Gerakan Juhaiman Al Utaibi

November 24, 2008

Pada 29 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 November 1979 di Makkah terjadi sebuah peristiwa menggemparkan dunia. Ketika itu sekelompok pemuda Arab merebut Masjidil Haram dengan kekuatan senjata dan mengklaim bahwa Masjid Suci berada di bawah kendali mereka. Mereka menyandera para jamaah Masjidil Haram, membunuh polisi yang melawan, serta mengelilingi masjid dengan sistem pertahanan militer. Gerakan ini dipimpin oleh seorang putra gurun Najd, yaitu Juhaiman Al Utaibi.

Gerakan pemuda Arab ini bukan saja membuat Kerajaan Saudi kalang-kabut, tetapi membuat Dunia Islam merasa kalut dan cemas. Bahkan Amerika dan Eropa pun ikut ketar-ketir menyaksikan serangan militer yang tak terduga itu. Hampir tidak pernah ada yang menduga jika Masjidil Haram direbut dan dikendalikan sebuah milisi bersenjata. Mereka kurang dikenal, tidak tahu dari mana arahnya, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sudah menguasai Masjid Suci yang penuh berkah itu. Gerakan Juhaiman nyaris luput dari perhatian intelijen.

Setelah bertahan beberapa minggu, gerakan bersenjata Juhaiman berhasil ditaklukkan. Sandera dibebaskan, Masjidil Haram diamankan, dan para pemberontak di tangkap. Dari kontak senjata yang terjadi, 75 pengikut Juhaiman terbunuh, 170 orang ditahan. Dari pihak pasukan Saudi, 60 orang terbunuh, 200 orang terluka. Masjidil Haram As Syarif mengalami kerusakan-kerusakan, sehingga membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memulihkannya kembali. Akhir dari drama kekerasan ini, 63 orang kelompok Juhaiman dijatuhi hukuman pancung di 8 kota Saudi. Juhaiman sendiri dan Sayyid (saudara “Al Mahdi”), dipancung di Makkah.

Data di atas diambil dari buku berjudul, Kudeta Mekkah: Sejarah yang Tak Terkuak. Ditulis seorang jurnalis, The Wall Street Journal, Yaroslav Trofimov. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Alvabet, Tangerang Jakarta. Cetakan kedua Februari 2008. Judul aslinya, The Siege Of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of Al Qaeda. (Pengepungan Makkah: Pemberontakan yang terlupakan di tempat paling suci Ummat Islam dan awal kelahiran Al Qaidah).

Sebagaimana lazimnya buku karya penulis Barat, opini-opini yang dikembangkan cenderung sensasional dan buthek (keruh) oleh asumsi-asumsinya sendiri. Mereka melihat suatu kenyataan tidak seperti orang-orang beriman melihatnya. Sikap sekuler dan meremehkan nilai-nilai keagamaan, merupakan ciri khas buku-buku mereka. Kalau membaca buku seperti itu, secara otomatis harus di-scan dulu, agar “virus” yang bertebaran dimana-mana tidak menyebar ke sel-sel otak.

Sebagai sebuah studi sejarah, opini Yaroslav Trofimov tentang peristiwa pengepungan Masjidil Haram, tidak perlu diterima. Tetapi data-data umum yang dia sampaikan, bisa menjadi referensi untuk memahami suatu realitas sejarah.

Baca entri selengkapnya »

Iklan