Raja Saudi dan Perang

April 15, 2015

Bismillahir rahmanir rahiim. 

>> Dr. Musa Alu Nashr mengungkapkan rasa suka citanya melihat Saudi memimpin pasukan koalisi ke Yaman.

>> Apa yg beliau rasakan, tidaklah berlebihan. Itu sesuai hikmah sejarah yg panjang.

>> Sejatinya, raja Saudi yg mahir perang adalah Raja Abdul Aziz, pendiri Saudi modern. Tapi perang beliau lokal, seputar Najd dan Hijaz.

>> Raja Faisal pun tidak trlibat perang. Tapi mendukung lewat tekanan-tekanan politik.

>> Yang pertama kali terlibat perang secara terbuka adalah Raja Salman, raja saat ini.

>> Tapi perlu dicatat, dalam 10 TAHUN terakhir, Saudi sangat aktif dalam belanja militer/senjata. Itu trjadi di era Raja Abdullah kmarin.

>> Saudi memutuskan belanja senjata dan memperkuat angkatan perang, belajar dari PERANG TELUK 1990-1991. Mereka waktu itu meminta perlindungan militer AS; hasilnya nombok sangat besar; sampai mengguncang ekonomi bangsa.

>> Persiapan perang itu sudah lama. Mengantisipasi gejolak politik regional. Bayangkan, sebelum musim Arab Springs, Saudi sudah bersiap-siap. Sampai ketika itu para pemerhati merasa heran. Kenapa belanja militer besar-besaran? Ternyata skarang ia digunakan.

>> Tapi unt perang itu sendiri tidak mudah. Hanya pemimpin bernyali yang mampu melakukannya. Raja Salman lah tokoh itu.

>> Salah seorang perwira AL Indonesia pernah berkata: “Kami siap berperang, unt mencapai perdamaian.” Kontras ya. Tapi begitulah, sebenar-benar damai sering dihasilkan lewat perang.

>> Maka, pernyataan ulama hadits asal Yordan, skaligus murid Al Albani rahimahullah di atas; bisa dipahami dg JELAS.

>> Adapun tentang kritik orang (kaum haters) terhadap perang ini…BIARKAN SAJA. Toh kalau Saudi diam saja, mereka juga akan mengkritik. Bahkan andai Saudi bersikap “antara diam dan bergerak”, mereka tetap mengkritik. Di mata mereka: “Saudi selalu salah, Iran selalu benar!” Iya tho… 

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Iklan

Raja Abdullah Mulai Galau…

Oktober 28, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menghisab amal perbuatan hamba-Nya. Ketika Raja Saudi dan Emirat berdiri paling tegak dalam rangka menghancurkan kekuasaan Presiden Mursi di Mesir yang mulai melaksanakan Islamisasi kehidupan; maka sangat mudah bagi Allah untuk mempreteli kekuasaan dinasti itu.

Wal amru kulluhu lillahi (semua urusan itu ada pada Allah); wallahu ghalibu ‘ala amrihi (dan Allah berkuasa memenangkan urusan-Nya); tu’thil mulka man tasya’u wa tanzi’ul mulka miman tasya’u (Engkau berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki).

Tanda-tanda kehancuran Dinasti Saud di Saudi ditandai dengan peranan besar mereka dalam beberapa urusan ini:

[1]. Mendukung kudeta atas kepemimpinan seorang presiden yang dipilih oleh mayoritas kaum Muslimin Mesir.

[2]. Mendukung rezim militer yang telah membantai ribuan jiwa kaum Muslimin dan menghancurkan kehidupan mereka.

[3]. Mendukung rezim militer dalam meringkus Ikhwanul Muslimin, aset-asetnya, jaringannya, lembaga dan dakwahnya.

[4]. Mendukung rezim militer dalam melenyapkan pengaruh Syariat Islam di Mesir, dengan melarang ulama kritis, melarang dai, khatib, muballigh yang menyerukan al haq.

[5]. Mendukung persekutuan Zionis, Amerika, Inggris, Perancis, Kristen Koptik, Syiah, Liberal, Kapitalis, dan lain-lain yang sangat anti kepada pemerintahan Presiden Mursi.

Dalam batas ini apa yang dilakukan Raja Abdullah dan pemerintahnya sudah pada tingkat “kufran bawahan“; kekafiran yang terang-terangan yang sangat jelas bukti dan fakta-faktanya. Fakta pembantaian di halaman masjid Rabiah Al Adawiyah 14 Agustus 2013 itu mau disembunyikan kemana?

Maka sekarang Dinasti Saud (bukan Wahhabi lho ya) sedang berkemas menggulung layar kekuasaannya. Mereka setahap demi setahap akan runtuh karena hawa nafsu dan ambisi kuasa melebihi kecintaan dalam beragama.

Fakta-fakta yang membuat Dinasti Saud saat ini sangat mangkel (marah) adalah…

[a]. Amerika dan Sekutu tidak jadi menyerang Suriah, padahal tadinya mereka sudah berjanji akan menduduki Suriah. Kalau langkah ini dilakukan, setidaknya Dinasti Saud masih “punya muka” di mata Umat Islam sedunia.

[b]. Amerika dan Iran mulai bermesraan dan melupakan masalah “pelucutan senjata nuklir”.

[c]. Amerika sendiri semakin bangkrut, dengan kenyataan pemerintah federal tak mampu membiayai operasional pemerintahannya, sehingga untuk sementara kantor-kantor pemerintah tutup.

Sungguh, telah hilang rasa simpati kepada raja-raja dinasti ini; meskipun para pendahulunya insya Allah orang-orang baik. Mereka bisa bersiasat sehebat apapun, tapi kenyataan yang hak akan tampak dengan izin Allah. Siapa yang telah merebut kuasa secara tidak sah, akan direbut pula kekuasaannya oleh yang kuat.

Mine.


Salafiyah Kan Terus Berkibar, Sebuah Dinasti Tidak Dijamin

Juli 9, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allah Ta’ala menjelaskan dalam Kitab-Nya, bahwa siapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali (agama Allah) yang sangat kuat, yang tak akan putus selamanya. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah: 256. Inilah ayat yang sering disebut sebagai Al Urwatul Wutsqa.

Disini dijelaskan, bahwa pijakan terkuat dalam hidup ini ialah Syariat Allah Ta’ala; siapa yang mengikatkan dirinya kepada Syariat, dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat. Sedangkan siapa yang berpegang kepada kekuasaan, kerajaan, kekayaan, pengaruh politik, dan lainnya tidak dijamin akan mendapatkan kekuatan yang teguh dan dawam (lestari).

Maka, selagi dakwah Salafiyah senantiasa konsisten dengan Syariat Islam, maka musuh seperti apapun tak akan mampu meruntuhkannya; siapapun mereka, bagaimanapun caranya, selama apapun makarnya.

Sebaliknya, siapa yang berpegang kepada kerajaan, dinasti, kekuasaan politik; dengan mengabaikan hak-hak Syariat Allah; lambat atau cepat, ia akan runtuh, tenggelam, lalu diganti oleh yang lain.

Ketika seorang Raja di Saudi, secara tiba-tiba menyatakan dukungannya terhadap kudeta militer di Mesir (3 Juli 2013); padahal dia belum mengkaji secara teliti proses politik itu; dia tidak mendengar bagaimana perasaan saudaranya sesama Muslim, di Mesir sana; dia hanya mengacu kepada kekuasaan politiknya yang merasa terancam oleh suatu gerakan politik tertentu; dia mengabaikan hak-hak keadilan; maka semua itu hanya akan menyebabkan kekuasaannya runtuh. Siapa yang mendukung kezhaliman atas kekuasaan politik, maka dia akan menerima hasil dijatuhkan, karena dukungannya atas kezhaliman itu.

Dulu Hafezh Assad sangat jumawa di Suriah; kini anaknya memanen bencana dan musibah terus-menerus. Dia dilaknati manusia sedunia karena kekejamannya kepada kaum Muslimin.

Teringat sejarah masa lalu. Bani Umayyah mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin dengan cara-cara keliru; bahkan kemudian timbul kekejaman-kekejaman besar dalam sejarah Dinasti itu. Lalu di akhir hayatnya, dinasti itu dihancur-leburkan kekuatan Abbassiyah. Begitu juga Abbassiyah berkuasa dengan menumpahkan darah; maka mereka kemudian dihancur-leburkan oleh Tartar (Mongol) sekejam-kejamnya.

SALAFIYAH insya Allah akan senantiasa berkibar, selama konsisten dengan Syariat Allah. Tetapi sebuah dinasti tidak dijamin akan terus eksis, apalagi ketika ia sering membantu cara-cara kezhaliman.

Selamat merenungkan!

Mine.