Prabowo dan Nelson Mandela

Agustus 29, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat relevan kita membandingkan sosok Prabowo Subianto dengan pahlawan modern asal Afrika Utara, Nelson Mandela. Kedua sosok mewakili missi perjuangan yang luhur, di negara masing-masing. Jika Nelson Mandela memperjuangkan penghapusan politik APHARTEID (rasialisme yang menempatkan kaum kulit putih lebih mulia dari kaum kulit hitam); maka Prabowo membawa missi memperjuangkan kedaulatan hakiki bangsa Indonesia atas pihak-pihak lain yang terus mengeksploitasi kehidupan di negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Missi luhur perjuangan Prabowo terangkum dalam kalimat: Memperjuangkan kehidupan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kalau bangsa Indonesia masih menghargai Proklamasi 17 Agustus; masih menghargai Pembukaan UUD 1945, masih menghargai Pancasila, masih menghargai status sebagai BANGSA MERDEKA; ya harus mendukung perjuangan itu. Bagaimana kita mengaku diri sebagai bangsa merdeka, tapi tidak memiliki kedaulatan mengatur kehidupan?

Jadi perjuangan Prabowo ini -setahu kami- tidak bercorak perjuangan politik praktis; tetapi politik kebangsaan. Sama luhurnya dengan perjuangan para pahlawan bangsa di masa lalu yang berkorban habis-habisan meraih kemerdekaan. Kalau perjuangan Prabowo itu dihinakan atau dilecehkan; lalu apa artinya kita memiliki HARI PAHLAWAN setiap 10 November? Apa artinya kita memelihara taman-taman makam pahlawan?

Demi missi mulianya, Nelson Mandela harus berkorban dipenjara hingga 27 tahun. Dia dipenjara saat masih muda; ketika dibebaskan, dia sudah tua, lebih kurus, dan beruban. Itulah sifat komitmen seorang pahlawan Afrika Selatan, rela menderita demi missi kemuliaan. Prabowo pun sudah menerima segala kepahitan, jadi korban kezhaliman, hingga urusan rumah tangga menjadi taruhan. Itulah harga untuk sebuah missi luhur yang terus diperjuangkan.

Hebatnya, Nelson Mandela tidak menyimpan dendam kepada musuh-musuhnya. Setelah sekali dia memimpin Afrika Selatan, setelah itu tidak mencalonkan lagi. Dia tulus berjuang untuk maslahat rakyatnya. Begitu juga perjuangan menuju kemandirian bangsa, harus terus dinyalakan sampai berhasil mencapai tujuan; dengan tetap menjaga ketulusan.

Harus ada di negara kita ini para PATRIOT yang berjuang ikhlas, bukan untuk maksud apapun, selain demi KEMASLAHATAN kehidupan bangsa kita. Biarpun dilecehkan, dihina, mendapat tekanan-tekanan; missi seperti itu harus terus dilakukan. Bila diniatkan ibadah Lillahi Ta’ala, insya Allah sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Dalam riwayat dikatakan: “Wa man qutila duna maalihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna dinihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna ahlihi, wa huwa syahid” (siapa yang mati karena membela hartanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela agamanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela keluarganya, dia mati syahid).

Perjuangan demi kemaslahatan bangsa ini tidak dibatasi oleh ruang-ruang keterbatasan politik. Ia menjadi seruan yang bersifat universal, diakui oleh semua fitrah insani; sebagaimana layaknya kenyataan yang sedang dihadapi para pejuang Palestina saat ini. Maka kekalahan dalam pemilu, dengan cara apapun, tidak boleh menghentikan usaha-usaha untuk mencapai kemandirian, kedaulatan, dan kemuliaan hidup bangsa ini.

Jangan sekedar memandang Prabowo sebatas kontestan politik; namun pandanglah ia sebagai simbolisasi perjuangan universal bangsa Indonesia. Pilpres boleh silih-berganti berapa kali pun; tapi missi perjuangan jangan berubah dan melenceng.

Cukuplah janji Allah sebagai spirit yang terus menggelorakan semangat juang; “Innallaha yuhibbul muhsinin” (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak berbuat kebajikan).

Terus berjuang wahai saudaraku! Wallahu Waliyut taufiq.

(Mine).


RAHASIA TRAGEDI MEI 1998…

Juni 24, 2014

(Hasil co-pas dari akun Facebook. Mohon maaf kata-kata banyak disingkat).

Alhmdulillahi Rabbil ‘alamiin. Setelah skian lama akhirnya bangsa Indnsia tahu dalang sbenarnya dr Krusuhan Mei 98.¬† Bbrp fakta sjarah layak kt telaah…

[A]. LB Moerdani adl jendral militer kuat di zaman Orba. Dia dalang pembantaian Priok September 1984. Moerdani mmerangi kaum Islamis atas nama “bela negara & Pancasila”.

[B]. Thn 1988 Moerdani brusaha lakukan kudeta politik ke Soeharto, tp gagal. Ktnya, gerakan dia dilaporkan Prabowo ke Soeharto. Sjk itu Soeharto mulai mndekat ke Ummat Islam, dan mnjauh dr Moerdani Cs.

[C]. Stl Moerdani disingkirkn Soeharto, bkn brarti kkuatan & prmainan dia brakhir. Dia mrencanakn hancurkan Soeharto scara kekerasan. Dunia intrnasional & elemen2 Nashrani dukung rncana Moerdani. Trmsuk IMF, media liberal, pengamat2 ekonomi.

Manusia Paling Anti Islam di Indonesia.

Manusia Paling Anti Islam di Indonesia.

[D]. Krusuhan Mei 98 benar2 mrupakn “maha karya” Moerdani Cs. Dia gerakkan masa mhasiswa kiri, Nasrani, dan pndukung PDIP dr Bogor. Tpatnya Mega Mendung, Puncak. Waktu itu signal komunikasi militer dirusak shg antar kesatuan tdk bisa saling koordinasi.

[E]. Pertanyaan: Mgkinkah Moerdani melakukan itu smua? Kita pun balik brtanya: mungkinkah kerajaan & kemampuan militer Moerdani yg pernah jadi “anak emas” Soeharto lenyap bgitu sj? Kalo para pensiunan perwira msh bnyak yg bisa jadi pejabat, aplg seorg Moerdani. Lobi2 dia sgat dijunjung tinggi di Washington ato Vatikan.

[F]. Moerdani org Katholik, tp scara agama dia dianggap “ora ono apa2ne”. Kayak org tdk bragamalah. Ada kabar, dia smp tega bunuh orgtua sndri. Wal ‘iyadzubillah. Tp org ini sgat diandalkan kkuatan asing, krn dia SGAT2 ANTI ISLAM. Mirip komunis-lah.

[G]. Krusuhan Mei 98 bukan trjadi sbg kejadian biasa, tp ia adalah GONG (momen puncak) dr konspirasi besar unt mghancurkan Soeharto. Soeharto dihancurkn lewat Krisis Moneter, tekanan IMF, opini mdia2 TV, dan puncaknya Krusuhan Mei.

[H]. Harus dicatat, sblum peristiwa Mei 98, Indnsia dilanda banyak kerusuhan sosial (konflik horizontal), spt kerusuhan Situbondo, Tasikmalaya, Banyuwangi, kampanye Pemilu 1997, dll. Krusuhan2 ini mrupakan “aksi pemanasan” mnuju aksi puncak (Mei 98). Ingat PKI thn 65 juga trlebih dulu buat aksi2 pemanasan di Indramayu, Kediri, dll. Pola grakn PKI slalu bgitu.

[I]. Bahkan Kerusuhan 27 Juli 1996 sbenarnya msh SATU PAKET dg ide “pemanasan” ini. Tp tujuannya unt “menciptakan pahlawan” yaitu Megawati & PDIP. Anda tahu tdk, yg mmberi nama “PDI Perjuangan” itu siapa? Nama itu diberikan oleh RCTI, lalu diikuti mdia2 lain, lalu diadopsi Mbak Mega Cs.

[J]. Bukti paling meyakinkan bhw Krusuhan Mei disetir oleh Moerdani, didukung elemen2 komunis, elemen2 Nashrani, dll. adlah trjadinya TRAGEDI AMBON 1999, TRAGEDI MALUKU UTARA 2000, TRAGEDI SAMPIT SAMBAS. Itu trjadi stlah posisi Presiden RI jatuh ke tangan Habibie, yg dikenal sbg 4 MUSUH trbesar Moerdani (selain Soeharto, Prabowo, & Islam). Moerdani Cs sgat marah stlah Habibie jadi presiden. Tdnya yg diplot adlah Mega dr PDIP, lwt pemilu. Maka itu dendam mrk dicurahkn lewat krusuhan2 di basis2 mayoritas non Muslim.

[K]. Fakta lain yg sgat mnjijikkan, Moerdani Cs mendorong demo2 mahasiswa spt Forkot, Famred, SMID, PRD, dll unt mnjatuhkn Habibie pd 1999. Minimal gagalkan Habibie jadi presiden lagi. Moerdani mmakai tangan Arifin Panigoro (pernah jadi kompatriot Mega di PDIP). Fakta2 ini sgat jelas.

[L]. Tak dilupakan adl peranan mdia2 masa pro komunis-liberalis spt Tempo, Kompas, Media Indnsia, Suara Pembaharuan, RCTI, SCTV, Indosiar, dll. Mrk ini SANGAT KEJAM dlm mmutar balikkan fakta. Mrk menyembunyikan KONSPIRASI MOERDANI dg menjadikan Prabowo Subianto sbg dalang Kerusuhan Mei 98. Mrk sembunyikan OTAK sebenarnya, dan mgorbankan seorang PATRIOT yg peduli nasib bangsa. Monster disebut pahlawan; pahlawan dsebut monster.

[M]. Tak dilupakan adalah peran Gus Dur. Dia ini adl kader komunis yg dibina di tubuh Ummat Islam. Dia mgawal Moerdani pasca Tragedi Priok 84. Dia prnah mncalonkn Moerdani sbg calon presiden unt “ngetest” emosi Ummat. Dia jadi “pahlawan Reformasi” brsama Mega & Amien. Dia juga wkt jadi presiden RI ingin mghapus Tap MPRS no. 25 ttg larangan ajaran komunis/marxis. Org ini memfitnah tokoh2 Islam sbg biang krusuhan sosial yaitu AS (Adi Sasono), ES (Egi Sudjana), AR (Amien Rais). Kebencian tokoh satu ini kpd Islam sdh tdk trbendung ktika dia bilang Al Qur’an sbg “kitab suci paling porno”. Smoga Allah Ta’ala mmbinasakan org ini & para pembelanya. Amin ya Sami’.

[N]. Tak dilupakan sosok jendral “cuci tangan” yaitu Wiranto. Menurut Prof. Salim Said, dia ini anak buah Moerdani juga. Jendral ini seharusnya paling “digantung di Monas” untuk kasus Kerusuhan Mei 1998, tapi dia lolos dan selalu lolos. Cerdik nian. Dosa besar Wiranto: a. Meninggalkan Jakarta saat genting; b. Memfitnah Prabowo; c. Memecah belah Habibie dan Prabowo, juga memecah-belah barisan Ummat Islam.Dia mengaku memegang “surat dekrit keamanan” dari Soeharto, tapi tidak mau tanggung-jawab pasca Krusuhan Mei dan kerusuhan demo aktivis anti Habibie sampai menjelang Sidang MPR November 1999. Aneh sekali.

Oportunis. Cari Selamat. Korbankan Sejarah Bangsa.

Oportunis. Cari Selamat. Korbankan Sejarah Bangsa.

[O]. Terkait surat pemecatan Prabowo Subianto (oleh DKP). Coba perhatikan, tanggal surat pemecatan itu pada BULAN AGUSTUS 1998. Tentu saja masa-masa genting Kerusuhan Mei sudah lewat, presiden sudah berganti, dan institusi TNI babak-belur. Saat momen itu, perwira-perwira TNI (yang menanda-tangani surat pemecatan) sok jadi “pahlawan kesiangan”. Mereka mengorbankan Prabowo Subianto, untuk menyelamatkan TNI dan nasib mereka. Padahal saat menjelang Kerusuhan Mei, mereka sudah tahu instruksi pengamanan situasi keamanan nasional. Prabowo bekerja resmi di tingkat itu, tapi dipecat juga. Tentu saja, mereka jadikan Prabowo sebagai “kambing hitam”. (Sama seperti aneka kasus korupsi, yang selalu jadi korban adalah level bawah).

[P]. Kalo kt perhatikan gerakan2 para pendukung Jokowi, modusnya tdk jauh beda. Fitnah, opini mdia, intimidasi, pencitraan, konspirasi, dll. Sama saja, hanya beda2 cover. Hrs diingat di tubuh pnsiunan prwira2 TNI juga ada anasir2 yg mmuluskan agenda PKI juga.

Begitulah modus org2 kafir komunis. Mrk tdk berani vis a vis. Slalu dan slalu buat konspirasi unt mrusak kehidupan brsama. Mrk bikin ulah, lalu mnuduh Ummat Islam sbg pelaku. Smoga kt mndpat hikmah dr fakta kekejian2 kaum kufar ini. Amin ya Rabbi.

(Admin).

 


Prabowo dan Nasib TNI

Juni 7, 2014

Bismillahirrahmaanirrahim.

Dulu banyak perwira atau prajurit TNI bersikap nyinyir kepada Prabowo Subianto, karena yang bersangkutan adalah menantu Pak Harto, dan mendapat jenjang karier melesat di TNI. Ibaratnya, kalau ada satu lampu terang, lampu itu akan merasa nervous ketika datang lampu lain yang lebih terang. Yah, sifat kemanusiaan.

Tapi seiring perjalanan waktu, banyak orang mengetahui bahwa Prabowo memiliki sifat yang baik dan karakter yang luhur. Dia tidak semata-mata memiliki gejolak ambisi pribadi, tetapi memiliki sifat pembelaan terhadap urusan bangsa/negara sangat tinggi. Salah satunya, Prabowo hanya menghendaki kebaikan bagi TNI. Meskipun dia terluka atau dizhalimi.

Mari kita lihat masalahnya…

[1]. Saat revolusi Mei 1998 itu, citra TNI sudah benar-benar nyaris ambruk. Karena TNI dipandang sebagai “satu paketan” dengan Orde Baru. Bahkan TNI adalah “backbone-nya” rezim Orde Baru. Maka ketika rezim hancur, pilar-pilar pendukungnya juga akan ikut hancur.

"Menanggung Beban Berat demi Kebaikan Bersama"

“Menanggung Beban Berat demi Kebaikan Bersama”

[2]. Pasca revolusi Mei 1998, Prabowo mendapatkan sanksi sangat berat. Jabatan sebagai Pangkostrad dicopot oleh Presiden Habibie, bahkan seluruh atribut kemiliteran dia dilucuti. Prabowo bukan perwira lagi, bahkan bukan siapa-siapa lagi. Akses politik, militer, publik, seolah dihajar sampai tandas.

[3]. Seharusnya yang paling bertanggung-jawab terhadap Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta adalah Jendral Wiranto selaku Panglima TNI, pemegang tongkat hirarki tertinggi di tubuh TNI; Pangdam Jaya, Syafrei Syamsuddin; dan Kapolda Metro Jaya. Mereka inilah yang mestinya sangat bertanggung-jawab, karena posisinya terkait langsung dengan situasi keamanan-ketertiban publik. Sedangkan Pangkostrad Prabowo, meskipun punya pasukan besar, ia ditujukan untuk bela negara hadapi situasi darurat, serangan dari luar; bukan untuk menghadapi kemelut politik internal. Secara hirarki, Pangkostrad harus selalu koordinasi dengan pejabat-pejabat TNI yang lain.

[4]. Media-media massa sekuler, para politisi, aktivis gerakan kiri, LSM, dan seterusnya selalu memojokkan Prabowo terkait peristiwa Mei 1998; tapi mereka tidak melihat kejadian ini secara struktural. Seakan ada suatu kesengajaan khusus untuk menghancurkan Prabowo, dan menyelamatkan yang lain (Wiranto). Ternyata, modus kekejaman opini itu masih terus dipakai sampai saat ini (menjelang Pilpres Juli 2014). Ya pelaku dan elemennya masih sama.

[5]. Meskipun Prabowo mempunyai banyak alibi atas keterlibatannya, namun dia memilih menahan diri, menenggelamkan diri, meskipun fitnah bertebaran luar biasa. Alasan dia simple; dia tak mau TNI pecah; kalau TNI pecah, Indonesia pun akan pecah. Ini adalah sikap ketulusan yang layak dihargai.

Apalagi yang belum dihadapi Prabowo? Segala macam fitnah sudah dia telan, makan, dikunyah-kunyah sampai lembut. Di tubuh TNI, dia difitnah. Di jajaran keluarga Soeharto, difitnah. Di mata Habibie, difitnah juga. Antar sesama jendral petinggi TNI, difitnah keras. Di mata para politisi, difitnah juga. Di mata asing dan industri kapitalis, difitnah juga. Secara keluarga dan rumah tangga, difitnah juga. Di mata media dan politisi, waduh sudah langganan fitnah.

Tapi ada hal menarik yang patut direnungkan tentang sosok Prabowo. Coba perhatikan: Pasca Kerusuhan Mei 1998 hampir saja institusi TNI dihabisi oleh sesama anak bangsa, karena lembaga ini dianggap backing-nya Orde Baru. Mahasiswa, aktivis demokrasi, LSM, media-media sekuler, para politisi, pihak-pihak luar negeri, dan seterusnya ingin segera menghabisi TNI. Namun saat Prabowo mendapatkan sanksi berat, dilucuti dari seluruh atribut kemiliteran, amarah publik agak mereda. Mereka melihat TNI mau berubah. Faktanya, Prabowo bisa dihabisi riwayat kariernya.

Dalam situasi itu, Prabowo telah menunjukkan jiwa besarnya. Seharusnya yang diadili terlebih dulu adalah Jendral Wiranto, karena dia penanggung-jawab tertinggi militer. Anda masih ingat pidato singkat Wiranto, sesaat setelah BJ. Habibie menerima tampuk kekuasaan dari Pak Harto? Itu kan artinya, Wiranto benar-benar penanggung-jawab keamanan. Iya tidak? Lha, kok setelah itu malah Prabowo yang dikorbankan?

Bahkan Wiranto lebih jahat lagi. Kepada Habibie dia mengatakan, pasukan Kostrad sedang terkonsentrasi di Jakarta. Tanda-tanda ancaman kudeta. Karena alasan itu pula, Prabowo diberhentikan secara kilat sebagai Pangkostrad. Tetapi kemudian Wiranto mengklaim, tidak ada itu isu kudeta. Keadaan aman-aman saja kok. Begitulah retorika Wiranto. Satu sisi mencari kesempatan untuk menghajar Prabowo; di sisi lain, tidak mau disalahkan di depan institusi TNI. Akhirnya Wiranto dapat kedua-duanya; Prabowo tersingkir, karier dia sendiri selamat.

Selama bertahun-tahun lamanya, Prabowo enggan untuk mengklarifikasi semua kejadian itu. Dia memilih diam, atau berharap masyarakat mengerti sendiri masalahnya. Alasan dia, “Tak mau TNI pecah!” Kalau dia marah-marah, menulis buku isinya blak-blakan tentang kondisi pasca Revolusi Mei 1998, khawatir TNI akan pecah, lalu negara dalam bahaya.

Di titik ini, Prabowo tidak hanya berjasa bagi Kopassus, tapi rela menanggung beban berat, untuk menyelamatkan institusi TNI itu sendiri. Dia layak mendapat apresiasi dan dukungan. Demikian, terimakasih.

(Admin).

 

 

 

 

 


Ummat Islam dan Prabowo Subianto

April 23, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Secara pribadi kami bisa memahami sikap Ketua Umum PPP yang bersikeras mendukung Prabowo Subianto sebagai Capres pada Pilpres Juli 2014 nanti. Terlepas kelebihan dan kekurangan Prabowo, kami menilai langkah Suryadarma Ali itu telah melewati suatu kajian politik yang sangat dalam dan luas. Setidaknya, dalam gambaran kami sendiri, dukungan terhadap sosok Prabowo sangat strategis bagi masa depan bangsa ini; dengan asumsi, semua ini hanya ikhtiar saja, sedangkan secara hakiki segala urusan bangsa ini ada dalam genggaman Tangan Allah Ta’ala.

Coba kami runut penjelasan ini dalam poin-poin syarahan sebagai upaya memahami langkah poliyik yang diambil Suryadarma Ali, serta sebagai tambahan penjelasan bagi kaum Muslimin secara umum. Tapi mohon disadari bahwa sikap ini sepenuhnya independen, sebagai buah telaah politik murni, tidak bersifat partisan.

[1]. Mula-mula kita berangkat dari analisis masalah terberat yang menimpa bangsa ini. Apa masalah terberat kita selama ini? Banyak orang melontarkan pandangan dan teori. Namun kami mempercayai, masalah berat yang menimpa bangsa Indonesia ini, lalu mengguncang sendi-sendinya adalah MASALAH EKONOMI & KEMISKINAN. Hal itu bermula dari Krisis Ekonomi tahun 1997-1998 yang berakibat terjadi LIBERALISASI kehidupan bangsa di segala bidang. Krisis Ekonomi diikuti Reformasi politik, namun di balik itu terjadi gelombang LIBERALISASI KEHIDUPAN yang sangat massif.

[2]. Ketika terjadi liberalisasi kehidupan, yang diawali liberalisasi ekonomi, yang menanggung dampak terberat adalah Ummat Islam, karena mayoritas penduduk negeri ini memang Muslim. Ummat Islam merupakan komponen terbesar yang menjadi korban liberalisasi ekonomi dan kehidupan. Banyak Muslim menjadi rusak agama dan imannya karena: berbuat kemusyrikan, murtad dari agamanya, berbuat jahat/kriminal, berbuat korupsi, menjadi TKW ke luar negeri, membuat bisnis hedonis, memalsukan produk, mengedarkan narkoba, menjual diri, merebak aliran sesat, hedonisme, dan seterusnya. Akibat rusaknya urusan ekonomi negara, merusak juga kehidupan agama dan keimanan kaum Muslimin. Ada ungkapan hikmah yang berbunyi: “Kadal faqru an yakuna kufra” (hampir saja kefakiran itu membuat seseorang menjadi kafir). Ungkapan ini tampaknya relevan.

[3]. Dalam pandangan kami, untuk memperbaiki kehidupan kaum Muslimin, mau tidak mau kita harus turun membereskan ekonomi negara ini. Faktanya, Reformasi politik 1998 dijadikan pintu masuk oleh kekuatan-kekuatan ekonomi asing untuk menguasai aset-aset ekonomi nasional dalam segala bentuknya (potensi, bahan tambang, bahan baku, sumber energi, pasar barang, konsumsi publik, dan seterusnya). Rektor UGM, Prof. Pratikno, belum lama lalu menjelaskan, sekitar 70-80 % potensi ekonomi nasional telah dikuasai asing. Jika demikian, apa bedanya era penjajahan kolonial dulu dengan kenyataan sekarang? Kalau hidup di zaman penjajahan kaum Muslimin menderita, toh di zaman sekarang juga sama-sama menderita. Hingga dengan nada yang sangat prihatin KH. Cholil Ridwan menyebut kaum Muslimin dengan istilah “Muslim Dzimmi”.

[4]. Era Reformasi ditandai dengan munculnya partai-partai politik dan pemilu tahun 1999. Di antara partai-partai itu ada yang menjadikan Islam sebagai azas partai. Kami masih ingat, tahun 1999 sempat beredar isu agar partai politik dilarang menjadikan agama sebagai azas partai. Maka tampillah Partai Keadilan, PPP, PBB, PKNU, dan sebagainya memperjuangkan agar azas Islam dihormati. Soal di hari ini mereka tak lagi menghargai azas Islam, itu urusan lain. Mestinya, hadirnya partai-partai Islam ini memberi jalan besar bagi mereka untuk memperbaiki kondisi ekonomi bangsa. Masalah terberat kita ekonomi, ya mereka tampillah selesaikan urusan tersebut. Tapi nyatanya, sejak tahun 1999, 2004, hingga pemilu 2009 nyaris tidak ada partai Islam yang gigih perjuangkan perombakan ekonomi yang sedang dianeksasi asing ini. Secara ide, wacana, atau verbalitas Pak Amien Rais sangat kencang bicara tentang ancaman penjajahan ekonomi asing ini; namun secara politik tidak ada artinya. Malah beliau dan PAN sangat giat mendukung SBY yang jelas-jelas merupakan antek NEOLIB kelas satu.

[5]. Sangat  mengherankan jika melihat tipikal politik partai-partai Islam. Apa yang mereka perjuangkan rata-rata isu yang bersifat minor. Disebut penting ya penting, tapi disebut itu prioritas jelas bukan. Misalnya, isu tentang gratifikasi, absensi anggota DPR kenaikan gaji/tunjangan anggota DPR, UU politik, isu-isu media, dan seterusnya. DPR sempat bekerja baik ketika mengawal Skandal Bank Century; jika kasus ini dijadikan pintu masuk untuk merobohkan rezim Neolib sangatlah bagus; tapi nyatanya sampai saat ini isu Bank Century tidak karuan arahnya. Begitu juga Ummat Islam non parlemen, isu-isu yang diangkat pun tidak menukik masalah sebenarnya bangsa ini, yaitu dominasi asing dalam kehidupan nasional.

[6]. Munculnya Prabowo dan Gerindra pada tahun 2008 memunculkan harapan dan perasaan “sayang”. Harapan, karena Prabowo Subianto paham masalah terbesar bangsa ini dan sedang berjuang untuk memperbaikinya. Sedang “sayang-nya” justru yang mengangkat missi perjuangan tersebut bukan partai-partai Muslim semacam PAN, PKB, PKS, PPP, PBB. Pertanyaannya, kok partai nasionalis lebih peduli masalah berat bangsa? Aneh kan. Lebih aneh lagi, sejak 2004, 2009, sampai 2014 ini partai-partai Muslim masih satu paket dengan rezim Neolib SBY. Tidak ada satu pun yang berani oposisi.

[7]. Kami sangat mengapresiasi langkah Pak Suryadarma Ali pada sebelum Pemilu 2009 yang menjalin kesepakatan politik dengan Gerindra. Dalam hemat kami, alhamdulillah ada partai Islam yang paham urusan bangsa ini. Meskipun telat atau mendukung partai nasionalis lain, kami sangat mengapresiasi langkah Suryadarma Ali tersebut. Jika kemudian sebelum Pemilu April 2014 dia lagi-lagi menunjukkan dukungan kepada sosok Prabowo Subianto sebagai Capres, itu hanya penegasan saja dari komitmen sebelumnya. Ini sangat kami hargai.

[8]. Perlu dipahami, hadirnya Prabowo dengan Gerindra yang berusaha memperjuangkan ekonomi kerakyatan dan kemandirian ekonomi nasional, ini bukan sesuatu yang baru. Sejak ICMI berdiri akhir 1990, lembaga ini telah menyuarakan pentingnya membangun Ekonomi Kerakyatan. Bahkan istilah tersebut, mereka yang pertama kali mempopulerkannya. Di tubuh ICMI ada sosok Adi Sasono, tokoh yang tulen pro ekonomi kerakyatan, koperasi, petani, dan seterusnya. Beliau oleh media-media Barat dijuluki sebagai “The Dangerous Man” atau “The Robin Hood”. Sosok Prabowo sendiri juga dianggap berbahaya oleh Amerika, Singapura, China, dan sebagainya; karena dianggap sulit dikendalikan. Ide ekonomi kerakyatan ini sudah digulirkan sejak era Soeharto yang ekonominya relatif stabil; lalu bayangkan dengan kondisi saat ini? Betapa sangat butuhnya kita pada konsep ekonomi yang berpihak ke rakyat kecil sebagai jumlah terbesar bangsa ini. Kalau ekonomi rakyat membaik, diharapkan kepedulian mereka kepada agama dan keimanan, akan membaik pula. Amin ya Rahiim.

[9]. Sangat-sangat disesalkan, mengapa ide ekonomi kerakyatan, ide memperkuat kemandirian pangan, ekonomi petani, nelayan, koperasi, UKM, dan seterusnya; mengapa ia muncul dari kalangan partai nasionalis? Mengapa partai Islam (Muslim) tidak peduli dengan semua itu. Malah ada partai “Islam” tertentu yang konsep politiknya jelas-jelas mendukung pasar bebas. Katanya, Nabi SAW juga mendukung pasar bebas karena membebaskan harga ditentukan oleh pasar. Masalahnya, di era Nabi SAW makro ekonomi dapat dikendalikan dengan baik sehingga muncul persaingan positif di tingkat ekonomi riil; sedangkan di zaman sekarang makro ekonomi justru dikendalikan oleh kapitalis, sehingga kalau konsep pasar bebas dianut, hancurlah para petani, nelayan, pedagang, UKM, koperasi, dan sebagainya. Di era Nabi SAW dominasi kaum Yahudi mampu dieliminir dengan baik sehingga tidak menimbulkan monopoli.

[10]. Secara normatif atau tekstual, kaum Muslimin negeri ini, terutama ormas-ormas Islam, ingin punya Capres/Wapres sendiri dari kalangan Islam. Ingin maju sendiri dalam bursa Pilpres dengan mengandalkan suara pemilih Muslim. Sosok Prabowo mungkin dianggap sekuler-nasionalis, tidak berpihak ke Islam (Syariat). Justru kami bertanya-tanya, mengapa selama ini partai-partai Islam (Muslim) begitu rapat mendukung rezim Neolib SBY? Apakah itu bukan kemunkaran besar yang seharusnya sangat dijauhi? Apa buktinya partai-partai Islam (Muslim) itu loyal kepada kaum Muslimin kalau selama ini jelas-jelas mendukung Neolib? Masalah kita bukan semata soal rancangan UU perkawinan, kesetaraan gender, homoseksual, dan sejenisnya. Tidak semata-mata itu, tapi yang paling utama adalah bagaimana mengembalikan kedaulatan kaum Muslimin atas negeri, perekonomian, dan kehidupannya; setelah selama ini bangsa kita dikendalikan kaum kapitalis, hedonis, kolonialis.

[11]. Kami sama sekali tidak memuji-muji Prabowo, karena pada dasarnya tidak ada manusia sempurna. Seorang ulama yang saleh saja punya potensi kesalahan dan kekurangan; apalagi seorang Prabowo? Tapi dukungan kepadanya muncul karena kami melihat dia punya program untuk memperjuangkan kembalinya kedaulatan bangsa di negeri ini. Siapa yang akan mengembalikan hak-hak ekonomi dan kehidupan bangsa kita? Kalau PKS, PPP, PAN, PKB, PBB, atau siapapun punya komitmen ke arah itu, pastilah kami akan mendukung penuh mereka. Mengapa? Ya karena -menurut analisa kami- rusaknya urusan ekonomi inilah yang menjadi sumber rusaknya kehidupan agama dan keimanan kaum Muslimin.

[12]. Dalam pandangan (politik) kami, untuk memperbaiki keadaan bangsa ini harus bertahap. Begitu pun dalam penerapan Syariat-nya. Tidak bisa kita saat ini langsung ujug-ujug meminta diberlakukan “hukum potong tangan dan rajam”. Kita harus siapkan dulu aspek pengetahuan, kesadaran, kesejahteraan, dan proteksi kehidupan Ummat, baru setelah itu melaksanakan Syariat secara kaffah. Kalau tidak percaya, cobalah Anda lihat pasal-pasal pembahasan hukum fikih Islam; para ulama meletakkan pembahasan hukum pidana (Hudud) rata-rata di bagian akhir pembahasan. Dan Rasulullah SAW sendiri menyempurnakan pelaksanaan hukum Syariat saat Haji Wada’, ketika beliau hapuskan riba dan dendam darah pada orang-orang tertentu. Tidak lama setelah itu, beliau Shallallah ‘Alaihi Wasallam wafat menuju Allah Rabbul ‘alamiin. Berbeda halnya kalau di negeri ini terjadi PERANG, kemudian kaum Muslimin berhasil memenangkan peperangan; maka kita punya otoritas penuh untuk menentukan haluan hukum.

Demikian yang bisa kami sampaikan. Kami mendukung program Prabowo karena ia sesuai dengan garis program ekonomi ICMI waktu itu; sesuai ide yang digagas Adi Sasono; dan hal itu sangat dibutuhkan bangsa Indonesia yang noatebe mayoritas Muslim ini. Sekali lagi, fokus pada program dan missi-nya; bukan sosok personalnya. Sampai di titik ini, sekali lagi, kami bisa memahami langkah politik Bapak Suryadarma Ali, meskipun beliau memiliki pertimbangan berbeda.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan menginspirasi. Amin Allahumma amin.

(Mine).