Siapa Mau Poligami, Nikahi Saja Janda Tua, Sudah Nenek-nenek…

April 4, 2012

Rehat Sejenak Ya... Santai Dikitlah...

Di sebuah negeri yang katanya Muslim, tapi poligami dimusuhi. Di sono ada yang gething (benci banget) ke poligami, tapi juga ada yang nafsu banget. Ada yang sentimen, ada yang candanya “poligami melulu”. Ada yang “sok jantan” di depan kawan-kawan, tapi klepek-klepek di hadapan isteri (baca: Susis tentu).

Ada yang cepet bosen ke isterinya; kalau taklim yang dibahas Surat An Nisaa’ ayat 3 melulu. Tapi ada juga yang selalu cari-cari dalih untuk menolak poligami, dengan alasan “kami ini ahli tauhid” (baca: isteri hanya satu). Ya begitu deh…

Singkat kata, disana ada seorang ustadz muda…(tapi cerita ini bukan beneran lho ya, cuma humor rekaan saja)…dia sering berceramah masalah-masalah agama. Dia bisa membahas masalah tauhid, fiqih, ibadah, muamalah, adab, politik, jihad, dan lainnya. Tapi yang unik, di setiap ceramahnya dia selalu menyelipkan ajakan melakukan ta’addud zaujat (poligami atau poligini yang tepatnya). Mungkin hal itu sudah menjadi ciri kali ya, sehingga dia digelari¬† “ustadz poligami”. Padahal dia juga belon praktek.

Lama-lama banyak ibu-ibu mulai kasak-kusuk. Mereka berusaha menggalang kekuatan dengan menggandeng para gadis dan remaja putri. Mereka sepakat membentuk Setgab Koalisi “Anti Poligami” (disingkat SEKAP). Mereka berkali-kali mengadakan sidang komisi, lobi-lobi, menyusun rencana untuk mematahkan argumen “ustadz poligami”. Singkat kata, mereka telah mendapat alasan sangat kuat yang diyakini bisa membantah ceramah si ustadz.

Suatu hari saat pengajian “ustadz poligami” membahas masalah kenakalan remaja. Ibu-ibu yang biasanya sewot, tetapi waktu itu mereka malah nunggu-nunggu momen supaya si ustadz masuk ke masalah poligami. Setelah ditunggu-tunggu kok belum juga dibahas. Akhirnya salah seorang ibu, mungkin ini semacam “juru bicara fraksi” langsung angkat bicara.

Ibu Rosida: “Tolong Ustadz, tidak pake muter-muter! Langsung saja bahas poligami! Ustadz mau belok kesitu kan? Kami sudah menunggu dari tadi.”

Si ustadz tentu kaget. Biasanya ibu-ibu sangat sewot, kok hari itu malah kelihatan “nafsu”. Dia terheran-heran, kalau tidak mau dibilang curiga. Tapi sudahlah, karena jurus ustadz sudah ketahuan, ya dengan “berat hati” dia masuk bahasan poligami.

Ustadz: “Jadi Ibu-ibu, poligami itu sunnah Rasul. Namanya perbuatan sunnah, kalau dilakukan berpahala, kalau tidak dilakukan tidak apa-apa. Ya, zaman sekarang kan banyak godaannya. Daripada berzina yang haram, kan mending poligami saja yang halal.”

Ibu Naila: “Jadi poligami sunnah ya?”

Ustadz: “Ya betul Bu Naila. Itu sunnah. Kalau dilakukan ikhlas dan penuh tanggung-jawab, insya Allah sakinah, mawaddah, wa rahmah. Begitu Bu.”

Ibu Yulia: “Ustadz ada niat melakukan poligami?”

Ustadz: “He he he… Ya Ibu-ibu kan tahu sendiri, saya cuma segini-gininya. Rumah saja masih ngontrak, belum ada kerja yang jelas. Tapi soal poligami, saya ingin sekali.”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuuuuu….pakai berbelit-belit segala.”

Ibu Farida: “Apa alasan Ustadz mau poligami?”

Ustadz: “Ikut sunnah Rasul!”

Ibu-ibu kompak: “Yang bener?”

Ustadz: “Bener! Sumpah Bu! Niatnya ikut Sunnah. Tak kurang tak lebih.”

Ibu Yasmin: “Kalau begitu Ustadz ikuti cara poligami Rasul?”

Ustadz: “Maksud Ibu?”

Ibu Yasmin: “Kalau mau nyontoh Rasul, ya ikuti cara Rasul. Ustadz sana cari nenek-nenek tua, nenek lansia yang sudah tua dan reyot. Silakan Ustadz nikahi dia. Mau gak?”

Disambut tepuk-tangan para jamaah pengajian. Ustadznya sendiri kelihatan bingung tidak karuan. Ibu-ibu tambah semangat melakukan serangan.

Ibu Hani: “Tetangga saya, ada nenek tua. Namanya Mbok Inah. Usianya sudah 70 tahun. Dia janda selama 30 tahun. Gimana Ustadz mau? Nanti saya kenalkan dengan Mbok Inah.”

Ibu Dania: “Benar ustadz. Kalau Ustadz setuju nikah dengan Mbok Inah, kami yang akan biayai semua keperluan pernikahannya. Ustadz tak usah keluar biaya apa-apa. Bagaimana Ustadz?”

Ibu Fajriyah: “Bagaimana Ustadz, masih mau mengikuti Sunnah Rasul?”

Tampaknya Pak Ustadz tidak bisa menjawab apa-apa. Mukanya merah menahan malu, wajahnya tertunduk. Apalagi dia semakin ditertawakan ibu-ibu.

Saat kondisi sangat genting itu, tiba-tiba seorang kakek-kakek, dengan suara tidak jelas (khas kakek-kakek) mengajukan pertanyaan.

Kakek: “Pak ustadz, bagaimana hukumnya mandi besar bagi kakek-kakek?”

Pertanyaan ini seketika mengundang tawa para jamaah pengajian. Baik ibu-ibu maupun bapak-bapak ketawa semua. Kakek-kakek masih sempatnya bertanya soal mandi besar. Nonton apa aja dia? (He he he… becanda, becanda, no more serious).

Ustadz: “Ya mandi besar berlaku bagi siapa saja, Kek. Kakek-kakek atau anak muda, kalau mengalami junub ya harus mandi besar.”

Ketika kakek-kakek itu bertanya, si ustadz tiba-tiba mendapatkan ide brilian. Dia punya jawaban jitu untuk mematahkan logika ibu-ibu.

Ustadz: “Ibu-ibu, pertanyaan tadi masih perlu dijawab tidak?”

Ibu-ibu kompak: “Ya jelas perlu lah. Ayo segera jawab!”

Ustadz: “Baik Ibu-ibu, saya akan jawab. Tapi Ibu harus jawab pertanyaan saya dulu, sebelum pertanyaan-pertanyaan Ibu saya jawab.”

Ibu-ibu kompak: “Pertanyaan apa Ustadz?”

Ustadz: “Ibu yang masih muda-muda dan cantik, mau tidak menikah dengan kakek yang baru bertanya ini?”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuu… Siapa mau? Kakek tua begitu kok mau jadi suami. Gak mau ah. Yang muda masih banyak, kok mau nikah sama kakek-kakek. Gak mau Ustadz. Gak maaauuuuuuuuuuuu!!!!!”

Ustadz: “Nah, itulah jawaban saya Bu.”

Ibu-ibu kompak: “Maksudnya?”

Ustadz: “Ya kalau ibu-ibu saja tidak mau menikah sama kakek-kakek, mengapa nyuruh orang lain menikah sama nenek-nenek? He he he….”

Semua ibu-ibu, gadis-gadis, remaja putri pada cemberut mendengar jawaban “ustadz poligami”.

Ustadz: “Emangnya menikah itu kerja bakti apa…. Namanya nikah yang pasti ingin dapat kebaikan. Masak disuruh menikahi orang lansia? Uuaaaneh itu.”

Ibu Yasmin: “Tapi kan Nabi menikah nenek-nenek juga?”

Ustadz: “Emang berapa banyak nenek yang beliau nikahi, Bu? Cuma satu kan. Yang lainnya ada janda muda, ada janda pemimpin kabilah, dan ada seorang gadis.”

Ibu-ibu pengajian semuanya seketika berdiri dan keluar dari masjid, tanpa mengucapkan salam sepatah pun. Si “ustadz poligami”¬† hanya tersenyum manis melihat wajah ibu-ibu yang cemberut.

Tapi ini hanya selingan. Just intermezzo. Jangan terlalu dianggap serius… Matur nuwun.

Mine.

Iklan

PKS Berhak Di-adil-i

Maret 26, 2011

Maksud kata “di-adil-i” disini bukanlah: dihakimi, disidang, atau disudutkan. Tetapi maksudnya, diberikan hak keadilan baginya. Kata adil disana bukan merupakan kata kerja, tetapi merupakan kata sifat.

PKS selama ini mengklaim sebagai partai yang punya komitmen membangun dan membela keadilan di Indonesia. Hal itu bisa dimaknai sebagai aksi dari PKS untuk masyarakat. Posisi PKS disana sebagai subyek keadilan. Namun, mereka juga berhak menjadi obyek keadilan, yaitu menerima sikap-sikap adil kaum Muslimin kepadanya.

Jaga Keadilan, Dimanapun & Kapanpun!!!

Seperti kita tahu, akhir-akhir ini PKS sedang kebanjiran masalah. Peletupnya tak lain adalah “gerakan politik” secara intensif yang dilakukan mantan elit PKS sendiri, Yusuf Supendi. Beliau mantan anggota Majlis Syura PKS, sekaligus mantan anggota DPR RI Fraksi PKS, namun tahun 2010 lalu beliau dipecat.

Bisa dikatakan, Pak Yusuf Supendi pernah mengalami perlakuan partai yang tidak menyenangkan baginya. Minimal, berupa pemecatan keanggotaan dirinya dari komunitas PKS. Lalu sebagai upaya “menciptakan keseimbangan”, beliau balik melakukan gerakan politik yang sangat tidak menyenangkan bagi komunitas PKS. Khususnya, bagi elit-elit PKS yang beliau tuduh melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Di antara tuduhan atau serangan Pak Yusuf Supendi, ada yang bisa dimaklumi secara nalar politik praktis di Indonesia. Misalnya, melaporkan kasus penggelapan uang, melaporkan ancaman kekerasan terhadap dirinya, melaporkan kebohongan publik, dan lainnya. Namun ada juga yang menyentuh masalah PRIVASI yang seharusnya tidak boleh diumbar dalam ruang publik.

Masalah privasi tersebut adalah soal POLIGAMI elit-elit politik PKS dan ancaman membeberkan riwayat “kenakalan” seorang elit PKS di masa remajanya. Kedua persoalan ini ranahnya pribadi, seharusnya tidak menjadi komoditi politik. Ya, sekesal-kesalnya kita kepada suatu kaum, tetap harus bersikap adil.

Poligami beberapa elit PKS adalah masalah pribadi yang tidak boleh “dikomoditikan” secara politik. Andaikan disana ada masalah “fasakh” (pernikahan yang dianggap batal karena tidak memenuhi unsur syar’i), hal itu tetap tidak boleh dikomoditikan. Jika kita ingin menasehati dalam konteks fasakh itu, harus memakai istilah-istilah yang bersifat umum, seperti: “Poligami elit partai tertentu”, “kehidupan poligami elit politik tertentu tidak sesuai syar’i”, “ada masalah pada poligami elit tertentu”, dan semisalnya.

Jadi, unsur nama partai atau nama personal, harus tetap disembunyikan. Ya, karena ini masalah pribadi, bukan wilayah politik yang bisa dikomoditikan. Kalau kita mengalami hal serupa, pasti akan sangat BERAT, saat melihat masalah pribadi naik ke urusan publik.

Kemudian, keinginan mengadukan “kenakalan” elit PKS di masa remajanya. Ini juga sangat salah dan seharusnya dijauhi. Seharusnya, sebagai orang yang paham agama, menghindari masuk ke masalah-masalah seperti ini. Sungguh tidak adil ingin membongkar aib-aib seorang remaja di masa lalu. Andaikan, setiap remaja Muslim boleh diumbar aib-aibnya saat masih muda, kaum Muslimin tak akan pernah punya tokoh.

Lagi pula, masa remaja itu terpisah dengan urusan politik. Seharusnya masa-masa remaja tersebut tidak dikaitkan dengan soal pemecatan diri dari suatu partai. Tidak boleh. Dan lebih tidak boleh lagi, ketika aib-aib masa remaja itu akan digunakan untuk merusak hubungan baik suami-isteri. Ini adalah tindakan khianat dan seperti perilaku syaitan yang suka menceraikan suami dari isterinya. Ini harus dihindari sejauh mungkin.

Seberat-beratnya resiko, sehebat-hebatnya badai menimpa, seburuk-buruknya realitas; tetap saja seorang Muslim harus selalu bersikap adil. Tidak boleh bersikap zhalim. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman: “Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan wa itai dzil qurba wa yanha anil fakhsya’i wal munkar wal baghyi, yaizhukum la’aakum tadzak-karun” (sesungguhnya Allah memerintahkan kita berbuat adil dan ihsan, memberi kepada karib kerabat, dan Dia melarang kita dari perbuatan keji dan mungkar, serta pembangkangan. Demikianlah Allah mengajari kalian, agar kalian mengambil sebaik-baik peringatan. Surat An Nahl).

Bila selama ini kita menuntut sikap adil dari PKS. Kini kita harus juga menunaikan hak-hak keadilan mereka. Terserah apapun dan bagaimanapun perasaan “membuncah” dalam dada kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Politische).