Berjihad Mengasihi SESAMA MUSLIM

Juli 2, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dulu, tahun 1998 seorang tokoh reformasi, dia mendeklarasikan berdirinya sebuah partai nasionalis, berlambang matahari biru. Dia ditawari menjadi pimpinan sebuah partai Islam, tidak mau. Dia memutuskan mendirikan partai nasionalis, partai inklusif. Alasannya, agar partai itu bisa mewadahi aspirasi non Muslim. Tidak heran, jika kemudian sebagian anggota DPR atau pengurus teras partai itu dari non Muslim.

Kemudian, ada tokoh lain. Ini seorang “putra darah biru” pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia. Selama puluhan tahun tokoh ini menjadi ketua ormas Islam. Garis perjuangan tokoh ini sangat simple, yaitu mengasihi non Muslim, dengan mengabaikan hak-hak Ummat Islam, termasuk warga ormasnya sendiri. Di mata non Muslim, tokoh ini seperti “mujahid akbar” tanpa pilih tanding. Tak ada yang sebanding dengannya dalam pembelaannya terhadap hak-hak non Muslim.

Dedikasi Anak Kita dalam Kebaikan.

Dulu, sekitar tahun 1992, awal kuliah di Bandung. Ketika itu saya dipengaruhi oleh seorang kader NII untuk masuk kelompok mereka. Dalam obrolan dan diskusi, berkali-kali dia meyakinkan, bahwa kalau Syariat Islam berlaku, hak-hak non Muslim akan terlindungi. Dalam hati saya berujar, “Mengapa harus bicara hak non Muslim? Lalu kapan kita bicara hak-hak sesama Muslim?” Pertanyaan ini terus menjadi misteri.

Habiburrahman El Shirazi dalam Ayat Ayat Cinta, tampak sekali dalam rasa sayang dan memuliakan non Muslim (Kristen Koptik). Sementara untuk sosok Muslim, dia mengangkat figur Bahadur, Noura, dan sipir-sipir penjara yang kejam. Non Muslim sangat berbunga hati dengan novel itu, sementara aku sendiri meringis. “Ya Allah, kok saudara-saudaraku selalu di-stigmatisasi dalam gambaran buruk?”

Dalam pelajaran-pelajaran PMP di sekolah, selama bertahun-tahun, kami secara intensif didoktrin supaya menghormati hak-hak warga non Muslim. “Meskipun Indonesia ini mayoritas Muslim, tapi di negara ini banyak warga non Muslim. Jadi harus menghormati mereka,” begitu alasan yang sering dikemukakan.

Sebuah partai politik, katanya partai Islam atau partai dakwah. Belum lama ini mengadakan Munas di sebuah hotel mewah di Jakarta. Partai ini mendeklarasikan sikap politiknya yang pluralis dan terbuka. Katanya, partai itu tidak hanya milik konstituen Muslim, tetapi terbuka bagi semua golongan. Termasuk bagi non Muslim. Malah katanya, non Muslim boleh menjadi pengurus partai, sejak DPC sampai DPP.

Mari kita lihat masalah ini lebih jujur dan sedalam-dalamnya…

Demi Allah, sikap memuliakan non Muslim ini, sudah saya ketahui sejak lama. Alangkah enaknya kaum non Muslim, meskipun mereka tidak pernah memberi apapun bagi kaum Muslimin, tetapi posisi mereka selalu DIISTIMEWAKAN oleh kalangan Islam. Begitu hebatnya martabat non Muslim, sampai setiap kita akan berpendapat atau menempuh kebijakan, harus “atas restu” non Muslim dulu. Bahkan, kita rela terjerumus dalam perselisihan sengit, semata karena menjaga “perasaan non Muslim”.

Aku teringat…saat-saat menyaksikan kesusahan hidup kaum Muslimin. Mereka hidup dalam kemiskinan, serba kumuh, rumah sumpek, dengan jemuran pakaian “jadi hiasan” di depan rumah. Lihat mereka yang tinggal di bantaran kali, tinggal di kanan-kiri rel kereta api, tinggal di kawasan kumuh, malah membuat “rumah kardus” di atas tumpukan-tumpukan sampah. Ada juga yang tinggal di atas makam, ada yang tinggal di liang-liang dekat kuburan China. Tubuh anak-anak kita kurus, soal gizi dan kesehatan, jauh dari kelayakan. Belum lagi mereka yang tinggal di desa-desa, di pelosok, kaki gunung, tepian hutan, atau pulau terpencil… Allahu Akbar, betapa merata penderitaan masyarakat yang sebagian besar Muslim itu. Kalau mereka ditanya, “Apa agama Bapak?” Mereka menjawab, “Islam.” Sambil tidak mengerti apa yang diucapkannya.

Kesusahan ini banyak, lebar, meluas di berbagai tempat… Semua itu menimpa kaum Muslimin, baik laki-laki wanita, anak-anak dan orang tua, baik di desa atau di kota. Ummat yang menderita ini meliputi orang awam agama, para aktivis, mahasiswa Muslim, sampai para ustadz yang mengajar mengaji. Ummat yang menderita itu mulai dari pengidap penyakit, penderita cacat, miskin, tidak lulus sekolah, terlibat konflik, broken home, terjerumus narkoba, pengungsi, korban bencana, bahkan sampai penggila pornografi di kota-kota. Mereka semua itu Ummat kita, Ummat Nabi Saw, Ummat yang diamanatkan Allah kepada kita semua.

Allahu Akbar ya Akhi…ya Ukhti…

Rasanya, sangat SAKIT DI DADA, saat Anda selalu bicara: “Aspirasi non Muslim. Hak-hak non Muslim. Hormati non Muslim. Sayangi non Muslim. Cintai non Muslim. Jaga perasaan non Muslim. Berikan hak-hak non Muslim secara sempurna. Kalau mau sukses sebagai penulis, puji-pujilah selalu non Muslim, dijamin setelah itu kantongmu akan tebal setebal-tebalnya.” Tetapi pada saat yang sama, kita acuh, cuek bebek, dan tidak peduli dengan nasib sesama Muslim.

Ya Allah, dunia ini benar-benar sudah terbalik. Untuk kaum yang dimurkai Allah dan sesat, kita berikan seindah-indahnya cinta, seluas-luasnya kasih sayang. Sementara kepada kaum yang disebut oleh Nabi sebagai “Ummati…ummati…ummati” mereka kita abaikan. Bukan hanya diabaikan, tetapi disalah-salahkan, dilecehkan, tak dihargai dirinya, bahkan mereka dianggap sebagai “pembawa malu”. Allahu Akbar.

Bagaimana hidup kita bisa tersesat demikian jauh. Kaum Muslimin yang ada di depan kita, mendoakan kita secara tidak diminta, memohonkan kita ampunan, istiqamah mendidik anak-anak kita, melayani kita di pasar dengan senyuman, mengurus jenazah kita bila meninggal, membantu kita dalam pernikahan, muamalah, dan usaha. Mereka kaum Muslimin menghormati kita, memberi salam, mematuhi ucapan kita, mereka mendukung pendirian kita, mereka membela perjuangan kita…. Wahai saudaraku, mengapa kaum yang begitu mulia, tulus, sangat sungguh-sungguh membantumu, mengapa mereka kalian abaikan? Mengapa hati, pikiran, dan tenaga kalian justru sibuk menyayangi orang-orang non Muslim?

Mengapa Hak Mereka Diabaikan?

Ya Allah ya Karim… Demi Allah, andaikan kita tidak pernah sedikit pun bersikap baik kepada non Muslim, namun kita istiqamah memuliakan sesama saudara kita, kaum Muslimin, kita tidak akan berdosa di sisi Allah. Bahkan kita akan mulia dan dimuliakan oleh-Nya, karena kita menyayangi sesama Muslim.

Dalam riwayat diceritakan kisah Abdullah bin Umar Ra dengan seorang “Laki-laki calon ahli syurga”. Laki-laki itu adalah seorang Shahabat Ra. Ada yang menyebut beliau sebagai Saad bin Abi Waqash Ra. Beliau dalam sehari-hari tidak memiliki amalan tertentu yang istimewa. Tetapi dia dijamin masuk syurga, karena hatinya bersih dari kedengkian kepada sesama Muslim.

Mengapa, orang-orang yang mengaku pintar, cendekia, ustadz, doktor, ‘alim, dan seterusnya… mengapa mereka merasa malu mengklaim diri sebagai pembela Ummat Muhammad Saw? Mengapa tidak sekalian saja mereka malu menjadi seorang Muslim? Mengapa untuk menjadi pembela Ummat, kita harus selalu meminta restu orang-orang non Muslim? Apa kontribusi non Muslim bagi kemuliaan hidup kita, di dunia dan Akhirat?

Andaikan hari ini kita berteriak keras:

“AKU INI MUSLIM. AKU MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. AKU TIDAK PEDULI RESIKO APAPUN AKIBAT SIKAPKU INI. AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM SAMPAI MATIKU. SAKSIKANLAH WAHAI DUNIA, AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. KEMUDIAN, AKU TIDAK PEDULI DENGAN NASIB SELAIN MEREKA.”

Ucapan ini bukan hanya diucapkan di media blog seperti ini, tetapi juga diucapkan dalam konteks sosial, bahkan dalam lapangan politik. Maka cara demikian ini tidak membahayakan kita. Kita tidak akan rugi, malah akan beruntung. Jika kita hanya loyal kepada kaum Muslimin, tidak ada orang yang menyalahkan kita. Toh, kita memang Muslim. Sama persis seperti kita  tidak bisa mencegah orang non Muslim loyal kepada ummat mereka sendiri. Iya kan?

Mencintai ummat sendiri, menyayangi mereka, itu bukan keburukan. Ini adalah kebajikan yang utama. Bahkan hal itu tak merugikan kaum non Muslim. Yang merugikan ialah kalau kita menyayangi saudara sendiri, dengan menzhalimi orang-orang non Muslim.

Teringat kisah panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra dengan kaum Nashrani di Palestina. Ketika pasukan kaum Muslimin berhasil menguasai Jerusalem, mereka menerapkan jaminan keamanan dan damai bagi warga setempat. Kaum Nashrani dilindungi, tidak diganggu sedikit pun, baik harta, tempat ibadah, maupun kehormatan mereka. Namun ketika Khalifah Umar Ra meminta mereka meninggalkan Jerusalem, mereka patuh. Warga Nashrani berusaha menahan mereka agar tidak pergi. Bahkan mereka berjanji akan memperbesar pemberian jizyah, harta sebagai jaminan keamanan. Panglima Abu Ubaidah Ra lebih memilih mematuhi perintah Khalifah, dengan tidak silau tawaran kaum Nashrani. Bahkan beliau kembalikan jizyah yang semula diberikan kaum Nashrani itu.

Inilah contoh sikap LURUS seorang Muslim. Mereka sangat memuliakan saudara seiman, tetapi tidak juga menzhalimi non Muslim. Lalu mengapa kondisi ini saat sekarang terbalik? Kita berlomba menyenangkan hati non Muslim, sambil terus-menerus menyakiti hati sesama Muslim? Sebenarnya, Islam yang kita peluk ini benar apa tidak ya? Jangan-jangan kita telah memeluk konsep agama yang salah? Na’udzubillah min dzalik.

Hukum mencintai sesama Muslim itu WAJIB. Sementara hukum menghormati dan membantu non Muslim, itu MUBAH. Dengan catatan, setelah kita dahulukan urusan kaum Muslimin. Jika memuliakan non Muslim, dengan cara mengabaikan bahkan melecehkan sesama Muslim, itu namanya perbuatan NIFAQ. Para pelakunya, kalau tidak bertaubat, bisa menjadi orang  MUNAFIQ. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dulu Khalifah Umar bin Abdul Azis rahimahullah, di masanya kaum Muslimin berlimpah rizki dan harta-benda. Hampir semua penduduk menjadi muzakki, dan kesusahan mencari mustahik. Karena sulitnya mencari muzakki dari kalangan kaum Muslimin, maka sebagian zakat itu akhirnya diberikan kepada warga non Muslim yang tinggal di wilayah kekuasaan Islam.

Di Indonesia ini selama puluhan tahun banyak sekali kaum Muslimin yang memendam kecewa dan sakit hati di dadanya. Bahkan rasa sakit itu mereka pendam, sampai tiba di liang kubur. Mengapa demikian, Saudaraku? Sebab keluhan, jeritan, hibaan, tangisan, derita mereka, diabaikan oleh saudara-saudara mereka sendiri. Sementara itu, banyak orang mengaku Muslim, mengaku tokoh Islam, mengaku cendekiawan Muslim, mengaku ulama, mengaku elit politik Islam, mengaku aktivis Islam, mengaku dai “rahmatan lil ‘alamiin”; namun hatinya lebih peduli dengan urusan non Muslim. Seolah, mereka tidak bisa tidur nyenyak, jika sehari saja tidak mengingati nasib non Muslim. Adapun kepada sesama Muslim (saudaranya sendiri), mereka bersikap seperti batu, yang tak bisa mendengar, melihat, dan merasa. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wajar jika Islam tidak tegak-tegak di bumi Indonesia, sebab para pejuang Islam-nya lebih pro urusan orang kafir, daripada loyal kepada saudaranya sendiri. Bagaimana Ummat akan mau berduyun-duyun membela perjuangan Islam, sementara kaum Muslimin sendiri tidak merasakan atsar (bekas) dari keberadaan pejuang-pejuang Islam itu sendiri? Kasihi saudara-saudara kita, wahai Saudaraku. Maka engkau akan mendapati Ummat ini merapat di belakangmu, membela perjuanganmu dengan jiwa dan hidupnya.

Saudaraku, sayangilah saudara-saudaramu, sebelum kalian menyayangi orang lain. Komitmen-lah dengan urusan saudaramu, maka Allah akan komitmen denganmu. Bahkan Dia akan menyebarkan rahmat yang diantaranya akan sampai ke tangan kaum non Muslim. Seperti kisah Panglima Abu Ubaidah Ra dan warga Nashrani di Jerusalem itu. Nah, inilah makna yang lurus dari istilah Rahmatan lil ‘alamiin.

Lalu bagaimana dengan alasan politik? Bagaimana kalau sikap memuliakan non Muslim itu hanya manuver politik saja, biar mereka tidak marah kepada kita? Biar kita tidak dicurigai dan dihalangi oleh mereka?

Cara seperti itu hanya akan menjadi bumerang. Orang non Muslim akan tahu, bahwa kita hanya berpura-pura. Atau, bila mereka sudah percaya kepada kita, lalu kita ingkari kepercayaan itu, mereka akan marah besar; dan semakin menyala-nyala kebenciannya. Di sisi lain, sikap memuliakan non Muslim dan mengabaikan sesama Muslim, jelas akan mengundang permusuhan besar dari sesama kalangan Islam. Nah itulah, untung tak didapat, buntung pula yang terjadi.

Dulu para Shahabat Ra yang hijrah ke Habasyah, mereka menghadapi masalah pelik. Orang-orang musyrik Makkah hendak mengadu-domba mereka dengan Raja Najasyi. Tetapi waktu itu Ja’far bin Abdul Muthalib Ra sebagai juru bicara para Shahabat. Beliau tidak ngomong mencla-mencle, berkedok “bahasa diplomasi”. Beliau dengan sopan menjelaskan prinsip akidah Islam dalam perkara Isa Al Masih dan ibunya. Dijelaskan apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurang. Ternyata, Raja Najasyi justru sangat menghargai keterus-terangan itu, dan menghargai akidah Islam. Sejak itu para Shahabat mendapat perlindungan penuh Raja Najasyi. Padahal ketika itu jumlah mereka sangat minoritas. [Berbeda sekali dengan kondisi kaum Muslimin di Indonesia saat ini].

Begitu pula, Buya Hamka rahimahullah, di jaman Jepang beliau pernah menghadapi masalah. Suatu pagi, dalam upacara bendera yang diikuti pasukan Jepang, mereka diberi komando untuk membungkuk, menghormat ke Timur, menghormati matahari. Buya Hamka merasa itu adalah kesalahan besar, manusia menghormati (menyembah) matahari. Beliau tidak mau membungkuk, sekalipun sewaktu-waktu senapan Jepang bisa meletus, menembus tubuhnya. Ternyata, komandan Jepang bukan marah, tetapi malah menghormati keteguhan sikap itu. Jadi tidak ada yang merugikan dengan sikap konsisten kepada akidah Islam. [Kalaupun kemudian kita mati karena sikap konsisten itu, insya Allah mati syahid].

Banyak pejuang-pejuang Muslim di Mesir dari kalangan Ikhwanul Muslimin, tahun 50 atau 60-an mereka mendapat ancaman berat dari regim Gamal Abdun Nashir atau Anwar Sadat. Mereka disuruh memilih, komitmen dengan Islam atau hukuman mati. Mereka memilih hukuman mati. Salah satunya, Sayyid Quthb. Terbukti kemudian, nama mereka harum dikenang kaum Muslimin sebagai para pejuang yang istiqamah.

Sangat tidak dibenarkan, seorang Muslim merasa hina dan malu, menjadi pembela-pembela Islam; lalu menjilat kesana-kemari untuk meraih keridhaan non Muslim. Cara demikian sangat tidak patut ditempuh seorang Muslim. Dulu almarhum KH. AR Fakhruddin, dalam pembicaraan pribadi beliau pernah mengkritik keras Soeharto, karena keinginannya memaksakan Azas Tunggal. Padahal ketika itu Soeharto sedang jaya-jayanya dan LB Moerdani ngangkangi barisan militer. Pak AR tidak takut kepada Soeharto, demi menjaga akidah Ummat. Terbukti kemudian, beliau tidak pernah diapa-apakan oleh Soeharto, bahkan kedudukannya dimuliakan.

Siapapun yang merasa hina sebagai seorang Muslim, merasa berat wajah di hadapan kaum non Muslim (kafir), sungguh Allah Ta’ala tidak membutuhkan tenaga, pikiran, dan hartanya. Din Allah terlalu mulia untuk “dilacurkan” dalam perjudian-perjudian penuh kehinaan.

Cukuplah Saudaraku, beberapa ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan KARAKTER seorang Muslim. Dalam Surat Al Fath disebutkan, “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya (para Shahabat Ra) bersikap tegas kepada orang-orang kafir, dan bersikap penuh kasih-sayang antar sesama mereka (orang-orang beriman). Kamu melihat mereka bersama-sama rukuk dan sujud (shalat berjamaah) mencari keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya.”

Kemudian ayat yang mulia di akhir-akhir Surat At Taubah, “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa baginya penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian (beriman dan taat kepada Allah), dan kepada orang-orang Mukmin sangat penyantun dan pengasih.”

Maka kini sudahi segala hal yang bisa melukai perasaan saudaramu. Jadilah Muslim sejati yang bangga menjadi Muslim dan sangat loyal kepada sesama Muslim. Boleh kalian membela atau menolong kaum non Muslim, setelah semua hak-hak saudaramu yang Muslim, terpenuhi. Jangan terjerumus dalam kemunafikan, karena bagi orang munafik itu posisinya di dasar neraka paling dalam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Pertanyaan Kritis untuk Para Penghujat NEGARA ISLAM

Agustus 15, 2009

Jauh-jauh hari Nabi Saw sudah mengingatkan, bahwa kelak akan muncul banyak fitnah. Memegang agama saat itu ibarat menggenggam bara api. Kalau bara dilepaskan, ia akan padam; kalau bara terus digenggam, tangan akan hangus. Betapa sulitnya menjadi orang ISTIQAMAH dalam keadaan seperti ini. Apalagi, banyak aktivis Islam yang semula sangat militan dan istiqamah, lalu mereka mulai berguguran satu per satu karena fitnah jabatan, harta, dan wanita. Bukan hanya orang kafir yang menanti-nanti agar kita terjerumus. Para mantan aktivis itu juga akan tersenyum puas kalau melihat kita ikut-ikutan berguguran.

[Allahumma ya Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal Akhirah. Wa sallimna min kulli fitnatin, wa dhalalah, wa fasad. Waj’alna mustaqiman zhahira wa bathina ila akhiri hayatina. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin].

ISLAM ANTI TERORISME

Ajaran Islam sama sekali tidak mengajarkan praktik terorisme. Banyak ulama, lembaga-lembaga Islam, serta para cendekiawan Muslim yang bekerja keras mengingkari praktik terorisme. Cukuplah ayat ini sebagai dalil yang sering dibacakan oleh para khatib. “Sesungguhnya Allah itu memerintahkan berbuat adil dan ihsan, memberi karib-kerabat, mencegah perbuatan keji dan munkar, serta permusuhan. Dai memberi pelajaran kepadamu agar kalian mengambil pelajaran.” (An Nahl: 90).

Jika ada ajaran Islam yang dianggap paling keras, maka ia adalah JIHAD Fi Sabilillah. Jihad seringkali termanifestasikan dalam bentuk peperangan. Ya, mana lagi urusan manusia yang lebih keras dari peperangan? Namun, dalam Jihad itu pun Islam memberikan adab-adab. Perang dalam Islam bukan untuk misi penjajahan, tetapi untuk menyebarkan Rahmat Islam.

Seperti contoh, Panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra. beliau dengan legowo menyerahkan kembali harta kaum Nashrani Palestina yang semula diberikan kepada pasukan Islam sebagai jaminan keamanan atas mereka. Namun waktu itu Khalifah Umar Ra. Memerintahkan pasukan Islam kembali ke Madinah. Panglima Abu Ubaidah dan pasukannya patuh Khalifah, mereka harus segera meninggalkan Palestina. Kaum Nashrani Palestina tahu rencana penarikan pasukan Islam itu. Mereka dengan menghiba-hiba meminta supaya pasukan Islam tetap berada di Palestina. Bahkan mereka berjanji akan menambahkan jaminan hartanya. Di mata kaum Nashrani, pasukan Islam meskipun berbeda agama, mereka sangat menghargai kaum Nashrani. Tidak melecehkan mereka sedikit pun. Berbeda dengan pasukan Romawi. Meskipun seagama dengan mereka, tetapi kerjanya menindas terus warga Palestina. Penindasan Romawi sementara waktu berakhir ketika pasukan Islam datang, lalu mengusir Romawi dari Palestina. Ini adalah contoh nyata adab-adab Islami di medan konflik.

Islam tidak mengenal istilah kolonialisme seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Islam telah bersentuhan dengan aneka jenis keyakinan manusia, tetapi disana tidak ada penjajahan. Kaum Muslimin tidak memiliki sejarah penjajahan di belahan bumi manapun. Berbeda dengan Eropa. Seakan, dimanapun mereka menginjakkan kaki di muka bumi, mereka ingin menindas manusia-manusia yang mereka temui. Islam suci dari hal-hal seperti ini.

Nah, atas semua itu, lalu terjadilah aksi-aksi terorisme di berbagai tempat. Pelakunya mengklaim sebagai mujahidin yang sedang menjalankan Jihad Global melawan Amerika. Sasaran-sasaran sipil mereka serang, seperti yang berkali-kali terjadi di Indonesia. Korban warga sipil berjatuhan, termasuk orang-orang yang memiliki KTP Islam. Kebanyakan serangan dilakukan dengan bom, bahkan bom manusia atau bom mobil. Semua aksi kekerasan itu lalu diklaim sebagai Jihad, pelakunya disebut Mujahidin, yang wafat diklaim sebagai Syahid.

Dan anehnya, dunia internasional yang notabene mayoritas kafir, malah setuju, mendukung, meyakini, serta membenarkan, bahwa semua aksi-aksi itu adalah manifestasi Jihad Fi Sabilillah. Lho, katanya mereka anti terorisme, tapi malah setuju dengan DEFINISI JIHAD menurut para pelaku kekerasan itu? Ini aneh bin ajaib. Seharusnya mereka memahami Jihad sesuai pendapat mainstream ulama-ulama Islam. [Kalau memang benci terorisme, harusnya mereka merujuk definisi Jihad menurut ulama-ulama yang masyhur, bukan menurut pelaku aksi-aksi itu sendiri].

Sekali lagi saya tegaskan, sekalipun dalam konfrontasi peperangan, Jihad Fi Sabilillah memiliki adab-adab. Itu sudah pasti. Namun dalam aksi terorisme kenyataannya sangat aneh. Mau disebut Jihad, atas dasar apa mereka berperang? Di atas konflik apa mereka berperang? Di pihak mana mereka berdiri, dan dengan siapa mereka berperang? Dimana medan perang itu berada dan bagaimana aturan main yang disepakati pihak-pihak yang terlibat perang? Semuanya serba tidak jelas.

Islam adalah agama yang sempurna, memiliki aturan-aturan dalam segala sisi. Mulai dari adab masuk WC, saat bercermin, ketika makan, berpakaian, berhubungan seksual dengan isteri, sampai menegakkan kepemimpinan, Islam memiliki aturannya. Lha ini, ada kelompok Islam yang katanya pro Syariat Islam, tetapi mereka melancarkan serangan militer seperti orang-orang yang tidak belajar adab Islam. Aneh tentunya.

Lalu karena aksi-aksi kekerasan semacam itu, ajaran Islam menjadi bulan-bulanan kaum kuffar. Salah satu ajaran Islam yang sangat dizhalimi pasca kasus-kasus teror ini adalah DAULAH ISLAMIYYAH (Konsep Negara Islam).

Kita dengar di TV-TV pernyataan para tokoh, baik dari kalangan aparat, mantan pejabat, atau orang-orang yang dianggap pakar. Komentar-komentar mereka sangat perih dalam menyerang Konsep Negara Islam. Di mata mereka, isu Negara Islam inilah yang dianggap biang kerok terorisme. Kalau Anda mendengar pernyataan Sidney Jones, pasti ujung-ujungnya menyerang DI/TII di masa lalu. Lho, apa hubungannya teror bom dengan DI/TII? Lagi pula, bisakah Sidney menyebutkan fakta sejarah, bahwa suatu negara bisa berdiri dengan teror bom? Hanya orang bodoh yang akan membenarkannya.

DAULAH ISLAM TIDAK BERSALAH

Ketika kita bicara tentang fakta terorisme, saat itu kita bicara tentang cara-cara kekerasan yang tidak dibenarkan oleh Syariat Islam. Terorisme tidak bisa ditarik ke ajaran Islam, begitu pula sebaliknya. Maka otomatis, terorisme tidak bisa dikaitkan dengan seluruh sisi ajaran Islam, termasuk Daulah Islamiyyah.

Mengaitkan Daulah Islamiyyah dengan terorisme adalah fitnah besar. Sejak jaman Nabi Saw dan Para Shahabat Ra., sampai saat runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah di Turki, tidak ada satu pun daulah-daulah itu yang ditegakkan dengan cara teror. Apalagi dengan bom manusia dan menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Secara teori, tidak ada satu pun negara di dunia yang bisa lahir dengan cara teror. Teror itu akan membangkitkan amarah manusia. Para pelaku teror alih-alih akan didukung, mereka justru dibenci oleh masyarakat luas. Bahkan kalau mau jujur, kelompok IRA di Irlandia pun sampai saat ini masih gagal memisahkan wilayahnya dari Britania Raya. Padahal aksi-aksi serangan IRA sudah sangat dikenal di dunia, jauh sebelum para pemuda-pemuda Muslim terjun di bidang ini.

Ajaran Islam pun tidak memberi ruang bagi aksi-aksi terorisme. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang seolah menyuruh melakukan teror, misalnya:

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah).” (Al Baqarah: 191).

Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (An Nisaa’: 89-90).

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (At Taubah: 5).

Sepintas lalu, ayat-ayat ini memerintahkan kaum Muslimin menyerang orang-orang musyrikin dimana saja mereka berada. Tetapi kalau Anda membaca ayat tersebut secara lengkap, akan segera tampak bahwa disana ada KONTEKS-nya. Ayat-ayat ini berkaitan dengan permusuhan antara kaum Muslimin di Madinah dengan kaum musyrikin Makkah. Permusuhan itu sudah terang-benderang, sudah sama-sama dimaklumi oleh kedua belah pihak. Kaum musyrikin Makkah menghalangi Ummat Islam berhijrah ke Madinah, mereka berkali-kali hendak membunuh Nabi Saw., dan mereka memperlakukan kaum Muslimin selama di Makkah dengan sangat kejam. Semua itu menjadi BUKTI NYATA bahwa konflik di antara kedua belah pihak sudah matang, tinggal diselesaikan di medan perang. Fakta berbicara, bahwa 2 tahun setelah Hijrah Nabi, pecahlah Perang Badar. Perang itu terjadi tidak lama setelah kaum Muslimin memiliki pijakan kaki di Madinah. Hari saat terjadi Perang Badar oleh Al Qur’an disebut sebagai Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang haq dan bathil. (Surat Al Furqan: 41).

Ayat-ayat seperti di atas tidak boleh dipahami secara SERAMPANGAN. Tetapi kita harus melihat bagaimana Nabi Saw. dan Shahabat Ra. memahaminya. Untuk menerjuni konflik itu harus jelas dulu duduk masalahnya. Contoh terbaik, sebelum kaum Muslimin memerangi Kisra Persia, Nabi Saw. pernah mengirimkan surat kepada Kisra, lalu surat tersebut dirobek-robek oleh Kisra. Sejak saat itu dimaklumkan perang kepada Kisra Persia, meskipun realisasinya baru terjadi di jaman Khalifah Umar bin Khattab Ra. Kisra Persia adalah kaum musyrikin, tetapi Nabi Saw. tidak serta-merta memerintahkan kaum Muslimin memerangi mereka.

Begitu pula, saat pembebasan Kota Makkah. Waktu itu kaum Muslimin memasuki Kota Makkah dengan penuh kehormatan, sedang orang-orang musyrik tunduk terhina. Tetapi disini, warga Makkah tidak diserang habis-habisan, seperti dalam ayat-ayat di atas. Mereka dibebaskan oleh Nabi Saw. Orang-orang yang melarikan diri dari Makkah, tidak dikejar. Bahkan Hindun isteri Abu Sufyan dan warga Makkah lain, mereka meyakini bahwa Nabi itu orang baik, pasti tidak akan menzhalimi mereka. Karena itu pula warga Makkah berbondong-bondong masuk Islam.

Memang pada hakikatnya, Jihad Fi Sabilillah itu sebuah sarana untuk menyebarkan Rahmat Islam. Ia bukan metode untuk merusak kehidupan, menghancurkan harta-benda, membunuhi manusia-manusia tak berdosa. Allah Maha Kaya, untuk apa Dia memerintahkan manusia berbuat zhalim seperti itu? Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan: “Janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (Al Ankabuut: 36).

Dapat disimpulkan, Daulah Islamiyyah tidak ada kaitannya sama sekali dengan terorisme. Hanya orang-orang JAHIL saja yang akan menegakkan Daulah Islamiyyah dengan metode teror. Baik secara Syar’i, fakta sejarah, dan teori, tidak ada negara yang berdiri dengan metode teror. Umumnya melalui gerakan massa, gerakan politik, gerakan militer, kudeta kepemimpinan, atau perang terbuka.

Secara pribadi saya mengajak diskusi terbuka kepada siapapun yang selama ini menuduh bahwa aksi-aksi terorisme itu ditujukan untuk menegakkan Daulah Islamiyyah. “Tunjukkan bukti-bukti kalian, kalau kalian adalah orang yang benar!” (Al Baqarah: 111).

Baca entri selengkapnya »