Mengapa Ada Masalah dengan PKS?

Februari 7, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah pertanyaan sederhana: “Mengapa saat ini PKS mengalami hal-hal buruk? Mengapa mereka bisa sampai ke titik kesulitan yang menyakitkan? Apa salah mereka, apa salah kader-kadernya?”

Dalam memandang persoalan PKS ini kita bisa melihat dari dua sisi: POLITIK dan SYARIAT. Secara politik, benar kata sebagian cendekiawan Muslim, janganlah kita terlalu menghakimi PKS; sebab hal itu akan merugikan perjuangan politik kaum Muslimin juga. Tetapi secara Syariat, pandangan kritis, koreksi, nasehat, analisis, dan seterusnya harus disampaikan. Mengapa? Karena kasus yang membelit sebagian elit PKS itu terkait masalah risywah (suap). Kalau kita bersuara kalem, mencari 1001 alasan toleransi, atau menutup-nutupi masalah ini, jelas Syariat Islam yang akan dikorbankan. Nanti masyarakat akan berkomentar: “Oh ternyata, kalau yang melakukan suap kalangan elit partai Muslim, gak apa-apa ya.” Ini sangat berbahaya.

Kaum Elit Sangat Arogan. Seperti Fir'aun.

Kaum Elit Sangat Arogan. Seperti Fir’aun.

Menurut saya, sebatas pengetahuan dan pemahaman yang saya ketahui, PKS mengalami kesulitan ini karena dua alasan besar: arogansi elit dan keterbelahan komunitas. Hal-hal ini menjadi sebab yang membuat partai itu terpuruk.

AROGANSI ELIT PKS. Mereka cenderung tidak mau mendengar nasehat, masukan, kritik, atau taushiyah dari saudara-saudaranya sesama Muslim. Kasus-kasus politik sudah banyak beredar, sejak tahun 2004 sampai saat ini. Tidak terhitung banyaknya suara-suara, aspirasi, dan harapan dari kaum Muslimin agar PKS lebih peduli dengan nasib kaum Muslimin dan persoalan hidupnya. Tetapi elit-elit PKS seperti punya road map (peta jalan) sendiri. Mereka cenderung meremehkan.

Nasehat-nasehat telah banyak disampaikan ke meja elit PKS. Bahkan mundurnya kader, ustadz, serta pendukung PKS merupakan signal-signal yang mestinya ditangkap. Bahkan kekalahan PKS dalam even-even politik, seperti kekalahan dalam Pemilu 2009 di wilayah Jakarta dan Pilkada Jakarta 2012, mestinya itu juga menjadi nasehat. Ketika meledak kasus nonton video porno saat sidang paripurna, itu juga nasehat perih bagi mereka. Tetapi sayang semua itu ditepiskan begitu saja oleh elit-elit politisi.

Inilah arogansi. Ini sangat berbahaya. Innallaha laa yuhibbu kulla mukhtalin fakhur (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri). Sombong ini adalah watak para tiran seperti Namrudz, Fir’aun, Abrahah, Abu Jahal, dan seterusnya. Bahkan kesombongan itu yang membuat Iblis terkena laknat Allah Ta’ala sampai akhir zaman.

Ketika elit-elit politik merasa besar, merasa pintar, merasa paling waqi’ dalam soal politik, merasa tidak membutuhkan orang lain; maka datanglah nasehat-nasehat manusia untuk mengingatkan mereka. Namun ketika nasehat itu sudah menumpuk, tak didengarkan juga; akhirnya datanglah NASEHAT ILAHIYAH yang sangat menyakitkan. Pemimpin tertinggi politik terlibat kasus suap, dan disana ada intrik-intrik tertentu. Masya Allah, nas’alullah al ‘afiyah.

KETERBELAHAN KOMUNITAS. Jujur, kalau bicara tentang PKS, kita seperti serba salah. Jika melihat sikap elit-elit politik, mereka cenderung arogan, oportunis, terkesan “menghamba kekuasaan” belaka.

Tetapi bagi pengikut, pendukung, para kader PKS di bawah, mereka itu insya Allah baik-baik. Mereka itu tampak tulus, beramal sekuat kemampuannya, banyak berkorban, dan bersusah-payah demi kebaikan masyarakat. Mereka rajin shalat, rajin majelis taklim, rajin membaca Al Qur’an, mereka memakai busana Muslimah, dan seterusnya. Mereka ini rata-rata baik, tulus, dan insya Allah mereka aktif dalam perjuangan PKS karena Lillahi Ta’ala.

Disini kita menyaksikan ada GAP (keterbelahan) yang jauh antara elit-elit politik dan para kader/pendukung mereka di bawah. Di lapisan bawah masih tekun dan rajin berjuang sebagai Partai Dakwah; di tingkat elit kelakuan mereka sangat buruk, dengan sengaja menjual dukungan kader/bawahan untuk mencapai keuntungan-keuntungan politik. Fungsi para kader/pendukung itu seperti TANGGA yang diinjak-injak orang agar bisa mencapai posisi tinggi. Bukan rahasia lagi bahwa elit-elit PKS hidupnya glamour, menumpuk kekayaan, dari hotel ke hotel; tetapi para bawahan disana hidup sengsara untuk sekedar survive.

Keterputusan RUHIYAH antara Elit Partai dan Para Kader di Bawah.

Keterputusan RUHIYAH antara Elit Partai dan Para Kader di Bawah.

Ada keterputusan aspirasi dari bawah ke atas. Kalangan bawahnya baik-baik, sementara kalangan atasnya berfoya-foya dengan dunia. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mungkin pertanyaannya: “Mengapa kader-kader atau para pendukung itu diam saja? Mengapa mereka tidak melakukan koreksi atau perbaikan? Apa mereka tidak punya kemandirian?”

Jawabannya:

Pertama: mereka sudah melakukan itu semua. Tetapi aspirasi mereka mampet (tersumbat). Seakan aspirasi mereka “hanya ditampung saja” sembari tidak ada niatan dilaksanakan. Tetapi kalau kader-kader itu sekaya Chairul Tanjung, Adang Dorodjatun, atau Hary Tanoe; yakinlah elit-elit PKS akan menggelar karfet merah untuk menyambutnya.

Kedua: sistem hirarki politik ketat yang diterapkan di tubuh partai membuat semua aspirasi yang disampaikan oleh bawahannya mudah dimentahkan begitu saja. Kalau aspirasi itu tidak sesuai dengan kepentingan dan selera elit partainya, ia seketika dibuang ke tempat sampah. Bahkan kader-kader yang terkenal kritis tidak sedikit di-isolasi, dipinggirkan, atau digosipkan dengan rumor-rumor tertentu.

Singkat kata, kalau melihat partai ini, mesti dibedakan antara ELIT POLITIK-nya dan para KADER/pendukungnya. Itu berbeda. Mereka memiliki dunia dan sikap politik sendiri-sendiri. Saya sendiri (dalam blog ini) kalau mengkritik PKS, sebenarnya lebih mengkritik ke sikap elit-elitnya yang memutuskan kebijakan politik; bukan mengkritik kader/pendukungnya yang masih baik-baik.

Nah, inilah alasan utama mengapa PKS mengalami kesulitan saat ini. Mereka terpuruk, karena elit-elitnya sudah tak mampu mendengar nasehat alias terlalu arogan. Akibatnya, datanglah NASEHAT ILAHIYAH yang rasanya ketika menimpa mereka, amat sangat menyakitkan dan menekan. Ya, kalau manusia sudah tak mampu menasehati, Rabbul ‘alamin yang akan menasehati.

Lalu solusinya bagaimana? Ya, itu silakan dipikirkan dan dimusyawarahkan sendiri. Saya kan hanya membahas “sebab keterpurukan”, bukan solusinya. Ya bagi-bagi tugaslah, saling membagi beban dan amanah. Terimakasih.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

(Mine).