Premanisme dan Nasib Bangsa Kita

Februari 28, 2012

REALITAS HUKUM INDONESIA: “Di Indonesia ini, semua orang boleh berbuat kekerasan, selain FPI. Boleh membunuh, menghancurkan properti, tembak-menembak di jalanan; selain FPI. Boleh mengepung bandara, mengacung-acungkan golok dan parang di bandara, boleh mengancam bakar pesawat, mau membunuh tokoh-tokoh; selain FPI. Boleh memfitnah, memprovokasi, menzhalimi, mendustai masyarakat, mencuci-otak manusia; terutama demi menghancurkan FPI.” Begitulah realitas hukum yang ada…

Sementara, kasus pembunuhan oleh John Key dan kawan-kawan, dianggap kriminal biasa. Kasus penyerbuan preman ke RSPAD sehingga terbunuh dua orang, dianggap perbuatan preman biasa. Kasus penyerbuan manusia-manusia berhati kufur dan zhalim ke bandara di Palangkaraya, dianggap “aspirasi masyarakat”. Kasus kerusuhan di LP Kerobokan Denpasar Bali, dianggap “ya itu kan gesekan antar Napi saja”. Begitulah…banyak toleransi, banyak helah, banyak pemaafan terhadap semua yang berbau kekerasan itu. “Selagi bukan FPI, segalanya halal di negeri ini,” begitulah kredonya.

Padahal ya…sekeras-kerasnya FPI, sebandel-bandelnya aksi mereka, sesangar-sangarnya perbuatan aktivisnya; semua itu rata-rata ada tujuannya. Misalnya, menolak minuman keras, menolak pornografi, menolak perjudian, menolak liberalisasi, menolak korupsi, menolak tirani preman-preman, menolak bahaya aliran sesat, dan sebagainya. Jadi motivasinya selalu ada unsur KEBAIKAN. Hanya saja, caranya kadang dengan kekerasan, karena sarana hukum sudah sulit diharapkan. Bagaimana hukum akan bertindak, wong banyak aparat polisi, militer, perwira, atau pejabat, malah melindungi sarang-sarang kemungkaran (hedonisme, miras, narkoba, perjudian, pornografi, korupsi, dll.).

Kini taring-taring kaum preman semakin kelihatan. Aksi-aksi mereka semakin nekad, terang-terangan, dan tanpa ampun. Perang antar geng atau kelompok preman, sudah menjadi “agenda keamanan” rutin. Cakar-cakar kaum preman semakin tajam menukik ke jantung. Masyarakat semakin takut, semakin lemah, dan tak berdaya. Preman semakin menguat, keamanan semakin langka, penegakan hukum semakin ambles ke dalam tanah.

Lalu apa yang terus dilakukan media-media massa, para politisi, aktivis LSM, Komnas HAM, seniman-seniman, dan lain-lain?

Mereka terus saja memusuhi upaya nahi munkar (seperti FPI). Mereka mimpikan “Indonesia Tanpa FPI”. Ya, agar kebanditan, kehitam-legaman amoralitas, kekejian, kebrutalan preman-preman, dan seterusnya semakin merajalela. Sampai suatu saat, semua kekejian itu akan mengarah ke anak-anak, isteri, dan kerabat orang-orang yang memusuhi FPI itu.

FPI (atau gerakan Islam sejenis) tidak disukai oleh orang-orang yang menginginkan Indonesia dikuasai preman-preman; tidak disukai oleh mereka yang ingin anak-anak Indonesia selalu teler di jalan-jalan akibat menenggak miras; tidak disukai oleh mereka yang merindukan generasi muda Indonesia menjadi pecandu seks bebas, pelacuran, dan homoseks, akibat pengaruh deras pornografi; tidak disukai oleh mereka yang ingin agar perjudian menjadi transaksi kehidupan legal, sama seperti legalnya berdagang, bertani, dan menjadi nelayan; tidak disukai oleh para penjajah yang ingin mencabik-cabik kehidupan manusia Indonesia, sampai ke tulang-belulang terdalam. …intinya FPI tidak disukai oleh mereka yang ingin agar Indonesia dikuasai oleh raja-raja preman, kaum pecundang, hedonis, dan manusia durjana.

Tidak ada yang lebih berbahaya, selain media-media TV yang telah merusak nalar publik; mencuci-otak manusia; melahirkan kelumpuhan nasional, disintegrasi, memakmurkan hedonisme, memakmurkan kemiskinan, serta membunuhi jiwa-jiwa manusia (tak berdosa) yang mestinya dilindungi. Bandit-bandit berhati setan itu marah dengan pukulan tangan FPI; tetapi tidak marah dengan pembunuhan-pembunuhan keji. Mereka marah dengan rusaknya properti bar-bar dan nights club, tetapi tidak marah dengan hancurnya moral generasi muda. Mereka benci dengan jubah dan sorban FPI, tetapi bersikap welcome kepada penjajahan asing. Begitulah seterusnya…

Singkat kata…media-media sekuler, media-media TV, kaum hedonis, penyuka amoralitas, politisi busuk, dll. mereka semua adalah kawanan srigala-srigala penghancurkan kehidupan bangsa dan negara. Indonesia semakin sakit di tangan mereka; bangsa semakin kusut bersama mereka; Nusantara semakin tercabik-cabik dengan ide-ide konyol mereka.

Bilamana srigala-srigala moral itu terus bicara, alamat bangsa kian menderita. Bilamana mereka terus ngoceh, alamat nasib rakyat jelata semakin terleceh. Bilamana mereka membuat teori-teori, yakinlah semua itu akan berujung dengan korupsi.

Mana mungkin berharap belas kasih kepada srigala moral? Nonsense.

Mine.