List Artikel Seputar Syiah (Rafidhah)

Maret 5, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Berikut ini beberapa artikel seputar Syiah yang telah dimuat di blog “abisyakir”. Sengaja dimuat sebagai list, untuk memudahkan menelaah. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

[o]. Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah.

[o]. Untuk Allah, Lalu Untuk Sejarah.

[o]. Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia.

Kalau tanganmu panas tersentuh api, hindarilah induknya segala api (neraka), selagi masih ada kesempatan hidup…

[o]. Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an.

[o]. Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

[o]. Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran.

[o]. Kebohongan Syaikh Idahram Atas Nama Arifin Ilham.

[o]. Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami.

[o]. Antara Anjing dan Manusia.

[o]. Wahai Muslimin Tolonglah Saudaramu di Suriah!

[o]. Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Tulisan-tulisan ini lumayan untuk berbagi pengetahuan. Bisa ditambahkan juga, artikel berjudul: 10 Logika Dasar Penangkal Syiah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari kesesatan dan bid’ah dan memberikan husnul khatimah. Allahumma amin.

Admin blog.

Iklan

Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami

Februari 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak awal saya percaya bahwa Said Aqil Siradj akan celaka; sungguh-sungguh akan celaka. Mengapa ada asumsi seperti itu? Apakah ada dendam, dengki, atau benci ke Said Aqil Siradj? Apakah hal itu berdasarkan kalkulasi politik, hitung-hitungan mekanisme pencitraan publik, atau analisis media? Apakah berdasarkan wangsit, mimpi, ilham, dan sejenisnya?

Bukan, bukan sama sekali. Dasarnya adalah hukum keadilan itu sendiri. Dalam Surat Ar Rahmaan, Allah Ta’ala mengatakan: “Wa wadha-al mizan, allaa tath-ghau fil mizan, wa aqimul wazna bil qisthi,  wa laa tuqshirul mizan” (Dia -Allah- telah meletakkan mizan keadilan, maka janganlah melampaui mizan itu, dan tunaikanlah timbangan secara adil, jangan mengurangi dalam timbangan). Ayat-ayat ini sangat menekankan, betapa dalam kehidupan ini Allah sudah meletakkan mizan keadilan, maka setiap insan dilarang melampaui mizan tersebut. Kalau melampauinya, berarti ia telah berbuat kezhaliman. Dalam hadits, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabba: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatin fil akhirah” (takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Akhirat nanti).

Said Aqil Siradj telah banyak berbuat kezhaliman, khususnya ketika dia baru datang dari Arab Saudi, setelah menyelesaikan studi doktornya. Baru juga sampai di Indonesia, Said sudah berkata: “Inni tubtu min Wahabi” (aku bertaubat dari Wahabi). Dalam masa 14 mendapat beasiswa di Ummul Qura Makkah, Said Aqil begitu segut (gembul) dalam makan-minum, menikmati uang saku, mendapat penginapan, fasilitas, transportasi, dan segalanya yang dibutuhkan. Bahkan 4 orang anak-anak Said, lahir di Makkah, dalam naungan kemurahan kaum Wahabi. Tetapi setelah Said kenyang dari semua itu, dia mendadak “bertaubat” dari Wahabi.

"Said Datang, Badai Menyerang" (sumber foto: mediaindonesia.com).

Bukan hanya soal taubat dari Wahabi, Said Aqil juga mulai gandeng-renteng dengan Syiah (Iran). Selain tentunya, gandengan dengan Bank Dunia, dalam rangka “memerangi teroris”. Said tak segan-segan mulai membela simbol dan ajaran Syiah. Dia bahkan menjadi sponsor utama terbitnya “Trilogi Idahram” yang isinya amat-sangat memfitnah dakwah Wahabi dan orang-orang yang meniti jalan di atas dakwah itu (atau yang tidak terkait sekalipun). Permusuhan Said tidak tanggung-tanggung, dia mengklaim bahwa Wahabi adalah musuh negara, karena kebanyakan “teroris” berpaham Wahabi. Itu menurut klaim dia. Hingga di majalah Tempo, secara terang-terangan Said mengaku diri sebagai penganut Syiah.

Disini kita lihat betapa berat kezhaliman yang sudah dilakukan oleh Si Said ini. Dia sudah diberi kemurahan oleh orang lain; bukan berterimakasih, atau sekedar menghargai semua itu. Tetapi dia balas semua kebaikan orang dengan permusuhan, adu-domba, fitnah, penyesatan, penikaman, dan sebagainya. Obsesi Said, dia berharap agar kaum Wahabi diperangi di Indonesia, seperti Densus88 memberanras para terduga teroris selama ini. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Nah, alasan-alasan itulah yang membuat Said jatuh dalam bencana dan kecelakaan perih. Tidak ada tempat lari baginya, meski harus ke ujung dunia sekalipun. Mengapa? Sebab dalam diri dan kehidupan Said sudah tertanam sangat banyak jasa-jasa baik orang lain. Kebaikan-kebaikan yang pernah dia terima akan menjadi “kanker” yang akhirnya menyerang dirinya sendiri, dari segala arah, dengan tiada satu pun mampu mencegah. Said berbeda dengan Abdurrahman Wahid. Kalau Wahid melakukan permusuhan kepada Islam dengan modal sendiri (atau modal keluarga), maka Said memusuhi Islam, lewat jasa baik manusia lain.

Salah satu dari bentuk kecelakaan Said, selain serial lain yang pasti akan menimpanya, adalah terbongkarnya perjanjian rahasia antara Said dan elemen-elemen Iran. Berita lengkapnya di situs hidayatullah.com berikut ini:

Syuriah PBNU Batalkan Kerjasama dengan Iran

Hidayatullah.com–Syuriah PBNU dikabarkan telah membatalkan kerjasama dengan Iran. Kabar ini disampaikan HM. Cholil Nafis, Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU kepada www.hidayatullah.com, (11/02/2012), Sabtu pagi.

Menurut Cholil Nafis, diam-diam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-‘Alamiyah, Qom, Iran.  Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Said Aqil menandatangani MoU itu bersama Muhammad Zain (Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz PBNU) dan Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat ikut dalam rombongan,” kata Cholil.

Kata Cholil, sebelumnya Said Aqil selalu menyangkal adanya MoU tersebut. Namun, ketika ditunjukkan dokumen itu, Said Aqil tidak bisa mengelak lagi. Pada Desember 2011 lalu, MoU itu pun dibatalkan oleh Dewan Syuriah PBNU.

Cholil mengatakan, MoU itu dibatalkan karena diputuskan secara sepihak tanpa musyawarah. Lagi pula, katanya, PBNU menilai Iran bukanlah pihak yang tepat untuk diajak kerjasama, khususnya dengan NU.* (Publikasi: Sabtu, 11 Februari 2012).

Selain itu, kecelakaan besar yang diterima Si Said adalah gelombang Tsunami yang menimpa kaum Syiah di Indonesia saat ini. Sepanjang sejarah Nusantara, belum pernah Syiah mendapat perlawanan sangat besar, dari segala penjuru, dan sangat telak; kecuali saat ini. Ajaran-ajaran sesat Syiah benar-benar dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kelicikan, konspirasi, kebejatan, kezhaliman, kebohongan, serta kehinaan mereka; walhamdulillah, berhasil disampaikan kepada Ummat Islam, seterang-terangnya. Hingga semua ini menyadarkan kaum Muslimin, sehingga ada upaya MUI untuk segera mengeluarkan fatwa sesat bagi Syiah.

Semua itu adalah akibat dari perbuatan-perbuatan provokasi Said Aqil Siradj yang sangat nafsu dalam menyerang dakwah Sunnah,  tanpa ampun. Di sisi lain, Said Aqil juga sangat nafsu ingin “mengkudeta” kedudukan dai-dai senior Syiah, seperti Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Umar Shihab, dll. Kalau dai-dai itu semula selalu menampilkan diri dengan pembawaan lembut, penuh perhitungan, dan bersikap “cinta damai”; maka Said juga muncul dengan sikap arogan, bledag-bledug, memfitnah, menyerang, dan seterusnya.

Bersama sekumpulan anak-anak muda Syiah yang sudah kenyang “main mut’ah” Syiah melakukan gerakan politik tersendiri, keluar dari mainstream Jalaluddin Cs. Sepertinya Said ingin menjadi imam Syiah untuk kawasan Asia Tenggara. Itu kan “jabatan menggiurkan”… Ya kan Said? Namun karena dia terlalu nafsu, sehingga melakukan serangan-serangan tidak kira-kira. Akibatnya, kini Said menjadi sakit; dia terhimpit dimana-mana; dicurigai dimana-mana; bahkan mengalami penolakan-penolakan dari ulama-ulama senior NU (Jawa Timur).

Said…Said… engkau lupa, bahwa setiap hujatanmu kepada Wahabi, Salafi, atau kaum Sunni; semua itu akan kembali menjadi LAKNAT bagi dirimu sendiri. Mengapa wahai Said? Sebab terlalu banyak jasa-jasa baik orang yang kamu musuhi, kini semua jasa itu bersarang dalam tubuhmu, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap laknatmu wahai Said, akan kembali ke dirimu sendiri.

Harapan yang bisa disampaikan, ialah agar Ummat benar-benar sadar, bahwa: Setiap kezhaliman itu akan berbalas kecelakaan bagi para pelakunya. Innallaha laa yuhibbuz zhalimin (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zhalim).

Said…Said…semakin lama engkau semakin sakit…

Al faqir ila Rahmatillah

(Joko Waskito bin Buang).


Realitas Bangsa Kita…

Oktober 4, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Memang sangat memprihatinkan kondisi bangsa kita saat ini. Prihatin sekali. Satu FAKTA saja. Sejak tahun 2002 di negeri kita sudah terjadi kasus-kasus bom (terorisme). Modusnya dari dulu sampai saat ini, masih sama. Secara logika, seharusnya kita sudah mendapat kesimpulan besar, siapa aktor intelektual di balik aksi bom-boman itu? Logikanya begitu.

Tetapi dalam menanggapi kasus-kasus terorisme itu, seakan semua media dan pengamat bersuara sama. Lagi-lagi mereka mengatakan, “Semua agama tidak mengajarkan terorisme.” Ada juga yang mengatakan, “Semua ini membuktikan bahwa program radikalisasi oleh pemerintah tidak efektif.” Ada juga yang berdalih, “Sebaiknya pembinaan agama yang lurus digencarkan di setiap keluarga.” Bahkan ada yang langsung tunjuk tangan, “Semua ini biang keroknya adalah Wahabi.” Saya mengira, semua omongan itu termasuk SAMPAH yang tak berguna sama sekali. Tak berguna dalam memintarkan masyarakat; tak berguna juga dalam memberantas terorisme.

Kalau mau, karena pernyataan-pernyataan itu selalu BERULANG dari waktu ke waktu; sebaiknya, kalau nanti ada kasus terorisme lagi, sudah saja pernyataan sebelumnya di-copy paste. Jadi tidak perlu membuat pernyataan baru, cukup disamakan dengan pernyataan lama. Baik koran, TV, atau website, cukup memuat ulang edisi-edisi lama mereka. Tak usah membuat edisi baru. Toh, isinya sama, otaknya sama, nyampahnya juga sama. Buat apa kita membuat sampah baru, kalau sampah lama masih “berguna”?

Media-media massa, para pengamat, dan masyarakat seperti tak mau sama sekali memakai “the conspiracy view” untuk melihat kasus-kasus pengeboman yang terjadi di tanah air selama ini. Pandangannya cenderung “tegak lurus”, sejak tahun 2002 sampai saat ini. Ini adalah fakta yang sangat memprihatinkan. Seolah di negeri ini tidak ada lagi orang pintar. Kaciannn…

RADIKALISME Seperti Bonsai. Tidak Boleh Tumbuh Besar; Kalau Mau Mati Cepat-cepat Disiram Air.

Untuk membuat aksi bom-boman itu, bagi yang memiliki sarana-sarananya, tidaklah sulit. Misalnya, dia membuat rekaman video berisi ancaman-ancaman bom, berisi semboyan-semboyan jihad; tak lupa background rekaman dibuat mirip milik aktivis jihad. Untuk menyembunyikan identitas, mereka memakai penutup muka. Kalau mau suara bahasa Arab, mereka rekam dulu, lalu dimuat dalam video secara dubbing. Setelah dibuat publikasi bahwa pelaku bom adalah “kaum mujahidin”, barulah dibuat ledakan bom yang dikendalikan oleh agen-agen intelijen. Untuk membuat hal-hal seperti ini sangat mudah, bagi yang punya akses senjata, informasi, dan dana.

Kalau tidak mau cara begitu, bisa dengan cara lain. Misalnya mendekati sekelompok pemuda Islam yang sangat anti pemerintah dan nafsu ingin segera perang. Mereka diprovokasi agar semakin berani melawan. Ujungnya, mereka disuruh melakukan “aksi bom bunuh diri”. Untuk biaya dan fasilitas, semua disediakan atas nama “infaq fi Sabilillah”. Adapun momentumnya disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau ada order politik, misalnya ingin ada pengalihan isu, tinggal dikontak calon pelaku bom bunuh diri.

Ada analisis jenius, katanya para pelaku aksi-aksi terorisme itu diperlakukan seperti tanaman BONSAI. Mereka terus dipelihara, tetapi tidak boleh besar dan menyebar. Cukup tumbuh kecil saja, seperti tanaman bonsai. Kalau tanaman itu mau besar, cepat-cepat dipangkas; kalau tanaman itu mau mati, cepat-cepat disiram agar terus hidup. Nah, stock pemuda-pemuda pelaku aksi teror itu selalu dipertahankan dalam jumlah kecil. Nanti “stock” ini sangat membantu untuk mengalihkan isu, ketika para penguasa mulai terpojok. Persis tanaman bonsai; tidak boleh besar, tetapi kalau mau mati cepat-cepat disiram.

Jadi, sumber TERORISME itu sendiri pada hakikatnya adalah elit-elit politik maniak itu. Merekalah yang memelihara kasus-kasus terorisme agar selalu tumbuh di tengah masyarakat; demi mengamankan posisi politiknya. Mereka itulah maniak-maniak -laknatullah ‘alaihim- yang sangat tidak memiliki belas-kasihan, baik kepada pemuda-pemuda Islam lugu itu, maupun kepada bangsanya yang sekian lama diteror oleh isu-isu terorisme.

Sementara media-media sekuler selalu bersikap membabi-buta, sentimen, dan tidak adil. Mereka sok suci dengan merasa benar sendiri. Padahal secara hakiki, mereka hanya mencari pendapatan ekonomi dengan menjual isu-isu sosial-politik dalam bentuk berita-berita, tanpa tanggung-jawab. Andaikan bertanggung-jawab, tentu mereka akan berani membuka info-info off the record di balik isu-isu terorisme itu.

Singkat kata, inilah realitas kehidupan bangsa kita…

[1]. Rakyatnya awam, kurang ilmu, mudah dibodoh-bodohi oleh media massa, pernyataan para pejabat, dan analisis para pengamat.

[2]. Para pejabatnya curang, munafik, dan tidak peduli kebaikan negerinya. Mereka banyak merusak kehidupan, tetapi berpura-pura sebagai para pahlawan. Kasihan sekali.

[3]. Para pemuda bersikap oprtunis dan hedonis. Mereka tak peduli dengan keadaan di sekitarnya dengan prinsip, “Yang penting happy!”

[4]. Para agamawan (misalnya seperti Said Aqil Siradj dkk.) berlomba-lomba menjilat kepada penguasa dengan tanpa rasa malu sedikit pun. Orang seperti itu tak segan-segan menunggangi isu terorisme untuk meraup untung, mendapat popularitas, serta “cari muka” di depan pejabat. Mereka ini oleh para penyair diumpamakan seperti “burung gagak” yang mengais-ais sisa bangkai yang berjatuhan dari mulut binatang buas.

Inilah kondisi bangsa kita. Rakyatnya mudah dibodoh-bodohi, para birokratornya menghalalkan tipu-menipu, para pemuda yang dianggap sebagai “penggerak perubahan” telah terpenjara oleh hedonisme, serta para agamawan -seperti Said Aqil Siradj- lebih banyak menjual agama daripada membela agama dan Ummat. [Said Aqil Siradj ini bisa disebut “bisnisman sukses”. Lalu apa yang dia bisniskan? Ya itu tadi, AGAMA. Semoga Allah Ta’ala menodai orang ini dengan penodaan besar, karena dia begitu intens menodai kehormatan kaum Muslimin. Allahumma amin Ya Salam Ya Malik].

Kondisi bangsa kita sangat memprihatinkan. Harapan terjadi perubahan dan bangkit kejayaan, seperti lamunan kosong. Tetapi…bagaimanapun juga, Allah Ta’ala Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Irhamna ya Arhama Rahimin, irhamna. Amin.

AMW.