Indonesia Kini Dilamun Bencana…

Oktober 7, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu kami sudah mengingatkan, agar Pemerintah tidak melakukan kebijakan-kebijakan yang berakibat menyengsarakan masyarakat. Tulisannya ada disini: Presiden SBY, Kasihanilah Rakyat Indonesia! Intinya, menangakap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu kebijakan zhalim. Apalagi memfitnah beliau, memfitnah pemuda-pemuda Islam yang tidak bersalah dalam kasus terorisme, bahkan membunuh dan menyiksa pemuda-pemuda Islam yang tidak tahu apa-apa tentang aksi terorisme. Semua ini kezhaliman besar!

Jakarta Diserbu Angin Puting-beliung.

Kalau cara-cara zhalim itu terus dilakukan, akibatnya bangsa Indonesia akan dikepung bencana dari segala arah. Harusnya, kalau terjadi kezhaliman, warga Indonesia yang mampu dan punya kekuatan, harusnya mencegah kezhaliman itu. Kalau tidak ada yang mencegah, maka semua kalangan akan terkena getahnya, terutama rakyat kecil yang hanya menjadi obyek penderita. Faktanya, hal itu benar-benar terjadi!

Saat ini setiap hari kita mendengar berita seputar bencana dari segala penjuru. Ini adalah kenyataan, ini adalah fakta yang nyata. Di antara yang bisa disebut:

[=] Meletusnya Gunung Sibanung di Sumatera Utara. Bahkan kini pun Gunung Merapi mulai bergejolak lagi. Seismograf menunjukkan aktivitas Merapi semakin tinggi.

[=] Banjir bandang di Waisor, Papua. Korban meninggal sudah sekitar 85 orang. Masih hilang sekitar 65 orang.

[=] Banjir di Bandung Selatan, banjir di Jakarta, banjir di Semarang, banjir di Kalimantan, dll. Banjir bisa karena curah hujan, bisa juga karena luapan air laut.

[=] Tanah longsor di beberapa titik di Jawa Barat dan Jawa Timur.

[=] Musibah kecelakaan KA di Pemalang, korban sekitar 35 orang meninggal. Padahal sudah lama kita tidak mendengar ada kecelakaan tragis seputar KA.

[=] Gempa bumi di Aceh, Papua, Banten. Kalau tidak salah, tidak ada korban atau kerusakan serius. Tapi ini merupakan peringatan yang harus diwaspadai.

[=] Hujan deras, angin puting beliung dimana-mana, terutama di Jakarta. Pohon-pohon tumbang, menimpa rumah, mobil, makam, dll.

[=] Cuaca sangat panas di Surabaya, suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Cuaca panas ini membantah klaim La Nina yang disampaikan orang-orang BMG. Kalau La Nina, pasti banyak hujan di suatu kawasan. Tidak mungkin di satu wilayah (misal Pulau Jawa) ada panas tinggi, sekaligus hujan deras. La Nina itu skalanya dunia, bukan skala Jawa atau Indonesia.

[=] Ketakutan tentang turunnya permukaan tanah Jakarta, akibat penyedotan air tanah secara terus-menerus, sehingga ada ide memindahkan ibukota negara ke tempat lain.

[=] Lumpur Lapindo juga mulai bergerak lagi. Setelah sekian lama diam, akhir-akhir ini mulai hangat kembali.

[=] Fenomena gagal panen yang sangat mengkhawatirkan. Banyak tanaman petani gagal, seperti padi, bawang, sayuran, bahkan usaha garam; karena curah hujan terus-menerus.

[=] Dan lain-lain.

Trend yang berkembang saat ini, bencana-bencana ini tidak terlalu besar, tetapi rata terjadi di berbaagai daerah. Rata terjadi dimana-mana. Kalau belajar dari yang sudah-sudah, yang sangat kita takutkan ialah, saat akan terjadi satau atau dua BENCANA SKALA BESAR di balik bencana-bencana kecil itu. Dan kita tidak tahu dimana bencana besar itu sedang dipersiapkan? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dan parahnya, pejabat-pejabat negara seperti tidak mau tahu soal bencana ini. Terus saja mereka menebar fitnah, menebar dusta seputar terorisme, membiarkan amoralitas, membiarkan korupsi, membiarkan orang-orang asing merajalela, dan seterusnya. Sepertinya, di kelapa pejabat-pejabat itu, mereka tidak peduli sebesar apapun penderitaan yang menimpa masyarakat. Seolah otak mereka berbiacara, “Biarkan saja ada bencana! Biarkan saja ada korban tewas! Semakin berkurang jumlah penduduk, semakin mengurangi beban subsidi Pemerintah.”

Ya sudahlah kalau begitu… Saya sebatas mengingatkan masalah ini. “Fa dzakkir, fa innad dzikra tanafa’ul mukminin” (maka terus berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman).

Ya pemimpin, ya elit politik, ya penguasa… Kasihanilah rakyat kecil, kaum dhuafa, anak-anak, kaum wanita, orang-orang miskin, fakir, lanjut usia. Kasihanilah mereka! Sayangilah mereka! Jangan menjadikan mereka sebagai obyek penindasan, alat permainan, atau seperti rumput yang diinjak-injak.

Kasihanilah mereka, kasihani rakyat ini, wahai Bapak, Ibu, Tuan, dan Nyonya. Agar hidupmu selamat, agar keluargamu selamat, agar urusan bisnis dan kariermu tetap berjalan. Bila tidak, demi Allah, kalian sendiri akan dikejar-kejar oleh bencana (apapun bentuknya) sampai kelak kalian sakit putus-asa. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

Ampuni diri-diri kami ya Arhama Rahimin. Amin.

AM. Waskito.