Nasib Ngenes Kompor BPPT

Juli 8, 2010

Kita tahu, akhr-akhir ini sering sekali teradi ledakan tabung gas. Khususnya tabung kuning-hijau, ukuran 3 kg. Kalau tabung itu meledak, rasanya seperti bom yang dipasang oleh Nordin M. Top Cs. Bahkan mungkin ledakannya bisa lebih hebat dari itu. Tapi tidak ada yang menuduh kalangan Pertamina sebagai “teroris” akibat terjadinya banyak ledakan tabung gas di Tanah Air selama ini. [Padahal hasilnya sama, yaitu: ledakan, kerusakan, dan korban manusia].

Ada yang miris dengan masalah tabung gas ini. Sejak tahun 2006, BPPT sudah mengajukan konsep kompor gas yang aman untuk menunjang program konversi BBM ke gas itu. Tapi oleh negara ditolak. Malah negara ini ngeyel membeli jutaaan tabung gas ukuran 3 kg dari China. Terbukti, kualitas tabung gas itu jelek sekali. Produk karya bangsa sendiri tak dihargai, sementara pejabat-pejabat negara lebih senang membeli tabung buatan China.

Inovasi Karya Anak Negeri: Tak Dihargai 100 %!!!

Dalam masalah beras juga begitu. Betapa susahnya Pemerintah menaikkan harga dasar gabah, agar penghasilan petani membaik. Alih-alih ingin membantu petani, Pemerintah malah lebih suka membeli beras dari Vietnam, Thailand, Laos, dll. Beras rakyat sendiri diabaikan, sementara dari Vietnam dijadikan andalan. Sepertinya pejabat-pejabat itu lebih suka menggendutkan perut-perut anak orang asing, lalu membiarkan anak-anak kita kurus kering. Dalam masalah gula juga begitu. Pemerintah suka membeli gula rafinasi dari asing, lalu mengabaikan pasokan tebu dan produksi gula dari dalam negeri. Impor gula rafinasi itu sangat menakutkan petani-petani tebu kita.

Sebenarnya, sejak lama bangsa kita memiliki keahlian, keuletan, dan inovasi teknologi. Tetapi semua itu tidak dihargai oleh Pemerintahnya sendiri. Pemerintah ini lebih suka memakai produk asing, memberi ijin bagi investasi asing, memberi ijin penambangan asing. Adapun terhadp nasib produk anak neger, mereka buang jauh-jauh. Seolah di mata Pemerintah berlaku filosofi: “Setiap yang berasal dari asing, halal. Setiap yang berasal dari anak negeri, haram.” Ini benar-benar mengerikan. Bagaimana kita bisa tenang menatap masa depan anak-anak kita nanti di bawah kepemimpinan yang rela menjadi jongos asing?

Dalam Olimpiade Sains dunia, anak-anak Indonesia sering berprestasi. Dalam lomba-lomba teknologi internasional, utusan Indonesia juga sering menang. Tetapi dalam level produk teknologi yang dikonsumsi di Tanah Air, nyaris tidak ada yang produk asli Indonesia yang sukses. Kalau ada produk nasional yang bersaing, paling rokok, musik pop, dan -maaf- video mesum. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kepemimpinan politik sejak jaman Gus Dur, Megawati, dan SBY saat ini, tidak ada satu pun yang pro kebangkitan industri dan teknologi dalam negeri. Rata-rata pro asing semua. Dulu Soeharto dikritik dengan segala catatan korupsi, kolusi, dan pelanggaran HAM. Tapi Soeharto masih punya komitmen terhadap negaranya sendiri. Salah satu bukti, Soeharto sampai wafatnya tidak pernah mau berobat ke luar negeri. Dia juga selalu menggunakan bahasa Indonesia, mekipun bertemu pejabat-pejabat tinggi negara lain.

Kenyataan seperti ini tidak akan terjadi, kecuali dalam salah salah satu kemungkinan: (1) Pemimpin politik telah berkhianat terhadap amanah UUD untuk membela kepentingan ekonomi rakyat Indonesia; (2) Pemimpin politik telah menjadi agen asing untuk menerapkan missi kolonialisme mereka.

Kompor BPPT hanya salah satu contoh kecil saja. Di BPPT sendiri ada ratusan atau ribuan penemuan teknologi yang sangat potensial untuk kemaslahatan kehidupan rakyat Indonesia, dan semua itu selama ini dibiarkan mangkrak (terlantar), karena Pemerintah lebih menyukai suplai teknologi dan produk asing. Terpuruknya PTDI (IPTN) menjadi bukti lain, betapa pemimpin politik tidak punya naluri sama sekali untuk membela negaranya sendiri.

Pemuda Indonesia Bisa Membuat Sepeda Bermesin (dari mesin pemotong rumput).

Inilah masaalahnya. Pemimpin politik lebih melayani asing, acuh dengan karya anak bangsa. Sementara rakyat banyak dibuat lalai oleh TV, sepakbola, rokok, musik, dan -maaf- video mesum. Lalu ada para politisi yang kebanyakan oportunis. Lidah mereka pandai bicara apa saja, tap nyali kosong. Yang di bawah tak berdaya, yang di atas hanya mementingkan diri sendiri. Jelas saja, orang asing bergirang hati, karena mereka bisa mengeruk kekayaan nasional tanpa kesulitan apapun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu ngenes-nya hidup di negeri ini. Ya Allah ya Aziz, tidak adakah harapan bagi kami? Lalu bagaimana dengan masa depan anak-cucu kami nanti? Masihkah mereka tetap istiqamah dalam Islam, atau berbondong-bondong murtad dari jalan agama-Mu?

Rabbighfir warham wa Anta Khairur Rahimin. Ya Rabbi ampuni kami, kasihi kami, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mengasihi.

AMW.

Iklan

TRAGEDI POLITIK di Indonesia

Oktober 9, 2009

Saudara-saudaraku seiman dan seaqidah…

Disini saya akan berbagi dengan Anda tentang sebuah HAKIKAT POLITIK yang sangat penting kita ketahui bersama. Hal ini merupakan refleksi dinamika politik Indonesia sejak tahun 90-an sampai saat ini (2009). Hanya saja, saya menulisnya secara singkat saja agar lebih praktis untuk dipahami. Adapun untuk penjelasan yang lebih terperinci, silakan Anda sendiri mencari dalam sumber-sumber lain. Di blog ini sendiri ada bahan-bahan yang bisa dipakai sebagai pembanding. Silakan dicari secara mandiri.

LATAR BELAKANG

Beberapa catatan dinamika politik di Indonesia yang terjadi dalam waktu-waktu terakhir ini menjadi titik-tolak tulisan ini. Misalnya catatan-catatan sebagai berikut:

=> Berbagai kasus, pelanggaran, dan kecurangan dalam Pemilu Legislatif 2009 dan Pilpres 2009.

=> Gencarnya opini “perang melawan terorisme”, padahal isu terorisme itu sendiri sudah mulai dilupakan masyarakat sejak tahun 2005 lalu.

=> Sikap pemerintah yang sangat arogan dalam kasus Bank Century. Khususnya terkait sikap Departemen Keuangan, BI, Polri, dsb.

=> Sikap pemerintah yang katanya “pro pemberantasan korupsi”, tetapi mereka diam saja ketika lembaga KPK hendak diamputasi kekuatannya. Mereka juga diam ketika berkembang opini tentang “Cicak Vs Buaya”. Padahal itu adalah ungkapan menjijikkan dalam kehidupan berpemerintahan.

=> Dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, padahal semua orang tahu dalam Pilpres kemarin, bahkan dalam periode Pemerintahan 2004-2009, PDIP menjadi oposisi Pemerintah. Bahkan penentuan pejabat Ketua MPR itu sendiri tergantung pilihan politik SBY sendiri.

=> Sikap SBY kepada Partai-partai Islam/Muslim yang mendukungnya saat Pilpres 2009, seperti ungkapan: “Habis manis, sepah dibuang.”

=> Pernyataan keberatan SBY atas pernyataan Jusuf Kalla dalam Munas Golkar di Riau yang mengajak Partai Golkar agar menjadi partai oposisi terhadap Pemerintah.

=> Dukungan Pemerintah, agar Aburizal Bakrie menjadi Ketua Umum Golkar, menggantikan Jusuf Kalla. Tujuannya, tentu agar Golkar tidak beroposisi, melainkan mau bermitra dengan Pemerintahan SBY. Harus dicatat dengan tinta tebal, dalam susunan Pengurus Inti DPP Golkar hasil Munas di Riau, Rizal Malarangeng menjadi salah satu pengurus elit DPP Golkar. Kita tahu maksudnya, agar politik Golkar selalu sejalan dengan politik SBY.

Dari semua kenyataan di atas, dapat disimpulkan: Bahwa SBY sedang membangun kekuatan Pemerintahan yang sangat kuat, under one hand, dimana segala macam faktor-faktor politik akhirnya memusat ke dirinya. Sebagian pengamat menyebut kenyataan ini sebagai “model Orde Baru dengan baju demokrasi”. Serupa esensinya, tetapi lain namanya.

Saat ini, secara realistik, semua unsur-unsur politik sedang berlomba menengadahkan tangan ke hadirat SBY, mengharap kemurahan, kasih-sayang, dan keridhaan-nya. Apapun agenda politik SBY tidak masalah, selama bisa ikut dalam “rombongan Bapak”. Tidak terkecuali elit-elit partai Islam. Mereka tidak peduli masyarakat akan berkomentar apapun, selama mereka bisa “ikut nampang” dalam rombongan Kabinet 2009-2014. Politik hari ini benar-benar mengabdi untuk: kesejahteraan diri!

ANTI ORDE BARU

Kita masih ingat saat tahun 90-an dulu. Waktu itu Pak Harto mendekat kepada Ummat Islam (apapun tujuan politiknya). Beliau memutuskan kemitraan politik dengan Beny Murdani, setelah mantan jendral itu diindikasikan telah merancang skenario kudeta menggulingkan Soeharto. Hanya saja, media-media massa “membisu” dari agenda Beny tersebut.

Waktu itu Soeharto dikecam habis-habisan dalam isu: Korupsi, keluarganya memperkaya diri, militeristik, pelanggaran HAM, masalah Timor Timur, juga sikap otoriter anti demokrasi.

Media-media massa, para pakar akademis, para pengamat politik, cendekiawan, politisi, media-media asing, dan lain-lain, waktu itu mereka serentak menghujani Pemerintah Soeharto dengan serangan-serangan seputar isu-isu di atas. Soeharto tidak diberi waktu istirahat, melainkan dia harus menelan segala macam tuduhan-tuduhan itu. Pendek kata, Soeharto digambarkan sebagai pemimpin: Tangan besi, militeristik, korup, anti demokrasi, pelanggar HAM, dan sebagainya.

Prestasi-prestasi Soeharto tidak diungkap sama sekali. Tetapi segala borok-borok politiknya diungkap secara obralan. Icon perlawanan anti Soeharto waktu itu ada di tangan Amien Rais yang berlindung di balik struktur Muhammadiyyah, ICMI, dan penulis ahli Republika. Tujuan politik Amien Rais menghentikan sikap otoriter Soeharto, sementara saat yang sama Soeharto sedang dekat dengan Ummat Islam. Maka Amien pun menggunakan “amunisi Ummat” untuk mencapai target politiknya. [Perlu diingat, seidealis-idealisnya seorang Amien Rais, dia tetap doktor lulusan Amerika dan sangat American minded. Sehingga Adian Husaini pernah mengkrisi Amien dengan bukunya “Amien Rais dan Amerika” (?)].

Media-media massa, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. mereka juga sangat aktif dalam menggalang opini tentang arus gerakan politik anti Orde Baru. Terlebih ketika mulai bangkit gerakan mahasiswa tahun 2008, TV-TV itu sangat kuat dalam mengarahkan opini ratusan juta rakyat Indonesia.

IRONI ERA REFORMASI

Sejujurnya, kita bersyukur ketika ada gerakan sosial-politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Demi Allah, kita bersyukur atas semangat masyarakat (khususnya aktivis) untuk mengadakan perbaikan kondisi Orde Baru. Orde Baru jelas jauh dari ideal, banyak kekurangan-kekurangannya. Ketika hal itu ingin diperbaiki, ya alhamdulillah. Itulah yang diinginkan semua pihak. Pendek kata, agenda-agenda politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Indonesia adalah sangat mulia.

Namun anehnya, setelah Reformasi berjalan lebih dari 10 tahun (1998-2009) kenyataan baik yang kita harapkan sangat jauh dari harapan. Ya, masyarakat semua telah menyaksikan bahwa kondisi kehidupan saat ini jauh lebih sulit ketimbang era Orde Baru dulu. Secara sederhana saya katakan: “Apa sih artinya Reformasi itu? Apa sih arti Reformasi secara bahasa?” Reformasi kan artinya perbaikan, atau rekonstruksi. Lho, kok setelah Reformasi bergulir kehidupan masyarakat menjadi semakin buruk, sengsara, penuh penderitaan lahir-batin? Berarti selama ini yang terjadi bukan Reformasi, tetapi DEKONSTRUKSI (penghancuran) kehidupan.

Alih-alih mau menyamai prestasi Orde Baru dalam kebaikan, menyamakan harga beras saja agar sama seperti era Orde Baru dulu dengan standar Rp. 1000,- per kilogram, susahnya bukan main. Bahkan sangat musrtahil tercapai saat ini. Meskipun Indonesia diklaim telah “swasembada beras”.

Dan lebih aneh lagi ketika kita menyaksikan sikap-sikap politik regim SBY dalam 5 tahun terakhir, khususnya sejak 2008 sampai 2009. Hal-hal yang dulu dikecamkan ke Soeharto, sepertinya satu demi satu dilakukan oleh penguasa masa kini. Sikap otoriter, pemusatan kekuasaan, memakai mesin birokrasi untuk tujuan politik, bersikap repressif kepada Ummat Islam (dalam isu terorisme), dan sebagainya, kini dilakukan lagi.

Dan untuk semua kenyataan ini: Media massa, pakar politik, pakar akademisi, para cendekiawan, media-media Barat, politisi, para birokrat, dan sebagainya, mereka memilih diam, membiarkan, mendukung, men-support, melindungi, mengiyakan, memproteksi, dan seterusnya. Ketika Soeharto melakukan hal-hal yang zhalim dalam politiknya, mereka semua sepakat MENGEROYOK Soeharto sampai terjatuh. Tetapi saat sikap-sikap otoriter itu dilakukan oleh penguasa saat ini, mereka diam seribu bahasa.

Inilah kenyataan yang sangat aneh bin ajaib. Ketika Soeharto bersikap otoriter, semua pihak menghabisinya dengan hujatan-hujatan luar biasa. Namun saat penguasa saat ini (SBY) bersikap otoriter dan memusatkan kekuasaan ke dirinya, mereka semua diam saja, seolah seperti “gak tahu apa-apa”. Dari sekian banyak media-media TV, hanya MetroTV saja yang berani bersikap independen. Meskipun dalam banyak kasus yang lain, MetroTV juga sama-sama membeo kekuasaan.

INTINYA DI MANA?

Kita menjumpai perkara yang sama, yaitu sikap OTORITER penguasa, baik di masa Orde Baru, maupun di zaman sekarang. Sama-sama otoriternya. Hanya saja, Soeharto lebih panjang waktu berkuasanya, sehingga lebih banyak catatan kezhalimannya yang ditulis para pemerhati. Sementara SBY baru 5 tahun, dan akan memimpin 10 tahun, dengan ijin Allah. Baik kepemimpinan Soeharto atau SBY, sama-sama mengadung sikap politik otoriter. Hanya bedanya, Soeharto mudah tersenyum, sedang yang satu lagi mahal senyum.

Mengapa sikap media massa, pengamat, akademisi, politisi lain kepada dua pemimpin itu (Soeharto dan SBY)?

Ternyata yang membuat berbeda itu adalah keberpihakan masing-masing pemimpin. Seoharto berpihak ke petani, nelayan, penguasaha kecil, pengrajin, pedagang. Dia juga berpihak ke pembangunan desa, KUD, koperasi, BMT, transmigrasi, dan lain-lain. Sementara SBY secara umum berpihak ke AGENDA LIBERALISASI dan WESTERNISASI. Nah, inilah beda utamanya. Soeharto berpihak “ke dalam”, sementara SBY berpihak “ke luar”.

Bagi media massa, para pakar, pengamat, politisi, pengusaha, dll. tidak masalah dengan sikap OTORITER, ZHALIM, DEMOKRASI CURANG, dll. selama tetap mendukung agenda liberalisasi. Dengan liberalisasi, mereka diberi kebebasan untuk membabat rakyat kecil yang lemah (mustadh-afin) sesuka hatinya. Sementara kalau sistem PROTEKSI ala Soeharto, mereka merasa sangat terbelenggu, terpenjara, untuk menghabisi kehidupan rakyat kecil.

Bagi para pendukung liberalisasi itu, “Bullshit dengan demokrasi.” Mereka sama sekali muntah dengan prinsip-prinsip demokrasi, atau apalah yang selama ini didengung-dengungkan. Bagi mereka target utamanya bukan menjadi “penyelamat demokrasi atau HAM”, tetapi mendapat kesempatan bebas untuk menindas masyarakat kecil sesuka hati, seenak perutnya sendiri, dimanapun dan kapanpun mereka menginginkannya. Nah, inilah intinya target mereka.

Demokrasi dimanapun akan mereka bela mati-matian, kalau dengan jalan itu mereka bisa menindas orang-orang lemah sesuka hatinya. Sebaliknya, demokrasi akan mereka kencingi, mereka ludahi, mereka injak-injak, kalau demokrasi ditujukan untuk melindungi kepentingan rakyat kecil, masyarakat lemah, seperti rakyat Indonesia selama ini.

Jadi tujuan utama mereka adalah: ketamakan harta-benda, penindasan masyarakat untuk memperkaya diri, memuaskan hawa nafsu hewani mereka.

REKOMENDASI

Saya menasehatkan kepada saudara-saudara budiman:  jangan pernah lagi percaya dengan media massa, para pakar politik, pengamat, akademisi, politisi, pejabat politik, dan lain-lain. Jangan mempercayai mereka semua, sebab mereka hanyalah “senjatanya kaum kapitalis”. Mereka tidak jujur dalam ucapan, tindakan, dan pemikiran-pemikirannya. Mereka hanyalah “centeng-centeng” kapitalisme, jangan dipercaya sama sekali. Mempercayai mereka, sama saja dengan ridha terhadap penindasan masyarakat.

Hanya memang sulitnya, masyarakat Indonesia sebagian besar kurang terpelajar, sangat lugu, dan mudah diapusi (ditipu). Inilah masalah besar kita selama. Alhamdulillah, Allah mengajarkan kita pengertian-pengertian tentang “benang merah” berbagai persoalan. Namun sayang, rakyat sendiri awam, polos, gampang sekali dikendalikan dengan iming-iming materi. Itulah dilemanya hidup di negeri Indonesia ini.

Tapi apapun juga, jangan berputus-asa. Lakukan perbaikan sekuat kemampuan. Hidup kita tak lebih dari sebuah ungkapan, “In uridu illal ishlaha mastatha’tu” (aku ini tak lain hanyalah menginginkan perbaikan, sekuat kemampuanku). Ya terus lakukan perbaikan, sampai Allah memberi satu dari dua kenyataan: Hidup mulia dalam Islam, atau wafat sebagai bagian dari para syuhada’.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

(Mine).


Cara SBY Menangkis Isu NEOLIB

Juni 5, 2009

SBY termasuk Presiden yang sangat jaim (jaga image). Ini bukan bercanda, tapi benar-benar merupakan metode inti politiknya. Tidak mengherankan jika dia disebut sering “tebar pesona” oleh lawan-lawan politiknya.

Berbagai cara dilakukan SBY untuk menjaga “stamina” nama baiknya. Dalam iklan-iklan politik selama satu tahun terakhir, penampilan SBY benar-benar dibangun secara serius, sehingga banyak ibu-ibu yang kesengsem. Ketika Pemilu April 2009 yang sebagian besar diikuti oleh ibu-ibu dan para gadis, hasilnya sangat mencengangkan; suara Partai Demokrat melonjak sampai 300 %.

Selain itu, SBY juga menyukai program-program yang bersifat populis, yang diyakini bisa mengundang simpati besar. Misalnya, BLT, BOS, PNPM Mandiri, Raskin, Jamkesmas, skim kredit usaha mikro, dan lainnya. Di mata masyarakat, semua program itu merupakan bukti-bukti sukses kepemimpinan SBY. Dan akan terasa “lebih sukses” ketika BLT dibagikan menjelang proses Pemilu. [Padahal program semacam itu sudah ada sejak dulu, bahkan sejak Orde Baru. Hanya namanya berbeda-beda. Di era Soeharto sendiri ada depertemen khusus untuk mengatasi kemiskinan dan desa tertinggal. Kalau masalah anggaran pendidikan 20 %, itu merupakan amanah UUD. Siapapun pemimpinnya, harus melakukan amanah itu. Lagi pula, realisasi anggaran pendidikan 20 % itu tidak lepas dari tekanan DPR dan demo para mahasiswa di seluruh Indonesia].

Namun, SBY juga menampakkan diri sebagai politisi yang santun, lembut, berakhlak mulia, tidak pernah menghujat, dan sebagainya. Bahkan tidak segan-segan dia mengkritik lawan-lawan politiknya yang dinilai tidak santun. Misalnya dengan perkataan, “Jangan takabbur”, “memberi angin surga”, dan lainnya.

SBY Menangkis NEOLIB

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya, adalah sikap DEFENSIF Presiden SBY terhadap kritik-kritik yang dialamatkan kepadanya. Cara ini semakin memperjelas metode SBY yang sangat jaim. Salah satu bukti yang sangat nyata ialah jawaban-jawaban SBY terhadap isu madzhab ekonomi NEOLIB. TransTV sampai memberi waktu eksklusif kepada SBY untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis seputar isu NEOLIB itu.

Sejak Boediono terpilih sebagai Cawapres SBY, dia mendapat tugas tambahan untuk membantah masalah NEOLIB ini. Dan tim sukses SBY memandang isu NEOLIB itu sangat berbahaya, sehingga dengan segala daya mereka berusaha menghentikan gelombang isu tersebut agar tidak merusak citra dia.

Saya lihat diskusi panas antara Rizal Malarangeng (dari tim sukses SBY) dengan Fadli Zon (dari tim sukses Mega Pro) di MetroTV. Begitu mudahnya Rizal membolak-balikkan arah diskusi, lalu melontarkan penilaian-penilaian negatif kepada Fadli Zon. Bahkan dalam kritiknya kepada Kwik Kian Gie, Rizal menyebut isu NEOLIB itu sebagai NEOZEP (obat bagi orang yang sakit pusing). Salah seorang tim sukses SBY dalam obrolan pagi dengan TVOne, dia menyebut orang-orang yang menuduh NEOLIB itu, mereka “terpeleset lidahnya”. Seharusnya mereka mengucapkan NOLIB (no liberalism), tetapi terpeleset menjadi NEOLIB. Wah, riuh benar pembelaan SBY dan timnya terkait isu NEOLIB ini.

Pertanyaannya, benarkah kebijakan ekonomi SBY selama ini NEOLIB?

Sebelum itu, mari kita bedakan antara EKONOMI LIBERAL dan NEO LIBERAL. Dua istilah ini jelas berbeda. Ekonomi Liberal menerapkan prinsip-prinsip kapitalisme murni, mengutamakan regulasi pasar, dan mengacu kepada Konsensus Washington (seperti yang dikatakan SBY). Tetapi NEOLIB adalah pengikut prinsip-prinsip liberalisasi ekonomi. Bisa jadi, NEOLIB itu ikut prinsip-prinsip liberal pada beberapa sisi, dan tidak mengikuti pada prinsip-prinsip lain.

Dan selama ini tidak ada yang menuduh ekonomi SBY sebagai LIBERAL murni. Tetapi kalau tanda-tanda ke arah konsep liberal itu, jelas banyak. Maka tidak berlebihan jika banyak orang menyebut istilah NEOLIB. NEOLIB itu tidak murni merupakan ekonomi liberal, tetapi liberal dalam sisi-sisi tertentu.

Namun, konsep NEOLIB ini lama-lama bisa berubah menjadi LIBERAL MURNI jika terus dibiarkan tumbuh dan semakin menguat. Bahkan, jika konsep EKONOMI LIBERAL itu telah menggurita dan berakar kuat, sangat sulit bagi negara untuk mengendalikannya. Bukti terbaik adalah krisis ekonomi yang melanda Amerika selama ini. Krisis itu sepenuhnya terjadi karena berlakunya ekonomi liberal-kapitalistik di Amerika. Nah, sebelum NEOLIB ini menguasai jantung ekonomi nasional, ia harus dicegah sedini mungkin.

Parameter Kesejahteraan Rakyat

Untuk melihat apakah kebijakan SBY pro liberal atau tidak, parameternya mudah, yaitu lihat kualitas kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia. Untuk mengukur kualitas kesejahteraan, lihat standar penghasilan yang diperoleh masyarakat dan standar harga kebutuhan hidup. Dua hal ini paling mudah untuk menilai apakah kehidupan ekonomi rakyat menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Jika penghasilan masyarakat semakin tinggi, sementara harga-harga kebutuhan hidup semakin rendah, berarti kesejahteraan masyarakat sangat tinggi. Kalau penghasilan meningkat tinggi, sementara harga-harga kebutuhan juga tinggi, berarti kualitas kesejahteraan lumayan (sedang); begitu pula ketika penghasilan menurun tetapi harga-harga kebutuhan juga menurun, kondisinya lumayan. Dan situasi yang paling buruk ialah ketika penghasilan masyarakat merosot, sementara harga-harga kebutuhan hidup semakin meroket. Nah, kita bisa melihat situasi kehidupan ekonomi di era SBY selama ini dengan parameter seperti itu.

Mari jujur saja melihat realitas, “Tidak perlu ada dusta di antara kita,” meminjam ucapan Saiful Mujani dari LSI. Di jaman SBY ini meskipun pertumbuhan ekonomi diklaim 6 – 7 %, tetapi mencari pekerjaan sangatlah sulit. Ada jutaan pelajar dan sarjana jadi pengangguran. Kalau masih ragu, lihatlah suasana saat Pemerintah membuka ujian penerimaan PNS! Disana ada ribuan orang berdesak-desak untuk merebut kursi PNS yang jumlahnya sangat terbatas. Tidak jarang ada yang tergencet, pingsan, dan lain-lain. Hal itu menggambarkan bahwa mencari pekerjaan itu sulit, sehingga peluang menjadi PNS pun akhirnya menjadi rebutan. Padahal dulu, posisi sebagai PNS itu tidak menarik bagi generasi muda. Bukan hanya PNS, pekerjaan swasta, kerja kontrak, kerja part time, magang, dan lainnya juga sulit diperoleh. Paling caranya dengan mengandalkan koneksi, jabatan orangtua, main uang, atau pamer keseksian diri.

Sulitnya mencari kerja ini juga ditunjukkan dengan maraknya generasi muda terjun ke dunia entertainment, mau menjadi artis, masuk dunia selebritis. Mereka rela ikut macam-macam kontes dengan label “idol-idol” karena saking maunya menjadi selebritis. Begitu pula, saat ini muncul puluhan atau ratusan band-band anak muda dengan segala polanya. Tujuannya sama, ingin cepat terkenal, menjadi selebritis, hidup dengan gelimang uang berlimpah. Maklum, sekali menjadi artis, bintang sinetron, model iklan, atau penyanyi lagu, uang ratusan juta sampai miliaran rupiah dengan cepat akan menghampiri. Itu bagi yang sukses, lho.

Di kalangan generasi tua, kesulitan ekonomi mendorong mereka berlomba-lomba terjun ke dunia politik. “Pingin jadi anggota legislatif,” kata mereka. Maka segala macam cara, kampanye, manuver politik, serta senjata uang dipakai untuk mengejar posisi sebagai anggota legislatif. Tidak peduli harus pinjam uang dari sana-sini untuk modal bermain politik. Hal itu berlaku di semua partai-partai politik, termasuk PBI (Partai Berlabel Islam). Maklum, kalau lolos menjadi anggota dewan, wah syurga serasa dibuka lebar-lebar baginya. Nama terkenal, sering masuk media massa, penghasilan bulanan setidaknya 40 juta rupiah, belum termasuk tunjangan, uang rapat, macam-macam amplop, anggaran pelesir, dll. Itu pun masih ditunjang peluang bisnis, order proyek, koneksitas, dan sebagainya. Sekali menjadi anggota dewan, bisa mengangkat kesejahteraan seluruh keluarga besar.

Semua ini menjadi saksi nyata, bahwa saat ini mencari pekerjaan atau penghasilan sangatlah sulit. Bagi rakyat kecil, jangankan bisa mendapat order pembuatan bilik suara dari KPU, sekedar mendapat order untuk cetak undangan, memotong rumput, atau servis payung saja sulit.

Lalu tentang standar kebutuhan hidup. Barang yang paling mudah adalah beras, makanan pokok rakyat Indonesia. Di jaman Orde Baru, harga beras itu antara Rp. 700,- sampai Rp. 1000,- per kilogram. Di jaman Reformasi naik menjadi Rp. 2000,- per kilogram. Di jaman Wahid dan Megawati, naik lagi menjadi sekitar Rp. 3.000,- per kilogram. Setelah SBY naikkan BBM sekitar 100 % pada November 2005, harga beras melonjak menjadi sekitar Rp. 5000,- per kilogram.

Harga beras di jaman SBY melonjak 5 kali lipat dibandingkan harga di jaman Orde Baru (dari 1000 rupiah menjadi 5000 rupiah). Itu yang diklaim oleh tim sukses SBY sebagai “Swasembada beras”.

Untuk mengatasi masalah pangan ini, SBY mengeluarkan kebijakan Raskin (beras untuk rakyat miskin). Anda tahu perinciannya? Menurut salah seorang warga Jakarta, dalam dialog dengan Jusuf Kalla di MetroTV, harga beras Raskin itu Rp. 3000 per kilogram. Setiap keluarga dijatah 3 kilogram per bulan. Itu pun kualitas berasnya buruk. Kalau bahasa kita dulu, kualitas “beras jatah” (sisa-sisa dari gudang Bulog). Itu yang diklaim sebagai pangan untuk rakyat miskin.

Selain beras adalah BBM. Sampai di jaman Habibie, harga bensin per liter masih Rp. 1000,-. Di jaman Megawati naik menjadi Rp. 2000,-. Itu pun masyarakat sudah banyak yang protes. Ketika November 2005, SBY menaikkan harga bensin hingga mencapai patokan Rp. 4.500,- per liter. Rakyat Indonesia yang semula mulai merasa pulih dari krisis, mendadak hancur lagi. Saya mengira, rakyat Indonesia ini memang di-setting tidak bangkit-bangkit, agar negaranya mudah menjadi bancakan kekuatan-kekuatan asing.

Dan SBY belum puas menguji kesabaran masyarakat, dia menaikkan lagi harga BBM pada Mei 2007, dengan patokan harga bensin Rp. 6000,- per liter. Baru setelah harga minyak dunia merosot sampai di bawah US$ 40 per barrel, SBY mau menurunkan harga bensin ke patokan November 2005, yaitu Rp. 4.500,- per liter. Kalau jujur, harusnya patokan bensin dikembalikan ke angka Rp. 2000 per liter (harga sebelum SBY menjadi Presiden). Alasannya, penurunan harga minyak dunia sangat drastis ke titik 40 dollar per barrel. Itu melebihi patokan APBN yang berkisar di angka 80 dollar per barrel. Disini tampak sikap tidak fair Kabinet SBY. Saat minyak dunia naik, mereka jadikan hal itu sebagai alasan untuk menaikkan harga BBM nasional. Tetapi saat minyak dunia turun drastik, mereka tidak menurunkan harga BBM nasional secara drastik mengikuti patokan harga minyak dunia.

Masalah besar dan BBM ini merupakan sendi ekonomi nasional. Beras dibutuhkan untuk konsumsi, BBM untuk gerak ekonomi. Jika dua perkara ini bermasalah, maka ekonomi nasional pun akan panen masalah.

Berbagai Kebijakan Ekonomi

Tadi kita bicara soal kesejahteraan rakyat, soal penghasilan dan standar harga kebutuhan hidup (inflasi). Kemudian melihat masalah besar dan BBM, dua masalah mendasar dalam ekonomi Indonesia. Namun kebijakan-kebijakan SBY tidak hanya berhenti sampai disana, banyak kebijakan yang berciri liberalis.

Disini ada kebijakan tight money (uang ketat) Bank Indonesia; menambah volume hutang negara melalui instrumen SUN (Surat Utang Negara); pasar domestik dibanjiri produk-produk asing; merajalelanya supermarket, hypermarket, minimarket; pasar-pasar tradisional semakin tergusur; bercokol kuatnya industri-industri under license asing; kontrak karya pertambangan yang tidak adil dan menguntungkan asing; manajemen energi semrawut; privatisasi aset-aset nasional; keluarnya UU tentang air, SDA, listrik, dll. yang merugikan rakyat; sistem kerja kontrak (outsorcing) yang merugikan tenaga kerja; minimnya perlindungan para TKI di luar negeri; pembajakan karya cipta anak bangsa; dan lain-lain.

Seperti sering diklaim oleh Prabowo Subianto, setiap tahun setidaknya US$ 20 miliar (20 miliar dollar Amerika) harta kekayaan rakyat Indonesia dibawa ke luar negeri. Rakyat di Indonesia semakin miskin, orang-orang asing semakin makmur. Ini adalah kenyataan di depan mata. Persis seperti ucapan Saiful Mujani, “Jangan ada dusta di antara kita!”

Jadi, isu NEOLIB itu bukan omong kosong. SBY bisa beralasan apapun untuk membela diri. Tetapi kenyataan berbicara apa adanya. Memang negeri ini semakin lama semakin menghamba kepentingan asing. Rakyat sendiri terlantar, warga asing semakin berbunga-bunga hati.

Kalau mau contoh lagi, lihatlah kasus NAMRU dan kegigihan Dr. Siti Fadilah Supari dalam menentang hegemoni WHO dan Pemerintah Amerika. Ini adalah fakta tidak terbantah lagi. Lalu bagaimana sikap SBY terhadap keberanian seorang menteri wanita di Kabinetnya sendiri? Apakah SBY mendukung penuh? Apakah SBY berani membela menterinya dengan lantang? Ya, kita sudah sama-sama tahu. Justru yang getol membela Bu Menkes adalah kalangan ormas-ormas Islam.

Kita juga masih ingat bagaimana sepak terjang Sri Mulyani Indrawati. Dia jelas-jelas mantan pejabat eksekutif IMF. Tetapi di Kabinet SBY dia diserahi tugas sebagai Menteri Keuangan, lalu ditambah Menko Perekonomian. Luar biasa! Mantan IMF diserahi tugas mengurus ekonomi negara. Bahkan semula, Sri Mulyani, lulusan Ekonomi UI yang terkenal sebagai rahim “Mafia Berkeley” itu, ingin dipasang sebagai Cawapres mendampingi SBY. Hanya karena tim SBY khawatir mereka akan mendapat penentangan keras dengan memasang Sri Mulyani, maka pilihan dijatuhkan ke Boediono yang tampak lebih kalem.

Memang Indonesia saat ini belum menjadi negara ekonomi LIBERAL. Tetapi karakter NEOLIB itu bukan omong kosong. Itu nyata dan banyak buktinya. Jangan bodoh kita bisa percaya bahwa Kabinet SBY bersih dari NEOLIB. Bahkan istilah ekonomi “Jalan Tengah” yang baru-baru ini dilontarkan SBY, itu adalah PENGAKUAN JUJUR bahwa mereka memang mengambil prinsip-prinsip liberalisme. Hanya saja, bahasanya diperhalus, “ekonomi jalan tengah”.

Dengan hati yang jujur, dan semata berlindung kepada Allah Al Aziz, saya menghimbau Ummat Islam untuk menghentikan proses liberalisasi ekonomi ini. Syariat Islam mengajarkan kita untuk hifzhul maal (menjaga harta benda). Kata Nabi, seorang Muslim yang berjuang mempertahankan hartanya, lalu mati, dia mendapat syahid. (HR. Muslim dari Abu Hurairah Ra).

Kita harus memperjuangkan nasib dan masa depan kaum Muslimin. Ekonomi leiberal atau NEOLIB sangat membahayakan Ummat. Kita harus sekuat tenaga mencegahnya dengan tidak memilih orang yang pro NEOLIB. Saya sendiri siap berdebat terbuka dengan partai-partai berlabel Islam pendukung SBY. Mari kita buktikan, siapa yang benar dari kedua pnadangan!

Hanya kepada Allah semata kita bergantung dan berlindung diri. Sesungguhnya Dia Maha Kuat, Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.