Shalat Ghaib untuk Gus Dur

Januari 2, 2010

Baru-baru ini saya mendapat SMS dari teman di Jakarta. Katanya, hari Jum’at lalu dirinya ikut Shalat Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Niatnya, mau Shalat Jum’at sekaligus mendengar khutbah Syaikh Abdurrahman As Sudais, Imam Masjidil Haram yang terkenal itu. Seperti diberitakan sebagian media Islam, Syaikh As Sudais memang akan datang ke Indonesia. Setelah Shalat Jum’at selesai, eee…ternyata dilakukan Shalat Ghaib mendoakan Gus Dur yang baru meninggal. Syaikh As Sudais sendiri yang mengimami shalat.

Teman saya itu jelas tidak mau ikut Shalat Ghaib. Hanya dia merasa kasihan saja, masak orang seperti Gus Dur dishalatkan ghaib? Malah katanya, di halaman masjid banyak orang berbincang-bincang, katanya Syaikh Sudais datang untuk ta’ziyah atas kematian Gus Dur. Wah, kok bisa begitu ya? Padahal Syaikh Sudais kedatangannya sudah direncanakan sebelumnya.

Sangat prihatin dengan sikap MUI, termasuk pengelola Masjid Istiqlal. Bagaimana bisa mereka menyuruh Syaikh Sudais menyalatkan ghaib Gus Dur itu? Apa alasannya? Hal ini kan bisa menimbulkan fitnah di kalangan orang-orang yang tidak tahu.

Nabi Saw pernah hendak menyalatkan Abdullah bin Ubay ketika dia mati. Kata Nabi, andaikan beliau bisa berdoa 70 kali untuk memintakan ampunan bagi Abdullah bin Ubay, hal itu akan beliau lakukan. Berbeda dengan Umar bin Khattab Ra, beliau tetap tidak sudi mendoakan Abdullah bin Ubay. Ternyata, kemudian turun ayat yang melarang Ummat Islam secara mutlak untuk menyalatkan orang-orang munafik.

Orang munafik yang kekafirannya samar-samar saja, tidak boleh dishalatkan. Lalu bagaimana dengan Gus Dur yang: Ikut mendirikan Shimon Perez Institut, pernah datang ke Israel, mendapat “medali keberanian” dari lembaga Yahudi, pernah mau menghapuskan Tap MPR No. 25 tentang gerakan Komunisme, pernah mau membuka hubungan dagang dengan Israel, dan sebagainya. Bagaimana dengan kata-kata Gus Dur, “Al Qur’an itu kitab suci paling porno“? Bagaimana dengan kiprahnya yang terus-menerus menyerang Syariat Islam, membela sekularisme, pluralisme, berkali-kali menghina lembaga fatwa (MUI), membeli para penentang RUU APP, dan seterusnya?

Apa perbuatan-perbuatan kufur seperti itu tidak tampak ya di mata orang Islam Indonesia? Apa Ummat Islam Indonesia akan mengecam keras Harmoko ketika salah membaca Al Fatihah, atau mengecam keras Arswendo Atmowiloto ketika membuat pooling yang melecehkan Nabi Saw? Tetapi mereka tidak berani mengecam Gus Dur karena dia adalah “putra darah biru”, cucu KH. Hasyim Asyari, pendiri NU?

Apakah dalam kita beragama ini, ada keistimewaan bagi orang-orang tertentu, dari silsilah keturunan tertentu? Sejak kapan kita mengadopsi prinsip Hindu yang mengagung-agungkan kaum Brahmana?

Rasanya sangat berat, nyesek di hati… Ya Rabbi ya Rahman ampuni hamba-hamba-Mu ini! Hampir saja mereka akan ditenggelamkan seperti kaum Nabi Nuh As, kalau tidak segera bertaubat dari KEBANGKRUTAN cara beragama mereka. Sangat menjijikkan melihat sikap elit-elit Muslim yang tidak memberi contoh yang benar! Mereka oportunis, ikut memuja-muja Gus Dur demi mengundang KEMURKAAN Allah Ta’ala.

Nabi Saw pernah mengatakan, “Lau saraqat Fathimah binti Muhammad, la qatha’tu yadaha” (kalau seandainya Fathimah mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya).

Hadits ini merupakan bukti, bahwa ajaran Islam bersifat UNIVERSAL. Ajaran Islam berlaku bagi siapapun, tak memandang bulu, siapapun dirinya. Bahkan, anak seorang Nabi pun kalau melanggar, tetap akan dihukum. Malah Nabi Saw sendiri yang akan melakukan hukuman atas anaknya.

Demi Allah, Fathimah binti Rasulillah Ra sepanjang hidupnya, sejak kecil tidak pernah mencuri. Kita tahu, mencuri itu perbuatan hina. Mengapa Nabi Saw mengaitkan nama Fathimah yang mulia dengan kejahatan mencuri yang hina? Mengapa Nabi tidak memakai nama lain saja, selain nama anaknya sendiri?

Itu menunjukkan, bahwa Nabi Saw amat sangat serius dengan ajaran Islam ini. Tidak peduli, beliau harus mengorbankan nama anaknya, Fathimah, didekatkan dengan tindak pencurian. Dan seumur hidupnya, Fathimah benar-benar tidak pernah mencuri, wahai manusia! Ingat itu!!!

Adapun sekarang, hanya karena soal “darah biru”, “darah coklat”, “darah abang ijo”, seseorang diberi keistimewaan untuk menghujat agama Allah, membela kekafiran dan kaum kafir, serta melecehkan Syariat Islam.

Ya Rabbi ya Karim, maafkan kami, maafkan kami. Ampuni ya Allah, ampuni kami…

Beginilah keadaan kami, Ya Allah. Kami terlalu lemah, terlalu lemah. Kami membutuhkan agama hanya agar menjadi kendaraan untuk melampiaskan nafsu-nafsu kami. Tidak ada keberanian di hati kami untuk membela agama-Mu. Yahudi lebih kami takuti daripada murka-Mu. Omong kosong ya Allah, kami teriak-teriak “Bela Palestina…Bela Palestina…Bebaskan Al Quds…Tolong Masjidil Aqsha…” Ya Allah, semua itu omong kosong kok. Itu cara kreatif kami untuk dapat nikmat-nikmat dunia, agar nafsu-nafsu kami tambah bergembira ria. Itu saja kok, Ya Allah. Jangankan membela Palestina, wong membela kesucian Al Qur’an di negeri ini, kami sangat takut. Kami takut kehilangan jabatan, kehilangan gaji 30 juta rupiah per bulan, takut kehilangan investor, takut tidak diundang oleh TV, kami takut diawasi Densus 88, kami takut suara partai kami jeblok, kami takut menentang kaum facebookers, ya Allah terlalu banyak yang kami takuti dalam hidup ini. Kami takut diancam oleh agen-agen Yahudi. Ya Allah, saksikanlah, kami lebih takut kepada Yahudi, Gus Dur, PBNU, dan sebagainya, daripada kepada-Mu. Ya Allah, moral kami sudah ambruk, agama kami hancur berkeping-keping, akidah kami rusak serusak-rusaknya. Kami tak tahu harus berbuat apa lagi…

Kasihan, sungguh kasihan Ummat ini. Mereka tidak diberi teladan yang benar.

Ya Allah ya Karim, ampuni kami, ampuni diriku kalau berlebih-lebihan. Ya Allah, selamatkan kami dari musibah, fitnah, dan semua kesesatan yang memilukan itu. Selamatkan kami dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Selamatkan kami dari makar orang-orang kafir, munafik, zhalim. Ya Allah, kami takut kepada-Mu, meskipun seluruh manusia harus memurkai diri kami. Kami tidak peduli dengan mereka semua, selama Engkau tetap meridhai kami. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain.

Kami menghimbau kepada gerakan Islam, aktivis dakwah, organisasi Islam, dan siapa saja yang peduli dengan AKIDAH UMMAT. Mohon Anda angkat bicara!!! Belalah akidah Islamiyyah, dan jelaskan kebathilan-kebathilan Gus Dur, agar Ummat Islam tahu. Mari kita tolak REKAYASA MEDIA dan orang-orang Liberal –laknatullah ‘alaihim– dalam upaya mereka untuk memuja-muja Gus Dur, dan mengangkatnya sebagai “pahlawan nasional”.

AMW.

Iklan