Curhat Seorang Muslimah: Seputar Komersialisasi Dakwah!

April 14, 2012

Tulisan ini dimuat sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap kepedulian, sikap kritis, dan harapan-harapan seorang Muslimah yang disampaikan dalam salah satu komentarnya. Sudah dilakukan proses editing pada bagian-bagian tertentu. Semoga ungkap hati atau curhatan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk berbuat lebih baik. Amin Allahumma amin. Selamat membaca! _________________________________________________________________

"Kamu mau dakwah, apa nyari duit, Nak?"

Terus terang, komentar saya sebelumnya bukan karena apriori, tetapi itu berdasarkan pengalaman-pengalaman.

Waktu SD, dimana wali kelas kita sendiri ngasih contekan ujian akhir. Pengalaman adikku yang waktu itu juara umum di sebuah SMU, dimana dia ditekan oleh guru-guru disana agar ngasih contekan ke semua teman-temannya. Di hari pertama ujian akhir dia menolak ngasih contekan, dan beberapa temannya mengadu ke guru. Ajaibnya, yang dimarahi justru adikku. Dan cukup banyak cerita-cerita seperti ini yang kita dengar, atau mungkin kita pernah mendengar kasus Bu Siami di Surabaya yang menghebohkan itu.

Tapi  saya pun sama sekali tak bermaksud menafikan guru-guru yangg ikhlas mengajar. Hanya saja, cara-cara seperti ini ternyata cukup banyak disetujui oleh sekolah-sekolah kita.

Suamiku disini sering dipercaya jadi ketua panitia tabligh akbar. Waktu remaja saya pernah diajak ikut mengundang (penceramah) buat mengisi acara tabligh. Kadang kita harus menyesuaikan acara tabligh di tempat kita dengan mubaligh yang mau kita undang (dikarenakan jadwal undangannya padat). Walaupun ada kyai yang beranggapan kalau kita merayakan Maulid, nanti arwah Rasulullah akan datang ke tempat tersebut. Ketika ditanya, “Tapi kan Pak Kyai, banyak yang merayakan acara Maulid. Nanti arwah Rasulullah jadi bingung?” Pak Kyai menjawab, “Oh, nanti arwah Rasulullah akan datang ke perayaan Maulid yang diinginkannya. Mudah-mudahan tempat kita lah saat ini yang didatangi arwah Rasulullah.” Jawaban dari seorang Kyai yang aneh dan lucu.

Tapi sebenarnya, cukup banyak kyai/ustadz dari kalangan (yang suka Maulid) yang tahu kalau acara Maulid atau Rajaban bukanlah Syariat ajaran Nabi. Tapi mereka tetap menganggap itu suatu “sunnah”. Ternyata, alasan sebenarnya karena bulan Maulid dan Rajaban adalah masanya “panen” (honor dari jamaah –edt.).

Bila di bulan itu seharinya ada 5 undangan tabligh yang datang, sedangkan sang kyai maksimalnya hanya sanggup mengisi 3 saja; kalau bayarannya rata-rata 3 juta; berapa seharinya dia dapatkan kalau dikalikan sebulan!?! (9 juta kali 30 hari, sekitar 270 juta –edt.).

Kalau saya berpandangan, bahwa para juru dakwah dan lembaga-lembaga Islam seperti itu (karena saya mungkin lebih banyak melihat apa yang ada di sekitaran saya) lumayan banyak tahu soal tarif ustadz-ustadz kondang. Termasuk Habib-habib yang pro Syiah, karena kami dan rekan-rekan kami (sesama panitia penyelenggara tabligh, sering sharing soal ini).

Kami cukup sering mengalami pengalaman aneh, misalnya soal kyai yang protes karena uang amplop-nya katanya “tidak seperti biasanya”. Bahkan kami dengar curhatan Pak Lurah daerah sini. Beliau bercerita, “Pak Kyai, nanti ceramah di tempat saya ya. Tapi saya bisanya ngasih cuma 2 jt.” Jawaban Pak Kyai, “Aah Pak Lurah ini, tambah 1 juta lagi dong!” Seketika itu Pak Lurah langsung diam seribu bahasa. Pak Lurah menceritakan ini karena di masjid kami pernah ngondang kyai tersebut. Pak abisyakir kalau tidak percaya cerita ini datanglah ke kantor kelurahan di tempat kami, tanya langsung sama lurahnya. (Editor: Percaya Bu, yakinlah saya percaya kok. Kalau saya datang ke kelurahan itu, ntar disuruh bikin KTP lagi. He he he…).

Seorang rekan kami yang kerja di perusahaan. Dia bercerita, karena termasuk panitia acara. Perusahaannya akan mengadakan acara tabligh akbar. Mereka sudah sepakat mau ngondang kyai fulan yang sudah sangat terkenal di kota ini. Sudah deal semuanya 10 juta, sekali tabligh. Tapi belakangan sang kyai tahu kalau acara tersebut disponsori Kopi Torabika, karena evennya memang acara besar. Kyai tersebut minta honor dinaikan jadi 25 juta. Katanya untuk acara besar ya tarifnya segitu. Kalau 10 juta itu untuk tabligh yang biasa saja. Karena kyainya keukeuh hayang sakitu wae (ngeyel maunya segitu saja –edt.), akhirnya pihak panitia memutuskan mencari kyai kondang lain yang mau dibayar 10 juta.

Ada lagi. Dimana waktu itu pas Pak SBY mau nyalon lagi jadi Capres (entah ini kampanye atau apa, karena seingatku waktu itu belum masuk masa kampanye). Terus terang Pak, keluarga saya kebagian satu bus (yang ikut itu kyai, ustadz  semuanya, dan saya sudah pasti tak ikut karena saya bukan ustadzah) untuk datang ke Sentul City. Katanya, acara silaturrahmi bersama Bapak SBY. Mereka memberi transportasi dan makan gratis, dan semua yang ikut masing-masing dikasih amplop berisi 50 ribu…

Terus ada lagi seorang kyai (pernah masuk TV lokal) yang ngasih saran, “Kalau mau jadi ustadz itu harus punya gelar. Walau tak begitu kondang, tapi kalau punya gelar, sekali undangan tabligh itu bisa dibayar minimal 1 juta. Coba kalau cuma ustadz kampung, sekali tabligh rata-rata palingan cuma 100 ribu.” (Editor: Waduh, aku masuk kategori ustadz kampung dong? He he he…).

Remaja masjid di tempat kami yang punya grup Hadroh, pernah diajak Habib (yang ganteng dan masih muda, spanduknya dipajang besar-besar di sekitaran kota ini) untukk ngisi hadroh-nya (semacam nyanyi-nyanyi lagu pujian diiringi rebana –edt.).

Ketika remaja masjid itu ditanya, “Habib-nya dibayar berapa?”

Jawab mereka, “Habib-nya dibayar 12 juta.”

Ditanya lagi, “Lalu kalian dapat berapa?”

Jawabnya, “Kita tidak mendapat sepeser pun.”

Ditanya lagi, “Iiih, kok kalian mau-maunya?”

Jawabnya, “Tak apalah dia kan Habib, turunan Nabi.”

Ya walaupun mencoba dijelaskan ke mereka, benar atau tidaknya Habib itu turunan Nabi. Tapi kalau mereka sudah fanatik susah juga. Kan tak sedikit juga wanita-wanita pengikut Habib yang mau dipoligami dan siap jadi istri ke berapapun, asalkan bisa punya anak turunan Habib (Nabi) katanya. Dan kyai yang pernah begitu dekat dengan keluarga kami. Dia pun sudah 2 periode ini jadi anggota dewan dan keluargaku pernah ikut-ikutan jadi tim suksesnya. Kami tahu dia dikasih uang “sedikit lagi mendekati 1 M” oleh seorang Capres agar mendukungnya!

Sebenarnya masih banyak pengalaman-pengalaman aneh lainnya. Tapi mungkin benar kata Bapak, tidak baik kalau borok itu dikorek terlalu dalam.

Dan yang paling mengherankan, “Ternyata masyarakat justru akan sangat heran sekali apabila ada juru dakwah yang tidak mau dibayar sepeser pun. Apalagi kalau sang juru dakwahnya itu malah ngasih sumbangan ke masyarakat. Kenapa ya?”

Makanya saya setuju kalau ada ungkapan: “Ustadz begitu, Umat begitu.” Kenapa ustadz-ustadz yang ceramah di TV, di hadapan pemimpin, di hadapan umat. Tapi sepertinya tidak bisa mengubah baik itu siaran Tv, pemimpin, dan umat menjadi lebih baik. Mungkin karena ustadz-ustadz itu sendiri yang menghargai dirinya dengan beberapa rupiah saja!! Dakwah yang tulus ikhlas dari hati akan mengena di hati. Dakwah demi dunia yang diibaratkan Rasulullah seperti bangkai kambing cacat, maka kita pun tahu hasilnya bakalan kayak apa?!

Terus terang saja Pak, kalau mau mengkritik orang yang sudah menjual agamanya demi nafsu dunia yang tak seberapa, justru itu paling SUSAH. Dikasih dalil apapun sulit mempan!

Boleh jadi mereka-mereka yang seperti ini yang menjadi, ibaratnya penyakit kanker di tubuh Islam itu sendiri. Mereka inilah kemungkinan yang akan terdepan menolak tegaknya Islam yang haq, bukan kaum kafir!

Soal mengkomersilkan dakwah, sebenarnya sudah ada beberapa yang menyoroti hal ini, seperti karya tulis Ustadz Abu Umar Basyir yang judulnya: “Menjadi Kaya dengan Berdakwah” dan “Pesantren dan Dakwah Islam di Indonesia”, juga dosen dari UIN, dll.

Kalau bicara soal lembaga-lembaga pendidikan, jadi agak dilematis. Kami tahun lalu survei SDIT-SDIT terkemuka di kota ini (dari sekitaran Bandung sampai Cimahi, dari SDIT yang terkenal sampai yang katanya paling murah). Kami juga cari tahu Ma’had-ma’had yang katanya itu Ahlusunnah sebenarnya. Dan akhirnya, kami harus bertrimakasih kepada pemerintah yang mensubsidi wajib belajar 9 tahun, karena lembaga pendidikan inilah yang terbaik untuk anak kami. Karena saat ini keuangan kami tak bisa menjangkau SDIT-SDIT yang katanya bagus-bagus itu. Ma’had-ma’had seperti Imam Bukhori, Bin Baz, Ihyaussunnah, Annajiyah, bahkan Gontor yang sangat terkenal itu, memang tidak diperuntukkan bagi kalangan kami!!!

[Editor: Jangan begitu, Bu! Jangan “lemes” begitu. Setahu saya, Gontor termasuk pesantren yang paling murah. Pertama kali masuk biaya sekitar 3 jutaan (untuk data terakhir saya belum tahu). Kalau dengan keperluan ini itu, ya bisalah mencapai 5 jutaan. Nanti setiap bulan bayar SPP & uang makan sekitar 400-500 ribu. Dibandingkan pesantren-pesantren “Islam terpadu”, Gontor lebih murah. Tetapi memang sistem pendidikannya kolektif (kebersamaan). Perlu diketahui, hampir semua anak yang masuk Gontor, 95 % diterima. Hanya saja, dia nanti ditempatkan di kelas mana, itu nanti berdasarkan prestasi. Ada yang masuk sejak lulus SD (terbanyak), dan ada yang setelah lulus SMP. Biasanya ketika baru masuk, semua pendaftar seperti di-camp dulu di Gontor II Ponorogo. Ini untuk adaptasi dan pembekalan menuju proses belajar normal. Tradisi kegontoran sudah dikenalkan sejak disini].

Tapi di sisi lain, justru lembaga pendidikan milik NU malah lebih terjangkau rakyat kecil. Karena saya pun pernah nyantri di pesantren NU. Keluargaku juga punya pesantren NU, punya pesantren thariqat tasawuf. Sedikit banyak saya tahu apa saja yang diajarkan disana.

Belum lagi lembaga Islam lainnya seperti BMT yang lebih ke bisnis, atau pun yang katnya itu Baitul Zakat. Ternyata kalau kita yang mengajukan sendiri (meminta bantuan) susah dapat tanggapannya. Ada yang mensyaratkan harus jadi anggota dulu, harus ikut kegiatan mereka dulu, harus ikut pengajian mereka dulu. Dan anehnya, ada Baitul Zakat tapi seperti kredit pinjaman (maaf ada bunganya).

Dan lebih aneh lagi beberapa masjid agung kita, entah itu uang kas masjid atau apa (saya tidak tahu), tapi yang pasti beberapa masjid agung bisa memberi bantuan pinjaman uang dengan syarat jaminan BPKB kendaraan. Apakah ada bunganya?! Kata mereka sih bukan bunga, cuma ada “biaya administrasi” atau ‘bayar seridhonya”. Dan ternyata, justru pinjaman dari masjid agung inilah yang jadi favoritnya para kyai & ustadz. Juga dikarnakan pihak masjid agung memang memprioritaskan pemberian pinjaman ke kalangan tersebut.

Tapi, bukan maksud saya menafikan lembaga yang benar-benar ingin menolong umat atau pun menafikan para juru dakwah yang tulus. Tidak, tidak seperti itu. Karena saya tahu benar, masih ada yang jujur, ikhlas hanya mengharapkan upah dari Allah.

Seperti yang saya alami sendiri. Saya mengenal seorang ustadz di daerah tertentu, tinggal di belakang pasar, bekerja sebagai pedagang. Dia mengadakan pengajian di kontrakannya. Semua jamaahnya dibelikan kitab dari uangnya sendiri. Dia ajarkan bacaan Al Qur’an, dia selalu menyediakan sekedar makanan kecil untuk semua jamaahnya, dan walaupun satu orang yang datang dan benar-benar ingin mengaji. Dia begitu memprioritaskan muridnya ini daripada kegiatan lain. Ketika saya Tanya, “Kenapa tidak meminta bayaran. Kan dibolehkan kalau ngajar Qur’an?” Dia menjawab, “Hari gini, orang mau datang ngaji saja sdh bagus sekali.” Juga ada beberapa cerita serupa lainnya!!

Namun masalahnya yang seperti ini hanya secuil kuku, kalau dibandingkan betapa banyaknya masayaarakat Muslim Indonesia; begitu juga ditambah banyaknya pemasalahan umat yang lain; serta semakin dahsyatnya godaan syahwat dan lain-lain.
Jadi, kalau dalam pandangan saya, amat sangat berat cita-cita tegaknya Islam yang haq sebagai sistem di negrri ini. Lalu apakah salah kalau saya mengkritisi juru dakwahnya terlebih dulu (dalam pandangan saya, memang banyak yang kacau)??? Karena juru dakwah sejatinya adalah pewaris Nabi untuk membimbing Ummat.

Cukup sering saya dengar juru dakwah di TV, radio, mendengar langsung… yang mengeluh/mengejek Ummat Muslim di negri ini dengan segala karakter dan kebiasaan jeleknya, Padahal Rasulullah tak pernah mengeluhkan, apalagi mengejek umatnya yang kala itu boleh jadi lebih bejat dari kita. Malah beliau lebih banyak mendoakan kebaikan, berjuang dengan segenap upaya dan menghabiskan seluruh hartanya demi umat, agar mengenal Rabb-nya. “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya….”

Dan bila juru dakwah kita boleh sebebasnya mengkritisi umat, lantas apakah saya sebagai bagian dari Ummat tidak boleh mengkritisi ustadz-nya? Sewaktu saya mengkritisi ustadz Salafi, Pak abisyakir diam saja. Apa kali ini Bapak pun merasa tersinggung? (Kali ini mungkin saya benar-benar apriori/su’uzhon). [Editor: Saya sendiri bingung Bu. Kalau diam, dianggap setuju. Kalau berkomentar, dianggap “bela kawan”. Kalau tidak diam dan tidak berkomentar, dianggap plin-plan. Jadi mesti gimana?]. 😥

Kalaupun saya katakan tak ada juru dakwah yang punya visi-missi dan program unggulan; adalah karena saya mungkin belum menemukan, atau boleh jadi tak akan pernh menemukan visi-missi serta program-program dakwah yang sama seperti Rasulullah. Saya pikir setiap juru dakwah setiap harinya wajib mempelajari Sirah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau Bapak katakan saya sinis… Ya benar sekali, saya sangat sinis sama mereka yang mengkomersilkan dakwahnya, sama seperti rasa sinis Pak abisyakir kepada pemerintah kita yang tidak Islami. (Editor: Oooh, jadi Ibu sering mampir kesini? Kok bisa membuat kesimpulan yang TEPAT begitu. He he he…).

Kalau arti dari sinis adalah tanda tak mampu, mungkin benar juga. Saya jadi sinis kepada lembaga, yayasan yang katanya itu bagus (ahlusunnah) karena sebenarnya saya memang tak mampu menyekolahkan anak saya kesana. Jujur saja, saya merasa tak enak hati menceritakan ini, karena yang saya kritisi di antaranya juga bagian dari keluargaku sendiri.

Semoga sekedar curhat, sharing, atau sumbang opini ini bermanfaat; buat diri kami sendiri, buat pengelola media, maupun buat kaum Muslimin seluruhnya. Allahumma amin.

(Seorang Muslimah di Cimahi).

Iklan