Dialog Ulama tentang Madzhab…

Juli 15, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

* Mendiang ulama asal Suriah pernah cerita tentang pengalamannya dialog dengan seorang ulama hadits yang kerap dituduh “anti madzhab”.
* Menurut cerita, sang ulama Suriah menang, sedang ulama “anti madzhab” tak berkutik. Dari mana kita tahu? Ya dari penuturan ulama Suriah itu dalam bukunya.

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

* KUNCI debat ini adalah sebuah pertanyaan: “Kalau kita mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, apakah itu artinya orang awam harus memutuskan hukum langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?”
* Hanya saja, atas takdir Allah, pertanyaan ini belum terjawab dalam debat madzhab itu. Tugas kita di sini menjelaskan yang samar jadi terang, bi idznillah.
* Kata para pendukung “wajib madzhab” hanya para Mujtahid yang berhak mengambil hukum; selain mereka, apakah awam atau penuntut ilmu tak berhak.
* JAWABAN 1: Masalah agama itu beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Nah, setiap Muslim berperan dalam agama sesuai kapasitasnya. Misal, untuk MENGAJAR IQRA’ Anda tak perlu nunggu jadi Mujtahid dulu.
* JAWABAN 2: Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyebutkan kaidah tafsir. Kata beliau, ada ayat-ayat yang tidak diketahui maknanya selain oleh Allah saja; ada ayat yang hanya diketahui maknanya oleh ulama; ada ayat yang hanya diketahui oleh orang Arab asli yang paham aspek bahasanya; ada ayat yang MANUSIA TIDAK DIMAAFKAN kalau sampai dia tidak paham. Kaidah ini berlaku dalam tafsir, dan bisa jadi dalam ilmu-ilmu Islam lainnya.
* JAWABAN 3: Contoh ilmu yang mudah dipahami, dalam ayat: “Aqimus shalata wa atuz zakata.” Atau dalam ayat: “Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam.” Atau dalam ayat: “Innad dina ‘indallahil Islam.” Atau dalam ayat: “Lakum dinukum wa liya din.” Tidak perlu jadi Mujtahid untuk paham ayat-ayat ini.
* JAWABAN 4: Untuk menjelaskan Rukun Islam ada 5, Rukun Iman ada 6, bacaan salam, bacaan adzan, bacaan iqamat, tata cara wudhu, rukun-rukun shalat, pembatal shaum, rukun nikah, tata cara merawat jenazah, dll. tak perlu jadi Mujtahid dulu. Juga untuk jelaskan teori-teori dasar Nahwu Shorof, juga tak perlu menunggu fasih seperti Ibnu Aqil, Ibnu Mandzur, Syibawaih, dll.
* JAWABAN 5: Allah menurunkan ayat-ayat dan Sunnah adalah agar menjadi “HUDAN LIN NAAS” (petunjuk bagi semua manusia); bukan “hudan lil mujtahidin”. Kita mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing. Sekali lagi, agama ini untuk rahmat alam semesta, bukan “monopoli segelintir orang”.
* JAWABAN 6: Anda ingat kisah ketika Khalifah Umar dan putranya -radhiyallahu ‘anhuma- menguji seorang penggembala, agar dia menjual dombanya atau berbohong kepada pemilik domda. Si gembala itu menolak sambil berkata “fa ainallah” (kalau begitu, dimana dong Allah?). Mengapa Khalifah tidak bertanya begini: “Mana ijazahmu sebagai Mujtahidin? Mana sanad ilmumu?” Ya karena memang agama ini universal, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Manusia mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing.
* JAWABAN 7: Ketika di tengah Ummat tersebar ilmu seputar Kitabullah dan Sunnah, lalu marak amal-amal shalih. Ternyata ada yang keberatan, karena tersebarnya ilmu itu tidak berlabel madzhab-madzhab. Seolah kondisi “kembali kepada Kitabullah dan Sunnah” dianggap bencana. Padahal aslinya, sebelum muncul madzhab-madzhab, Syariat Islam awalnya TIDAK BERMADZHAB. Islam “tidak bermadzhab” lebih tua usianya, karena itulah CORAK KEISLAMAN ERA NABI SAW DAN PARA SHAHABAT RA. Coba jawab: madzhab apa yang dianut Nabi dan para Shahabat?
* JAWABAN 8: Partisipasi Umat ini dalam beragama, misalnya menuntut ilmu, membaca buku, membaca media, mendengar ceramah, diskusi, bertanya ke ulama, mengamalkan fatwa, belajar agama formal, jadi santri, berdakwah, mengajar ilmu, dll. Semua ini adalah bagian dari MENGIKUTI IMAM MADZHAB. Mengapa dikatakan begitu? Karena perbuatan-perbuatan itu dulu DICONTOHKAN OLEH IMAM MADZHAB. Aneh jika hal-hal demikian dianggap menentang madzhab.
* JAWABAN 9: Sungguh Ummat ini masih punya etika. Tidak mungkin mereka NEKAD BERKATA untuk hal-hal rumit yang bukan kapasitasnya. Sebagai contoh, kami berkali-kali ditanya tentang BPJS, dan kami tidak tahu duduk masalah itu. Maka kami pun tidak memberi jawaban tegas. Lha kalau memang tidak tahu, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kita akan MENEROBOS lorong-lorong yang kita tak mengetahuinya. Seperti dalam ayat: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun” (jangan ikuti apa-apa yang engkau tak tahu ilmunya).
* JAWABAN 10: Sangat terkenal kisah Imam Syafi’i, setelah pindah ke Mesir, beliau banyak mengubah pendapatnya. Padahal itu hanya pindah dari Irak ke Mesir. Bagaimana jika agama ini telah melintasi semua benua dan samudra, melalui masa ribuan tahun? Apa kira-kira tidak memungkinkan pendapat-pendapat ini akan berubah? Kita sebut 10 contoh yang tidak ada di zaman imam madzhab: negara Muslim nasionalis sekuler, pemilu demokrasi, bank, transportasi udara, mata uang kertas, komunikasi telepon, pendidikan formal SD-sarjana, internet, media massa, transaksi mesin, dll. Hal-hal yang baru ini sangat mungkin akan mengubah pendapat imam-imam madzhab itu; seperti halnya pendapat Imam Syafi’i berubah hanya karena beliau berpindah domisili dari Irak ke Mesir.
* JAWABAN 11: Seandainya yang boleh berpendapat tentang agama adalah para Imam Mujtahidin saja; lalu siapa yang pantas menjadi Imam Mujtahidin di era kita sekarang ini? Adakah seorang ulama sekelas imam-imam besar masa lalu yang pendapatnya diakui semua kelompok? Jika tidak ada, apakah berarti riwayat agama ini sudah berakhir? Subhanallah wa subhanallah…
* JAWABAN 12: Dulu ada imam-imam Mujtahidin, dan sekarang peran mereka sudah digantikan oleh dewan-dewan ulama di setiap negara Muslim. Maka sejauh kita patuh dengan sebagian besar fatwa-fatwa ulama tersebut (kalau di Indonesia disebut MUI, kalau di Mesir Darul Ifta’, kalau di Saudi Hai’ah Kibaril Ulama); maka kita telah mengikuti imam-imam madzhab Mujtahidin.
* JAWABAN 13: Para imam madzhab telah menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa DASAR HUKUM SYARIAT adalah: Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan ada yang menambahkan Qiyas Shahih (analogi). Jadi kalau kita beragama dengan berdasar dalil-dalil ini, kita sudah benar dan sudah selaras dengan teladan para imam madzhab tersebut. Seperti prinsip yang diajarkan oleh seorang ulama: “Kita beragama mengikuti dalil-dalil.” Kalau sudah berjuang mengikuti dalil, nah itulah yang diharapkan.
* JAWABAN 14: Para ulama madzhab sendiri menjelaskan prinsip-prinsip yang hebat, agar kita konsisten mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Imam Abu Hanifah berfatwa dengan dasar Al Qur’an dan As Sunnah; kalau tidak menemukan jalan keluar, beliau menerapkan Qiyas (analogi); dengan ini beliau dikenal sebagai “ahlur ra’yi”. Imam Malik sangat terkenal dengan ucapannya: “Semua perkataan boleh diambil atau ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini (sambil menunjuk pusara Rasulullah SAW).” Imam Syafi’i terkenal dengan kata-katanya: “Kalau sudah sah sebuah hadits, maka itulah madzhabku.” Dan Imam Ahmad terkenal dengan sikapnya, menghukumi suatu perkara dengan hadits Nabi SAW, daripada dengan logika, meskipun itu adalah hadits dhaif. Para imam ini mengarahkan kita konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, karena keduanya bersifat pasti, tidak diragukan, dan akan mengangkat khilaf di antara Ummat (insya Allah).
* JAWABAN 15: Menjawab pertanyaan pokok di atas: “Apakah orang awam atau penuntut ilmu boleh mengambil hukum sendiri langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?” Jawabnya ternyata sangat mengejutkan, yaitu: TIDAK PERLU!!! Mengapa dikatakan tidak perlu? Karena ilmu agama telah tersebar, pengetahuan Islam sudah ada dimana-mana, ribuan para ulama sudah berjihad dan berijtihad memudahkan kita dalam belajar agama. Produk-produk ilmu agama sudah sangat mudah diperoleh, dipahami, disebarkan. Ini adalah RAHMAT ALLAH yang besar bagi Ummat ini. Anda bisa memahami kerumitan hukum-hukum agama semudah membaca buku-buku cerita. Kita tak perlu lagi susah payah menggali hukum sendiri, tapi sudah banyak ulama, guru, ustadz, kyai, dai, penulis, murabbi, dan sebagainya yang mengajarkan ilmu-ilmu itu. BAHKAN sangat tidak mungkin kita akan mengambil hukum-hukum agama langsung dari Kitabullah dan As Sunnah; karena kita bukan ORANG PERTAMA yang menerima ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Kita adalah generasi sekian ratus setelah generasi Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Tidak ada manusia di zaman sekarang yang bisa mengambil hukum langsung ke Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau ada yang mengklaim itu, dia pasti seorang PENDUSTA atau “dajjal”.
* Sebagai contoh mudah. Misalnya di sebuah Madrasah Ibtidaiyah atau TPA diajarkan bahwa rukun shalat itu begini dan begitu, rukun wudhu begini dan begitu, rukun puasa begini dan begitu. Ketika ada anak TPA bisa menyebutkan rukun shalat dengan benar, jangan Anda berkata kepadanya: “Wah kamu hebat ya, kamu sekelas Mujtahidin, seperti Imam Syafi’i.” Jangan dikatakan begitu. Karena dia cuma seorang pelajar yang menerima ajaran agama dari guru-gurunya; gurunya dari gurunya lagi; dan seterusnya sampai nanti muara ilmu itu kembali ke zaman Salafus Shalih. Kembalinya ilmu ini ada yang rapi dalam bentuk sanad, ada juga yang tidak rapi (random).
* Mari tugas kita kini di zaman seperti ini adalah MENSYUKURI KARUNIA ALLAH dalam bentuk tersebarnya ilmu yang mudah, meluas, dan dapat dipraktikkan dengan segera. Kehidupan ilmu yang sudah maju dan berkembang ini, jangan mau DIKEMBALIKAN KE ZAMAN SULIT di masa lalu. Terimalah kemudahan dari Allah Ar Rahiim dengan penuh syukur kepada-Nya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
* Wallahu a’lam bisshawaab.

(WeAre).


Sudut Pandang Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah

Juli 15, 2015

* Kami tidak tahu pasti alasan di balik penyusunan kitab fiqih ibadah berjudul “Bulughul Maram min Adillatil Ahkam” karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani tersebut.
* Tapi kami tahu bahwa kitab itu menjadi rujukan kaum Muslimin di Al Irsyad, Persis, Pesantren Gontor, dan tentu saja kalangan Salafi. Untuk kalangan NU, kitab ini tampaknya kurang dipakai. Wallahu a’lam.
* Kami hanya mampu membuat analisa berdasar asumsi-asumsi umum saja. Smoga tidak meleset dari kebenaran, amin.
* ASUMSI 1: Ibnu Hajar sangat paham bahwa kaum Muslimin pemahaman fiqihnya tersegmen dalam beberapa madzhab. Jika madzhab Zhahiri dimasukkan, jadi ada LIMA MADZHAB Ahlus Sunnah.
* ASUMSI 2: Ibnu Hajar mengetahui buruknya pengaruh fanatisme madzhab yang kemudian mengoyak KESATUAN UMMAT. Beliau pasti tahu itu. Fanatisme madzhab memunculkan sikap saling mencela, mentahdzir, menyesatkan, melarang nikah dan muamalah, membakar kitab, tidak mau mengambil ilmu, sampai kekerasan lewat tangan-tangan kekuasaan. Pasti Ibnu Hajar tahu realita itu.
* ASUMSI 3: Ibnu Hajar mengetahui bahwa fanatisme madzhab telah membuat ilmu tersebar hanya bagi kelompok terbatas saja. Kaum di luar madzhab tak mau mengambil ilmu dari selain madzhabnya. Padahal asal mula ILMU KENABIAN ITU UNIVERSAL. Seuniversal riwayat Nabi Saw ini: “Balighu ‘anni wa lau ayah” (sampaikan dariku meski sekadar satu ayat saja).
* ASUMSI 4: Ibnu Hajar pasti tahu riwayat shahih, ketika Nabi Saw membedakan tabiat manusia dalam menerima ilmu; ada yang seperti tanah subur (pintar menerima ilmu dan memahami); ada yang seperti tanah kapur (pintar menerima ilmu tapi sulit memahami); dan ada pula seperti tanah pasir (sulit menerima ilmu & gagal faham jua). Bukankah hadits itu menegaskan UNIVERSALITAS ILMU dalam Islam???
* ASUMSI 5: Ibnu Hajar pasti tahu kitab SHAHIH BUKHARI, SHAHIH MUSLIM, SUNAN ABU DAWUD, SUNAN AT TIRMIDZI, dan lain-lain. Bukankah kitab-kitab Sunnah ini diklaim sebagai MILIK UMMAT dan netral madzhab??? Apakah Imam-imam Sunnah itu menampakkan madzhabnya dalam kitab-kitab Shahih/Sunan mereka?
* ASUMSI 6: Ibnu Hajar pasti tahu salah satu perkataan Imam Syafi’i, bahwa: “ILMU ITU ADALAH QALALLAH WA QALA RASUL, selain keduanya adalah zhan (sangkaan).” Hal ini menegaskan bahwa rujukan ilmu para Imam adalah Kitabullah dan Sunnah. Dengan itu pula kita bertanggung-jawab kepada Allah SWT di akhirat nanti.
* Mungkin, dengan pertimbangan-pertimbangan begitu, Ibnu Hajar rahimahullah menyusun KARYA LINTAS MADZHAB, yang bisa digunakan oleh semua kaum Muslimin, tanpa membedakan madzhabnya.
* Seorang alim tentu menginginkan ilmunya TERSEBAR LUAS, menjadi amal jariyah ilmiah di tengah Ummat. Mereka pasti tidak akan rela jika ilmunya HANYA BEREDAR di kalangannya saja. Kita yakin itu.
* Nabi Saw pernah mengatakan: “Al Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih.” Hadits ini tidak pernah berubah menjadi “al madzhabu fulan ya’lu wa laa yu’la ‘alaih“.
* Nah itulah, kitab monumental BULUGHUL MAROM MIN ADILLATIL AHKAM lahir dalam kesadaran penyusunnya, tentang pentingnya KEUTUHAN JAMAAH UMMAT. Di atas madzhab masih ada yang lebih utama, yaitu KESATUAN JAMAAH KAUM MUSLIMIN.
* Wallahu a’lam bis shawaab.

(OnCritic).


Warisan Agung KH. Hasyim Asyari

Juli 1, 2015

Bismillahir rahmaanir rahiim.

* Beliau wafat pada 7 September 1947. Dalam usia sekitar 72 tahun. Dimakamkan di Jombang.
* Beliau wafat kurang dari 2 tahun sejak berdiri MASYUMI pada 7 November 1945. Kalau wafat beliau mundur 2 bulan, berarti pas 2 tahun usia Masyumi.
* Beliau adalah KETUA DEWAN SYURO Masyumi. Dewan Syuro gitu lho… Pasti jabatan hebat kan. Coba lihat betapa kuatnya posisi Ketua Dewan Syuro PKS, PPP, atau PBB.

Wasiat Persatuan Ummat

Wasiat Persatuan Ummat


* Beliau wafat dalam keadaan wadah politik Ummat Islam MASIH SATU.
* KH. Hasyim Asyari wafat meninggalkan Jum’iyah besar. NU tentunya.
* Beliau dijuluki Hadratus Syaikh, karena mengarang kitab-kitab ilmiyah dan fatwa-fatwa, dalam bahasa Arab Fusha yang baik & kokoh.
* Beliau juga MEWARISKAN teladan hebat bagi Ummat, antara lain:

[1]. Sikap lapang dada kepada yang berbeda pendapat.
[2]. Membina persaudaraan dan persatuan Ummat.
[3]. Menghormati hasil musyawarah dengan sesama elemen Ummat.
[4]. Peduli kepentingan politik Ummat.
[5]. Sikap Zuhud dunya, terutama terhadap jabatan birokrasi.

* TERNYATA, kualitas ilmu, adab, pengalaman hidup sangat berarti dalam membentuk sikap HIKMAH.
* Dalam perbedaan pandang, Sang Hadratus Syaikh telah menempatkan perkara UKHUWAH UMMAT pada porsi yang elegan.
* Setelah itu… Nggih terserah Njenengan sedoyo. Terserah Anda semua.
* Mari kita isi bulan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baik amal.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

 


SOLUSI PERSELISIHAN Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Juni 21, 2015

Bismillahir rahmaanir rahiim.
* FAKTA… Sejak zaman reformasi, kaum Muslimin di negara kita sering berselisih tentang awal Ramadhan & Idul Fithri; juga momen Idul Adha.
* Mengapa terjadi hal ini? Ia merupakan dampak langsung fenomena “kebebasan ekspresi”. Termasuk dalam amaliah keagamaan. Mau tak mau, suka tak suka, itu terjadi.
* Kita tak bisa hanya cela sana-sini, karena perbedaan ini. Yg paling memungkinkan kita brsikap BIJAK, mengeliminir dampak buruk perselisihan.

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

* Berikut SOLUSI yang bisa ditempuh…


[1]. Mengikuti pengumuman yang disampaikan Departemen Agama RI. Dengan alasan:
>> a. Ia mewakili bagian terbesar Ummat Islam di negara kita;
>> b. Ia didukung penuh oleh MUI;
>> c. Bahwa Nabi Saw mengutamakan jumlah komunitas Muslim yang lebih besar.

Baca entri selengkapnya »


Tafsir Al Azhar Buya Hamka

Januari 12, 2015

* Nama tafsir karya Buya Hamka ini sudah terkenal. Tapi baru akhir-akhir ini aku dapat membacanya lebih detail, alhamdulillah.

Tafsir Ulama Nusantara

Tafsir Ulama Nusantara

* Dalam tafsirnya, Buya biasa mendiskusikan pendapat ahli tafsir seperti Abu Ja’far, Ibnu Katsir, Ar Razi, Ibnu Hajar, Al Qasimi, dan lain-lain.

* Hebatnya, dalam tafsir ini beliau sudah membahas kisah “Gharaniq”. Setelah menyebut pendapat ulama-ulama, beliau simpulkan itu kisah PALSU. Di zaman modern, Syaikh Al Albani juga membahas kisah itu, lalu menarik kesimpulan sama.

* Hebatnya, Buya Hamka sangat mengapresiasi Tafsir Azh-Zhilal karya Sayyid Quthb. Berkali-kali beliau sebut sang tokoh dengan kata-kata “penafsir kita” dan “asy syahid”. Hal seperti ini baru aku ketahui.

* Meskipun tidak sekolah formal, Buya kaya pengalaman, di kampung, dalam politik, maupun di dunia Islam. Kitab tafsirnya sering dibumbui kisah-kisah pengalaman hidup.

* Satu contoh sikap yg dianut Buya: Kalau diminta menjadi imam Shalat Subuh di masjid, beliau tanya dulu “di sini memakai doa Qunut?” Kalau memakai, beliau pun baca doa Qunut. Begitu juga kalau mau Shalat Tarawih, beliau tanya “di sini berapa rakaat?” Itu karena saking cintanya dengan PERSATUAN UMMAT.

* Demikian sekilas tentang Tafsir Al Azhar. Semoga manfaat dan mendapat taufiq Allah. Amin.


Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?

Agustus 30, 2011

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu sangat kuat.

Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).

Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “Segera membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga; pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.

Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya, pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang sudah mapan itu? Onde mak oey… (meminjam istilah masyarakat Padang).

Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:

[1]. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki khashaish (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab). Tidak mengapa semua ini.

[2]. Sudah ada pernyataan yang datang SEBELUM pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku, jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar astronomi menguasai wilayah ibadah ini. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi” (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan baca artikel voa-islam.com ini: Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu.

[3]. Depag RI dan ormas-ormas Islam tertentu jelas TELAH MENOLAK KESAKSIAN beberapa Muslim yang telah melihat hilal. Padahal dalam riwayat diceritakan, ada seorang Shahabat datang kepada Nabi Saw dan mengaku telah melihat hilal. Lalu Nabi Saw meminta dia bersumpah, dia pun bersumpah. Maka kemudian Nabi Saw memerintahkan Bilal Ra mengumumkan, bahwa besok kaum Muslimin berpuasa. Lihatlah, cara ini sangat mudah, sangat mudah, sangat simple; sebelum akhirnya DIBUAT KERUH oleh para ahli hisab, para ahli falaqiyyah, para pakar astronomi, dan sebagainya. Padahal Nabi Saw bersabda: “Yassiruu wa laa tu’assiruu” (permudahlah, jangan dibuat susah).

[4]. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi, seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.

[5]. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan. Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll. Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana. Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun jangan pula menolaknya mentah-mentah.

[6]. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata! Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan mereka sepenuhnya. Seolah, mereka berada dalam maqam ma’shum, yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya. Pertama, kita bertanya ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada yang mengaku sudah melihat.” Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah, bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi. Kalau mereka mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal? Dimana sikap konsisten mereka?

[7]. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam Syariat. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai berikut: (a). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah; (b). Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi.  Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.

[8]. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini, memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, daripada berpuasa 30 hari.

[9]. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011 itu). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.

[10]. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan); (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.

Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus 2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1 Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.

Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.

Depok, 30 Agustus 2011.

Abu Muhammad Waskito.