Idul Fithri dalam duka…

September 26, 2008

Idul Fithri kali ini berbeda dengan sebelumnya. Tingkat tekanan ekonomi yang kita rasakan sangat hebat. Kenaikan BBM akhir Mei 2008 lalu menjadi fitnah (cobaan) yang berat. Banyak pihak menyayangkan kenaikan BBM itu. Tetapi apa daya, semua sudah terjadi. Benteng keangkuhan birokrasi terlalu tangguh untuk diruntuhkan. Kebijakan tetap melaju, meskipun Ummat Islam menjerit meminta pemerintah tidak menaikkan BBM. Ya apa lagi upaya kita, selain menjerit?

Forum Ummat Islam (FUI) sempat menyerukan ancaman kepada birokrasi. Kalau BBM tetap dinaikkan, mereka akan menyerukan mogok nasional. Komite Bangkit Indonesia (KBI) dituding menjadi dalang demo anarkhis di Jakarta. Rizal Ramli harus sowan kesana-kemari untuk mendapat perlindungan politik. Seorang aktivis KBI langsung ditahan begitu sampai di sebuah bandara. Sampai saat ini masih ditahan.

Secara umum, kebutuhan Ramadhan itu besar, bisa lebih besar dari kebutuhan normal. Selain itu untuk Idul Fithri, lebih besar lagi kebutuhannya. Oleh karena itu banyak aksi kriminalitas di hari-hari sekitar Idul Fithri. “Meskipun penjahat, kami mau hari raya juga,” mungkin begitu alasan mereka. Hanya saja, mereka berhari raya di atas penderitaan orang lain yang berusaha berhari raya secara wajar.

Saat ini harga-harga bahan makanan mahal. Tentu harga pakaian, busana Muslim, sepatu, snack, aksesoris, mainan anak, dll mahal juga. Bensin alhamdulillah stock cukup, tapi harga gas sangat tinggi. Seharusnya pasaran normal gas 12 kg Rp. 72.000,-. Sekitar itu. Tetapi di pasaran kami membeli sampai Rp. 100.000,-. Bahkan ada informasi, harga tabung biru itu ada yang dijual sampai Rp. 120.000,-.

Belum soal transportasi mudik, baik yang naik KA, bis, mobil pribadi, kapal laut, sampai motor. Wah, kalau Anda pernah mengalami masa-masa mengikuti arus mudik dari kawasan Barat (Jakarta/Jabar) ke Timur (Jawa Timur), ya Allah betapa letih dan gelisahnya. Segala keruwetan ada dimana-mana. Dan mungkin di masa sekarang persoalannya lebih rumit lagi.

Idul Fithri adalah hari raya Ummat Islam. Ia memiliki arti berbeda bagi rakyat Indonesia. Inilah hari di mana Ummat Islam dihalalkan penuh untuk bergembira-ria, tentunya dengan tetap tidak melakukan hal-hal yang haram dan tidak meninggalkan kewajiban. Idul Fithri juga menjadi momentum silaturahim dengan sanak-keluarga. Rasanya, Idul Fithri adalah puncak kegembiraan Ummat Islam setelah berletih-letih menjalani hidup selama setahunan.

“Ya Allah, sulitnya mau berbahagia… Padahal ini adalah hari raya dari-Mu, kegembiraan dari-Mu… Mungkin, inilah yang tersisa milik kami, yang berharga bagi kami dan keluarga. Tetapi mengapa untuk menyambut semua ini, rasanya berat, lelah, sedih sekali? Tidak bolehkah kami bergembira, tidak bolehkah kami tersenyum dan bahagia? Berat nian menanggungnya…”

Saudaraku, pertanyaan untukmu:

“Setelah kita lalui semua ini, apakah ini Idul Fithri terakhir yang penuh duka? Bagaimana dengan Idul Fithri depan, apakah lebih baik atau lebih sedih?”

Sungguh, betapa nelangsa Ummat ini, diberi pemimpin yang tidak memiliki rasa cinta kepada rakyatnya. Mereka bukan pemimpin, tetapi “bendahara” yang kerjanya mengurus uang doang. Itu saja kan? Mereka diberi amanah anggaran (APBN/APBD) sekian besar, lalu terserah mereka mau diapakan anggaran itu? Bahkan mau diapakan seluruh kekayaan yang ada di negeri ini? Terserah mereka, wong mereka pegang kuasa.”

Saya terbayang Khalifah yang mulia, Umar bin Khattab Ra. Beliau pernah berkata, “Seandainya ada kambing yang terperosok lubang di Hadramaut, maka aku bertanggung-jawab terhadapnya.

Ya Ilahi, hanya seekor kambing… Itu pun hanya terperosok saja, belum tentu mati. Itu pun ada di Hadramaut Yaman yang jauh dari Madinah. Tetapi lihatlah betapa pedulinya Baginda Khalifah yang mulia.

Rasanya mimpi terlalu mewah membayangkan akan hadirnya sosok seperti Al Faruq. Adapun pemimpin-pemimpin disini, mereka hanya berebut “kuasa”, tetapi tidak berebut “tanggung-jawab”. Seharusnya, lebih banyak yang tanggung-jawab ketimbang yang berebut “stir”. Dulu saya masih sering melihat pegawai-pegawai negara yang amanah, meskipun PNS. Mereka benar-benar merasakan makna kata “melayani masyarakat”. Tetapi kini, semua melayani diri sendiri. Semua sudah profesional, serba menuntut bayaran, tidak ada kerja sukarela tanpa pamrih. Sudah begitu, fasilitas negara jadi rebutan untuk kendaraan memperkaya diri.

Negeri ini semakin hari terus terperosok dalam penderitaannya. Para pejabat semakin kebal hatinya, semakin bengis sifat-sifatnya. Semakin jauh rasa empati, rasa sayang, rasa peduli dengan penderitaan orang kecil. Bahkan di mata mereka, rakyat kecil seperti nasib Bani Israil di Mesir di jaman Musa As. Mereka hanya menjadi “bantalan peluru” untuk menggerakkan mesin-mesin ambisi kalangan elit. Justru atas kezhaliman itu, Musa As. diperintahkan Allah untuk menyelamatkan Bani Israil.

Sistem kapitalisme bukanlah produk baru. Itu gaya lama, gaya Fir’aun. Hanya diperbaharuim dengan teori-teori yang rumit. Intinya, rakyat kecil mengabdikan hidupnya untuk melayani petualangan hawa nafsu kalangan elit. Rakyat kecil tidak dipandang. Mereka itu “bantalan peluru” belaka. Sangat dibutuhkan, tapi tak layak dihargai.

Kok mau-maunya kita jalani hidup seperti ini. Lemah, hina, tak berdaya… “Dimanakah Musa? Dimanakah Harun? Dimanakah Thalut?… Tidak ada yang menjawab.

Lidah sudah terlalu kelu, hati sudah terlalu berkarat. Kita semua angkat tangan, sambil berkata, “Lupakan Musa, lupakan Harun, lupakan Thalut. Lupakan semua itu! Marilah kita menjadi bantalan peluru terbaik, bantalan peluru yang profesional, yang menerapkan standar ISO 2000, yang tawakkal, ikhlas, hanya mencari ridha Allah… Hayuh, kita jadi bantalan peluru dengan tidak pernah berharap datangnya Musa, bahkan jangan sekali-kali teringat oleh nama itu. Jadilah bantalan peluru teragung dalam sejarah…

Saudaraku, dulu pernah ada calon-calon Musa.

Saya teringat, waktu itu ada seorang anggota dewan partai Islam tertentu. Dia pulang mudik ke Pekalongan dengan naik bis umum. Tidak memakai mobil pribadi, apalagi fasilitas negara. Dia disorot TV mudik naik bis umum di sebuah terminal. Hebat…hebat…hebat. Tapi itu dulu, ketika dia baru jadi anggota dewan. Ketika dia baru semangat-semangatnya “membela Ummat”. Adapun kini, entahlah kemana “calon Musa” itu? Dia sama dengan pejabat tertentu yang tadinya, “Saya gak mau naik Volvo! Saya pakai Kijang saja. Saya gak mau nginab di hotel, tapi di rumah saja.” Itu awalnya, ketika masih baru jadi pejabat. Masih gress, masih hangat-hangatnya kursi. Adapun kini, yo wis pada wae. Sami mawon, Mas! Huh…susah sekali berharap ada kebangkitan di negeri ini. Banyak yang palsu, oportunis, sok memperlihatkan kesalehan, padahal akhirnya menjadi “the loser”.

Tapi Musa itu harus tetap ada, hadir dalam hidup kita… Itulah harapan yang bisa ditunggu, selain tentu pertolongan Allah atas Ummat ini. Ya Allah, teguhkan kami untuk selalu mengawal urusan ini, sampai mendapati salah satu dari dua kenyataan: Ummat hidup berbahagia atau gugur tidak sebagai pengkhianat Islam! Ya Allah kabulkanlah, kabulkanlah, kabulkanlah Ya Rabbi. Amin Allahumma amin. Wa shallallah wa sallim ‘ala Nabiyina Muhammad wa alihi wa shahbihi ajma’in.

Saudaraku… Mari kita tersenyum. Jangan engkau ingkari nikmat Idul Fithri dengan kemurungan. Biarpun engkau tidak memiliki baju baru, makanan yang baik, tidak bisa bepergian kesana ke mari, tidak memiliki pulsa untuk kirim SMS silaturim… Janganlah lemah dan duka. Engkau masih bisa tersenyum.

Sambutlah Idul Fithri dengan senyum bahagiamu! Jangan kecewakan Idul Fithri dengan kesedihanmu! Ya Allah, kami rela dengan Idul Fithri, kami mencintainya, sebagaimana ia sebagai karunia besar yang layak dicintai. Maafkan kami wahai Ramadhan, maafkan kami wahai Nabi atas segala maksiyat dalam Sunnah-mu, dan pada hakikatnya, maafkanlah kami wahai Dzat Yang Maha Pengampun lagi Pemaaf. Ya Rabbana innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anna. Amin Allahumma amin.

Selamat IDUL FITHRI 1429 H.

Taqabbalallah minna wa minkum.

Mohon maaf lahir dan bathin.

Ardhillah, 27 Ramadhan 1429 H.

Abu Muhammad Waskito.

Iklan