Barcelona dan Messi, Siapa Butuh Siapa?

Mei 12, 2012

Tanpa Gue, Emang Lu Bisa Menang?

Musim 2012 ini bisa dianggap sebagai musim paling buruk bagi Barcelona FC. Saat performa mereka sedang menanjak, Barca nyaris kehilangan semua gelar juara. Peluang terakhir meraih tropi piala Raja, Copa del Rey.

Rasanya sebuah ironi, saat banyak penggemar Barca sedang mengelu-elukan permainan Tiki Taka, justru Barca terpuruk. Pukulan paling telak ialah ketika Barca bermain versus Chelsea di Camp Nou, 25 April 2012. Dalam pertandingan itu Barca ditahan imbang 2-2. Padahal saat bermain di kandang Chelsea, Barca kalah 2-1. Total akhir angka 3-2 untuk kemenangan Chelsea.

Momen paling disesali oleh Barca ialah ketika Lionel Messi gagal mengeksekusi tendangan pinalti pada menit ke-48. Tendangan Messi hanya membentur mistar gawang. Kegagalan ini seperti meruntuhkan mental para pemain Barca. Mereka mendapatkan menit-menit istimewa untuk memperbesar keunggulan, tetapi gagal memenangi pertandingan dengan skor yang memuaskan. Akhirnya, Barca tersingkir dari liga Champions.

Tapi ceritanya…ini bukan soal bola. Ini adalah semacam bagi-bagi inspirasi dan cara pandang…

[1]. Kegagalan Lionel Messi seperti sebuah ironi besar, ketika pemain itu justru sedang berada di puncak prestasi. Seperti pesawat yang sedang menukik ke atas mencapai ketinggian di atas 30.000 kaki (posisi di atas awan); lalu ia tiba-tiba terpelanting jatuh vertikal ke bawah. Tidak dibayangkan kalau ada kondisi seperti itu. (Ya…samalah seperti para awak pesawat dan penumpang Super Jet 100 Sukhoi yang sedang bergembira ria di atas pesawat, dengan senyum lebar, dandanan seksi, dan sebagainya, lalu tiba-tiba gubrakkk…mencium tebing Gunung Salak). Di puncak hasrat kegembiraan manusia, kadang muncul kekalahan tiba-tiba.

[2]. Manajemen Barca sangat berambisi mendatangkan Fabregas dari Arsenal. Alasannya, karena pemain itu memang bagus menurut standar Barca, ia menjadi andalan Arsenal, lagi pula masa kecilnya Fabregas dididik di akademi bola Barca. Tetapi kedatangan Fabregas seperti membawa “paceklik gelar”…karena selama di Arsenal dia juga sedikit berperan membawa Arsenal sukses membawa gelar. Hampir tidak membawa gelar apapun. Dulu dalam suasana pelayaran kapal layar antar pulau, antar negara, sebelum ada pesawat terbang. Kalau di dalam kapal ada manusia pendosa, ia dipercaya akan membawa masalah dalam pelayaran. Maka itu, kalau kapal layar dilanda badai, manusia pendosa itu harus dilemparkan ke laut. (Mungkin ya…di tubuh pesawat Superjet Sukhoi itu ada orang-orang yang secara moralitas kurang bagus, sehingga keberadaannya membawa masalah bagi keselamatan penerbangan. Ya ini hanya analogi saja kalau dibandingkan dengan situasi di kapal layar). Adapun soal Fabregas…lupakan sajalah!

[3]. Dalam pertandingan bola, kalau seluruh pemain menumpuk di depan gawang, maka tim lawan sehebat apapun pasti sangat sulit menembus barisan pertahanan itu. Andaikan Persija lawan Barca, lalu 10 pemain Persija menjadi back semua, tidak satu pun yang boleh menyerang; belum tentu Barca bisa mengalahkan Persija dalam kondisi itu. Tipe permainan Barca menyerang, sedangkan Chelsea dalam beberapa kali pertemuan bersikap “bertahan terus”. Hingga Pep Guardiola menyindir, “Nanti saat bermain di Camp Nou, seluruh pemain Chelsea ditumpuk di depan gawang.” Hei…ternyata ide Pep dilaksanakan dengan sempurna oleh Chelsea. “Thanks much for the idea, Pep!” barangkali begitu komentar Ramires dan kawan-kawan.

Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam penerbangan, apalagi dalam even percobaan; seharusnya menerapkan ide “minimum in risk” (meminimalisasi resiko). Meskipun nanti disebut pengecut, tidak jantan, cewek, atau apapun lah…untuk penerbangan yang krusial, diharapkan kesuksesannya 100 %, mestinya menerapkan standar keamanan prima. Ketinggian terbang telah dipikirkan masak-masak, rute penerbangan dipikirkan, apa saja yang dilakukan di dalam pesawat di-setting sedemian teliti. Bolehlah ia dianggap sebagai “penerbangan paranoid”. Tidak mengapa. Asalkan uji penerbangan itu sukses besar. Lha ini tidak, sudah ketinggian minimum, lewat jalur gunung-gunung berkabut, aktivitas di dalam pesawat tidak terjaga secara moral (Islami). Mestinya Sukhoi belajar dari manajemen “resiko minimum” Di Matteo Chelsea. Kali mereka tidak menonton laga Champions itu ya…

[4]. Kegagalan Messi mengeksekusi pinalti, membuat wajah awak manajemen dan pemain Barca muram. Mereka sedih, kesal, dan kecewa. Tapi mereka tidak bisa apa-apa, wong Barca sangat bergantung ke Messi. Tanpa Messi, siapa yang bisa mencetak gol di Barca…he he he (becanda). Messi adalah simbol kemenangan Barca, dan Barca sangat butuh Messi; meskipun dalam timnas Argentina, keadaan Messi tak ubahnya seperti Bambang Pamungkas, jarang membawa timnas menang. Barca boleh sedih karena kegagalan Si Messi, tapi Messi juga punya alasan: “Emang kalau bukan karena Gue, Lu bisa menang githu?” (Katanya, pilot SSJ 100 itu sangat berpengalaman. Wah, pokoknya sudah hebat lah reputasi terbangnya. Tapi ya kok melompati Gunung Salak saja tidak bisa? Ini kan ironis…pesawat-pesawat besar, apalagi bermesin jet, mestinya jangan lewat tempat-tempat sempit di Gunung Salak itu. Mungkin pihak pilotnya punya alasan, “Kalau bukan Gue, emang siapa yang handal membawa pesawat ini?” Jadi serba dilematik. Pilot disalahkan, dia sudah pengalaman. Kalau tidak disalahkan, kok kecelakaan itu amat sangat tragis sekali).

Nama Lionel Messi sungguh unik. Kalau diuraikan ia menjadi: Lion El Messi. “El” dalam bahasa Latin sama dengan “Al” dalam bahasa Arab. Kata ini menjadi penyambung makna antara kata sebelumnya dengan sesudahnya. Lion El Messi artinya kurang lebih: Singa-nya Messi. Messi sendiri dari kata Messiah. Messiah itu dalam terminologi Yahudi, sebagai pemimpin yang mereka tunggu-tunggu. Dalam terminologi Islam maknanya “Dajjal”; sedangkan dalam terminologi Syiah maknanya “Al Mahdi Al Muntazhar” atau sang imam yang dinanti-nanti. Konsep Imam Mahdi dalam Islam, sangat berbeda dengan “Imam Mahdi” Syiah.

Jadi, nama Lionel Messi itu sebenarnya merupakan promosi gerakan Zionisme juga. Hanya mungkin kita tidak menyadarinya… Bisa jadi nama asli “Lionel Messi” bukan itu, tapi demi promosi akidah apapun dilakukan.

Ke depan, tampaknya Sukhoi perlu belajar banyak dari riwayat Piala Champions Chelsea versus Barca. Semoga bermanfaat!

Admin.

Iklan

Strategi Mengalahkan Barcelona FC

Desember 17, 2011

Mengalahkan Barcelona FC?

Rasanya ini hanya sebuah mimpi. Barca saat ini disebut-sebut sebagai klub sepakbola terkuat di dunia. Apalagi ketika mereka berhasil merekrut Cesc Fabregras, pemain berbakat yang sekian lama menjadi “central power” Arsenal, klub legendaris asal London Utara..

Belum lama lalu, Barca FC mampu mengalahkan rival terberatnya di kompetisi La Liga, Real Madrid, dalam duel El Clasico. Real Madrid yang dilatih sang Entrenador, Jose Mourinho, kalah 3-1 di tangan Barca, di depan mata pendukung Real Madrid sendiri. Suatu kekalahan sangat pahit, sekaligus meruntuhkan image bahwa Jose Mourinho merupakan pelatih terbaik yang tak terkalahkan.

Sebenarnya, mengalahkan Barca bukanlah suatu mimpi. Secara teori, mereka bisa dikalahkan. Tetapi untuk menghadapi tim sekuat Barca, tidak mungkin hanya bermodal nekad, berpikir linear layaknya para pengamat bola di Indonesia, atau membuat rumus-rumus penuh nafsu yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Harus tetap ada sandaran teori dan aplikasinya berlandaskan pengalaman-pengalaman.

Mari kita coba diskusikan topik unik ini…

Lama-lama Kejayaan Barca Juga Akan Memudar... (Yah, it's just a game).

[A]. Dasar permainan Barca FC mula-mula dibangun oleh Johan Cruyff, legenda bola asal Belanda. Pola yang dia terapkan dikenal sebagai “total football”. Dalam permainan ini,  berlaku sebuah rumusan dasar, menyerang bersama dan bertahan bersama pula. Untuk itu dibutuhkan kekuatan fisik dan stamina luar biasa. Faktor stamina ini jarang dibahas oleh para pengamat. Mereka terlalu terpaku dengan possesing ball (penguasaan bola) dan seni sepak-bola indah yang diperagakan pemain-pemain Barca. Secara fisik, mereka memiliki kelebihan luar biasa. Bayangkan, mereka bisa tekun menguasai bola dalam durasi 90 menit tanpa kelelahan.

[B]. Pelatih Barca, Pep Guardiola, mengembangkan pola permainan Tiki Taka yang lalu diadaptasi oleh Timnas Spanyol. Banyak orang mengira Tiki Taka ini adalah cara bermain semodel “dua tiga sentuhan, lalu bola dioper”. Tidak sesederhana itu. Tiki Taka adalah perpaduan dari konsep “total football” gaya Belanda, gaya bermain Samba ala Brazil, dan kekuatan fisik gaya Jerman. Tiki Taka memadukan gaya bermain tiga negara tersebut. Aslinya, gaya bermain Spanyol mirip permainan Samba Brazil, tetapi dengan sentuhan total football dan fisik Jermani, ia menjadi begitu tangguh. Argumentasinya, Lionel Messi ketika bermain di Timnas Argentina, rata-rata tenggelam atau tidak istimewa. Artinya, pemain sekelas Messi tanpa dukungan gaya permainan kolektif Tiki Taka Pep Guardiola, menjadi tidak istimewa.

[C]. Barca menerapkan konsep possesing ball (penguasaan bola) sangat tinggi. Saat beberapa tahun lalu bermain di Stadion Emyrates London, dalam laga Piala Champions, Arsenal dikurung oleh Barca dengan prosentase penguasaan bola 70 : 30. Padahal itu terjadi di kandang Arsenal, menghadapi tim sekelas Arsenal yang juga terkenal dengan possesing ball-nya. Bisa dibayangkan, betapa hebatnya Barca. Lalu tujuan penguasaan bola yang tinggi ini apa? Tujuannya, ialah untuk menghancurkan mental lawan. Anda tahu, dalam simulasi permainan bola, kalau seorang pemain disuruh mengejar bola yang dikuasi beberapa orang sekaligus, dalam bentuk lingkaran; hal ini sangat melemahkan mental pemain itu, sehingga akibatnya melemahkan fisik juga. Nah, cara melemahkan mental lawan itu diterapkan secara konsisten oleh Barca. Saat lawan sudah lemah mental, mereka tiba-tiba menukik ke gawang musuh melalui striker-striker handal. Harusnya, menghadapi permainan possessing ball itu, santai saja. Ikuti saja dengan santai. Lepaskan beban-beban mental. Hal ini akan membantu mengurangi tekanan. Kalau tidak percaya, coba perhatikan skor permainan-permainan Barca. Rata-rata nilainya tidak terlalu menyolok. Untuk penguasaan bola misalnya 70 % selama 90 menit dengan hasil 3 : 0 atau 4 : 0, hal ini sangat minim dibandingkan potensi yang bisa mereka capai. Artinya apa, Barca selama ini memainkan strategi “psycho game” untuk menaklukkan lawan-lawannya. Ini salah satu rahasia besar pola permainan Tiki Taka.

Baca entri selengkapnya »