Sikap Politik Amien Rais

April 29, 2009

Terus-terang, saya termasuk salah satu pemerhati yang sulit memahami manuver-manuver politik Amien Rais, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN. Semakin kesini semakin sulit memahami pemikiran sekaligus gerak siyasi seorang Amien Rais. Pro Islam kah, pro reformasi kah, pro perubahan kah, atau pro kekuasaan? Wallahu A’lam.

Masyarakat Indonesia masih ingat dengan baik -kecuali yang sudah lupa- betapa kerasnya sikap politik Amien Rais kepada Pemerintahan SBY, terutama dalam soal “kenaikan harga BBM” dan rencana “penjualan puluhan aset stategis negara”. Waktu itu Amien sampai membuka front politik terbuka menghadang langkah SBY. Tidak tanggung-tanggung, Amien menuduh SBY sebagai agen Washington dengan memperlihatkan surat tertentu. Jelas, SBY kalang-kabut menghadapi serangan Amien Rais itu.

Saya sendiri ikut menyaksikan bagaimana aksi seorang Amien Rais ketika “membantai” Jusuf Kalla dalam sebuah diskusi di MetroTV, bersama BJ. Habibie dan disaksikan salah satunya oleh Hendro Priyono. Amien tanpa kesopanan sama sekali menyebut JK sebagai “Betara Kalla”, padahal seharusnya seorang negarawan itu sebenci apapun kepada musuh-musuh politiknya, dia harus tetap menjaga etika.

Contoh, George Bush ketika dia dilempar sepatu oleh Muntazher Al Zaidi di Irak. Adakah lagi kejadian yang paling memalukan bagi seorang kepala negara, selain dirinya dilempar sepatu dua kali, lalu menjadi bahan lelucon di seantero dunia. Mana lagi ada yang lebih memalukan dari itu? Tapi lihatlah, dengan segala kezhalimannya, George Bush tetap berusaha tenang, berusaha melontarkan komentar secara dingin, dan tidak bermaksud melampiaskan dendam pribadi kepada pelempar sepatu. Seharusnya, seorang pemimpin negara itu tahu batas-batas etika, sekalipun dirinya amat sangat benci kepada orang-orang tertentu.

Lagi pula, kalau mengukur ke masa sebelumnya. Kesalahan yang dilakukan JK -jika bisa disebut demikian, karena bagaimanapun dia hanya seorang Wakil Presiden- masih jauh lebih kecil daripada TIGA KESALAHAN SEJARAH yang dilakukan oleh Amien Rais. Anda tahu, apa saja ketiga kesalahan sejarah itu?

Pertama, Amien Rais menghalangi Habibie menjadi presiden kembali pada SU MPR Oktober 1999. Padahal Habibie adalah sosok yang paling memungkinkan untuk menjadi presiden dengan reputasi, pengalaman, ilmu, dan komitmennya. Patut dicatat, dalam masa 17 bulan kepemimpinannya, Habibie berhasil “menaklukkan” badai krisis ekonomi.

Kedua, Amien Rais mendorong Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI tahun 1999, lalu menjatuhkannya pada tahun 2001. Abdurrahman Wahid dari sisi apapun tidak layak menjadi presiden, baik karena sikap politiknya, budaya kontroversinya, pengalamannya yang minim di bidang birokrasi, maupun sifat fisiknya yang lemah (buta dan lumpuh). Dalam kajian fiqih, Wahid tidak bisa diangkat sebagai pemimpin karena handicap fisiknya itu.

Ketiga, seruan politik Amien Rais untuk membabat habis segala sesuatu yang berbau Orde Baru. Padahal tidak semua yang berasal dari era Orde Baru itu buruk, masih banyak yang baik-baiknya yang seharusnya tetap dipelihara. Sebab kebaikan-kebaikan itu bukan berasal dari tangan Orde Baru, tetapi dari usaha rakyat Indonesia dan sebagai buah rizki Allah.

Dengan dosa-dosa sejarah yang sangat berat ini, seharusnya Amien Rais banyak bertaubat, banyak beristighfar, seperti yang disarankan oleh banyak kalangan. Penderitaan rakyat Indonesia tidak lepas dari kesalahan-kesalahan manuver politiknya di era Reformasi. Akan lebih baik, kalau seorang Amien Rais menjadi tokoh spiritual, menjadi bapak bangsa yang bijak, peduli dengan kehidupan masyarakat, dan tidak berambisi kepada kekuasaan.

Baca entri selengkapnya »