Membaca Ulang Surat PRITA MULYASARI

Juni 13, 2009

RS Omni Internasional tetap bersikukuh untuk melanjutkan proses hukum dengan terdakwa Prita Mulyasari. Meskipun banyak pihak sudah angkat bicara, termasuk Presiden, Wapres, Capres, DPR, Kejaksaan Agung, Departemen Kesehatan, ratusan ribu dukungan online untuk Prita, dll. Luar biasa ketegaran Omni Internasional. Bahkan sekalipun ratusan karyawannya gelisah, khawatir RS itu akan dicabut ijinnya oleh Depkes; bahkan (lebih) sekalipun RS-RS lain juga ketakukan akan “disikat” seperti Omni Internasional. Terus terang, saya kagum juga dengan semangat “spartan” RS Omni ini. Kalau ada semangat begini di dunia sepakbola nasional, mungkin Indonesia sudah mendapat piala dunia sejak dulu. Ya, orang Indonesia inilah, kegedean minder-nya.

Ada baiknya kita baca ulang Surat Prita Mulyasari. Lalu kita lihat surat itu dari perspektif Omni Internasional, kemudian dari perspektif Prita Mulyasari sendiri, dan akhirnya kita cari benang merahnya: mengapa terjadi kejadian seperti ini dalam dunia medis kita? Kalau menyaksikan pemberitaan media selama ini, banyak elemen-elemen penting yang diabaikan begitu saja.

ISI SURAT PRITA

Disini kita angkat kembali isi surat Prita sebagaimana banyak beredar di internet. Ada sedikit perbaikan redkasional tertentu, tetapi sifatnya perbaikan “mekanik”, bukan substansi.  Untuk kalimat-kalimat yang sangat riskan secara hukum, sengaja ditebalkan (blod). Silakan disimak kembali!


Title: “RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta. Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

Dr. I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Baca entri selengkapnya »

Iklan