SULITNYA MAEN GADGET…

Oktober 22, 2014

Anda mau main gadget di mana friends?

# main di ANGKOT, nanti dikira egois, tidak peduli penumpang kanan-kiri.

# main di JALAN RAYA, takut nabrak-nabrak, atau malah ditabrak motor.

# main di KANTOR, khawatir dicurigai “nyuri waktu kerja”.

# main sambil dengerin PENGAJIAN, dikiranya ngaji gak serius.

# main di TERMINAL/STASIUN sambil menunggu, dikiranya orang “sok sibuk” tidak bisa ninggalin gadget.

# main di RUMAH, katanya cuek dg anak-istri.

# main menjelang TIDUR malam, katanya “sudah ketagihan”.

# main di MASJID, katanya “org zaman sekarang selalu bawa2 HP ke masjid.”

# main DI LUAR SEMUA KEADAAN DI ATAS; sengaja sembunyi diri, dijamin tak ganggu siapapun; khusus sembunyi untuk main gadget slama 2 jam; apa hasilnya?

“Kemana aje, Bang? Tiba-tiba ngilang. Gak ada kabar, gak ada berite. Jadi curige, nih. Jangan-jangan, mau cari bini baru ye?”

Yo wis lah terserah… Susah bener jadi manusia. Eh maksudnya, susahnya main gadget.

Iklan

Profil Negara “Serba Salah”

Desember 9, 2008

Beberapa waktu lalu ada pengumuman di TV tentang kemungkinan kenaikan komponen biaya Haji tahun depan. Karena nilai rupiah terus merosot mengikuti kemerosotan dolar, biaya Haji diperkirakan akan naik. Para pedagang oleh-oleh Haji di Tanah Abang juga merasa kewalahan. Nilai rupiah menjadi semakin lemah terhadap real Saudi. Saat ini saja, nilai kurs rupiah ke dolar sekitar Rp. 13.000,- per dolar. Padahal selama beberapa tahun terakhir berada di kisaran Rp. 9.000 sampai Rp. 10.000,- per dolar.

Negara kita ini memang negara “serba salah”, negara “maju kena mundur kena”. Ini negara selalu malang di berbagai kondisi. Saat harga minyak dunia naik, kita tidak kebagian nikmatnya, padahal kita juga masih memproduksi dan menjual minyak. Justru harga BBM dalam negeri malah dinaikkan. Sebaliknya, saat harga minyak dunia turun drastis ke level US$ 50 per barrel, kita juga tidak kebagian nikmatnya. Harga BBM susah turun, harga-harga barang lebih susah lagi turunnya. Malah saat ini dimana-mana terjadi demo menolak “SKB 4 Menteri” tentang upah buruh. Katanya, akibat krisis global saat ini sekitar 10 juta buruh akan di-PHK.

Begitu juga dengan nilai kurs rupiah. Saat harga minyak dunia naik tinggi, sampai mendekati level US$ 150 per barrel, kurs rupiah merosot terhadap dolar Amerika. Saat harga minyak merosot tajam, rupiah merosot lagi. Jadi enaknya bagaimana? Ya, tidak ada enaknya, wong memang ini negara “serba salah”. Seperti sebuah analogi, “Kalau berjalan diterkam buaya, kalau berlari dikejar harimau, kalau diam saja diseruduk gajah.” Di semua sisi serba salah, serba sial, malang terus.

Saat ekonomi Amerika berjaya, kita terus diobok-obok mereka; saat Amerika terpuruk, kita malah ikut terpuruk. Negara apa ini? Segalanya serba aneh, meskipun disini ada ribuan profesor, doktor, ilmuwan, intelektual, politisi, jendral, perwira tinggi, teknisi, advokat, dan lain-lain. Semua itu seakan tidak bisa menolong rakyat Indonesia lepas dari berbagai himpitan kesulitan. Bahkan mereka sendiri ikut menanggung kesulitan itu.

Pertanyaannya, mengapa bangsa ini menjadi sangat hina seperti ini?

Jawabannya mudah, sebab kita selama ini tidak berusaha menjadi diri sendiri, tetapi selalu ingin seperti orang lain. Jaman Orde Lama, bangsa ini ingin menjadi pelayan Komunisme, dengan kesengajaan membuat poros Jakarta-Peking-Pyongyang. Di jaman Orde Baru kita berkiblat ke Amerika. Mafia Berkeley menjadi poros pembangunan ekonomi. IMF dan World Bank menjadi sohib setia. Jaman Refaormasi malah semakin ugal-ugalan. Kita benar-benar ingin mengkopi prinsip-prinsip liberalisme. Liberalisme dilaksanakan dengan dukungan UU di sektor politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, media massa, dll. Bahkan keyakinan beragama pun ingin dileberalisasikan. Sangat menjijikkan!

Baca entri selengkapnya »