Orde Lama dan Sistem Islam

Oktober 2, 2009

Ada sebuah tulisan bagus di eramuslim.com, ditulis oleh Bang Rizki Ridyasmara. Judulnya, “Ayat-ayat Allah SWT dalam Gempa di Sumatra“. Secara umum, tulisan ini bagus, mengajak kita secara dalam merenung kembali tentang nestapa hidup di negeri ini. Intinya, bencana-bencana alam itu muncul karena kedurhakaan manusia (Indonesia) belaka. Juga karena kesalahan rakyat dalam memilih pemimpin yang benar dan lurus. Menurut Bang Rizki, pemimpin saat ini masih satu paket dengan gerakan New World Order yang dikendalikan orang-orang Luciferian.

Kalau mau membaca artikel lengkapnya, silakan di:

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-allah-swt-dalam-gempa-di-sumatera.htm

Tapi ada satu bagian tulisan itu yang ingin dikomentari. Sebenarnya ini sudah lama, tapi ingin disampaikan saat ini, karena berbagai alasan teknis. Ada beberapa penggal kalimat dalam tulisan itu (di luar tema inti) yang sebenarnya perlu diluruskan. Isinya sebagai berikut:

Kedua, 44 tahun lalu, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 merupakan tonggak bersejarah bagi perjalanan bangsa dan negara ini. Pada tanggal itulah awal dari kejatuhan Soekarno dan berkuasanya Jenderal Suharto. Pergantian kekuasaan yang di Barat dikenal dengan sebutan Coup de’ Etat Jenderal Suharto ini, telah membunuh Indonesia yang mandiri dan revolusioner di zaman Soekarno, anti kepada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Nekolim), menjadi Indonesia yang terjajah kembali. Suharto telah membawa kembali bangsa ini ke mulut para pelayan Dajjal, agen-agen Yahudi Internasional, yang berkumpul di Washington.

Nah, pada bagian di atas, kita perlu memberi catatan-catatan. Secara umum, baik Soekarno atau Soeharto itu sama-sama sekuler. Kalau Soekarno sekulernya bledag-bledug (blak-blakan), sementara Soeharto sekulernya diselimuti kesantunan tata-krama Jawa. Tapi hakikatnya, sama-sama sekuler. Dan di akhir Pemerintahannya Soeharto dekat dengan kalangan Islam. Meskipun hal itu tidak serta-merta bisa mengubur semua dosa-dosa politiknya.

Adapun catatan yang ingin disampaikan terhadap paragraf di atas adalah sebagai berikut:

[1] Ketika kita memposisikan Soeharto sebagai agen Kapitalisme, solusinya tidak harus Soekarno. Ini catatan besar yang harus selalu diingat. Solusinya seharusnya adalah Islam itu sendiri. Seperti kata ungkapan, “Al Islamu huwal hal” (Islam itulah solusinya).

[2] Kalau kita mencela Soeharto, tidak harus lalu memuji Soekarno. Soekarno tidak kalah brutalnya dari Soeharto. Di antara dosa-dosa Soekarno antara lain: Menolok Piagam Djakarta, menulis teks Proklamasi sendiri (sangat singkat dan ada coretan-coretan), menyetujui perjanjian Linggardjati, Renville, KMB. Dalam salah satu klausul KMB, Indonesia harus menanggung hutang Belanda yang nilainya miliaran gulden. Soekarno juga membabat habis gerakan DI/TII, mengeksekusi mati SM Kartosoewiryo rahimahullah, dia membubarkan Masyumi, mentoleransi pemberontakan PKI Madiun, memaksakan ideologi NASAKOM, hingga akhirnya terlibat dalam gerakan PKI tahun 1965. Banyak sekali dosa-dosa Seokarno, termasuk sebutan-sebutan “berbau syirik” baginya seperti “Yang terhormat paduka yang mulia, pemimpin besar Revolusi..” dll. Sebutan-sebutan itu adalah “cuci otak” yang membuat rakyat Indonesia sampai saat ini masih terus menyimpan kekaguman spiritual kepadanya.

[3] Andaikan Soekarno tidak terlibat New Word Order, bukan berarti dia bisa bebas dari segala beban dosa. Bukankah waktu itu istilah New World Order sendiri belum populer? Bahkan ketika itu masih ada blok Timur Uni Soviet yang anti kapitalisme Amerika. Soekarno bukanlah manusia yang mandiri, dia tetap membebek juga kepada ideologi materialisme. Dalam banyak tulisannya, Soekarno itu mengakui sangat kagum dengan pemikiran Karl Marx. Apa manusia macam begini yang hendak kita bela? Na’udzubillah min dzalik.

Perlu diingat juga, tidak ada tokoh-tokoh Islam jaman Orde Lama yang memberi rekomendasi kepada Soekarno. Kalau ada adalah Hamka rahimahullah yang berbesar hati tetap menyalati Seokarno, meskipun beliau pernah dipenjara oleh Soekarno.

Intinya, sejak jaman Kemerdekaan RI, negara kita tidak pernah dipimpin secara benar. Baik Soekarno, Soeharto, maupun era Reformasi, semuanya dilandasi nilai-nilai sekularisme-materialisme. Tidak ada yang mau memimpin negara ini dengan ideologi Islam, dengan tata nilai Islam, dengan panduan manhaj Rabbaniyyah. .

Disini saya terkesan oleh sikap Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah. Ketika menyikapi satu kalimat dalam Piagam Djakarta, “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Ketika banyak orang berselisih tentang redaksi yang tepat untuk kalimat itu, Ki Bagoes menawarkan konsepnya yang jenius. Beliau mengusulkan agar kalimat itu ditetapkan “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam, tanpa embel-embel bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sungguh mengagumkan usulan Ki Bagoes rahimahullah itu. Saya acungi dua jempol untuk beliau. Andai dalam jari-jari tangan ini ada 10 jempol, insya Allah akan saya acungkan semuanya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Iklan