Jangan Sampai “Si Oneng” Jadi Gubernur Jawa Barat

November 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tadi malam, 10 November 2012 (bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan), KPUD Jawa Barat sudah menutup pendaftaran calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Barat. Ada 5 pasangan calon yang siap bertarung dalam Pilkada Jawa Barat pada bulan Februari 2013 nanti. Mereka semua adalah: [a]. Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar; [b]. Dede Yusuf dan Lex Laksamana; [c]. Rieke Diah dan Teten Masduki; [d]. Yance dan Tatang Farhanul Hakim; [e]. Didik Mulyana & Cecep Toyib (jalur independen).

Analisis secara umum…

[A]. Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar: Ini gubernur yang menjabat selama ini. Ya ada kritik dan kekurangan-kekurangan tertentu pada kepemimpinan Ahmad Heriyawan; terutama terkait janji-janji yang lalu. Tetapi posisi Ahmad Heriyawan sangat diuntungkan dengan adanya kandidat-kandidat cagub-cawagub Jawa Barat 2013 yang tidak jelas dan mempunyai banyak masalah, terutama Rieke Diah Piataloka. Dengan kondisi ini, maka berlaku prinsip kedaruratan, atau “ilmu daripada“. Daripada kaum Muslimin Jawa Barat memiliki Rieke Diah (Si Oneng), lebih baik memilih Ahmad Heriyawan, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan tertentu. Di sisi lain, hasil-hasil kepemimpinan Ahmad Heriyawan selama ini, semakin kuat ditunjang oleh pamor Dedy Mizwar yang terkenal dengan sinetron PPT itu. (Tim sukses Ahmad Heriyawan sebenarnya tinggal manfaatkan saja artis-artis PPT untuk menggalang dukungan ibu-ibu, gadis-gadis, dan remaja putri di Jawa Barat…).

[B]. Dede Yusuf dan Lex Laksamana: Lex Laksamana tidak dikenal secara lokal Jawa Barat maupun di pentas nasional. Tapi dia pasti orang Pasundan asli. Mungkin komunitas atau kalangan tertentu mengenalnya, tetapi secara general kita tidak memiliki banyak record terkait nama Lex Laksamana ini. Dede Yusuf kita kenal, dia adalah artis, selebritis, sutradara film. Singkat kata, dia mantan selebritis dengan segala corak gaya hidupnya. Dede Yusuf selama menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, mendampingi Ahmad Heriyawan, nyaris “tidak ada bunyinya”. Maksudnya, dia hanya menjadi pejabat yang “duduk di kursi saja”. Tidak jelas apa karya dan kontribusinya bagi kehidupan rakyat Jawa Barat.

Belum juga masuk musim pilkada, Dede Yusuf sudah kelihatan “keburu nafsu” ingin nyalon untuk posisi gubernur pada Pilkada 2013. Untuk posisi wakil gubernur saja belum jelas, sudah mau masuk arena calon gubernur. Kesalahan utama disini, ialah Dede Yusuf mau dikendalikan oleh orang-orang partai yang berbisik kepadanya. “Pak Dede Yusuf, ketimbang jadi wakil gubernur, cuma kebagian cuci-piring saja, mending Bapak nyalon jadi gubernur saja untuk Pilkada 2013. Dijamin Bapak akan sukses. Bapak kan kelihatan muda, gagah, ganteng…yakin deh mojang-mojang dan ibu-ibu Priangan akan kesengsem,” begitu mungkin bisikan-bisikan maut yang dilantunkan ke telinga Dede Yusuf. Karena sudah kesenengan mendengar bisikan begitu, Dede Yusuf lupa posisinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Kita nih kan mau pilih gubernur, pemimpin rakyat, bukan untuk mengisi sinetron atau film; ya pilih yang bisa memimpin, punya ilmu; jangan pilih yang cuma modal tampang dan akting.

[C]. Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki: Teten Masduki dikenal sebagai aktivis ICW. Dia salah satu sarjana lulusan IKIP Bandung (UPI) yang sering dielu-elukan oleh almamaternya. Di bidang LSM, membuat isu-isu, share data dengan aneka user dan supplier data, ya Teten punya track record disana. Tapi dari sisi pengalaman di bidang birokrasi, dia tidak memiliki kecakapan apa-apa. Kalau tidak salah, dalam kepengurusan ikatan alumni IKIP Bandung, yang Teten beraktivitas disana, juga ada masalah-masalah. Untuk lebel organisasi “IKA” begituan saja sudah ada masalah, apalagi level gubernur. Mau dibawa kemana bangsa ini? (Halah, pakai bergaya kayak di iklan-iklan “kebangsaan”). Di bidang pemberantasan korupsi, juga nggak bagus-bagus amat. Namanya juga LSM, seperti model ICW, LBH, Kontras, YLKI, dan sejenisnya… Ya paling-paling kongkow dengan wartawan, bikin pernyataan pers, pura-pura mengeritik rezim; tapi nanti kalau diberi order penelitian, order survey, diberi anggaran ini itu, mau juga. Ya dunia LSM-lah…kita tahu itu. LSM, media massa, dan rezim berkuasa itu tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan.

Buku Puisi Karya Rieke Diah Piataloka. Rakyat Jawa Barat Mau Diajak Berbudaya Kloset Gituw?

Adapun Rieke Diah…ya kita tahu, dia pemeran Si Oneng dalam sinetron tempo hari. Rieke Diah punya catatan panjang di mata gerakan-gerakan Islam dan para aktivis dakwah. Pemikirannya yang liberal, sering mendukung agenda-agenda kaum hedonis (seperti gerakan anti RUU APP), gaya hidupnya yang gak jelas, corak berpikirnya yang nyeleneh. Semua itu, sangat kontraproduktif dengan kultur masyarakat Jawa Barat yang terkenal religius dan santri. Rieke Diah itu pernah menulis buku puisi, dengan judul: RENUNGAN KLOSET. Diterbitkan PT. Gramedia Utama, tahun 2003. Katanya, selama merenung di kloset, Rieke merasa sering mendapat inspirasi-inspirasi. Padahal kita saja nih…kalau mau masuk WC harus berdoa: Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits (ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan). Saat di WC tidak boleh berdzikir, tidak boleh baca ayat atau hadits, bahkan tidak boleh menjawab salam (kecuali dalam hati). Lha, kok dia malah mencari ilham di tempat begituan. Itu jelas bukan ilham Ilahi, tetapi ilham syaithoni.

Rieke dan Teten ingin mengulang sukses Jokowi-Ahok. Sebenarnya beginilah Pak dan Ibu… Kesalahan terbesar Foke kemarin, adalah ketika baru awal-awal kampanye sudah menyerang Wahabi. Ini kesalahan terbesar Foke kemarin. Banyak elemen-elemen Islam yang berlatar-belakang Wahabi (Muslim modernis) tidak terima dengan sikap dia itu. Akhirnya, dukungan kaum Muslimin kepada Foke terbelah-belah. Ya salah sendiri… Karena kesalahan strategi Foke itu, membuat pasangan Jokowi akhirnya tidak mendapat lawan yang berarti. Jokowi tidak mendapat perlawanan frontal dari kalangan Wahabi.

Kalau Ahmad Heriyawan ingin mengulang kesalahan Foke, silakan masuk ke isu Wahabi. Silakan masuk ke isu Wahabi, silakan menyerang Wahabi; dan yakinlah setelah itu Anda akan mendapat perlawanan yang jauh lebih sengit. Tetapi kalau Ahmad Heriyawan bersikap manis, tidak mengangkat isu pertikaian ummat Islam; insya Allah dia akan mendapat kemenangan (dengan izin dan pertolongan Allah). Seminimalnya, kalau Aher-Dedy kalah, ummat Islam masih bisa memilih Dede Yusuf-Laksamana; dan jangan sekali-kali memilih “wanita kloset” itu.

[D]. Irianto MS Syafiudin (Yance) dan Tatang F. Hakim: Pasangan ini didukung oleh Golkar. Ini adalah pasangan yang sudah memperlihatkan permusuhannya kepada Wahabi. Dalam orasinya beberapa waktu lalu di Bandung, Yance ini secara provokatif menyerang Wahabi. Mungkin dia ingin mengambil pelajaran dari kemenangan Foke pada Pilkada Jakarta tahun 2007 ketika itu Foke berhasil mengalahkan pasangan Adang-Dany. Dengan cara yang sama, Yance ingin mengalahkan Ahmad Heriyawan. Mengangkat isu Wahabi, selain memecah-belah Ummat Islam; juga berarti menentang orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam. Ya intinya, pasangan Yance ini perlu dimasukkan “kotak” lebih dulu.

[E]. Didik Mulyana dan Cecep Toyib. Pasangan ini dari jalur independen, kurang dikenal secara luas. Ya kita tidak banyak tahu tentang sosok pasangan ini. Apakah dia “Bang Toyib” yang tidak pulang setelah “tiga kali lebaran”…kita tidak tahu. Ya selama proses dan prosedurnya terpenuhi, ya otomatis yang bersangkutan ikut dalam even Pilkada. Posisi pasangan ini sebenarnya lebih sebagai “ujian hati” bagi pasangan Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar. Sebagai incumbent dan punya potensi kemenangan besar; apakah para pendukung Aher-Dedy akan bersikap sombong ke pasangan “unyu-unyu” ini? (Maksudnya, unyu-unyu secara politik lho ya… Kalau secara riil di masyarakat, kami tidak tahu).

Okeh pemirsa…(halah, sok bergaya ala Bang Haji). Jadi intinya, rakyat Jawa Barat ke depan janganlah memilih pasangan Rieke Diah dan Teten Masduki. Sosok Rieke itu sangat tidak layak untuk menjadi seorang gubernur sebuah provinsi besar, seperti Jawa Barat ini. Kebencian dia kepada nilai-nilai moral religius membuat kita curiga ada agenda tertentu di ambisi PDIP untuk memposisikan dia sebagai Calon Gubernur Jawa Barat. Aneh, di PDIP seperti gak ada orang saja? Wanita berkarakter “Oneng” begitu kok ingin didaulat sebagai seorang gubernur, apalagi untuk provinsi yang rakyatnya berkarakter religius seperti Jawa Barat.

Idealnya, rakyat Jawa Barat memilih Ahmad Heriyawan; dengan segala kekurangan-kekurangan yang ada, dia tetap memiliki sekian kebaikan dan prestasi. Kepemimpinan dia selama ini cukup lumayan, untuk standar seorang gubernur di Indonesia. Paling darurat, kalau Ahmad Heriyawan tidak masuk, pilihlah Dede Yusuf dan Laksamana. Pokoknya, jangan memilih Rieke… Nanti kehidupan rakyat Jawa Barat bisa dibawa ke arah budaya liberal dan bernuansa kloset.

Sakitu wae nu tiasa diseratkeun, hatur nuhun ti sadaya perhatosanana. Alhamdulillahi Rabbil alamiin.

(Mine).