Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Mei 13, 2010

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.

Iklan

Krisis Militansi Pemuda Islam

November 21, 2009

Bismillahi Allahu Akbar.

Apalah artinya suatu masyarakat, tanpa peranan para pemuda? Bagaimana agama akan tegak berdiri menatap segala tantangan, tanpa peranan pemuda? Mungkinkah Islam akan sampai ke hadapan kita, tanpa peranan pemuda? Betapa besar posisi para pemuda dalam kebangkitan. Tidak ada khilaf lagi.

Kalau ingin melihat masa depan sebuah masyarakat; kalau mau melihat masa depan sebuah bangsa; kalau mau menyaksikan eksistensi agama di masa nanti; kalau mau menyaksikan kemegahan sebuah peradaban; lihatlah semua itu dengan parameter keadaan para pemuda di hari ini. Bagaimana keadaan mereka? Menggembirakankah atau sangat mengecewakan?

Pemuda memiliki sifat istimewa dibandingkan generasi-generasi lainnya, yaitu MILITANSI-nya. Mereka bersemangat besar dalam beramal; mereka memiliki fitrah bersih untuk menolong kebenaran dan membela keadilan; mereka memiliki kekuatan berkorban, tanpa pamrih; mereka memiliki ketulusan hati, tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan sempit, baik uang, wanita, atau kekuasaan. Justru, sifat-sifat baik inilah yang selalu dilekatkan kepada para pemuda. Mereka disebut pemuda karena memiliki militansi tinggi, rasa pengorbanan kuat, optimisme menyala-nyala, serta ruh kebangkitan mengharukan.

Militansi tidak identik dengan aksi-aksi serangan bom disana-sini, atas nama jihad melawan Amerika. Militansi juga tidak selalu diterjemahkan sebagai kemampuan konflik, terlibat battle, sampai berdarah-darah. Militansi adalah kesiapan diri bekerja dan berkorban membela kebenaran yang diyakini. Militansi dalam Islam bisa dimaknai sebagai MUJAHADAH.

Contoh amal-amal yang mencerminkan militansi seorang Muslim, misalnya:

[o] Datang ke Masjid untuk mengajar Al Qur’an kepada anak-anak, meskipun jarak cukup jauh, meskipun hari sedang hujan, meskipun saat tiba di Masjid tidak ada satu pun anak yang dijumpainya.

[o] Pulang dari Masjid sambil telanjang kaki, karena sandal yang dipakainya diambil orang, dengan tidak ada niatan dalam hati untuk mengambil sandal orang lain.

[o] Menyerahkan sisa uang di tangan untuk orang lain yang sangat membutuhkan, meskipun dirinya sendiri juga membutuhkan.

[o] Tidak malu berjualan kalender di pinggir jalan raya, untuk mengumpulkan dana bagi rumah perlindungan anak yatim.

[o] Mengendarai motor dalam keadaan hujan deras, demi meyampaikan bulletin ke tangan pembaca, sesuai jadwal terbitnya.

[o] Menempuh perjalanan berkilo-kilo meter sambil jalan kaki, untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat.

[o] Menyelesaikan tugas yang diamanahkan, meskipun harus bergadang sepanjang malam, sambil tubuh terhuyung-huyung menahan kantuk.

[o] Menepati janji, mengingat-ingat janji, sekalipun untuk hal-hal yang kecil.

[o] Tekun dan sabar menjalankan tugas yang berulang-ulang, meskipun hanya berupa menyapu lantai Masjid setiap sore hari. (Bukan kecilnya pekerjaan yang dilihat, tetapi konsistensinya mengerjakan tugas itu).

[o] Menolak pekerjaan yang mengkhianati Ummat. Atau menolak menerima suap, meskipun resikonya harus keluar meninggalkan pekerjaan.

[o] Berani meninggalkan penghasilan besar, demi terjun dalam urusan-urusan pelayanan Ummat. Dan tidak menangisi hilangnya penghasilan itu, ketika suatu hari hidupnya terpuruk dalam kesulitan.

[o] Bersikap solider kepada sahabat. Tidak menciderai hak-hak sahabat, menolongnya dalam kesusahan, menemaninya dalam keterasingan, menghiburnya dalam kesedihan. Berani mengakhirkan kepentingan diri demi kebaikan sahabat.

[o] Berani melindungi kehormatan Islam, ketika ada yang terang-terangan meghina simbol-simbol syi’ar Islam.

[o] Mengorbankan uang yang dimiliki untuk kepentingan Islam, dengan tidak mengingat-ingat kembali pengorbanan itu.

[o] Teguh menjaga amanah-amanah Ummat, sekalipun mengalami berbagai kesulitan dalam menjaga amanah tersebut.

[o] Membela hak hidup seorang Muslim yang terancam bahaya, meskipun jiwanya sendiri terancam.

[o] Menjaga kehormatan wanita, tidak menghinakannya, meskipun dengan cara-cara yang diminta sendiri oleh wanita itu.

[o] Berani membela orang-orang yang terzhalimi, sekalipun berhadapan dengan jaringan “mafia” yang memiliki kekuatan besar.

[o] Menghormati kaum tua, bersikap sopan kepada mereka, tidak merendahkan mereka, meskipun dirinya di atas kebenaran. (Kecuali kepada kaum tua yang telah terkenal kezhaliman dan kesesatannya).

[o] Jelas dalam meyakini suatu pendapat, terbuka dalam berdiskusi, berani mengakui kesalahan diri, serta tidak menzhalimi orang-orang lemah.

Al Qur’an menggambarkan militansi seorang pemuda, yaitu Nabi Yahya عليه السّلا م. Beliau tidak gentar menghadapi para tiran, meskipun resikonya adalah kematian. Beliau lembut hati, sehingga dicintai para makhluk, termasuk binatang-binatang. Begitu juga dengan pemuda-pemuda Al Kahfi. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya, namun rela meninggalkan gemerlap kehidupan demi membela keyakinan. Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Mush’ab, Sa’ad, dll.رضي الله عنهم    adalah para pemuda Mukmin yang tangguh di awal Islam. Mereka menjadi pilar kebangkitan agama ini.

Teringat ungkapan heroik dari seorang tokoh dakwah di Mesir. Beliau rahimahullah pernah mengatakan, “Datangkan kepadaku 5 orang pemuda Islam yang tangguh, maka dengan mereka aku akan menaklukkan dunia!”

Namun Saudaraku… Namun saat memandang realitas masa kini, kita seperti terpana. Kita seperti memandang sesuatu yang menakjubkan.

Saat menyaksikan wajah pemuda-pemuda Islam jaman sekarang, seketika hati kita diliputi berbagai kesedihan. Dada bergemuruh menahan beban kecemasan besar. Lisan pun tak henti-hentinya mengucapkan…astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah al ‘Azhim.

Ya Allah ya Rabbi, harapan kepada para pemuda itu begitu tingginya, tetapi kehidupan mereka sangat jauh. Mereka bukan hanya tidak mengenal kata militansi; bahkan mereka telah menjadi bagian terbesar dari budaya hedonisme yang merajalela saat ini. (Di dunia hedonisme, tidak dikenal istilah Tuhan. Tuhan mereka adalah kesenangan itu sendiri). Para pemuda telah memindahkan kata militansi dari kamus perjuangan dipindah ke kamus budaya permissif. Mereka ridha menjadi hamba hedonisme. Mereka rela menjadi sekrup-skrup mesin Kapitalisme, dengan segala loyalitas dan kemampuan yang dimiliki. Allahu Akbar!!!

Pemuda-pemuda hari ini bertingkah sangat mengecewakan. Mereka berbangga dengan bedak, lotion, cream, SPA, dan perawatan salon. Dari kaki sampai ujung rambut, mereka senang memamerkan merk-merk terkenal. Tubuhnya selalu wangi, berbangga dengan bilangan jumlah mandi setiap setiap hari. Mereka muntah mencium aroma keringat dari medan perjuangan. Mereka mengejek pakaian sederhana, meremehkan sandal jepit, membuang muka dari rambut kusut. Justru para pemuda itu menjadikan para banci sebagai idola. Takut melihat ular. Selalu mencari aman. Tidak mau menetes keringatnya, karena takut kehilangan “kecantikan”.

Potret Pemuda Masa Kini. Sebagian Besar Muslim.

Pemuda di hari ini menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang tidak jelas. Di setiap sakunya ada HP, dengan merk berbeda-beda. Sangat hobi berfoto-foto, untuk menampakkan kegenitan diri. Tiada hari tanpa SMS romantis; tiada hari tanpa “taushiyah” berujung cinta; tiada hari tanpa meng-up date status di facebook; tiada hari tanpa diskusi sia-sia di forum internet (diskusi tanpa hasil, tanpa perubahan); tiada hari tanpa menghabiskan umur percuma.

Saat pagi mereka bangun, komik, novel romantis, dan majalah life style sudah menanti. Saat Dhuha sebelum keluar rumah, mereka berpantas-pantas diri di depan cermin, lebih satu jam. Saat siang bertemu kawan-kawan, segala obrolan tentang kesenangan dan menghabiskan umur, habis mereka telan. Saat sore, ketika mulai lelah, mereka buka media-media pornografi. Saat petang menjelang malam, nongkorng di kafe-kafe. Saat malam telah sempurna, mereka berduyun-duyun mendatangi arena-arena konser musik. Saat merebahkan badan di tempat tidur, mereka berfantasi hal-hal yang mesum. Ketika pagi bangun kembali, mereka siap mengulang-ulang “ibadah hedonisme” seperti itu.

Pemuda hari ini rupanya akan segera meniti jejak pemuda-pemuda sebelumnya. Mereka hidup, berjalan-jalan kesana-kemari sebagai raga tanpa jiwa, sebagai diri tanpa missi, sebagai hidup tanpa karya. Mereka hendak meniti sunnah orang-orang hina, menjalani hidup sekedar menghabiskan umur. Pembicaraan manusia seperti itu tidak lepas dari 3 urusan saja: cari uang, makan-minum, dan bersenang-senang. Dirinya dianugerahi kebaikan yang luas, tetapi disia-siakan. Masya Allah.

Pemuda hari ini bukanlah pemuda yang memiliki missi besar, yang berpandangan jauh ke depan, yang bertanggung-jawab memikul amanah peradaban Islam, yang siap meletakkan hidupnya sebagai sebuah bata di antara ribuan bata konstruksi kehidupan Islami. Pemuda hari ini bukanlah mereka yang berjalan meniti lintasan perjuangan para pendahulu Salaf yang shaleh. Mereka justru terkurung dalam penjara-penjara budaya syahwat yang diciptakan Yahudi. Mereka terpenjara dalam lautan hedonisme yang melemahkan iman dan merusak moral.

Keadaan yang lebih ironis, di antara pemuda itu ada yang “menghedonisasi” (terinspirasi dari istilah “kriminalisasi”) simbol-simbol perjuangan. Mereka berteriak tentang jihad, mengupas syiar peperangan, meng-capture aksi para mujahidin, membawa simbol-simbol para martir, dll. Tetapi semua itu sekedar kendaraan untuk bersenang-senang, sekedar alat untuk menghabiskan umur. Atau sekedar simbol untuk meraih gengsi tertentu di mata manusia yang lain. Adapun nilai perjuangan mereka sendiri, hampir tidak ada. Maklum, sebagian besar amal mereka geluti hanyalah having funs (bersenang-senang) atas nama kemuliaan para mujahidin.

Dalam kesepian jiwanya, di pojok kehampaan hidupnya, para pemuda itu bersenandung, “Ya, aku suka berjuang, aku militan, aku pembela keadilan. Tetapi aku lebih suka berjuang bersama akhwat, misalnya melalui SMS, chatting, e-mail, diskusi di internet, atau rapat bersama mereka sampai larut malam. Aku lebih enjoy berjihad bersama akhwat. Mereka memicu semangatku, membuatku termotivasi belajar, untuk mengejar nilai tinggi, serta mempersiapkan karier yang cemerlang. Inilah inti perjuanganku, inilah jihadku, demi mencapai Ridha Allah, demi fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban naar. Ya Allah ya Rabbi, semoga nanti karierku bagus, moga-moga bisa jadi anggota dewan, atau dipanggil jadi Menteri, buat membahagiakan ayah-ibuku, kakak-adikku, tante-tanteku. Jadi idola para akhwat, so pasti. Ya Allah ya Rasulullah, amin, amin, amin. Akhirnya, mari bersama-sama kita membaca Al Fatihah: ‘Audzubillah…”

Ngenes, ngenes, ngenes sekali… Sejauh itukah keadaan para pemuda kita? Hanya kepada Allah kita berharap karunia dan menyandarkan  pertolongan.

Betapa sulit saat ini mencari pemuda Islam yang militan. Kebanyakan pemuda telah terkurung dalam penjara-penjara hedonisme yang diciptakan Yahudi, baik mereka sadari atau tidak. Yahudi sangat mengenal tabiat mereka, meneliti relung-relung kepribadiannya sampai sedemikian mendalam. Kemudian Yahudi sukses menciptakan segala macam mainan (games) untuk menyibukkan pemuda-pemuda itu. Tanpa disadari, Yahudi laknatullah menggiring para pemuda itu dalam keadaan tangan dan kakinya diborgol, lehernya terikat, kepalanya diber nomer, mereke berjalan tertunduk lesu; menuju liang-liang penjara kehidupan. Dalam keseharian, para pemuda itu tampak hidup bebas lepas, tanpa kendali. Padahal sebenarnya jiwa mereka terkurung oleh penjara-penjara maya (invisible jails).

Selagi para pemuda itu tidak mau keluar dari dunia hedonismenya… Selagi mereka terus menghabiskan umur percuma… Selagi mereka tidak menyadari life style yang diciptakan Yahudi… Selagi mereka anti militansi untuk membela Islam… Selagi mereka menjalani hidup sebagai manusia-manusia tanpa jiwa… Maka akibatnya, suramlah masa depan Islam, suram nasib kehidupan manusia, bahkan suram juga masa depan mereka sendiri.

Tulisan ini sengaja ditulis, sebagai “BOM” untuk meledakkan penjara-penjara maya yang mencengkram akal para pemuda Islam. Mohon dimaafkan bila ada kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati. إن أريد إلا ألصلح ما إستطعت (tidaklah yang aku kehendaki melainkan melakukan perbaikan, sekuat kesanggupanku).

Bukan hanya Islam yang membutuhkan militansi para pemudanya. Ideologi apapun juga membutuhkan militansi pemuda, agar tetap eksis. Bahkan Yahudi bisa “mencengkram dunia”, juga karena militansi. Maka bangkitkan militansimu, untuk membela agamamu! Saat ini, atau tidak sama sekali!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.