpin Syariat akan diiperoleh jika kita telah berinvestasi lama di bidang ini; kalau selama ini kesan yang ada, kita telah meninggalkan politik praktis, ya jangan terlalu bermimpi soal pemimpin seperti itu; [b]. Andai terpilih pemimpin Muslim, dalam kondisi investasi politik kita lemah, justru hal itu bisa mencoreng nama baik agama kita sendiri. Anda masih ingat tahun 1999-2001, ketika itu RI dipimpin Gusdur. Promotor utama terpilihnya Gusdur adalah Pak Amien Rais dan poros tengah (koalisi partai-partai Muslim). Nyatanya Gusdur tak bisa memimpin, negara ancur-ancuran. Akhirnya muncul preseden jelek di tengah Ummat, katanya: “Beginilah hasilnya kalau negara dipimpin seorang kyai.” Padahal Gusdur sendiri tidak memiliki akar pemahaman dan pengamalan Syariat yang baik.

[8]. Untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia saat ini, sungguh sulit dan berat. Sebagai gambaran, lihat struktur APBN. 60 % APBN digunakan untuk belanja rutin, termasuk biaya departemen, pemda, pemkot, gaji PNS, Polri, TNI, guru, dan seterusnya. 25 % APBN digunakan untuk membayar hutang negara dan bunganya setiap tahun. Hutang ke Bank Dunia dan IMF untuk bayar dana BLBI yang dibawa kabur para konglomerat China senilai sekitar 600 triliun, masih terus dibayar sampai saat ini. Katanya baru luas tahun 2032 nanti. 10 % APBN untuk dana infrastruktur, pengembangan, pemberdayaan, penelitian, dan seterusnya. Sisa APBN praktis hanya sekitar 5 % saja. Nah, pemimpin-pemimpin Muslim yang berambisi menjadi Presiden RI, harus bisa menyelesaikan tantangan semacam ini. Jangan terbayangnya nanti dihormati, diberi fasilitas klas 1, bisa pelesir ke luar negeri, dapat fee proyek ini dan itu, anak-anak dan isteri dijaga Negara 24 jam penuh sehari, dan seterusnya. Jangan bermimpi begitulah, tapi pikirkan manajemen APBN seperti di atas.

[9]. Di tengah krisis politisi dan negarawan Islami ini, muncul sosok Rhoma Irama sebagai calon presiden dari kalangan Ummat Islam. Banyak pihak yakin, Rhoma bisa jadi presiden. Bisa sih bisa, dengan asumsi mengandalkan popularitas. Tapi masalahnya, apakah sosok seniman seperti dia layak memimpin negara? Anda pernah mendengar tesis Ibnu Khaldun, bahwa tanda-tanda peradaban yang mulai menua ketika ia memuja-muja seniman dan dunia seni. Itu peradaban yang menua ya, lalu bagaimana dengan Indonesia ini yang masih acak-acakan, meraih kemajuan juga belum? Mungkinkah negeri seperti ini diserahkan ke tangan seniman? Kadang ketika tehimpit masalah, kita sering berpaling ke solusi-solusi aneh yang justru membahayakan masa depan dan kehidupan.

[10]. Menurut kami, kriteria seorang pemimpin Indonesia nanti secara umum sebagai berikut: [a]. Seorang Muslim Ahlus Sunnah (bukan pengikut atau pendukung aliran sesat); [b]. Memiliki kekuatan fisik, seperti sosok Thalut; [c]. Memiliki pengetahuan tentang kehidupan yang luas, dalam kriteria pemimpin disebut karakter Fathanah; [d]. Bersikap amanat terhadap kehidupan rakyat, kekayaan negara, serta hak-hak kaum Muslimin; [e]. Bisa memimpin perang. Kriteria terakhir ini perlu ditambahkan karena menyadari kondisi aktual saat ini dimana negeri-negeri Muslim dilanda aneka macam konflik seperti Suriah, Afghan, Irak, Yaman, Mesir, Somalia, dan lainnya. Jangan seperti seorang presiden tertentu, setelah hampir 10 tahun memimpin bangsa, dia baru berbicara: “Saat ini bangsa kita siap perang!” Aneh, menjelang berakhirnya masa jabatan baru ngomong “siap perang”.

Demikian beberapa pandangan yang bisa kami sampaikan. Menurut kami, saat ini jangan terlalu berharap akan lahir Presiden RI Bersyariah; bukan karena ide itu tidak menarik, tapi kita tak memiliki modal investasi politik untuk memperjuangkannya ke tingkat aplikasi. Saran kami, kalau misalnya Ummat Islam bersedia, mari kita dirikan partai Islami (partai baru) sebagai solusi kebuntuan saluran politik ini. Kita harus berinvestasi sebelum memetik hasil! Minimal, pilihlah sosok pemimpin yang dapat diduga peluang maslahatnya besar dan peluang madharatnya kecil.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Mine).