Syariat Islam di Lembah Swat Pakistan

April 23, 2009

Kalau membaca tulisan Swat, kita jadi ingat satuan pasukan reaksi cepat Amerika, SWAT. Tetapi ini maksudnya adalah Lembah Swat di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Lembah itu jatuh ke tangan milisi Thaliban, lalu pada awal April 2009 lalu presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengesahkan berkalunya hukum Syariat Islam di Lembah Swat. Keputusan ini menarik, satu sisi melegakan hati kaum Muslimin disana yang rata-rata pro dengan gerakan Thaliban; di sisi lain, hal itu mengamankan posisi Lembah Swat agar tetap berada di teritori Pakistan.

Namun seperti biasa. Pemberlakuan Syariat Islam di Lembah Swat mendapat respon negatif dari Gedung Putih, Washington.Melalui juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, Pemerintah Amerika mengatakan, “Kami kecewa karena parlemen (Pakistan) tidak memperhitungkan legitimasi sipil dan HAM,” kata Jurubicara Gedung Putih, Robert Gibbs, sebagaimana dikutip The New York Times. Kalau kita baca laporan Times edisi online, berjudul “Sharia In Swat Valley”, disana sangat tampak kebencian media itu kepada penerapan Syariat di lembah Swat. Mereka seperti biasa melakukan kebohongan media dengan menyebut fakta-fakta bombastis.

Penerapan Syariat Islam di Swat tidak ubahnya seperti ketika Pemerintah RI memutuskan memberikan hak otonomi pemberlakuan sebagian hukum Syariat Islam di Provinsi Aceh Darussalam. Jadi sifatnya pemberlakuan secara lokal, di daerah tertentu. Namun kualitas pemberlakuan Syariat itu apakah seperti di Aceh sana, wallahu A’lam. Kalau mau jujur, sebenarnya GAM bukan pro Syariat Islam, tetapi lebih pro kepentingan lokal masyarakat Aceh sendiri. Pemimpin senior GAM tidak dikenal sebagai sosok yang memiliki andil dalam pembangunan Syariat Islam.

Shalat di Lembah Swat (Sumber: www.welt.de/english-news).

Shalat di Lembah Swat (Sumber: http://www.welt.de/english-news).

Kalau di Lembah Swat situasinya tampak berbeda. Disana mereka ditunjang oleh pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri. Diharapkan, pemberlakuan Syariat tidak sekedar sebagai formalitas belaka. Ya, konsep pemahaman Islam Thaliban sebagai jaminannya. Mereka selama ini dikenal sebagai komunitas Muslim militan yang sangat merepotkan Barat. Hanya bedanya, di kalangan kaum Muslimin sendiri masih banyak yang menganggap Thaliban itu ekstrem. Contoh, Syafi’i Ma’arif kalau berbicara tentang Thaliban, kesannya negatif terus. Kalangan Liberalis kalau ditanya soal Thaliban, rasanya mereka “mau muntah”. [Maklum, sesuatu yang baik akan diterima baik oleh hati yang baik. Sesuatu yang baik akan diterima sebagai “bom” di hati-hati yang rusak].

Mengapa Amerika selalu negatif dengan pemberlakuan Syariat Islam?

Alasannya sederhana, sebab para politisi dan pemikir di Amerika, mereka telah ratusan tahun mempelajari Syariat Islam. Di mata mereka, KUNCI KEBANGKITAN PERADABAN ISLAM ada di SYARIAT ISLAM itu. Kalau diumpamakan sebagai rumah, Syariat Islam ibarat SERTIFIKAT rumah itu. Bagaimana sebuah keluarga akan hidup tenang, damai, dan aman, kalau sepanjang waktu menumpang di rumah orang? Sebelum mereka memiliki “sertifikat” sendiri, sulit bagi mereka akan hidup dengan karya maksimal.

Seideal-idealnya kaum Muslimin hidup di bawah hukum sekuler, masih lebih baik mereka hidup di bawah payung hukum Islam sekalipun kualitasnya terburuk. Pembangunan ekonomi, pendidikan, birokrasi, sosial, budaya, dan lainnya tidak akan pernah tuntas, sebelum hukum Syariat itu berdaulat di negeri kaum Muslimin. Nah, Amerika sangat tahu tentang persoalan KUNCI ini. Maka mereka dengan segala daya berusaha menghalang-halangi.

Di mata kaum Muslimin sendiri, pemberlakuan Syariat Islam itu ditanggapi dalam tiga tahap:

[Pertama], sikap curiga kepada Syariat Islam. Biasanya rasa curiga itu terfokus pada masalah KEBEBASAN. Banyak orang takut jika Syariat berlaku, mereka akan segera dipasung kemerdekaannya seperti Napi di penjara-penjara.

[Kedua], ketakutan luar biasa di hati rakyat jika nanti mereka tidak mampu memikul amanah Syariat Islam itu. “Bagaimana kalau kami belum siap shalat terus, belum siap memakai jilbab, belum siap meninggalkan riba, belum siap berhenti berzina, mabuk-mabukan, dan lainnya?” Semua ini adalah godaan was-was syaitan yang biasa ditiupkan di hati orang-orang yang selama ini jauh dari tuntunan agama (alias fasiq).

[Ketiga], suatu kondisi KEJUTAN luar biasa, ketika ketakutan tiba-tiba berubah menjadi harapan, rasa tenang, kegembiraan, rasa aman, serta kerinduan untuk selalu bersamanya. Hal ini muncul ketika prasangka buruk masyarakat kepada Syariat Islam tidak terbukti, justru mereka menyaksikan pengaruh besar dari penerapan Syariat itu sendiri bagi perbaikan kehidupannya. Pada suatu titik, manakala mereka telah merasakan benar manfaat Syariat Islam, mereka merindukannya dan tidak ingin lepas darinya.

Kegagalan penerapan Syariat Islam selama ini lebih karena rasa KURANG LEGOWO kaum Muslimin, dan mereka lebih menuruti PRASANGKA BURUK dan rela diombang-ambingkan oleh prasangka itu. Jadi, perkembangan Syariat itu baru mencapai tahap kedua, belum masuk tahap ketiga. Al Qur’an sering mengatakan, “Lau kanu ya’lamuun” (andai saja mereka mengetahuinya). Jadi, banyak orang bersikap negatif kepada Syariat Islam hanya karena berdasarkan pertimbangan “katanya, katanya,…”. Andai mereka mau sabar sejenak, dan ikhlas memasukkan dirinya ke dalam kawasan Daarus Salaam (Rumah Keselamatan) yaitu Syariat Islam, sungguh mereka akan menemukan KEJUTAN yang tidak akan mereka jumpai dengan cara apapun, selain penerapan Syariat Islam. Lihatlah kata Al Qur’an, “Andai mereka mengetahui hakikat sebenarnya.”

Di sisi lain, pihak-pihak luar (Amerika-Eropa) yang telah sangat tahu kehebatan Syariat Islam, mereka merasa ketakutan luar biasa. Oleh karena itu mereka tidak henti-hentinya melakukan fitnah dan lobi untuk menghalangi penerapan Syariat Islam. Hal itu diperparah dengan kondisi lembaga, organisasi, partai, atau tokoh Islam, yang juga termakan oleh “opini horor” yang diciptakan orang-orang di luar Islam. Alih-alih mau menolong penerapan Syariat, mereka malah semakin tenggelam ke dalam pemikiran PLURALISME (sebuah pemikiran yang meyakini, bahwa dengan penerapan Syariat Islam atau tidak, sama saja hasilnya).

Ketika di sebuah sudut bumi ditegakkan kembali bendera Syariat Islam, sebenarnya hal itu juga berarti kembalinya KEDAULATAN ALLAH atas bumi yang diciptakan-Nya sendiri. Jadi, kehidupan di bumi kembali kepada fithrahnya semula. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.