Karakter Munafik Andi Malarangeng

Juli 3, 2009

Dulu… orang munafik itu pintar-pintar. Mereka pandai membungkus kemunafikannya, sehingga sulit dilacak siapa saja yang munafik? Umar bin Khattab Ra. sampai tidak mengenali siapa-siapa saja di antara kaum Muslimin di jaman Nabi Saw yang disebut munafik. Mereka pandai menyembunyikan hakikat ideologinya, sehingga sulit dikenali.

Tapi di jaman ini, “seni kemunafikan” itu mengalami kemerosotan sangat hebat. Mudah sekali kita mengenali apakah seseorang munafik atau tidak? Hal ini bukan karena kita makin pintar dalam mengidentifikasi kemunafikan itu, tetapi orang-orang munafik tersebut yang justru “obralan” menampakkan ciri-ciri kemunafikannya.

Nabi Saw menyebut, “Ayatul munafiqina tsa-la-tsah. Idza ahda-tsa kadz-dzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza’tumina khana” (ciri orang munafik itu tiga. Kalau bicara, bohong; kalau janji, ingkar; kalau dipercaya, khianat).

*****

Akhir-akhir ini masyarakat sedang ramai membicarakan pernyataan Andi Alfian Malarangeng ketika kampanye di Makassar. Dalam orasinya Andi Malarangeng antara lain mengatakan, bahwa saat ini belum waktunya orang Sulawesi Selatan memimpin Indonesia. Figur yang dianggap paling tepat memimpin Indonesia saat ini –menurut Andi Malarangeng– adalah SBY-Boediono. Ungkapan-ungkapan inilah yang mengundang banyak kecaman, terutama di Sulawesi Selatan sendiri.

Saya tidak akan masuk ke pembahasan soal konflik Andi Malarangeng dan rakyat Sulawesi Selatan itu. Tetapi saya ingin melihat salah satu materi kampanye Andi yang sangat penting. Tepatnya materi filosofi rakyat Bugis/Makassar yang disampaikan oleh Andi dalam bahasa setempat itu. Disini akan kita dapati sebuah pelajaran yang sangat menarik.

Saya tidak mengerti bahasa Bugis/Makassar. Jadi, tidak paham apa yang disampaikan Andi Malarangeng itu. Tetapi saya paham tafsiran kalimat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Andi Malarangeng sendiri.

Setelah mengungkapkan filosofi dengan bahasa daerah. Andi menjelaskan, kurang lebih pengertiannya: Rakyat Bugis/Makassar itu berpegang kepada prinsip/hukum/nilai, bukan mencari kekuasaan.

Dengan filosofi tersebut, Andi meyakinkan masyarakat daerahnya, agar mereka mau berkorban, tidak mengejar kekuasaan (misalnya dengan menjadi Presiden RI). Cukuplah rakyat Makassar berkorban terus, demi prinsip/hukum/nilai yang diyakininya. Tanpa harus berambisi mengejar jabatan/kekuasaan. Begitulah kira-kiranya maunya Andi Malarangeng.

Coba renungkan kembali pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng di atas! Mohon renungkan lagi, renungkan, dan sekali lagi renungkan! Hal ini penting, sebelum kita masuk ke pembahasan selanjutnya.

Singkat kata, bagi Andi Malarangeng, sudah menjadi kewajiban moral rakyat Bugis/Makassar untuk terus berkorban, demi prinsip/hukum/nilai. Bukan mengejar kekuasaan, tidak perlu ambisi jadi Presiden, persilakan orang lain jadi Presiden RI, jangan putra asal Sulawesi Selatan.

Secara moral, apa yang diungkapkan Andi Malarangeng sangat bagus, high morality class, special, heroic, very-very emphatic. Sungguh, andai para pejabat nasional memegang prinsip seperti pernyataan yang diungkap Andi Malarangeng, negeri ini akan lebih cepat menjadi makmur. Saat itu masyarakat lebih peduli dengan kebaikan bersama, bukan memburu ambisi sempitnya masing-masing.

Namun…lha ada namunnya…

Ya, namun, bagaimana lebih jujur memahami pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng itu?

Cara terbaik memahami ungkapan tersebut adalah: LIHAT PADA PERILAKU ANDI MALARANGENG SENDIRI !!!!!

Berikut ini cara memahami pernyataan Andi Malarangeng tersebut secara lebih jujur:

[o] Andi Malarangeng membuat pernyataan kontroversial di depan kampungnya sendiri, dalam rangka kampanye mendukung pasangan SBY-Boediono. Artinya, posisi Andi disana adalah dalam barisan orang-orang yang sedang berjuang merebut kekuasaan. Padahal, dia mengatakan, orang Bugis/Makassar itu sebaiknya tidak ambisi dengan kekuasaan.

[o] Begitu fanatiknya Andi Malarangeng dalam membela SBY-Boediono, sampai merendahkan martabat kaumnya sendiri. Katanya, orang Sulawesi Selatan belum saatnya memimpin Indonesia.  Begitu sangat ambisiusnya dia pada kekuasaan yang akan diraih SBY-Boediono, sampai melecehkan martabat kaumnya sendiri. Padahal kata dia, seharunya orang Makassar itu lebih pro kepada prinsip/hukum/nilai. Sementara dia sendiri sangat ambisius dalam mendukung pencapaian kekuasaan.

[o] Begitu sangat gelisahnya Andi jika SBY-Boediono gagal merebut kekuasaan, sampai dia secara tidak langsung menyerang kandidat Jusuf Kalla yang berasal dari Sulawesi Selatan. Padahal kalau benar-benar Andi tidak pro kekuasaan, jelas dia akan menyingkir dari salah satu tim kampanye Capres. Ini tidak. Menyuruh warga Bugis/Makassar jangan ambisi jabatan, sementara dia sendiri sangat nafsu dengan hal itu.

[o] Kalau kita flash back ke belakang. Setelah partai Andi Malarangeng keok dalam Pemilu 2004 lalu, dia pun merapat ke pasangan SBY-JK ketika itu. Bahkan kemudian Andi ditunjuk sebagai Jubir Kepresidenan. Itu artinya, selama 5 tahun terakhir, Andi Malarangeng melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa putra Bugis/Makassar menjadi pemimpin nasional. Meskipun posisinya bukan RI-1, tetapi beliau RI-2. RI-2 itu posisi kepemimpinan nasional, lho. Itu bukan sembarangan. Untuk orang bergelar doktor politik seperti Andi Malarangeng, apa dia tidak bisa melihat selama 5 tahun, selama menjadi Jubir Kepresidenan, bahwa sosok Jusuf Kalla itu sudah qualified sebagai pemimpin negara? Jadi, selama 5 tahun menjadi Jurbir Kepresiden itu, kerja Andi apa ya? Masak tidur melulu sih… Tidak terbayangkan, JK menjadi pemimpin nasional di depan mata Andi sendiri, selama 5 tahun. Kok yang begitu diingkari? Aneh…

[o] Katanya, Andi tidak suka dengan pandangan sebagian masyarakat Bugis/Makassar selama ini, bahwa mereka harus memilih tokoh pemimpin dari asal daerah mereka sendiri. Sampai Andi mengatakan, “Ini bukan pemilihan gubernur Sulsel!” Tapi masalahnya, pilihan rakyat itu, apapun alasannya, ia dibenarkan menurut teori demokrasi. Demokrasi dimanapun menerima alasan pemilihan pemimpin karena faktor kesamaan agama, asal daerah, almamater sekolah, dll. Itu sah-sah saja, selama tidak memaksa yang memilih dan tidak ada teror dalam bentuk apapun. Sebagai sosok “pengamat politik” terlalu naif bagi Andi untuk menolak cara keberpihakan emosional itu. Malah sejujurnya, ada puluhan juta kaum wanita Indonesia, mereka memilih SBY lebih karena “ganteng” dan “gagah” saja. Ini lebih mengerikan, daripada pertimbangan asal daerah.

Nah, itulah seorang Andi Malarangeng. Dalam satu waktu dia ngajari orang bersikap moral. Tetapi pada saat yang sama, dia tampakkan dirinya amat sangat rendah komitmennya terhadap apa yang dia ucapkan sendiri.

Jujur saja, selama 5 tahun terakhir, saya lebih banyak mengeluh kalau mendengar mulut Andi Malarangeng bergerak-gerak. Isinya, sebagian besar hanya berupa pujian kepada SBY. Sedikit pun tidak ada kritik, koreksi, atau klarifikasi. Putih semua, bagus semua, tanpa cacat. Males….dengernya.

Itu dulu dech… Selamat berjuangan secara fair di dunia politik.