Pertanyaan Kritis untuk Para Penghujat NEGARA ISLAM

Agustus 15, 2009

Jauh-jauh hari Nabi Saw sudah mengingatkan, bahwa kelak akan muncul banyak fitnah. Memegang agama saat itu ibarat menggenggam bara api. Kalau bara dilepaskan, ia akan padam; kalau bara terus digenggam, tangan akan hangus. Betapa sulitnya menjadi orang ISTIQAMAH dalam keadaan seperti ini. Apalagi, banyak aktivis Islam yang semula sangat militan dan istiqamah, lalu mereka mulai berguguran satu per satu karena fitnah jabatan, harta, dan wanita. Bukan hanya orang kafir yang menanti-nanti agar kita terjerumus. Para mantan aktivis itu juga akan tersenyum puas kalau melihat kita ikut-ikutan berguguran.

[Allahumma ya Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal Akhirah. Wa sallimna min kulli fitnatin, wa dhalalah, wa fasad. Waj’alna mustaqiman zhahira wa bathina ila akhiri hayatina. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin].

ISLAM ANTI TERORISME

Ajaran Islam sama sekali tidak mengajarkan praktik terorisme. Banyak ulama, lembaga-lembaga Islam, serta para cendekiawan Muslim yang bekerja keras mengingkari praktik terorisme. Cukuplah ayat ini sebagai dalil yang sering dibacakan oleh para khatib. “Sesungguhnya Allah itu memerintahkan berbuat adil dan ihsan, memberi karib-kerabat, mencegah perbuatan keji dan munkar, serta permusuhan. Dai memberi pelajaran kepadamu agar kalian mengambil pelajaran.” (An Nahl: 90).

Jika ada ajaran Islam yang dianggap paling keras, maka ia adalah JIHAD Fi Sabilillah. Jihad seringkali termanifestasikan dalam bentuk peperangan. Ya, mana lagi urusan manusia yang lebih keras dari peperangan? Namun, dalam Jihad itu pun Islam memberikan adab-adab. Perang dalam Islam bukan untuk misi penjajahan, tetapi untuk menyebarkan Rahmat Islam.

Seperti contoh, Panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra. beliau dengan legowo menyerahkan kembali harta kaum Nashrani Palestina yang semula diberikan kepada pasukan Islam sebagai jaminan keamanan atas mereka. Namun waktu itu Khalifah Umar Ra. Memerintahkan pasukan Islam kembali ke Madinah. Panglima Abu Ubaidah dan pasukannya patuh Khalifah, mereka harus segera meninggalkan Palestina. Kaum Nashrani Palestina tahu rencana penarikan pasukan Islam itu. Mereka dengan menghiba-hiba meminta supaya pasukan Islam tetap berada di Palestina. Bahkan mereka berjanji akan menambahkan jaminan hartanya. Di mata kaum Nashrani, pasukan Islam meskipun berbeda agama, mereka sangat menghargai kaum Nashrani. Tidak melecehkan mereka sedikit pun. Berbeda dengan pasukan Romawi. Meskipun seagama dengan mereka, tetapi kerjanya menindas terus warga Palestina. Penindasan Romawi sementara waktu berakhir ketika pasukan Islam datang, lalu mengusir Romawi dari Palestina. Ini adalah contoh nyata adab-adab Islami di medan konflik.

Islam tidak mengenal istilah kolonialisme seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Islam telah bersentuhan dengan aneka jenis keyakinan manusia, tetapi disana tidak ada penjajahan. Kaum Muslimin tidak memiliki sejarah penjajahan di belahan bumi manapun. Berbeda dengan Eropa. Seakan, dimanapun mereka menginjakkan kaki di muka bumi, mereka ingin menindas manusia-manusia yang mereka temui. Islam suci dari hal-hal seperti ini.

Nah, atas semua itu, lalu terjadilah aksi-aksi terorisme di berbagai tempat. Pelakunya mengklaim sebagai mujahidin yang sedang menjalankan Jihad Global melawan Amerika. Sasaran-sasaran sipil mereka serang, seperti yang berkali-kali terjadi di Indonesia. Korban warga sipil berjatuhan, termasuk orang-orang yang memiliki KTP Islam. Kebanyakan serangan dilakukan dengan bom, bahkan bom manusia atau bom mobil. Semua aksi kekerasan itu lalu diklaim sebagai Jihad, pelakunya disebut Mujahidin, yang wafat diklaim sebagai Syahid.

Dan anehnya, dunia internasional yang notabene mayoritas kafir, malah setuju, mendukung, meyakini, serta membenarkan, bahwa semua aksi-aksi itu adalah manifestasi Jihad Fi Sabilillah. Lho, katanya mereka anti terorisme, tapi malah setuju dengan DEFINISI JIHAD menurut para pelaku kekerasan itu? Ini aneh bin ajaib. Seharusnya mereka memahami Jihad sesuai pendapat mainstream ulama-ulama Islam. [Kalau memang benci terorisme, harusnya mereka merujuk definisi Jihad menurut ulama-ulama yang masyhur, bukan menurut pelaku aksi-aksi itu sendiri].

Sekali lagi saya tegaskan, sekalipun dalam konfrontasi peperangan, Jihad Fi Sabilillah memiliki adab-adab. Itu sudah pasti. Namun dalam aksi terorisme kenyataannya sangat aneh. Mau disebut Jihad, atas dasar apa mereka berperang? Di atas konflik apa mereka berperang? Di pihak mana mereka berdiri, dan dengan siapa mereka berperang? Dimana medan perang itu berada dan bagaimana aturan main yang disepakati pihak-pihak yang terlibat perang? Semuanya serba tidak jelas.

Islam adalah agama yang sempurna, memiliki aturan-aturan dalam segala sisi. Mulai dari adab masuk WC, saat bercermin, ketika makan, berpakaian, berhubungan seksual dengan isteri, sampai menegakkan kepemimpinan, Islam memiliki aturannya. Lha ini, ada kelompok Islam yang katanya pro Syariat Islam, tetapi mereka melancarkan serangan militer seperti orang-orang yang tidak belajar adab Islam. Aneh tentunya.

Lalu karena aksi-aksi kekerasan semacam itu, ajaran Islam menjadi bulan-bulanan kaum kuffar. Salah satu ajaran Islam yang sangat dizhalimi pasca kasus-kasus teror ini adalah DAULAH ISLAMIYYAH (Konsep Negara Islam).

Kita dengar di TV-TV pernyataan para tokoh, baik dari kalangan aparat, mantan pejabat, atau orang-orang yang dianggap pakar. Komentar-komentar mereka sangat perih dalam menyerang Konsep Negara Islam. Di mata mereka, isu Negara Islam inilah yang dianggap biang kerok terorisme. Kalau Anda mendengar pernyataan Sidney Jones, pasti ujung-ujungnya menyerang DI/TII di masa lalu. Lho, apa hubungannya teror bom dengan DI/TII? Lagi pula, bisakah Sidney menyebutkan fakta sejarah, bahwa suatu negara bisa berdiri dengan teror bom? Hanya orang bodoh yang akan membenarkannya.

DAULAH ISLAM TIDAK BERSALAH

Ketika kita bicara tentang fakta terorisme, saat itu kita bicara tentang cara-cara kekerasan yang tidak dibenarkan oleh Syariat Islam. Terorisme tidak bisa ditarik ke ajaran Islam, begitu pula sebaliknya. Maka otomatis, terorisme tidak bisa dikaitkan dengan seluruh sisi ajaran Islam, termasuk Daulah Islamiyyah.

Mengaitkan Daulah Islamiyyah dengan terorisme adalah fitnah besar. Sejak jaman Nabi Saw dan Para Shahabat Ra., sampai saat runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah di Turki, tidak ada satu pun daulah-daulah itu yang ditegakkan dengan cara teror. Apalagi dengan bom manusia dan menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Secara teori, tidak ada satu pun negara di dunia yang bisa lahir dengan cara teror. Teror itu akan membangkitkan amarah manusia. Para pelaku teror alih-alih akan didukung, mereka justru dibenci oleh masyarakat luas. Bahkan kalau mau jujur, kelompok IRA di Irlandia pun sampai saat ini masih gagal memisahkan wilayahnya dari Britania Raya. Padahal aksi-aksi serangan IRA sudah sangat dikenal di dunia, jauh sebelum para pemuda-pemuda Muslim terjun di bidang ini.

Ajaran Islam pun tidak memberi ruang bagi aksi-aksi terorisme. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang seolah menyuruh melakukan teror, misalnya:

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah).” (Al Baqarah: 191).

Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (An Nisaa’: 89-90).

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (At Taubah: 5).

Sepintas lalu, ayat-ayat ini memerintahkan kaum Muslimin menyerang orang-orang musyrikin dimana saja mereka berada. Tetapi kalau Anda membaca ayat tersebut secara lengkap, akan segera tampak bahwa disana ada KONTEKS-nya. Ayat-ayat ini berkaitan dengan permusuhan antara kaum Muslimin di Madinah dengan kaum musyrikin Makkah. Permusuhan itu sudah terang-benderang, sudah sama-sama dimaklumi oleh kedua belah pihak. Kaum musyrikin Makkah menghalangi Ummat Islam berhijrah ke Madinah, mereka berkali-kali hendak membunuh Nabi Saw., dan mereka memperlakukan kaum Muslimin selama di Makkah dengan sangat kejam. Semua itu menjadi BUKTI NYATA bahwa konflik di antara kedua belah pihak sudah matang, tinggal diselesaikan di medan perang. Fakta berbicara, bahwa 2 tahun setelah Hijrah Nabi, pecahlah Perang Badar. Perang itu terjadi tidak lama setelah kaum Muslimin memiliki pijakan kaki di Madinah. Hari saat terjadi Perang Badar oleh Al Qur’an disebut sebagai Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang haq dan bathil. (Surat Al Furqan: 41).

Ayat-ayat seperti di atas tidak boleh dipahami secara SERAMPANGAN. Tetapi kita harus melihat bagaimana Nabi Saw. dan Shahabat Ra. memahaminya. Untuk menerjuni konflik itu harus jelas dulu duduk masalahnya. Contoh terbaik, sebelum kaum Muslimin memerangi Kisra Persia, Nabi Saw. pernah mengirimkan surat kepada Kisra, lalu surat tersebut dirobek-robek oleh Kisra. Sejak saat itu dimaklumkan perang kepada Kisra Persia, meskipun realisasinya baru terjadi di jaman Khalifah Umar bin Khattab Ra. Kisra Persia adalah kaum musyrikin, tetapi Nabi Saw. tidak serta-merta memerintahkan kaum Muslimin memerangi mereka.

Begitu pula, saat pembebasan Kota Makkah. Waktu itu kaum Muslimin memasuki Kota Makkah dengan penuh kehormatan, sedang orang-orang musyrik tunduk terhina. Tetapi disini, warga Makkah tidak diserang habis-habisan, seperti dalam ayat-ayat di atas. Mereka dibebaskan oleh Nabi Saw. Orang-orang yang melarikan diri dari Makkah, tidak dikejar. Bahkan Hindun isteri Abu Sufyan dan warga Makkah lain, mereka meyakini bahwa Nabi itu orang baik, pasti tidak akan menzhalimi mereka. Karena itu pula warga Makkah berbondong-bondong masuk Islam.

Memang pada hakikatnya, Jihad Fi Sabilillah itu sebuah sarana untuk menyebarkan Rahmat Islam. Ia bukan metode untuk merusak kehidupan, menghancurkan harta-benda, membunuhi manusia-manusia tak berdosa. Allah Maha Kaya, untuk apa Dia memerintahkan manusia berbuat zhalim seperti itu? Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan: “Janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (Al Ankabuut: 36).

Dapat disimpulkan, Daulah Islamiyyah tidak ada kaitannya sama sekali dengan terorisme. Hanya orang-orang JAHIL saja yang akan menegakkan Daulah Islamiyyah dengan metode teror. Baik secara Syar’i, fakta sejarah, dan teori, tidak ada negara yang berdiri dengan metode teror. Umumnya melalui gerakan massa, gerakan politik, gerakan militer, kudeta kepemimpinan, atau perang terbuka.

Secara pribadi saya mengajak diskusi terbuka kepada siapapun yang selama ini menuduh bahwa aksi-aksi terorisme itu ditujukan untuk menegakkan Daulah Islamiyyah. “Tunjukkan bukti-bukti kalian, kalau kalian adalah orang yang benar!” (Al Baqarah: 111).

Baca entri selengkapnya »

Iklan