Silakan Anti Ahok, Tapi Jangan Kaitkan Foke dengan Islam!

Agustus 18, 2012

Seiring semakin dekatnya akhir Ramadhan, dan menjelang bulan Syawal, satu penjelasan kecil ingin disampaikan, terkait Pilkada DKI 2012 putaran II, yang akan berlangsung September nanti. Hal ini disampaikan agar tidak muncul salah paham.

[1]. Adalah hak warga Muslim Jakarta, atau Muslim di tempat lain, untuk memilih atau mendukung calon pemimpin yang diyakini akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan ke depan. Karena lazimnya seorang Muslim, dia mendambakan maslahat dan berusaha sekuat tenaga menjauhi madharat. Sesuai prinsip Syariat Islam: jalbu al mashalih wa daf’u al mafasid (mencapai kebaikan dan menolak kemadharatan).

“Simbol Kumis” Sangat Jauh dari Pesan Islami. Ini Tidak Mewakili Aspirasi Islam.

[2]. Warga Muslim Jakarta sangat berhak bersikap apapun, seperti menolak pasangan Jokowi-Ahok, lalu memilih pasangan Foke-Nara. Hal ini boleh semata, sebagai bagian dari hak kebebasan menyalurkan aspirasi politik. Misalnya, alasannya Jokowi cenderung Kejawen; Ahok seorang non Muslim, China lagi; kalau Jokowi menang, khawatir nanti Jakarta akan semakin dikuasai oleh non Muslim dan China. Alasan demikian, secara politik, sifatnya boleh, tidak ada larangan.

[3]. Jika Muslim Jakarta menolak pasangan Jokowi-Ahok dengan alasan di atas (poin ke-2), itu sudah cukup. Itu sudah sah dan standar, bagi siapa saja yang memiliki hak suara. Namun, jika sudah beralasan seperti itu, jangan lantas menganggap pasangan Foke-Nara sebagai pasangan yang Islami. Jangan demikian, sebab itu jelas mendustakan kebenaran. Silakan saja anti Jokowi atau anti Ahok; tapi jangan beralasan bahwa Foke-Nara lebih Islami. Ini sebuah kedustaan yang nyata. Foke-Nara itu jelas-jelas didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDS, PKB, PKS, PAN, dan lainnya. Partai-partai Neolib dan sekuler mendukung dirinya; atau mendukung “Simbol Kumis” Foke. Bagaimana hal ini dianggap sebagai pasangan Islami? Kalau mengaitkan Foke dengan perjuangan Islam, sementara buktinya tidak ada, jelas ini sebuah kedustaan yang nyata.

[4]. Kemudian, jika warga Muslim Jakarta mendukung Foke-Nara, jangan karena alasan: Foke-Nara anti Wahabi atau hal itu dilakukan demi menjaga persatuan Ummat. Alasan demikian sangat menyakitkan hati saudara-saudaramu sesama Muslim; ia jelas-jelas memecah-belah barisan Ummat; dan merupakan fitnah bagi gerakan dakwah Wahabi. Tolonglah, jangan dipakai alasan keji seperti itu. Kalau tetap dipakai, jangan salah kalau akan bermunculan sikap anti Foke-Nara secara ideologis dari semua kalangan gerakan dakwah Wahabi.

[5]. Siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, bukan berarti masalah-masalah Ummat Islam akan otomatis selesai, atau semakin ringan. Jangan bermimpi terlalu jauh! Kita masih ingat, tahun 2004 lalu, DKI Jakarta secara politik dikuasai oleh PKS. Mereka mendominasi perolehan suara di tingkat parlemen DKI Jakarta. Gubernur Jawa Barat sekarang, Ahmad Heriyawan, adalah termasuk anggota DPRD DKI Jakarta periode itu. Tapi Ummat Islam bisa merasakan sendiri, sejuhmana dampak kemenangan politik PKS di Jakarta ketika. Ngaruh tidak? Kalau setingkat PKS saja tidak banyak pengaruhnya, apalagi sosok Foke yang membanggakan Kumis-nya. Maksudnya, bila nanti Foke berkuasa lagi, dan ternyata tidak banyak perubahan; ya mesti bersabar. Namanya juga sistem sekuler, mau dibolak-balik seperti apapun, hasilnya sama; ngenes.

Demikian yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Idul Fithri 1 Syawal 1433 H. Taqabbalallah minna wa minkum shalihan a’mal. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan bathin.

Abu Muhammad (Joko) Waskito.

Iklan

Kala Aktivis Islam Mendukung Foke-Nara (Pilkada Jakarta)

Agustus 13, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jujur saja, sering muncul rasa heran di hati melihat pemikiran-pemikiran politik yang berkembang di tengah para aktivis Islam di negeri ini. Sebenarnya, pola aliran politik mereka seperti apa? Konstruksinya bagaimana? Atau dengan bahasa lugas, mereka itu sebenarnya maunya apa? Kebingungan ini muncul ketika melihat begitu rapuhnya pandangan politik para aktivis Islam ketika menyikapi Pilkada DKI 2012 yang nanti mempertemukan pasangan Foke-Nara versus Jokowi-Ahok.

Kalau membaca artikel-artikel di Voa-islam.com, jelas mereka cenderung mendukung Foke-Nara. Mungkin alasannya, karena Ahok beragama Kristen; nanti kalau Jokowi diajak oleh Prabowo sebagai calon Wakil Presiden dalam Pilpres 2014, maka otomatis Ahok akan jadi penguasa DKI Jakarta, sehingga kemudian Jakarta akan berubah menjadi kota milik China. Kok sampai segitunya… Apakah persoalan politik bisa dipetakan se-simple itu?

Tabloid Suara Islam bahkan dalam edisi terbaru, terang-terangan memuat kampanye Foke-Nara di halaman terakhir, penuh satu halaman. Termasuk PKS, akhirnya menyatakan dukungan kepada Foke-Nara. Yang sangat mengesalkan dari PKS ini, padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa PKS sangat OPORTUNIS sikap politiknya; mereka memanfaatkan momen dukungan ke Foke-Nara ini untuk memojokkan kalangan Wahabi. PKS-PKS…kalian ini belum berbuat banyak demi kemajuan hidup kaum Muslimin di Nusantara, tetapi sangat berani memfitnah saudaranya yang sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dengan Pilkada DKI.

Jangan Bersikap Partisan. Tetapi Kembangkan “Politik Lobi”.

Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Slamet Nurdin, seperti dilansir oleh situs Merdeka.com, Sabtu (11 Agustus 2012) menyebut salah satu alasan PKS mendukung Foke-Nara: “Ada beberapa hal yang termasuk dalam kontrak kerja kita, putaran pertama telah terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan berdampak kurang menguntungkan dan berpotensi untuk terjadinya perpecahan di kalangan umat. Maka sebagai penganut Ahlussunnah waljamaah, BUKAN WAHABI anti-maulid dan anti-tahlil, kedua belah pihak telah saling memaafkan dan bersepakat meminta maaf kepada pendukungnya untuk mengutamakan persatuan umat dan konstituennya.” Pernyataan ini dilontarkan Slamet di kantor DPP PKS di Jl. TB. Simatupang Jakarta Selatan. (Dikutip dari: PKS Bukan Wahabi Anti Maulid dan Tahlilan).

Pernyataan seperti ini jelas memecah-belah barisan Ummat. Katanya menghindari perpecahan, tetapi malah membuat perpecahan baru. Atau di mata PKS, kaum Wahabi bisa jadi sudah dianggap bukan bagian dari Ummat Islam? Allahu Akbar! Kaum Wahabi tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI, kok dibawa-bawa? Duhai nasibmu PKS, kalian bukannya mengisi Ramadhan dengan banyak amal kebajikan, malah menyebar fitnah dan perpecahan kaum Muslimin; demi kekuasaan politik. Padahal sebelumnya, PKS ini dikenal sangat benci kepada sosok Foke. Kini mereka menjilat ludah sendiri, demi syahwat kekuasaan.

Cara-cara politik menjijikkan seperti ini tidak ada MASLAHAT-nya bagi kaum Muslimin. Yakinlah, Allah tidak menyukai cara-cara keji dalam perjuangan keummatan. Disebutkan dalam Al Qur’an: “Wa annallaha laa yahdi kaidal kha’inin” (bahwa sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu-daya orang-orang yang berkhianat). [Surat Yusuf, 52].

Jika saya menyampaikan kritik seperti ini, bukan berarti saya mendukung Jokowi-Ahok, atau melarang orang mendukung Foke-Nara. Bukan sama sekali. Maksud saya adalah: cobalah dari para aktivis Islam, para ustadznya, para kyainya, para ulamanya, mereka lebih cerdas dalam berpolitik. Jangan bersikap partisan, demi kepentingan jangka pendek, dengan asumsi-asumsi yang mentah! Kalau memang kita pro Syariat Islam, ya timbanglah semua calon itu dengan Syariat Islam. Bila di antara sekian calon itu tidak ada yang memenuhi harapan Syariat, ya sudah jangan memaksakan diri!

Apa Anda tidak pernah belajar dari kisah Nabi dan para Shahabat, bahwa mereka berkali-kali menahan diri, tidak cepat bersikap, bila keadaan belum memungkinkan? Apakah yang dinamakan politik Islami itu selalu memberikan dukungan, wahai Saudaraku? Baca kembali kisah Nabi Saw dan perjanjian Hudaibiyah! Baca juga keberanian Nabi memerintah para Shahabat hijrah ke Habasyah. Baca pula kisah ketika Nabi meminta pertolongan kepada seorang tokoh musyrik di Makkah, Muth’im bin Ady. Baca pula keberanian Nabi Saw mengikat kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah lewat Piagam Madinah. Perhatikan di semua kejadian itu, apakah Nabi Saw selalu bersikap hitam-putih dalam berpolitik?

Menurut saya, sangat berlebihan kalau kini suara kaum Muslimin di DKI dimobilisasi untuk mendukung pasangan Foke-Nara; dengan alasan bahwa Ahok itu Kristen dan punya missi menguasai Jakarta, sehingga kelak Jakarta akan dikuasai oleh orang-orang China. (Tanpa ada Ahok pun, sejak lama bisnis Jakarta sudah dikuasai China). Cara berpikir demikian lebih mencerminkan provokasi dan agitasi, bukan kecerdasan berpolitik yang dibangun di atas kedewasaan, kematangan berpikir, dan pengalaman. Apa kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelum-sebelum, ketika Megawati diserang dengan alasan “haram pemimpin wanita”; terbukti suara Megawati atau PDIP selalu menggungguli partai Muslim. Atau pasangan SBY-Boediono diserang dengan alasan “isterinya Boediono Nasrani” atau “isterinya SBY tidak memakai jilbab”; terbukti pasangan itu tetap menang.

Anda pernah tidak sih merasakan, betapa sakitnya hati kita ketika aspirasi politik Islam selalu diolok-olok oleh kaum Liberalis, para pengamat politik, para jurnalis, serta para peneliti akademik. Mereka sering berkata: “Lihatlah, lihatlah hasil pemilu ini! Ternyata para pemilih sekarang tidak mau lagi menjadikan sentimen agama sebagai pertimbangan untuk memilih partai atau calon pemimpin. Suara peroleh partai “Islam” semakin kecil, tokoh-tokoh politisi “Islam” selalu kalah oleh tokoh-tokoh politisi sekuler.”

Mengapa omongan-omongan seperti itu muncul? Ya karena kita terlalu bernafsu mengklaim ini dan itu, tanpa pertimbangan politik yang matang. Level pemikiran politik kita baru sebatas provokasi dan agitasi, sementara mayoritas rakyat yang dihadapi (sebagai peserta pemilu) adalah kaum “abangan” yang jauh dari nilai-nilai Syariat. Nasib kita tak ubahnya seperti PKB yang selalu mengklaim sebagai partai yang didukung ormas terbesar di Indonesia; tetapi nasib PKB sendiri sejak pemilu 1999 sampai kini, tidak pernah mengantongi dukungan suara lebih dari 13 % (semakin kesini suara PKB semakin merosot, malah nyaris tereliminasi).

Tentang sosok Foke-Nara sendiri, apa alasan Anda mendukung dirinya? Apakah Foke sosok pemimpin pro Syariat Islam? Apa benar dia akan memperbaiki kehidupan rakyat Jakarta, yang dimulai dengan memperbaiki ruhani mereka dengan nilai-nilai Islam? Apakah kepemimpinan Foke selama ini sudah Islami, sudah sesuai Syariat, sehingga layak didukung penuh? Apakah Jakarta di era Foke sudah sepi dari maksiyat, hedonisme, kriminalitas, mafia, kemiskinan, korupsi, pengrusakan lingkungan, kapitalisme, liberalisme, dan lainnya? Apakah Foke telah menjadikan Jakarta sebagai kota Qurrata A’yun (penyejuk pandangan mata), Sakinah wa Rahmah (tenang dan penuh kasih sayang), Aminatan wa Muthma’innah (aman dan damai), Baldatun Thaiyibah wa Rabbun Ghafur?

Maksud saya begini, kalau kita bersikap anti kepada Jokowi-Ahok; itu hak politik kita, boleh-boleh saja, silakan-silakan saja. Tetapi janganlah membawa-bawa nama Islam untuk mendukung Foke-Nara. Foke-Nara bukanlah pemimpin Islami yang sesuai Syariat Islam, bukan sosok pemimpin yang dimunculkan oleh agenda perjuangan kaum Muslimin; dia sama seperti politisi-politisi sekuler lainnya. Ciri kesekuleran Foke sangat jelas, lihat pada SIMBOL KUMIS-nya. Mana ada ajaran Nabi Saw yang memerintahkan: Coblos kumisnya! Ini kan simbolisasi yang bertentangan dengan Sunnah.

Jangan karena air mata Rhoma Irama, kita jadi lebay. Kita jadikan Rhoma sebagai sosok panutan Ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Padahal orang ini selama 30 tahun lebih, telah memasyarakatkan Dangdut dan mendangdutkan masyarakat. Anda pernah melihat bahwa lagu-lagu Rhoma telah banyak menipu kaum Muslimin di Asia Tenggara ini? Ratusan juta kaum Muslimin menyangka, bahwa Islam mengajarkan lagu Dangdut, membolehkan Dangdut, atau mengembangkan Dangdut; karena Rhoma selalu menyitir ayat/hadits dalam konser dan lagu-lagunya. Apakah dulu, Nabi kalian –shallallah ‘alaihi wasallam– seorang penyanyi Dangdut, dan mengajarkan agama lewat lagu-lagu Dangdut? Heran sekali, mengapa pada hari ini para aktivis Islam mendadak menjadi bagian dari “Fans setia Bang Haji”? Ada apa ini…

Akhunal karim rahimakumullah…

Dalam Pilkada DKI 2012 ini dan pilkada-pilkada lain; selagi kita belum bisa melahirkan calon yang pro Syariat Islam; cobalah jangan bersikap partisan (mendukung salah satu calon tertentu); tetapi tempuhlah POLITIK LOBI. Biarkan saja pasangan Foke-Nara bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta; tidak perlu dipilih salah satunya, karena masing-masing tidak memenuhi kriteria Syariat Islam. Kita memilih bersikap netral saja. Lakukan pendekatan ke kedua pasangan calon; dekati mereka baik-baik, jangan dijelek-jelekkan salah satunya. Dekati mereka baik-baik, sehingga siapapun yang menang dari keduanya, kita nanti bisa memiliki efek pengaruh kepadanya. Kalau Foke menang, karena sudah kita baik-baiki, maka dia akan hargai aspirasi kita; begitu juga kalau Jokowi menang, dia juga akan bersikap baik, karena sudah kita dekati secara simpatik. Inilah politik lobi; bukan politik partisan!

Kalau kita kembangkan politik partisan (dalam kondisi tidak ada satu pun calon yang pro Syariat Islam); maka kalau nanti salah satu calon itu menang, kemenangannya akan merugikan Islam. Andaikan Foke menang, maka kemenangan-nya akan menyulut kebencian para pendukung Jokowi dari kalangan “abangan” terhadap dakwah Islam; mereka menuduh bahwa kekalahan Jokowi karena isu-isu sentimen keislaman. Andaikan Jokowi menang, karena sejak awal dia dipersepsikan sebagai politisi sekuler dan anti Islam, maka kemenangannya akan menjadi alasan bagi dia untuk terang-terangan memusuhi Islam; dan nanti hasil-hasil baik kepemimpinan dia di Jakarta akan diklaim sebagai bukti kehebatan sekularisme.

Dalam kondisi seperti Pilkada DKI 2012 ini, jangan memilih politik partisan. Tetapi pilihlah politik lobi-lobi. Kecuali, kalau kezhaliman dan kemunkaran seorang calon pemimpin sudah nyata-nyata, sangat jelas, tidak samar lagi; maka kita boleh menafikan calon itu dan menyerukan Ummat untuk tidak mendukungnya, karena alasan kezhaliman dan kemunkaran dirinya.

Demikian, semoga bermanfaat. Selamat menyempurnakan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan, sekaligus selamat menyambut datangnya momen Idul Fithri 1433 H. Barakallah fikum jami’an, wa taqabbalallahu minna wa minkum shalihan a’maal; minal a’idina wal fa’izin wa kullu aamin wa antum bi khair.

Ardhullah, 13 Agustus 2012.

AMW.