Antara “Salafi” dan Demokrasi

Desember 24, 2009

Pihak yang dimaksud Salafi ini adalah siapa saja yang berbangga menyebut diri sebagai Salafi, dan merasa yakin mendapat pahala dengan memakai sebutan itu. Jadi Salafi yang dimaksud bukan setiap Muslim yang berkeyakinan bahwa dalam beragama ini kita harus mengambil teladan Salafus Shalih, yaitu Nabi Saw dan para Shahabat, Tabi’in, serta Tabiut Tabi’in radhiyallahu anhum.

Kalau mau jujur, para Salafiyun sebenarnya juga memahami mana yang benar dan mana yang salah dalam sistem perpolitikan. Ya, kalau kajian mereka sudah membahas sedemikian detail tentang “celana panjang dalam shalat”, “mengangkat celana”, “hukum memakai pantalon”, “hukum memakai dasi”, “hukum cadar wanita”, dll. tentu mereka sudah memahami urusan yang lebih besar dari itu. Iya kan.

Satu bukti, tentang isu DEMOKRASI. Sejak dulu sampai saat ini, para Salafiyun memiliki sikap yang tegas dalam masalah demokrasi ini. Majalah As Sunnah, Salafy (dulu), Al Furqan, Adz Dzakhirah, Asy Syariah, dll. mereka seragam memberi penilaian terhadap demokrasi. Di mata mereka, demokrasi itu: Haram, tasyabbuh dengan perilaku orang kafir, duduk-duduk dengan orang munafik, mempermainkan ayat-ayat Allah, menyekutukan Allah dalam soal penetapan hukum, dll.

Intinya, demokrasi itu haram total. Tidak ada toleransi. Secara tinjauan Syar’i, sebenarnya kita sepakat dengan pandangan itu. Sama sepakatnya dengan kritik tajam Abul A’la Al Maududi rahimahullah terhadap sistem demokrasi. Tetapi dalam amaliyah siyasah, ada hal-hal tertentu yang masih bisa dimanfaatkan dari sistem demokrasi. Tetapi hal itu sifatnya dharuriyyah (darurat), bukan dalam situasi normal.

Dalam tulisan di majalah, buku, situs-situs internet, blog-blog, dll. betapa sangat tegasnya sikap Salafiyun terhadap demokrasi. Hal itu telah menjadi rahasia umum yang tidak perlu diragukan lagi.

Untuk memperkuat sikap ini, muncullah buku Madarikun Nazhar Fis Siyasah (pandangan tajam terhadap politik). Buku ini ditulis oleh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi. Ia seolah menjadi legitimasi penguat tentang sikap tegas Salafi terhadap sistem demokrasi. Dalam buku itu, demokrasi bukan saja dikritik habis, tetapi FIS Aljazair juga mendapatkan serangan-serangan luar biasa.

Salah satu contoh. Penulis buku Madarikun Nazhar menyebutkan sepucuk surat yang ditulis oleh Ustadz Ali bin Hajj yang isinya memerintahkan anggota FIS untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh regim militer Aljazair. Surat itu dokumen resmi, disebutkan copy-nya oleh Abdul Malik dalam buku tersebut. Tetapi yang sangat menyakitkan dari bukti yang disebutkan Abdul Malik adalah: Dia menuduh Ali bin Hajj bertanggung-jawab atas pembantaian kaum Muslimin Aljazair yang menewaskan puluhan ribu manusia (ada yang menyebutkan sampai 50.000 pemuda dan warga Aljazair).

Lihatlah, betapa kejinya seorang Abdul Malik yang diklaim sebagai ulama hadits itu. Sangat keji dan keji sekali. Sangat memalukan, orang seperti ini dikaitkan-kaitkan dengan As Sunnah Nabawiyyah yang suci. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mari kita bahas tuduhan Abdul Malik terhadap Ali bin Hajj:

[1] Menyebutkan dokumen rahasia seperti itu di depan umum, secara terbuka, tentu bukan yang diinginkan oleh si pengirim surat (Ali bin Hajj). Dan bagi Ummat Islam, hal itu juga tidak bermanfaat diketahui, malah bisa menimbulkan fitnah di kalangan Ummat sendiri. Kalau seorang ulama itu wira’i, dia akan hati-hati menyebut dokumen seperti itu, sekalipun dirinya berada di atas kebenaran. (Seperti misal, seseorang melihat hilal Idul Fithri secara sendirian, sedangkan negara sudah memutuskan besok tetap puasa. Alangkah baik, dia membatalkan puasa sendiri, tanpa memaksakan hasil penglihatannya untuk menggugurkan keputusan negara).

[2] Darimana Abdul Malik bisa menyimpulkan bahwa Ali bin Hajj bertanggung-jawab terhadap pembantaian itu? Siapakah Ali bin Hajj? Apakah dia sebuah negara? Apakah dia sebuah kekuatan militer hebat? Apakah dia setangguh NATO? Apakah dia setangguh Saddam Husein, Muammar Khadafi, Hafezh Assad, dll.? Siapa ini Ali bin Hajj? Apakah suratnya mampu menimbulkan gelombang aksi bersenjata yang hebat? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ali bin Hajj itu hanya pribadi, seorang orator, atau pemimpin FIS. Sementara FIS sendiri bukanlah kekuatan bersenjata. Mereka hanya partai politik Islam di Aljazair. Korban pembantaian sampai 50.000 itu dalam sejarah manusia hanya mungkin dilakukan oleh kekuatan senjata yang hebat. Tidak mungkin FIS yang melakukannnya, juga Ali bin Hajj. Mereka terlalu jauh untuk itu. Andai mereka memiliki kekuatan militer hebat, mengapa harus ikut Pemilu segala? Sudah saja, gunakan kekuatan mereka untuk berkuasa. Iya kan.

[3] Betapa piciknya pandangan Abdul Malik ketika menimpakan kesalahan penyebab pembantaian Aljazair ke pundak Ali bin Hajj. Sementara dia tidak menyinggung sama sekali tangan-tangan regim militer Aljazair dan Perancis yang berlumuran darah kaum Muslimin. Itukah yang dinamakan keadilan? Kesalahan dilimpahkan ke punggung Ali bin Hajj, sementara tangan-tangan keji yang merengut nyawa-nyawa kaum Muslimin dari kaum pendosa yang ditolong orang kafir, mereka sama sekali tidak disinggung. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[4] Adalah menjadi hak Ali bin Hajj dan tokoh-tokoh FIS untuk membela diri, menghentikan kezhaliman regim militer, atau apa saja yang memungkinkan, untuk menyelamatkan tujuan perjuangan Islam. Mereka bukanlah pihak yang memulai, tetapi menjadi korban kezhaliman regim militer Aljazair. Mereka hanya berusaha sekuat kemampuan membela diri dan mengamankan kemenangan politik yang sudah diraih. Dalam Surat An Nahl 126, kalau kita mendapat serangan oleh suatu kaum, kita boleh membalas dengan serangan setimpal. Jadi ini tindakan REAKSI, bukan AKSI.

[5] FIS dipersalahkan dengan segala salah yang melampaui batas. Banyak sekali tuduhan-tuduhan keji dialamatkan atas mereka. Buku Madarikun Nazhar itu salah satu contoh terbaik cara membukukan tuduhan-tuduhan keji kepada FIS. Okelah, FIS memiliki banyak kesalahan dan kelemahan. Ya, tidak kita pungkiri. Namun jangan pula, kita malah menghukum saudara yang bersalah, tertimpa mushibah besar, lalu dicaci-maki secara keji. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Dalam hadits, Nabi Saw melarang para Shahabat memukuli atau menyumpah-nyumpah seseorang yang selalu berdosa meminum khamr. Nabi mengatakan, “Janganlah kalian menolong syaitan.” Sudah jelas, dia bersalah minum khamr, dan berulang-ulang. Tapi tidak boleh dihina-dinakan. Apalagi ini, saudara-saudara kita yang berniat membela Islam, lalu ditindas sangat kejam. (Ya Allah ya Rabbi, aku tidak ridha dengan segala hujatan kepada FIS. Andai Abdul Malik Ramadhani saat ini hadir di Indonesia, aku akan mendatanginya. Akan aku tantang dirinya, dengan segala keterbatasan ilmu yang kumiliki).

[6] Mengapa perjuangan FIS berakhir menjadi mushibah di Aljazair? Apakah ini salah FIS, salah niat mereka, salah tokoh-tokohnya? Tidak, wahai Akhi dan Ukhti. Ya, secara manusiawi siapapun punya salah, tidak terkecuali anggota FIS. Tapi kesalahan terbesar adalah SIKAP DIAM DIRI kaum Muslimin dan para ulamanya. Ketika kemenangan FIS di Alajzair dirampas, semua negara-negara Arab berdiam diri. Mereka tidak mau menolong atau membantu. Mesir, Maroko, Sudan, Libya, Saudi, Kuwait, dll. semua berdiam diri. Termasuk Indonesia dan kaum Muslimin disini. Padahal FIS bukanlah kekuatan bersenjata, sehingga tak akan sanggup menghadapi militer Aljazair yang didukung oleh Perancis. FIS itu partai politik Islam biasa, berbeda dengan Hamas di Palestina.

Setidaknya, sebagai sesama bangsa Muslim Aljazair, Abdul Malik Ramadhani malu untuk membuka aib-aib saudaranya sendiri. Membuka aib mereka sehingga tersiar ke seluruh dunia, bukan hanya mempermalukan FIS, tetapi mempermalukan dirinya juga. Bagi seorang ulama Sunnah sejati, mustahil akan melakukan hal-hal seperti ini.

Buku Madarikun Nazhar itu semacam dokumentasi sikap tegas Salafiyun terhadap demokrasi. Ya, ini adalah fakta yang tak terbantah lagi. Pendek kata, dalam masalah demokrasi, Salafi sudah ijma’ mengharamkannya. Bahkan terlibat dalam urusan itu saja, dilarang.

Pertanyaannya, dengan dalil apa mereka mengharamkan praktik demokrasi dengan segala hiruk-pikuknya?

Jawabnya, tentu dengan dalil-dalil Syar’i, yang bersumber dari pandangan Kitabullah, As Sunnah, dan pendapat para ulama. Intinya, dengan pandangan Syariat Islam mereka menolak demokrasi. Hal ini menjadi bukti besar, bahwa sebenarnya Salafi tidak terlalu buta masalah politik. Mereka mengerti juga. Buktinya, ya pandangan mereka terhadap demokrasi itu sendiri.

Hanya nanti akan muncul IRONI ketika kita ajukan kepada mereka urusan-urusan politik yang lain. Misalnya, soal kepemimpinan, sistem negara, penegakan Syariat Islam, hukum positif, sistem Islami, dan sebagainya. Nanti, tiba-tiba pendapat mereka muter-muter, tidak karuan. Nanti mereka akan otomatis mengeluarkan “senjata pamungkas”, yaitu: Taat Ulil Amri.  Ini sudah menjadi lagu lama yang diulang-ulang terus.

Dalam konteks demokrasi, mereka bisa memahami dengan baik hukum demokrasi itu, dan pendapat mereka benar. Tetapi saat bicara kepemimpinan, penegakan Syariat, sistem daulah, sistem Islmi, dan sebagainya, mereka seperti “mati kutu”. Semua dalil-dalil yang semula dipakai untuk mengkritik demokrasi, tiba-tiba lenyap.

Nah, ini ada apa sebenarnya? Itulah misteri yang selalu menjadi pertanyaan kita selama ini. Kadang di satu sisi sangat tegas memegang dalil Syar’i, tetapi di sisi lain amat sangat longgar, bahkan mencari-cari pembenaran.

Secara pribadi saya khawatir, teman-teman Salafi ini, mereka dikendalikan oleh suatu maksud untuk menghalangi segala upaya perjuangan kebangkitan Islam. Coba saja Anda perhatikan secara jeli, hampir semua isu yang laku di kalangan Salafi, cenderung berefek negatif bagi usaha kebangkitan Islam.

Setidaknya, sifat-sifat kaum Shufi banyak berkembang di kalangan mereka. Cenderung eksklusif, merasa benar sendiri, memakai atribut tertentu, sangat patuh ustadz/syaikh, sikap kritis tidak berjalan, fanatisme kelompok, acuh dengan masalah Ummat, dan sebagainya. Sifat-sifat ini mirip sekali dengan perilaku kaum Shufi di masa lalu.

Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan