Bangsa Indonesia Terlalu Sering Ditipu Media Massa, Pengamat, Politisi, Akademisi, Lembaga Surve Abal-abal, dan Sejenisnya

Maret 22, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa yang kita saksikan sekarang ini berupa Euforia Jokowi bukanlah kejadian pertama dalam kehidupan bangsa kita. Kita sudah sangat sering mengalami gegap-gempita pemberitaan semacam itu. Hasilnya, kita ditipu, ditipu, dan kembali ditipu. Para penipu girang karena mendapat uang, bonus, honor, insentif, dan seterusnya. Sedang sebagian besar rakyat menderita akibat semua penipuan itu.

"Kasihanilah Rakyat dan Bangsamu!"

“Kasihanilah Rakyat dan Bangsamu!”

Pangkal masalahnya ialah karena bangsa kita MUDAH LUPA, GAMPANG DITIPU, dan MANUT SAJA mengikuti apapun yang diberitakan media. Mereka tidak memiliki nalar kritis, sikap mandiri, atau kedaulatan sikap sebagai manusia merdeka. Para ahli sering mengatakan keadaan ini dengan ungkapan, the short memory lost. Bangsa kita begitu mudah lupa terhadap kejadian-kejadian yang belum lama terjadi.

Kondisi ini lalu dimanfaatkan oleh kaum VIRUS BANGSA untuk mengelabui rakyat ini, membodoh-bodohkan mereka, menipu, menindas, dan mengeksploitasi sedalam-dalamnya. Para virus bangsa itu adalah: media-media massa, para pengamat politik, para politisi, para akademisi bayaran, lembaga surve order minded, dan sejenisnya. Mereka ini disebut virus bangsa karena memang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali atas nasib ratusan juta anak bangsa yang menderita akibat semua kelakuan mereka. “Selagi Gue bisa happy-happy, bodo amat dengan rakyat. Emang mereka mikiran Gue?” Begitulah ungkapan tidak tahu malu yang sering menjadi motto kehidupan mereka.

Sampai batas tertentu, para penipu atau virus bangsa itu sampai meyakini hal-hal semacam ini:

“Zaman sekarang yang penting duit, duit, duit Bos. Sudahlah gak usah munafik. Kamu suka duit juga kan. Kalo punya duit kamu bisa main cewek, bisa makan di restoran mahal, bisa pelesir ke luar negeri, bisa belanja barang-barang branded. Kamu juga nanti dipuja-puja keluarga besarmu, disebut orang sukses. Kamu dielu-elukan almamatermu, didaulat memberi orasi ilmiah, diminta mengisi pengajian tentang hikmah Maulid Nabi. Kamu terhormat, mobil minimal Camry, punya kans jadi politisi Senayan, punya banyak fans, porto folio diterima baik oleh bank, dan sebagainya. Maka itu, sudahlah, tidak usah munafik. Dalam hidup ini jangan alim banget. Jangan saleh banget. Kalau mau sukses, kamu harus berani kejam. Kamu harus berani memakai manajemen mafia. Rakyat itu bodo-bodo, sampah, tak berguna. Jalan termudah jadi orang keren, hebat, happy-happy adalah menjual nasib rakyat dan bangsa. Persetan dengan cinta tanah air. Persetan dengan agama. Persetan dengan dosa-neraka. Aku tak peduli. Yang penting happy, happy, happy forever forever.”

Orang-orang begini inilah yang telah sekian lama membuat bangsa ini menderita, susah hidupnya, melarat terus, kezhaliman merata, korupsi menggurita. Ya karena kaum virus bangsa ini sangat banyak, ada di mana-mana. Mereka hidup sehari-hari seperti binatang. Tidak ada nikmat ruhani sedikit pun dalam jiwanya. Semakin bertambah syahwat yang mereka reguk, semakin menderita jiwanya. Mereka telah melupakan Allah, lalu Allah pun membuat mereka lupa pada dirinya sendiri. Na’dzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Apakah Anda pernah menyangka, merasa, atau menduga, bahwa kehidupan ini sepenuhnya berada dalam kendali manusia-manusia moral rendah sejenis itu? Apakah mereka berkuasa atas alam kehidupan ini? Apakah mereka bisa menunda kematian atau memperlama kehidupan? Tidak sama sekali. Mereka hanyalah obyek kehidupan. Segala hal tetap dan pasti di Tangan Allah Ta’ala.

Manusia-manusia durjana itu bisa senang-senang, tertawa ngakak, dan terus menipu manusia, karena belum habis jatah nikmat bagi mereka. Pintu-pintu hedonisme terus terbuka sampai habis jatahnya. Kalau sudah habis…hendak bersembunyi ke mana pun mereka akan dikejar oleh tentara-tentara Allah (para Malaikat-Nya). Itu hanya menanti waktu saja.

Oh ya, mari kembali ke topik semula, rentetan panjang penipuan publik yang biasa dilakukan kaum virus bangsa: media massa sekuler, pengamat politik, politisi busuk, akademisi bayaran, surve abal-abal, dan sejenisnya. Di sini kami ingin kembali ingatkan fakta-fakta sejarah yang sudah banyak dilupakan bangsa ini. Intinya, gegap gempita pencitraan Jokowi saat ini, ia bukan pertama kali terjadi. Itu sudah sering dan sering terjadi.

Mari kita buka fakta sejarah satu demi satu, bismillah…

[1]. Tahun 1997 Soeharto menghadapi Krismon. Dia ingin menempuh solusi Krismon secara mandiri. Tapi media-media massa dan para pengamat ekonomi terus berkoar-koar: “Minta bantuan IMF! Minta bantuan IMF! Ini sangat darurat. Tidak ada jalan lain, minta bantuan IMF!” Begitulah teriakan media-media dan para pengamat. Akhirnya Soeharto menyerah. Dia tak sanggup hadapi tekanan opini media. Soeharto pun minta bantuan IMF sehingga ditanda-tangani LoI. Setelah LoI disepakati, ekonomi Indonesia ancur-ancuran, sampe sekarang. Direktur IMF sendiri dengan bangga mengklaim, bahwa dirinyalah yang telah menghancurkan Soeharto.

[2]. Tahun 1998 terjadi demonstrasi massal di seluruh Indonesia. Penggeraknya para mahasiswa kampus. Para demonstran didukung penuh oleh semua media, politisi, pengamat. Mereka serukan: “Soeharto mundur! Soeharto mundur! Gantung Soeharto!” Puncaknya pada Mei 1998 terjadi kerusuhan besar di Jakarta. Akhirnya Soeharto pun menyerah, dia mundur. Sejak Soeharto mundur, masuklah bangsa Indonesia ke era Reformasi. Faktanya, sejak masuk zaman Reformasi, kehidupan rakyat Indonesia tidak lebih baik.

Sedikit komparasi data, biar anak-anak muda zaman sekarang tahu. Waktu itu harga beras termahal sekitar Rp. 1000/kg. Sekarang harga beras standar Rp. 10.000/kg. Harga bensin di era Soeharto sekitar Rp. 700,- per liter, sekarang hampir Rp. 7000,- per liter. Di era Soeharto listrik murah, biaya sekolah murah, buku paket diberikan/dipinjami oleh negara, biaya obat/klinik juga murah, mencari pekerjaan mudah, jenjang karier PNS/TNI/Polri jelas dan stabil. Jauh sekali dengan kondisi saat ini. Di era Reformasi, rakyat berpolitik secara bebas, tapi kehidupan sosial kaliren (sengsara).

[3]. Tahun 1999 Presiden BJ. Habibie mau ikut pencalonan sebagai presiden. Beliau baru memimpin menggantikan Soeharto sekitar 1,5 tahun. Melihat kenyataan itu media-media, pengamat, politisi, sepakat mengeroyok Habibie. “Jangan Habibie. Dia koruptor. Dia anak emas Soeharto. Pokoknya jangan Habibie.” Banyak sekali seruan untuk menghadang Habibie. Padahal dia terbukti berhasil mengendalikan kondisi bangsa setelah diamuk Krisis Moneter. Alhasil Habibie tak bisa menjadi presiden lagi karena dibarikade oleh kaum virus bangsa. Yang terpilih justru Gusdur. Namanya Gusdur, sudah lumpuh, buta, kontroversial, tak punya pengalaman memimpin negara. Akibatnya negara morat-marit gak karuan. Nyaris negara ini hancur kalau Gusdur lebih lama memimpin. Padahal media-media massa, pengamat, politisi, akademisi, dan sejenisnya itulah yang sebelumnya mengelu-elukan citra Gusdur. Terbukti, dia tak bisa apa-apa. Habibie yang berkualitas ditolak, Gusdur yang gak bisa apa-apa didaulat menjadi pemimpin.

[4]. Kondisi yang mengitari Jokowi saat ini mirip sekali seperti kondisi menjelang Pilpres 2004.  Waktu itu media-media massa, pengamat, politisi, akedemisi kacung sepakat mengelu-elukan SBY. “SBY harapan baru indonesia. Orang ini hebat. Santun, tegas, cerdas. Kasihan dia dizhalimi Megawati. Indonesia akan maju di tangan SBY. I love U full.” Begitulah segala puja dan puji mendukung SBY. MetroTV termasuk yang amat “I love U full” ke SBY. Ini semua terjadi karena SBY sudah direstui oleh jaringan pengusaha China asal Medan-Jakarta-Surabaya. Apa akibatnya setelah SBY jadi Presiden? Luar biasa, baru saja memimpin Indonesia “diberi hadiah” Tsunami terbesar sedunia. Dan rentetan bencana seolah tak ada habisnya di tangan orang ini. Tahun 2005 SBY naikkan BBM lebih dari 100 persen. Rakyat semua megap-megap.

[5]. Tahun 2009 SBY nyalon lagi. Sebenarnya potensi SBY kalah sangat besar, karena kepemimpinan dia selama 2004-2009 sangat menyengsarakan. Tapi SBY cerdik, dia pandai memanfaatkan media dan lembaga-lembaga surve untuk memenangkan citra. LSI, Saiful Mujani, Deny JA. termasuk yang sangat agressif mendukung SBY. Media-media TV juga terus mengelu-elukan SBY. SBY juga memainkan instrumen BLT untuk merebut simpati rakyat. Dan dia juga masuk ke sistem kalkulasi online KPU. Sistem software KPU inilah yang sangat mengancam proses pemilu secara jujur. Setelah SBY jadi presiden lagi, penderitaan rakyat semakin panjang dan lama. Selain itu banyak terkuak kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit Demokrat.

[6]. Ada kejadian sangat aneh sekitar tahun 2008-2009, yaitu Mega Skandal Bank Century. Ketika itu SBY, jajaran menterinya, Boediono, para pengamat ekonomi UI, dan media-media partner secara intensif menipu publik: “Kalau Bank Century tidak diberi bailout, nanti akan menyebabkan dampak sistemik. Waktu itu sedang terjadi Krisis Global.” Padahal nilai aset Bank Century tidak ngaruh dalam industri perbankan nasional. Kalau pun bailout itu dibenarkan, mengapa dana talangan yang semula disepakati sekitar 600 miliar membengkak sepuluh kali lipat menjadi 6,7 triliun? Bahkan pencairan yang triliunan rupiah itu dilakukan di hari Sabtu dan Minggu, tanpa melapor Wapres (Jusuf Kall)? Tetapi SBY dan media-media partner terus berkilah “dampak sistemik”. Ya begitulah, rakyat terus ditipu, ditipu, dan ditipu lagi.

[7]. Media-media massa, pengamat, akademisi, politisi, juga berperanb sangat kuat dalam menggulirkan opini seputar Bibit-Chandra (dua ketua KPK). Waktu itu keduanya sedang berhadapan dengan Susno Duadji. Media mengangkat isu “Cicak Vs Buaya”. Semua media waktu itu sepakat berdiri di belakang Bibit Samad dan Chandra Hamzah. Keduanya menyebut istilah “kriminalisasi KPK”. Alhasil kedua pimpinan KPK mendapat dipensasi hukum. Mereka tidak diadili atas tuduhan apapun. Padahal menurut Muhammad Nazaruddin, Chandra Hamzah pernah datang ke rumahnya, lalu menerima titipan uang. Terbukti kemudian pengakuan Nazaruddin sering terbukti di persidangan. Media-media massa dan pengamat begitu bernafsu membela Bibit-Chandra, sampai mereka lupa bahwa SBY sudah melakukan campur tangan hukum dengan membentuk tim pencari fakta. Itu pelanggaran tatanan kenegaraan.

[8]. Ingatlah saat pergantian Ketua PSSI, Nurdin Halid. Kami tak butuh apapun dari masalah sepak bola ini. Hanya ingin mengingatkan betapa bodohnya bangsa ini ketika ditipu media terus-menerus. Waktu itu media massa terus-menerus mendesak agar Nurdin mundur, diganti orang lain. Katanya, “Kalau Nurdin mundur, beres semua masalah PSSI.” Aksi-aksi suporter bola terjadi dimana-mana. Mereka menuntut Nurdin Halid mundur. Begitu hebohnya sampai sebagian bonek asal Surabaya sengaja membuat kemah di Senayan, di depan sekretariat PSSI. Lalu apa yang terjadi setelah Nurdin mundur? Apakah PSSI semakin solid? Apakah urusan sepak bola Indonesia semakin hebat? Ya semua sudah tahu, pengurus PSSI malah pecah dan saling menghujat. Kompetisi PSSI terbelah dua, LSI dan LPI. Konflik semakin tajam. Nasib PSSI tambah runyam. Sampai saat ini, akibat konflik itu masih ada.

[9]. Terkait perkembangan dakwah Islam. Media-media massa, para pengamat, politisi, akademisi, pejabat, dan seterusnya sepakat mengelu-elukan dai kondang, Aa Gym. Semua TV punya siaran terkait Aa Gym. Kalau bulan Ramadhan tiba, Aa Gym menjadi “raja media”. Aa Gym disukai karena: tak pernah bilang “orang kafir”, tak pernah bilang “orang sesat”, tak pernah bilang “Syariat Islam”, tak pernah menyinggug perasaan penganut agama lain, dan seterusnya. Tetapi ketika Aa Gym ketahuan melakukan poligami, seketika itu dia dihujat, dihajar habis, dikuyo-kuyo sampai tandas, dizhalimi sedalam-dalamnya. Alhasil Aa Gym merasa “sakit hati” dan tidak seramah dulu ke media-media massa. Masyarakat sebagai pengagum Aa Gym pun tinggal mengikuti saja. Apapun yang dikatakan media massa, mereka amini. Media bilang A, ya diikuti A; media bilang merah, diikuti merah; media bilang ‘kacau’, rakyat pun ikut berseru ‘kacau’. Kok gak meras malu ya…

[10]. Tahun 2012 Jokowi-Ahok jadi kandidat Gubernur DKI. Media-media, pengamat, politisi, juga ramai-ramai dukung keduanya agar jadi gubernur DKI. Semua sepakat Jokowi-Ahok harus gusur “kumisnya” Foke. Hanya beberapa lama setelah terpilih jadi gubernur, Jokowi keteteran. Ahok kerjaannya marah-marah mulu, seperti orang stress. Dan lebih parah lagi, Jokowi akhirnya lebih banyak bekerja untuk PERSIAPAN JADI PRESIDEN, bukan bekerja membereskan masalah DKI Jakarta. Lha, orang ini katanya jujur, amanah, rendah hati, tidak neko-neko; tapi justru kemaruk jabatan. Satu belum kelar, sudah nafsu ingin jabatan lain. Kata orang Sunda, ngurauk ku siku. Mau merengkuh apa saja dengan sikunya, karena saking rakus.

Sampai di sini kita jadi paham, bahwa memang rakyat kita begitu mudah dibodoh-bodohi. Sedangkan kaum cerdik-cendekia, para ilmuwan dan terpelajar, sibuk menyelamatkan urusan ekonomi masing-masing. Mereka tak berani turun ke landasan untuk mencerahi masyarakat. Untuk menyalakan suluh kebenaran. Mereka bersembunyi di balik segala kemapanan dan keenakan hidup yang sudah dinikmati.

Media-media massa, pengamat, politisi, akademisi bayaran, dan seterusnya mereka terus-menerus berdzikir dengan kata-kata: “Demi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.” Tapi kelakuan mereka busuk. Moral mereka lacur. Mereka gadaikan kehidupan rakyat dan bangsa, demi memenuhi syahwat hedonismenya. Kaum virus bangsa itu tak henti-hentinya menipu, menipu, menipu, dan menipu rakyat yang kebanyakan pelupa dan tidak kritis.

Ya Allah ya Rabbi, sampai kapan negeri ini terus dikuasai para penipu, penjilat, dan pengkhianat? Ya Allah haturkan ke tengah kami belas kasihan atas nasib berjuta saudara-saudara kami. Mereka manusia, mereka berharga, mereka punya kehidupan. Ya Allah ya Rabbi, selamatkan kami dan bangsa ini dari segala tipu daya para setan berwujud manusia. Ya Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qinaa adzaban naar. Amin Allahumma amin.

Salam hormat, kasih sayang, dan peduli bagi sesama anak bangsa yang lemah, tercecer, dan menderita. Haraplah kepada Allah Rabbul ‘alamiiin, ada masa depan baik menantimu, Saudaku.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).

Iklan

Anas Terlalu Menakutkan Bagi SBY

Februari 7, 2013

Tidak disangka, tidak dinyana, ternyata Anas Urbaningrum terlalu tangguh buat SBY. Semua politisi Demokrat tunduk kepada SBY dan patuh, tetapi Anas punya kekuatan untuk mbalelo. Hingga SBY butuh dukungan spiritual, saat ibadah Umrah, sekedar untuk mendesak KPK agar cepat-cepat memutuskan kasus Hambalang (yang katanya melibatnya Anas). Itu pun SBY tidak berani terang-terangan menyebut nama Anas.

Dulunya, Anas itu hanyalah sekedar nunut (ikutan), ngengnger (menumpang untuk mengabdi), atau ngiyup (ikut sekedar berteduh) di kendaraan politik Pak SBY, Partai Demokrat. Tetapi kini Anas telah memiliki kekuatan politik mandiri, yang membuat Ketua Dewan Pembina Demokrat itu seperti tak berdaya.

Sekedar catatan, saat Konggres Demokrat di Padalarang beberapa waktu lalu (saat itu M. Nazaruddin masih aktif di Demokrat), Anas telah menunjukkan kelasnya. Bukan hanya karena dia mampu menjadi Ketua Umum Demokrat; tetapi proses menjadi ketua itu dilalui setelah dia berhasil mengobrak-abrik benteng politik Cikeas. Saat itu manuver-manuver Anas berhasil membuat kekuatan politik Cikeas terbelah. Irfan Baskoro secara demonstratif mendukung Andi Malarangeng; tetapi di saat-saat menjelang pemilihan ketua umum, Ani Yudhoyono mendukung Anas, karena sebal dengan pendukung-pendukung Malarangeng. SBY sendiri hanya mampu menjadi “penonton” dengan ketidak-mampuan mengarahkan pendulum dukungan politik.

Beda: Batu Cadas dan Bakpao. Ya Bedalah...

Beda: Batu Cadas dan Bakpao. Ya Bedalah…

Kembali ke sosok Anas. Dia memiliki keahlian politik lumayan. Meskipun belum sekelas Akbar Tanjung, tapi dia punya kemampuan besar. Anas didukung oleh jaringan politik, media, serta kolega-koleganya sesama alumni HMI. Sosok Bambang Widjoyanto atau Abraham Samad di KPK, sedikit atau banyak punya hubungan emosional dengan Anas; karena mereka sama-sama alumni HMI. Militansi kaum HMI ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, banyak bermain dalam percaturan politik, kepemimpinan, dan birokrasi di Indonesia.

Kini pertanyaannya: sanggupkah SBY melengserkan Anas demi menyelamatkan Partai Demokrat?

Secara teori SBY mampu, sebab posisinya di Ketua Dewan Pembina Demokrat. Tetapi secara praktik, kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi. Bukan hanya karena karakter Anas, kelihatan pendiam tapi ngeyel, cukup menakutkan bagi SBY. Tetapi juga karena SBY sendiri nyaris tidak memiliki kemampuan politik yang memadai. Satu-satunya modal politik SBY adalah: R-E-T-O-R-I-K-A. Kemampuan ini tak berbeda dengan Abdurrahman Wahid dulu, hanya SBY lebih sopan dan soft retorikanya.

Politik retorika SBY tak akan mampu menghadapi kuatnya power politik Anas. SBY pasti tidak akan berani mengambil jalan vis a vis menentang Anas. Bukan hanya SBY, tokoh-tokoh pendukungnya seperti Dipo Alam, Jero Wacik, Sudi Silalahi, Ruhut Sitompul, Sutan Batoegana, Syarif Hasan, Marzuki Alie, dll. juga keder menghadapi Anas.

Seperti sudah berulang kali disampaikan, berbagai persoalan yang muncul di tubuh Demokrat, pada dasarnya bersumber dari minimnya kemampuan politik SBY. Sebagai politisi, SBY kurang memiliki karakter. Anas Urbaningrum, sosoknya seperti “feminim”, tetapi tekad dan ngeyelnya sangat jelas. Itulah yang tidak dimiliki SBY.

Dari sisi tekad dan mental, dua tokoh ini (Anas dan SBY) seperti batu cadas dan bakpao. Yang satu liat, satu lagi lumer. Meskipun posisi Anas terjepit, tapi karena liatnya, dia bisa survive (sampai saat ini). Sebaliknya, sosok satunya lagi seperti bakpao, lunak, imut, dan mudah dibelokkan kesana kemari. Dapat SMS sedikit, cemas; lihat hasil surve, cemas; ada laporan miring dari menteri, cemas. Ya begitu deh.

Ke depan, posisi Anas tampaknya masih akan aman. Paling-paling SBY akan memberikan solusi “jalan tengah” atau “sama-sama enak”. Itu sudah lagunya sejak dulu. Nasib Demokrat akan tetap tersandera kasus hukum Hambalang, sementara SBY akan menyiapkan retorika-retorika selanjutnya untuk menyempurnakan jati diri kepemimpinannya, sebagai ahli komunikasi.

Oke sekian dulu. Kurang dan lebihnya, mohon maap ya. Terimakasih, hatur nuhun.

Mine.

NOTE: Artikel ini merupakan contoh penggunaan media untuk tujuan SIYASAH, yaitu mempengaruhi dinamika politik di tengah masyarakat. Isi artikel itu tidak mencerminkan pandangan sebenarnya, hanya semacam “provokasi” agar kekuatan politik tertentu keluar dari rel nalar logis sikap politiknya.


SBY Penganut Teori Darwin…

November 11, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kadang tak dinyana, dalam hidup ini muncul kelucuan-kelucuan tertentu yang unik. Ketika banyak orang sedang menyorot kemampuan SBY dalam memimpin negara RI, tiba-tiba ada yang menyebut SBY sebagai, penganut teori Darwin. Tentu saja lucu. Kok bisa-bisanya sebagian orang mengaitkan SBY dengan teori evolusi Darwin…

Itu terjadi saat tanggal 10 November 2011 kemarin, dalam acara “Sarasehan Anak Bangsa” yang diadakan sebuah stasiun TV tertentu. Acara yang dipandu Kania Sutisna itu diaransemen seperti konferensi tokoh-tokoh dunia, dalam susunan meja-kursi melingkar. Dalam sidang-sidang PBB, IMF, international summit, dll. sering disusun dalam format seperti itu. Disana hadir banyak sekali tokoh-tokoh politik, akademisi, pengamat, anggota DPR, pejabat birokrasi, aktivis, budayawan, dll. Pendek kata, orang-orang berkelasnya Indonesia lah.

"Daripada Bicara Politik, Mendingan Minum Teh..."

Ketika Eep Saifullah Fatah diminta tanggapan tentang kepemimpinan SBY, dia melontarkan analisis, bahwa SBY sepertinya menganut teori evolusi Darwin. Dalam teori Charles Darwin, menurut Eep Saefullah, spesies yang paling kuat belum tentu bisa lolos dalam seleksi alam. Tetapi spesies yang paling pintar adaptasi, dialah yang akan lolos seleksi alam. Begitu pula dengan SBY. Politik SBY sangat pintar “beradaptasi”, sehingga selalu “lolos seleksi alam”.

Selanjutnya…saya tidak mengikuti sesi diskusi “Sarasehan Anak Bangsa” itu, sebab sudah keburu ngantuk. Maklum, setiap muncul spot iklan di TV, tiba-tiba “energi kantuk” itu begitu besar. Kondisi inilah yang membuat saya jarang mengikuti acara-cara TV sampai tuntas, seperti yang di-setting oleh pengarah acara TV. (Berbeda dengan acara “main bola” yang didominasi warna hijau-hijau. Tahulah…lapangan bola selalu hijau. Selain sedikit iklan, warna hijau itu sangat menyejukkan mata. Hingga ada “terapi hijau” untuk mata yang kelelahan).

Singkat kata, gelar bagi SBY bertambah lagi. Kini dia disebut sebagai “pengagum” teori Evolusi Darwin. He he he…

Oh ya, terkait sedikit tentang Teori Evolusi Darwin. Menurut para evolusionis dari kalangan pakar Biologi, Paleontologi, Geologi, Genetik, atau Sejarah; teori itu benar dan sah terbukti berdasarkan fosil-fosil. Itu kata mereka.

Tetapi, kalau kita konsisten dengan standar sains modern, sebenarnya teori Evolusi Darwin bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental sains itu sendiri. Benarkah demikian? Benarkah teori Evolusi Darwin bertentangan dengan sains modern? Apakah kesimpulan ini mengambil pendapat dari Dr. Harun Yahya dan kawan-kawan?

Alhamdulillah, disini kita bisa membuktikan bahwa teori Evolusi Darwin sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental sains, tanpa mesti merujuk kepada pendapat dari pihak tertentu. Sisi pertentangannya pada poin-poin antara lain sebagai berikut:

[A]. Dalam alam hayati, setiap spesies berdiri sendiri. Ia memiliki ciri-ciri berbeda dengan lainnya; meskipun pada sisi-sisi tertentu ada kesamaan. Inilah yang kemudian disebut sebagai “realitas keragaman” (variety). Sedangkan dalam teori Evolusi, setiap spesies dianggap merupakan hasil dari proses alam yang terjadi pada masing-masing spesies itu. Andaikan keragaman ini ingin ditolak, jelas para ilmuwan Biologi harus membuang ilmu seputar klasifikasi makhluk hidup.

[B]. Proses perubahan dari satu fase makhluk hidup -menurut teori Evolusi- ke makhluk hidup lainnya, pada dasarnya hanyalah FANTASI sains belaka. Ia tidak ada dasarnya apapun, selain hanya menduga-duga saja. Buktinya apa? Proses evolusi itu TIDAK BISA direkonstruksi dalam bentuk proses laboratorium yang bisa diamati, diteliti, atau dilihat secara kualitatif-kuantitatif. Jadi, semua itu hanya khayalan yang tak terbukti dalam eksperimen laboratorium.

[C]. Para pemuja teori Evolusi, ketika mereka meyakini kebenaran teori itu, pusat kesadaran mereka umumnya HANYA TERFOKUS pada bentuk-bentuk spesies yang memiliki kesamaan ini dan itu; bahkan lebih parah lagi, hanya terfokus pada bentuk-bentuk fosil yang ditemukan. Ini adalah pemahaman sains yang SANGAT PRIMITIF. Melihat eksistensi makhluk hidup, misalnya suatu spesies, tidak bisa hanya dari bentuk morfologisnya saja. Tetapi harus HOLISTIK, dilihat anatominya, habibat hidupnya, pola makan, pola regenerasi, keadaan iklim, pola hubungan dengan spesies lain, kualitas udara di suatu zaman, dll. Semua elemen-elemen itu berpengaruh terhadap KEMAMPUAN SURVIVE makhluk hidup (spesies). Kalau tidak percaya, coba lihat proses penelitian para pakar ketika mereka berusaha memperbanyak jumlah hewan langka melalui proses penangkaran. Disana, segala hal diperhitungkan dengan cermat dan lengkap. Meskipun hasilnya, kadang gagal juga (baca: tidak sukses menangkarkan hewan langka).

Antara Darwin dan Teori Pencitraan (gagal total deh...)

[D]. Dalam ilmu Fisika ada hukum “kekekalan massa”. Singkat kata, menurut kaidah ini, jumlah resultan massa yang berproses di alam ini selalu sama. Antara bahan yang dibutuhkan untuk proses dan hasil dari proses itu sendiri, kalau dihitung secara teliti, nilainya sama. Hingga disana ada ungkapan, “Massa tidak bisa diciptakan, dan tidak bisa pula dimusnahkan” (kecuali, oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Hal serupa terjadi dalam ranah energi.

Nah, teori Evolusi Darwin sangat runyam ketika dikaitkan dengan kaidah Fisika ini. Mengapa? Sebab dalam teori itu makhluk hidup dianggap terjadi secara kebetulan, berproses secara acak, eksis dalam hidup secara liar, tanpa mengikuti suatu mekanisme yang bersifat stabil, tetap, dan solid. Ide dasarnya ialah RANDOMISME, segala sesuatu eksis dan bekerja secara random (acak). Dan bila proses-proses itu dijabarkan dalam teori Fisika, ia menjadi tidak tepat. Disana, makhluk dianggap bisa muncul tiba-tiba, bisa hilang tiba-tiba. Suatu saat ada sekian banyak makhluk hidup, di saat lain lenyap tanpa bekas. Satu makhluk hidup bisa berubah-ubah menjadi makhluk lain yang lebih maju, lalu nanti bisa menjadi lebih buruk, dan seterusnya.

Paling tidak bisa dipahami, bahwa perubahan dari satu spesies ke spesies lain, hal itu jelas mengubah komposisi massa dan energi dari spesies bersangkutan. Pertanyaannya, ketika muncul spesies yang lebih maju dari spesies sebelumnya, jelas hal itu membutuhkan massa/energi baru. Lalu darimana massa atau energi baru itu diperoleh? Padahal katanya menurut hukum kekekalan, massa/energi tidak bisa diciptakan (selain oleh Allah).

Sebaliknya, jika proses evolusi menghasilkan spesies yang lebih buruk, itu artinya ada massa/energi yang lenyap. Lalu kemana larinya massa/energi itu? Padahal menurut hukum kekekalan, massa/energi tidak bisa dimusnahkan (selain oleh Allah).

Sampai disini, dan alasan-alasan lain yang tak bisa disebutkan disini, dapat disimpulkan bahwa teori Evolusi Darwin itu BERTENTANGAN dengan prinsip-prinsip Sains yang sudah baku. Jadi, itu teori yang salah.

Soal kemudian, dalam ranah politik nasional, ada ide untuk meng-impeachment SBY. Ya, itu konteksnya lain. Kalau saya ditanya tentang itu, “Ya, didukunglah!” (He he he…maaf ya Pak SBY).