Antara Pemimpin Politik dan Bencana Alam

Juli 2, 2009

Dalam 5 tahun terakhir (2004-2009), kita semua mengalami keprihatinan besar. Hal ini berkaitan dengan bencana alam yang susul-menyusul melanda negeri ini. Dimulai dari bencana Tsunami di Aceh (menelan korban lebih dari 100 ribu jiwa), lalu gempa bumi besar di Yogya (menelan korban sekitar 5000 jiwa), lalu Tsunami II di Pangandaran Ciamis, lalu bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang menenggelamkan desa-desa di sekitarnya, termasuk bencana banjir karena meluapnya Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu pula dengan banjir di Sulawesi, tanah longsor di Papua, sampai banjir “Tsunami kecil” di Situ Gintung, Tangerang Banten.


Belum termasuk ancaman bencana gunung meletus yang terus-menerus mengancam dari Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Kelud, dan lainnya. Praktis selama 5 tahun terakhir ini kita disuguhi “bencana alam” yang seolah tidak putus-putusnya. Padahal ini baru bencana alam, belum masuk di dalamnya soal kecelakaan transportasi, wabah flu burung, wabah demam berdarah, kelaparan dan gizi buruk, konflik pasca Pilkada, dekadensi moral, fenomena kemiskinan (50 % penduduk menurut standar Bank Dunia), dll.

Sebagian orang percaya, bahwa datangnya bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan kepemimpinan politik. Namun ada juga yang membantah. Pihak yang membantah beralasan, “Kalau bencana, ya bencana saja. Tidak usah dihubung-hubungkan dengan pemimpin.” Yang lain lagi mengatakan, “Bencana alam terjadi karena faktor alam saja, tidak ada kaitannya dengan politik.” Pihak lain mengatakan, “Jangan selalu memahami masalah bencana dengan tafsiran-tafsiran mistis. Ini sudah jaman modern. Berpikirlah lebih rasional!” Banyak sekali pandangan seperti ini, baik di tingkat rakyat biasa, mahasiswa, akademisi, intelektual, kaum santri, termasuk para pemimpin politik dan ormas.

Puncaknya adalah ketika seorang partai politik tertentu mendapat dukungan luas dalam Pemilu Legislatif beberapa waktu lalu. Hasil Pemilu itu menggambarkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli dengan banyaknya bencana-bencana yang terjadi dalam masa 5 tahun terakhir. Mereka percaya, bahwa bencana alam tidak ada kaitannya dengan pemimpin politik. Demikian kesimpulan yang bisa diambil, dengan catatan, andai masalah kecurangan dalam Pemilu dan indoktrinasi pencitraan melalui iklan-iklan di TV sengaja diabaikan.

Terus-terang kita merasa prihatin dengan bencana-bencana alam itu, dan lebih prihatin dengan fenomena buruknya persepsi Ummat dalam memahami masalah bencana. Nabi Saw pernah mengatakan, “Seorang Mukmin itu tidak akan terperosok dalam lubang yang sama, sampai dua kali.” (HR. Muslim). Ini menandakan bahwa orang Mukmin itu pandai mengambil pelajaran dan tidak akan celaka untuk kedua kalinya. Berkali-kali Al Qur’an menjelaskan prinsip seperti ini: “Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang bergelimang dosa!” (An Naml: 69).

Hayo yang pintar mengambil pelajaran! Jangan seperti batu yang bisu dan tidak berdaya! Sampai ada yang mengatakan, “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu untuk kedua kalinya.” Belajar dari pengalaman adalah kemestian dari tradisi hidup orang-orang berakal.

Secara umum, kita harus meyakini bahwa bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan dosa-dosa suatu bangsa, dan ada kaitannya dengan pemimpin politik yang berkuasa. Melalui tulisan ini saya ingin menjelaskan kaitan antara bencana alam, dosa masyarakat, dan posisi pemimpin politik. Semoga Allah menolong dan memudahkan untuk menetapi perkara-perkara yang diridhai-Nya. Amin.

Antara Dosa dan Bencana

Sudah menjadi keyakinan dasar seorang Muslim untuk meyakini bahwa perbuatan dosa itu bisa mendatangkan bencana (adzab). Perbuatan dosa dalam kadar kecil masih memungkinkan dimaafkan (An Nisaa’: 31). Begitu pula perbuatan dosa yang diikuti taubat atau istighfar, ia juga diampunkan (Az Zumar: 53). Namun dosa-dosa yang telah bertumpuk, kekafiran besar, kedurhakaan, perbuatan keji, arogansi, dan lain-lain semisal itu, ia akan mendatangkan adzab Allah. Adzab bukan hanya di Akhirat, bahkan ia ada yang diperlihatkan di dunia.

Nasib kaum-kaum di masa lalu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, negeri Sodom, negeri Madyan, negeris Saba’, dll. mereka dibinasakan karena dosa-dosanya yang telah memuncak. Bukti-bukti arkheologis dengan sangat baik menampakkan bekas-bekas kaum yang dimusnahkan itu. Harun Yahya membuat publikasi berharga tentang kaum-kaum yang dimusnahkan di masa lalu itu. Stasiun TV Malaysia juga pernah membuat serial dokumentasi “Jejak Rasul” yang memotret sisa-sisa kehancuran kaum-kaum itu. Sisa-sisa kehancuran kota Pompei, Atlantis, Inca, dan lainnya semakin membuktikan hal itu. Atlantis selama ini dipercaya sebagai kota yang hilang di tengah laut, karena tenggelam.

Nabi Nuh As. pernah berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian menyembah, melainkan hanya kepada Allah saja. Sesungguhnya aku takut kalian akan tertimpa adzab pada hari yang sangat pedih.” (Huud: 25-26). Adzab bagi kaum Nuh bukan hanya terjadi di Akhirat nanti, tetapi juga terjadi saat di dunia.

Saya menyangka, banjir di jaman Nabi Nuh waktu itu sangat dahsyat dan luas. Hal itu terlihat dari efek banjir yang berakibat menghancurkan struktur tanah, vegetasi, dan binatang-binatang. Tidak berlebihan jika Nabi Nuh diperintahkan membawa setiap pasangan binatang-binatang. Bahkan, akibat banjir itu, Jazirah Arab yang semula hijau dengan tumbuhan, terangkat permukaannya, sehingga menjadi gersang. Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa dulunya jazirah Arab itu hijau. Sedangkan di masa Ibrahim As., wilayah di Makkah sudah gersang. Dan kita tahu bahwa Ibrahim datang setelah berlalu masa Nuh As.

Beberapa ayat Al Qur’an menjelaskan hubungan antara dosa dan bencana yang dialami manusia, antara lain:

(Keadaan mereka) adalah seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Ali Imran: 11).

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (Al An’aam: 6).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al Israa’: 58).

Dan sebuah ayat yang menggambarkan keadaan negeri Saba’. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (An Nahl: 112).

Negeri Saba’ diceritakan memiliki kesuburan tanah luar biasa. Tanaman tumbuh dimana-mana, dengan hasil melimpah. Mereka memiliki bendungan besar untuk mengelola irigasi. Namun setelah penduduk negeri itu durhaka, mereka tertimpa banjir besar yang menghancurkan negerinya. Setelah banjir, kesuburan tanah di negeri itu lenyap. Dimana-mana tumbuh tanaman berbuah pahit.

Kalau orang materialis, atheis, atau freemasonris, tidak percaya hubungan antara dosa dan bencana. Itu wajar saja. Sebab nenek moyang mereka telah mendahului dalam kekafiran dan kedurhakaan. Kaum-kaum yang binasa di masa lalu tidak kalah kafirnya dengan kaum materialis, atheis, freemasonris di masa kini.

Namun kalau ada Muslim yang tidak percaya kaitan antara dosa dengan bencana. Ini sungguh sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin ajaran seterang itu tidak mereka percayai? Jangan-jangan mereka sudah tidak percaya dengan kisah Nabi-nabi di masa lalu. Apakah hati mereka sudah membatu karena keracunan pemikiran-pemikiran materialis? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Baca entri selengkapnya »

Iklan