Pernyataan Yusril Ihza Mahendra

Mei 28, 2009

Sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra. Dalam acara INTERPOL baru-baru ini di sebuah stasiun TV, Yusril ditanya oleh reporter TV. “3o tahun lalu ada pengamat yang memprediksikan bahwa partai-partai Islam akan semakin tersingkir dari percaturan politik di Indonesia?” Kurang-lebih seperti itu pertanyaannya.

Yusril menjawab dengan lugas, bahwa partai Islam mungkin saja posisinya tergeser oleh partai-partai lain, tetapi politik Islam akan tetap kuat di Indonesia. Politik Islam tidak melulu ada di partai Islam saja, tetapi di partai-partai nasionalis pun misi politik Islam ada. Demikian pandangan Yusril.

Terlepas penilaian kita kepada sosok Yusril dengan pragmatisme politiknya, tetapi apa yang dia sampaikan di atas sangatlah penting. Seperti kenyataan yang sama-sama kita saksikan saat ini, betapa partai-partai Islam semua merapat ke In Cumbent (SBY dan Demokrat). Alasannya hanya satu, yaitu ingin mendapat kue kekuasaan kalau nanti SBY menang dalam Pilpres.

[Kalau seandainya SBY kalah, partai-partai Islam itu pasti akan merapat ke partai penguasa untuk mengemis kue kekuasaan. Ya memang, serendah itulah mereka menghargai nama ISLAM].

Harus diakui, era partai Islam secara ideologis, pemikiran, moral, dan perilaku, bisa dikatakan sudah berakhir. Namun tidak berarti, misi politik Islam sudah selesai. Tidak sama sekali. Justru partai-partai yang semula dianggap nasionalis, bahkan sekuler, ternyata mereka memiliki sifat-sifat yang menguntungkan misi perjuangan politik Islam.

Contoh, Jusuf Kalla dan Golkar. Semua orang tahu, Golkar bukan partai Islam, tapi partai nasionalis. Lalu lihatlah bagaimana penampilan Bu JK yang kemana-mana sangat konsisten dengan jilbab-nya. Bu JK ini termasuk wanita istimewa, telaten mendampingi suami, apapun maunya. Tapi beliau tidak pernah tampil tanpa mengenakan jilbab.

Jusuf Kalla sendiri adalah politisi yang selalu tampil bersahaja (tawadhu). Dibandingkan penampilan Anis Matta atau Fahri Hamzah, Pak JK lebih hamble (sederhana). Dia selalu memakai kemeja putih, bawah baju dikeluarkan. JK berbicara egaliter dengan masyarakat. Kadang tampak ngeyel dengan argumen-argumennya, tapi kadang mengapresiasi orang lain secara wajar. Ya, gaya Bugis-Makassar pada umumnya lah. Dari sisi penampilan, JK telah menunjukkan sikap kebersahajaan.

Contoh lain, Prabowo dan Gerindra-nya. Dalam beberapa pernyataan, Prabowo mengemukakan bahwa garis politiknya adalah Sosialisme atau pro rakyat kecil. Dalam iklan, pemikiran, atau manifesto politiknya, Gerindra ingin mengangkat harkat masyarakat kecil, agar tidak menjadi bulan-bulanan kekuatan asing dan kapitalisme. Singkat kata, dari sisi Islami, garis perjuangan Gerindra-Prabowo adalah untuk menolong kaum mustadh’afin (orang-orang lemah). Seharusnya, yang menyuarakan semangat ini adalah partai-partai berlabel Islam itu.

Contoh selanjutnya, Hanura dengan Wiranto-nya. Jargonnya: “Berpolitik dengan hati nurani.” Kalau dalam bahasa Nabi Saw, “Istafti qalbak” (tanyai hatimu sendiri). Jika Wiranto dan Hanura benar-benar konsisten dengan konsep hati nurani ini, berarti mereka telah mengembalikan kepada masyarakat harta kekayaan besar yang sekian lama hilang dari panggung politik. Mungkinkah hal itu terjadi? Atau ia hanya retorika politik saja? Ya, kita mendoakan semoga Pak Wiranto dan kawan-kawan konsisten dengan garis politiknya; meskipun pilihan hati nurani dalam politik itu sungguh tidak mudah. Allahumma amin.

Contoh yang tak kalah menarik adalah PDIP. Selama ini para aktivis Islam, termasuk saya sendiri, sangat antipati dengan PDIP. Termasuk dengan Bu Mega dan jajarannya. Ternyata, perkembangan terakhir, banyak perubahan di internal PDIP, sehingga sewajarnya kita mengapresiasi kemajuan itu. Meskipun bagi sebagian kalangan Islam, masih sulit melupakan track record PDIP yang sedemikian panjang dalam menghalangi proses legislasi UU yang pro nilai-nilai Islam.

Taruhlah, kita tidak menganggap PDIP sudah berubah drastis. Setidaknya, ada sisi-sisi positif tertentu di diri PDIP yang layak dihargai, misalnya:

[-] PDIP adalah satu-satunya partai oposisi yang konsisten berada di luar kekuasaan, dan terus mengkritisi Pemerintah selama periode 2004-2009 ini. Ini adalah fakta yang tidak diragukan lagi.

[-] PDIP menyerukan slogan perjuangan membela wong cilik. Ini sama dengan Gerindra, yaitu perjuangan membela kaum lemah (mustadh’afin). Dan kita harus tahu, sebagian besar komunitas wong cilik itu adalah Muslim.

[-] PDIP bersikap protektif terhadap kepentingan nasional. Hal itu diakui Megawati selama menjadi Presiden RI. Nah, atas sikap yang seperti itu mereka tidak lagi menjadi partai yang di-back up kepentingan politik Amerika. Dalam Pemilu 1999, PDIP santer diduga sebagai kendaraan politik Amerika. Namun setelah Mega menjadi Presiden, dukungan Amerika dipindah ke Demokrat, bukan ke PDIP lagi. Kalau kembali ke akar politik Soekarno, dia memang anti kapitalis-imperialis.

[-] Dalam berbagai pernyataan politiknya, Bu Mega tidak segan-segan mengucapkan kalimat “Alhamdulillah”, “Insya Allah”, juga “Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Ya, dalam konteks PDIP di masa lalu, rasanya sulit akan mendapati sikap elit-elitnya yang seperti itu.

[-] Di depan forum Kadin tanggal 23 Mei 2009 di TVOne, Bu Mega mengatakan bahwa jaman telah berubah, sehingga sikap politik pun perlu berubah. Ini luar biasa. Selama ini, mereka dianggap Soekarnois sejati, yang tidak bergeser sehelai rambut pun dari kaidah-kaidah politik Soekarno. Ternyata, PDIP menyadari juga situasi perkembangan kontemporer yang perlu direspon secara bijak.

[-] Dalam salah satu siaran di MetroTV, saat waktu Maghrib, di kediaman Bu Mega di Jl. Teuku Umar, disana terlihat dengan jelas, para tamu-tamu dan tuan rumah sedang melakukan Shalat berjamaah di bawah tenda putih di halaman rumah. Ada shalat berjamaah di halaman rumah pucuk pimpinan PDIP seperti kenyataan yang sulit dipahami. Tetapi itu faktual dan nyata.

Demikian bentuk-bentuk perubahan baik yang tampak dalam perahu politik PDIP dan jajarannya. Jujur saja, kalau harus memilih antara SBY dan Bu Mega sebagai Presiden RI, seandainya pilihan yang ada demikian, lebih baik kalau memilih Bu Mega. Beliau insya Allah memiliki komitmen terhadap nasib masyarakat kecil, sementara yang satunya justru…ya tahu sendirilah.

Kenyataan politik seperti ini mengingatkan kita kepada tujuan gerakan Islamisasi Pak Natsir dulu. Beliau ingin agar Islam masuk ke institusi-institusi umum, tidak hanya beredar di sekitar masjid dan pesantren. Harapan beliau tercapai ketika universitas-universitas umum marak dengan semangat Islam. Justru institusi seperti IAIN, STAIN, atau sekarang UIN malah aktif digerogoti oleh paham liberal, pluralism, dan secularism. Sungguh ironi, universitas umum tampil Islami, yang jelas-jelas berlabel Islam, malah tampak sekuler-pluralisme.

Sama seperti kenyataan hari ini. Partai-partai politik Islam berlomba menjual agama dengan harga murah. Sementara partai-partai umum semakin mengakomodir nilai-nilai Islami. Aneh memang.

Dalam hal ini saya setuju dengan pernyataan Pak Yusril. Ya, namanya kebenaran (atau sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran) bisa muncul dari mana saja. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 28 Mei 2009.

Waskito.

Iklan