Pemimpin Tidak Berkah

November 26, 2009

Dalam Islam, berkah itu dari kata ‘barakah’. Arti kata barakah sendiri banyak, antara lain kebaikan, rizki, kebahagiaan, karunia, dan sebagainya. Tetapi para ulama menjelaskan makna barakah sebagai: ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Rizki yang berkah, kalau dimakan/dipakai akan membuat kita ringan untuk berbuat kebaikan, atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Misalnya, Anda diberi motor oleh seorang teman secara ikhlas. Maka sejak Anda memiliki motor itu, ia begitu banyak membantu urusan Anda. Membantu berangkat kerja, membantu mengantar isteri belanja, membantu mengantar anak-anak, membantu bepergian ke majlis taklim, membantu menolong orang sakit, dll. Kalau motor itu tidak berkah, ia justru semakin menambah masalah. Sering macet, mogok, membuat urusan kacau, sering tabrakan, dimaki-maki orang, dll.

Contoh Keberkahan

Saya pernah dibelikan tiket bis malam jurusan Bandung oleh seseorang. Dalam hati sebenarnya “tidak enak”. Tetapi karena tidak mau menolak kebaikan orang, saya pakai juga tiket itu. Ternyata di jalan, saat mampir ke sebuah restoran, saya ijin ke kondektur mau shalat dulu. Masya Allah, saat saya kembali, saya telah ditingggal oleh bis itu. Padahal saya duduk persis di belakang kursi sopir. Perjalanan masih jauh, saya baru di Jawa Tengah. Tas dan barang-barang saya masih ada di bis itu. Alhamdulillah dompet masih saya pegang. Akhirnya saya ikut bis serupa itu yang menuju Jakarta, lalu turun saat dini hari di Cirebon.

Keesokan harinya, sesampai di Bandung saya kejar ke pol bis itu. Alhamdulillah tas dan barang-barang masih ada. Rasanya mau murka. Tetapi ironisnya, pengurus bis itu tidak ada ucapan tanggung-jawab yang bisa melegakan hati. Sepertinya pada “cuci tangan”. Saya pun tak mendapat ganti rugi apapun, termasuk ongkos tambahan yang saya keluarkan dari Cirebon. Yang lebih menyayat hati, makanan yang dibawakan ibu dari Malang basi, karena terlalu lama di jalan. Sedih-sedih sekali. Betapa ibu sangat menyayangi anaknya, tetapi makanan buatannya tidak bisa dikonsumsi, sehingga berakhir di tempat sampah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Maka dapat disimpulkan, tiket yang dibelikan itu bukan tiket berkah. Ia tiket pembawa masalah. Sebab selama ini kami tidak  mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu dalam perjalanan. Berbeda dengan rice cooker yang diberikan seorang teman kepada kami. Luar biasa, rice cooker itu diberikan bertahun-tahun yang lalu. Ia sangat handal, tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Kalau rusak, paling dudukan kakinya. Telah bertahun-tahun kami memakainya untuk memasak nasi. Hasil nasinya bagus, sebagus masak di tungku biasa. Tetapi cara masaknya sendiri lebih simpel, tidak berproses panjang seperti masak di tungku. Sampai anak-anak kami biasa memasak nasi memakai rice cooker itu. Sungguh, saya sering memuji rice cooker itu sebagai pemberian yang penuh berkah. Alhamdulillahil Karim ‘ala nia’mihil wasi’.

Apa saja yang kalau ditekuni, dinikmati, dipakai, membawa banyak manfaat, mendorong perbuatan baik, membuat kita semakin bersyukur kepada Allah, maka ia adalah perkara berkah. Sebaliknya, apa saja yang mendatangkan masalah, menambah kerepotan, menyakitkan hati, membuat hati semakin keras, membuat jiwa resah, membuat diri tidak tahu malu, membuat kita malas berbuat kebaikan, membuat urusan semakin sempit, dapat dipastikan bahwa ia adalah perkara munqathi’ (terputus) dari berkah.

Agar mendapat berkah, kuncinya sederhana, yaitu: al imanu wat taqwa. Iman berarti mengibadahi Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun, sedangkan taqwa berarti mentaati aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sekuat kesanggupan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Berkah dalam Kepemimpinan

Berkah itu menjangkau semua urusan manusia. Ia tidak terbatas pada soal makan-minum saja. Baju yang kita pakai bisa berkah, sendal yang kita pakai bisa berkah, isteri di sisi kita bisa berkah, anak-anak kita bisa berkah, pekerjaan kita bisa berkah, rumah, kebun, kendaraan, pensil, komputer, pisau, gelas, piring, dan sebagainya. Keberkahan bisa masuk ke urusan rumah-tangga, persahabatan, organisasi, perusahaan, bisnis, jual-beli, manajemen, pengelolaan masjid, dll. Termasuk keberkahan bisa masuk urusan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkah mendatangkan banyak kebaikan. Rakyatnya sehat, hidup tentram, dicukupi rizki, keadilan ditegakkan, mushibah menyingkir, musuh takut mengganggu, perselisihan mudah ditemukan solusinya, moral rakyat semakin baik, semangat ibadah mereka baik, praktik ribawi semakin sepi, perzinahan dan perbuatan keji semakin jauh, dan lain-lain. Bahkan, dengan pemimpin yang berkah, hawa/cuaca semakin ramah, saat musim kering tidak mematikan tumbuh-tumbuhan, saat hujan tidak menimbulkan banjir.

Namun pemimpin yang tidak berkah, dia menjadi pintu kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat semakin sengsara, ekonomi semakin sulit, ribawi merajalela, perzinahan, pelacuran, homoseks merajalela. Rakyat miskin semakin banyak, konflik dimana-mana, kejahatan/kriminalitas pesta pora, hukum diperjual-belikan, birokrat korupsi, sistem selalu buruk dan tumpang tindih. Orang munafik berkeliaran, kebohongan menjadi makanan sehar-hari, orang asing menjarah kekayaan negeri, kehormatan dilecehkan, rakyat putus-asa, para pemuda stress, dan sebagainya. Termasuk datangnya bencana dari segala arah, bencana alam, kecelakaan transportasi, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit, skandal korupsi, dan sebagainya.

Itulah beda antara pemimpin berkah dan pemimpin munqathi’ (terputus berkahnya). Jika seorang pemimpin beriman dan bertakwa, insya Allah kepemimpinannya akan berkah. Kalau pemimpin hanya “saleh lisannya saja”, atau “hanya saleh retorikanya”, dijamin rakyatnya akan menderita.

Pemimpin apabila munafik lebih buruk dari pemimpin kafir, sebab dia membawa dua keburukan sekalgus: (1) Buruk hatinya karena kafir kepada Allah; (2) Buruk sikapnya karena menyembunyikan kekafiran, menampakkan kesalehan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan