13 Kesalahan Terbesar Dahlan Iskan

November 9, 2012

Tanggal 5 November 2012, Dahlan Iskan datang ke BK DPR untuk melaporkan 2 nama anggota DPR (Idris Laena dari Golkar, dan Soemaryoto dari PDIP) dalam kasus dugaan pemerasan terhadap 3 BUMN. Sedianya, akan menyusul pelaporan 8 nama lain. Kemudian pada 7 November 2012, Dahlan Iskan mengirimkan utusannya (Kepala Biro BUMN, Hambra) untuk menyerahkan surat yang isinya 6 nama anggota DPR yang juga diduga melakukan pemerasan.

Dalam surat di atas Dahlan menjelaskan kronologi modus pemerasan yang dilakukan anggota-anggota DPR. Isi surat sekitar 2-3 lembar kertas. Karena sedikitnya data, sebagian anggota DPR menganggap omongan Dahlan Iskan itu hanya sampah belaka.  Bahkan Marzuki Alie bersiap melaporkan Dahlan ke presiden, kalau dia hanya asal tuduh, dengan tidak memberikan bukti-bukti kuat. “Kalau ternyata fitnah, kami akan membuat surat ke presiden bahwa Pak Dahlan Iskan menuduh anggota DPR tanpa bukti dan fakta,” kata Marzuki Ali (Warta Kota, 8 November 2012, hlm. 11).

Uang BUMN Puluhan Trilun Dibuang-buang dalam Perjudian Manajemen yang Sangat Mengerikan.

Terkait manuver-manuver Dahlan Iskan ini, setidaknya ada 13 kesalahan besar yang dia lakukan. Disini kita akan sebutkan kesalahan-kesalahan itu, berikut pendapat tokoh, jurnalis, serta perbandingan data.

[1]. Dahlan Iskan tidak segera melaporkan kasus pemerasan ke aparat hukum. Menurut Ketua MK, Mahfud MD, Dahlan telah melanggar kewajiban (prosedur) hukum. Mahfud berkata, “Menurut saya, Dahlan melanggar kewajiban hukum.” Mahfud menjelaskan, Dahlan Iskan katanya mengetahui ada tindak pemerasan, mengapa dia tidak segera melapor ke aparat hukum (kepolisian)? Mengapa justru melapor ke BK DPR? Padahal lembaga itu hanya mengurusi masalah etika ke-DPR-an. Individu harus taat hukum dan tunduk pada aturan di dalamnya. Jika warga negara tahu ada kejahatan, dia wajib lapor ke aparat. (Republika, 7 November 2012, hlm. 10).

[2]. Dahlan Iskan lebih memilih koar-koar di media. Dalam artikel di Republika, berjudul “Ingin Jadi Seperti Jokowi”, hasil tulisan EH Ismail, dia mengkritik langkah Dahlan Iskan yang cenderung berkoar-koar di media. “Saya hanya sedikit ingin mengkritik langkah Dahlan Iskan yang lebih memilih koar-koar di media dan “hanya” berbicara kepada BK DPR terkait anggota dewan pemeras. Kalau memang dia mengetahui secara pasti orang yang mencoba memeras BUMN, ya laporkan saja ke KPK. Ini masalah hukum,” tulis EH. Ismail. (Republika, 7 November 2012, hlm. 10).

[3]. Dahlan Iskan tidak membawa bukti materiil terkait tuduhan pemerasan BUMN oleh anggota DPR. Dalam pertemuan dia ke BK DPR pada 5 November 2012, dan surat yang dikirimkan ke BK DPR tanggal 7 November. Di dalamnya Dahlan Iskan tidak membahas soal bukti-bukti materiil pemerasan. Tetapi hanya menyebutkan nama anggota DPR dan kronologi peristiwa pemerasan. Surat Dahlan sendiri hanya 2-3 lembar halaman, sehingga ia dianggap sebagai “data sampah”. Akbar Faisal dari Hanura berkata, “Saya takutnya kita mengembangkan informasi yang tidak jelas. Jadi saya menganggap info ini sampah. Lebih bagus Pak Dahlan bawa bukti ke KPK.” (Dahlan Iskan Informasinya Hanya Kertas Gombal, Voa-islam.com, 8 November 2012).

[4]. Masalah pemerasan bukan isu baru, tetapi sudah seperti mendarah-daging di negeri ini. Tentu kita menolak cara-cara pemerasan itu, apapun motif dan modusnya. Tetapi kalau menjadikan masalah itu sebagai OPINI BESAR rasanya terlalu aneh. Masalah pemerasan begitu sudah lagu lama, banyak ceritanya, dan terjadi di berbagai bidang kehidupan. Ada pemerasan anggota DPR, ada pemerasan aparat polisi/TNI, ada pemerasan partai politik, ada pemerasan para purnawirawan, ada pemerasan oleh LSM, ada pemerasan oleh preman, ada pemerasan oleh wartawan “bodrex”, ada pemerasan oleh orang yang mengaku sebagai anggota KPK, ada pemerasan oleh ini dan itu. Maksudnya, kalau masalah begitu dijadikan MENU UTAMA, maka kita seperti orang yang tidak pernah mendengar berita pemerasan sama sekali. Seolah, sebelum Dahlan bicara, di Indonesia tidak ada modus-modus seperti itu.

Dirut RNI, Ismed Hasan Putro, notabene adalah anak buah Dahlan Iskan; dia tak berani memastikan bahwa tindakan anggota DPR itu merupakan pemerasan. Ismed mengatakan, aksi si anggota DPR itu merupakan modus umum ketika meminta ke BUMN. “Tidak, tidak ada (paksaan permintaan). Yang saya sampaikan dari awal sebetulnya kan sangat sederhana. Itu kan modus, salah satu modus yang sebetulnya sudah menjadi rahasia umum,” kata Ismed Hasan Putro (Republika, 6 November 2012, hlm. 11).

[5]. Dahlan Iskan berusaha mengalihkan fokus masalah, dari inefisiensi di tubuh PLN selama 2009-2010 yang merugikan keuangan BUMN hingga 37,6 triliun, ke isu pemerasan anggota oleh anggota DPR. Sesuai audit BPK, kerugian di PLN sudah terjadi, dengan nilai inefisiensi (buang-buang anggaran) senilai sekitar 18 triliun tahun 2009, dan sekitar 19,5 triliun pada tahun 2010. Mestinya, Dahlan fokus dan gentle bertanggung-jawab atas temuan BPK itu. Bukan malah membuat opini-opini yang bersifat mengalihkan isu ke masalah lain. Tidak masalah ada isu pemerasan, tetapi MAIN CASE Anda harus dihadapi secara laki-laki, bukan secara cewek. Katanya manajer handal, kok mengalihkan isu?

[6]. Kerugian negara dalam masalah inefisiensi PLN amat sangat besar, hingga mencapai 37,6 triliun rupiah. Ia bisa senilai 5 kali Mega Skandal Bank Century yang merugikan negara senilai 6,7 triliun rupiah. Kalau untuk Bank Century ini DPR bisa mengadakan sidang paripurna, maka untuk kasus PLN, mestinya DPR bisa mengadakan sidang pari-pari-pari-pari-purna-nananana. Karena saking paripurnanya. Bangsa Indonesia harus meminta pertanggung-jawaban Dahlan Iskan terkait masalah ini. Jangan biarkan dia lolos, sebab nanti keuangan negara akan dihambur-hamburkan oleh para pejabat dengan seenak udelnya sendiri. Kalau kerugian di PLN ini dibiarkan, waduh benar-benar bakal ancur negara ini. Na’udzubillah min dzalik.

[7]. Dahlan Iskan begitu meremehkan kerugian keuangan negara (BUMN). Hal itu tercermin dari kata-kata dia sendiri. “Benarkah BPK menemukan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat saya jadi Dirut-nya? Sangat benar. Bahkan, angka itu rasanya masih terlalu kecil. BPK seharusnya menemukan jauh lebih besar daripada itu,” tulis Dahlan Iskan. Lihat, Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp. 37 Triliun (dahlaniskan.wordpress.com). Hal ini menunjukkan, bahwa Dahlan Iskan begitu meremehkan keuangan negara. Seolah rugi 1, 2, 3 triliun tak masalah; rugi 37 triliun tak masalah; bahkan mestinya rugi sampai 100 triliun, kata dia. Ini adalah corak manusia bebal yang tidak memiliki sensitivitas, sok merasa pintar, sok paling visioner, sok paling “leadership”, dan sangat tidak empati dengan penderitaan finansial masyarakat luas. Manusia macam begini mestinya jangan sekali-kali didekatkan kepada jabatan negara. Bisa hancur negara ini.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Itu Lho, Lady Gaga & Irshad Manji…

Mei 21, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sungguh dalam soal Lady Gaga & Irshad Manji, saya tidak memiliki banyak catatan informasi. Dalam sebuah diskusi internal sampai saya meminta seorang kawan menjelaskan, “Ada apa dengan Irshad Manji?” Kayaknya…pertanyaan yang kuper banget ya. Maklum sih, sudah lelah mengikuti berita-berita media. Kata orang…sudah cuaaaapek!

Tertarik untuk ikut berkomentar, karena memang isu “Lady Gaga & Irshad Manji” ini sudah sebegitu populer dan gegap gempita. Klas beritanya, mengalahkan kehebohan kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak. Siapa tahu, dengan sedikit goresan kecil ini, bisa memberikan taste berbeda.

Mari kita lihat…

“Enalin…owe Lady Gagak sejati, gitu.”

[1]. Kaum Muslimin di Nusantara ini seperti tidak berdaya. Kita selama ini selalu menjadi “konsumen isu” begitu gembul dalam menelan setiap isu-isu yang beredar. Kita belum sampai ke taraf: “analis isu”, “pemicu isu”, atau “regulator isu”. Kita baru sampai di tingkat “konsumen isu”. Selama bertahun-tahun, utamanya sejak Reformasi (atau sejak tahun 2000-an), kita selalu menjadi “sasaran permainan isu”. Jarang sekali kaum Muslimin menjadi “kreator isu“; apalagi sampai menjadi “regulator isu“. Dalam isu seputar Irshad Manji dan Lady Gaga, lagi-lagi kita menjadi “konsumen isu”. Begitu terus. Setiap ada isu baru, kita akan menggumulinya, tanpa tahu jelas kemana arah isu bergulir dan bagaimana mengambil manfaat dari beredarnya isu tersebut.

[2]. Publikasi Lady Gaga & Irshad Manji yang berlebihan, tak lepas dari bisnis media yang memang sangat butuh isu. Media-media berita (termasuk TV), mereka sangat butuh isu seperti itu, untuk mendapatkan nafkah. Termasuk eksploitasi pemberitaan Sukhoi juga untuk tujuan cari iklan. Ya di zaman seperti itu tidak usah basa-basilah, akui saja secara jujur. Seiring terjadinya kemelut-kemelut sosial, apapun masalahnya, ada yang merasa berduka, tetapi bagi orang-orang media itu adalah “rizki jariyah” (rizki terus mengalir, selama masih ada masalah sosial).

[3]. Ada yang mengatakan, blow up kasus Lady Gaga & Irshad Manji, tidak lepas dari upaya menutupi kasus korupsi seorang pimpinan partai politik, yang kasusnya sedang didalami oleh KPK. Senyampang semua mata dan kesadaran melihat isu Lady Gaga dan Irshad, maka kasus korupsi ketua partai politik berwarna biru itu terlewat dari pandangan. Benar kan?

[4]. Ummat Islam mestinya jangan terus menjadi “pemakan isu”. Janganlah… Sampai kapan kita akan jadi bulan-bulanan isu media. Kita ini harus bersatu dan punya agenda bersama; lalu menjalankan agenda itu secara bertahap; lalu konsisten dengan agenda itu sampai membuahkan hasil. Adapun soal mengomentari isu ini dan itu, serahkanlah kepada ahlinya. Jangan semua kesadaran, pikiran, kekuatan, emosi, dicurahkan semua disana. Nanti kapan proyek-proyek pembangunan Ummat akan kelar, kalau pikiran kita terbawa terus oleh isu-isu seperti itu?

[5]. Sebenarnya, kalau ada isu-isu negatif, pikiran kita jangan melulu tertuju ke obyek itu (seperti Lady Gaga dan Irshad Manji). Mereka ini kan layaknya pion-pion (figuran); di belakang mereka ada tangan-tangan kuat yang bermain. Mestinya perhatian kita juga diarahkan ke “kekuatan di balik layar” itu. Salah satunya adalah hegemoni media. Saya yakin, masalah Lady Gaga dan Irshad Manji itu akan sangat kecil; kalau tidak dibesar-besarkan oleh media. Jadi, saat kita “berperang” menghadapi Lady Gaga dan Irshad Manji, sebenarnya kita sedang berperang menghadapi “gelombang opini” yang berhasil diproduksi oleh media-media massa (khususnya TV) yang membesar-besarkan kedua obyek itu (Lady Gaga dan Irshad Manji). …tapi jangan pula nanti arah pikiran kita jadi masuk ruang labirin seperti ini: “Nah, makanya sudah saatnya kita punya TV sendiri. Mari kita bangun TV Islami yang lebih baik dari TV-TV sekuler itu.” Jangan begitu berpikirnya, sebab hal itu sudah ribuan kali dipikirkan kaum Muslimin di negeri ini, dan faktanya hasilnya nihil. Jangan bermimpi pengusaha-pengusaha Arab akan menggelontorkan investasi untuk membangun TV Islami; sebab mereka sudah sibuk membeli klub-klub bola di Inggris. Solusi counter media tidak melulu membuat TV Islami (apalagi kalau kita tidak ada uang untuk membuatnya). Ummat Islam mestinya berpikir kreatif tentang cara-cara menghadapi hegemoni media.

[6]. Ada kemiripan pesan yang dibawa oleh Lady Gaga maupun Irshad Manji, yaitu: konfrontasi terbuka dan terang-terangan terhadap nilai-nilai MORALITAS manusia (khususnya sesuai ajaran Islam). Kampanye-kampanye Homoseks, Gay, Lesbian, marak dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berkaitan dengan perang KONTRA MORAL yang dijalankan agen-agen Zionisme (Freemasonry). Bahkan sebutan “Kiamat 2012” itu seperti sebuah simbolisasi agressi kontra moral yang sangat massif, dimulai tahun 2012.

[7]. Bagaimanapun juga, jangan putus-asa terhadap makar manusia-manusia anti Allah dan Rasul-Nya. Jangan putus-asa. Sehebat-hebatnya makar Zionisme, nanti ujungnya juga akan runtuh. Kaum Zionis pada dasarnya sangat tahu “jadwal sejarah” itu; tapi mereka berusaha menikmati senikmat-nikmatnya proses menuju ujung kekalahan nanti. Solusi atas masalah ini: jangan lepas-lepas dari Al Qur’an, Sunnah, dan ilmu-ilmu ulama Salaf. Jadilah Muslim Ortodoks, karena ia sangat ditakuti oleh Zionisme dan sekutunya. Kalau kita hidupkan semua itu, tak ada yang dikhawatirkan dari Lady Gagak, Irshad Manji, dan kawan-kawan.

Akhirnya…

Sebagai upaya nahyul munkar terkait munculnya isu-isu sosial seperti Lady Gaga dan Irshad Manji, tentu sangat boleh kita melakukan upaya-upaya penolakan. Hanya saja, ada beberapa catatan, perlu diperhatikan: Kita jangan hanya menjadi pemakan isu, kita harus lebih berdaya dari itu; kita jangan hanya melihat obyek isu, tetapi lihat juga siapa penggeraknya; kita jangan melupakan agenda-agenda kongkret ummat yang sudah disepakati untuk dijalankan dan bersikap konsisten di atasnya.

Oke, sampai disini dulu. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.


Kerusuhan Ambon = Ongkos Politik!

September 13, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di Ambon terjadi lagi kerusuhan, meskipun tak sedahsyat kerusuhan 19 Januari 1999. Tetapi skalanya lumayan serius. Beberapa warga meninggal, rumah-rumah ada yang dibakar, ratusan orang jadi pengungsi. Tentu saja kita prihatin atas semua ini.

Kerusuhan Ambon terbaru kalau dikaji lebih dalam, sebenarnya HASIL REKAYASA juga. Sama seperti kerusuhan-kerusuhan sosial yang terjadi selama ini, umumnya hasil rekayasa. Hal seperti ini kan merupakan bentuk PENGALIHAN ISU, seperti yang sering kita dengar selama ini.

Alhamdulillah, saat ini sudah lebih jarang terjadi kasus-kasus terorisme, dalam rangka pengalihan isu. Tetapi rupanya, di negeri ini “selalu gak kekurangan bahan” untuk pengalihan isu. Tentu kita masih ingat, bagaimana insiden Ciketing, Kerusuhan Cikeusik, kerusuhan di Kuningan, dll. yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat isu-isu terorisme mulai mereda, isu kerusuhan marak.

Ini kan tidak lepas dari EPISENTRUM POLITIK, yaitu isu-isu seputar korupsi yang saat ini sangat kuat berhembus di Jakarta. Lihat disana, ada Nazarudin, Wisma Atlet SEAGAMES, Andi Nurpati, kericuhan internal KPK, elit-elit Partai Demokrat yang didakwa terlibat korupsi, dll. Semua itu, butuh sarana untuk dialihkan dari perhatian publik.

Ya mungkin yang jadi pertanyaan, mengapa elit-elit politik di Jakarta begitu tega mengorbankan rakyat kecil di bawah, demi melindungi kepentingan politik dan ekonominya? Jawabnya mudah saja. Secara fisik, kita memang berbicara tentang manusia; tetapi secara jiwa, kesadaran, nurani, kepribadian, kita hakikatnya sedang bicara tentang SYAITAN. Inilah yang dikenal sebagai syaitan dari golongan manusia. (Untuk lebih jelasnya, silakan baca artikel berikut: Syaitan Di Sekitar Kita).

Disinilah dilemanya hidup di Indonesia. Kalau kita katakan pentingnya bangsa ini meganut sistem Islami, agar tidak terus terpuruk seperti ini. Seketika kita dituduh radikal, ekstrem, garis keras, bahkan teroris. Tetapi kalau menyerahkan semua ini kepada orang-orang gak genak ini, urusan juga tidak selesai-selesai. Selalu saja mereka menghidangkan kehidupan ruwet di hadapan masyarakat yang sudah keletihan ini.

Harapan kita kepada Allahur Rahmaanur Rahiim, semoga kehidupan kita nanti menjadi lebih baik. Kalau bukan kita, setidaknya kehidupan anak-cucu kita lebih baik. Allahumma amin.

 

AM. Waskito.

(Kosa kata gak genah = tidak beres alias menyimpang).