Kasihan Para BONEK Itu…

Januari 26, 2010

Bonek, dari kata bondo nekad, hanya bermodal nekad. Istilah ini semula dipakai masyarakat Jawa Timur untuk menyebut kegigihan usaha seseorang, tidak bermodal apa-apa, hanya kenekadan semata. Ada kerja keras, tetapi sekaligus kekonyolan disana. Ada kalanya usaha dengan bonek berhasil, tetapi ada kalanya gagal juga.

Tetapi akhir-akhir ini istilah BONEK seperti menjadi istilah yang bermakna khusus. Ia menjadi kata pengganti untuk para holigans brutal pendukung Persebaya Surabaya. Mereka disebut sebagai bonek, dengan segala ulah brutal dan vandalistiknya. Padahal semula, istilah bonek itu muncul untuk menyebut keadaan para suporter itu yang sering pergi ke Jakarta dengan tidak bermodal apa-apa, hanya bermodal nekad. Bayangkan, ke Jakarta hanya memakai sendal, celana, kaos oblong, tanpa membawa ongkos apapun. Ini jelas nekad. Tapi lama-lama, istilah BONEK dipakai untuk menyebut suporter Persebaya yang kerap melakukan kerusuhan di stadion maupun sepanjang jalur KA. Ada pergeseran dari makna semula.

Tapi soal terminologis itu tidaklah penting. Mari kita lihat perilaku sosial pemuda-pemuda “bonek” para suporter Persebaya ini. Dari data-data yang disebutkan media antara lain:

Ribuan bonek pergi ke Bandung dengan KA ekonomi, mendukung Persebaya yang akhirnya kalah 4 : 2 melawan Persib. Sepanjang jalan para bonek banyak membuat ulah, termasuk menjarah barang dagangan masyarakat di stasiun-stasiun KA. Mereka juga melempari batu orang-orang di jalan. Mereka mendapat perlawanan dari masyarakat. Dilempari batu sampai puluhan orang terluka terkena batu. Ada yang tewas karena tubuhnya membentur benda keras saat KA melaju. Jok-jok KA hancur, kaca-kaca pecah, berantakan. Konon akibat sikap anarkhis ini, suporter Persebaya mendapat sanksi dari PSSI. Serupa nasibnya dengan suporter Persib yang mendapat sanksi tidak boleh main di Bandung, setelah Bobotoh Persib merusak stadion Siliwangi yang baru direnovasi. Ya begitulah anak-anak muda kita.

Kalau melihat kenyataan seperti itu rasanya mau marah, kesal, ingin rasanya memaki-maki mereka. Tetapi sejujurnya, keadaan yang ada pada diri ribuan pemuda itu sangatlah menyedihkan. Bukan hanya mereka, tetapi juga keadaan jutaan generasi muda Indonesia saat ini, sangat menyedihkan.

Suporter "Bonek" Tiba di Surabaya. (Sumber foto: surabaya.detik.com).

Pernahkah Anda memikirkan, bahwa para pemuda itu sebenarnya ingin hidup normal, baik, ingin menjadfi warga masyarakat yang produktif, memiliki keluarga, memiliki masa depan, memiliki peran sosial, diterima di masjid, di sekolah, di masyarakat, di lingkungan profesi, dan sebagainya. “Para bonek juga manusia yang menginginkan hidup secara harmonis,” begitulah kira-kira ungkapannya.

Sebagian besar generasi muda di Indonesia, mereka menjadi manusia-manusia berandal, bengis, amoral, bukan karena keinginan dirinya sendiri. Mereka lebih sebagai “korban” akibat tatanan sosial yang sangat merusak. Birokrasi rusak, pergaulan rusak, persaahabatan rusak, lembaga keagamaan rusak, dunia bisnis rusak, dunia politik amat sangat rusak, media massa rusak, dunia hiburan rusak, dan sebagainya. Mereka hanyalah korban dari semua kerusakan itu.

Secara sederhana bisa dikatakan, tatanan yang ada selama ini hanya membuat sebagian kecil orang bisa hidup bak raja-raja berkuasa dengan segala kemewahan bagi keluarganya; sementara nasib masyaarakat mayoritas hanya dipandang sebagai “sampah merepotkan”. Inilah intinya. Inilah sistem EKSPLOITASI yang telah sukses menghancurkan moraliatas dan masa depan jutaan generasi muda Indonesia, sejak Sabang sampai Merauke. Mereka tidak sanggup keluar dari status sebagai “korban tatanan”, sebab kekuatan mereka sangat lemah. Tetapi sejujurnya, mereka amat sangat ingin keluar dari belenggu seperti itu.

Pernah, berkali-kali muncul orang-orang yang mengaku “pahlawan”. Katanya, mereka siap berjuang hidup-mati membela nasib mereka, membela aspirasi mereka, membela hidup mereka. Tetapi setelah para “pahlawan” itu mendapat jabatan, ternyata moralnya tidak kalah brutalnya dari pejabat-pejabat sebelumnya. Nah, suara para “pahlawan” ini sering muncul, dan sesering itu pula mereka mengecewakan hati generasi muda yang semula mempercayai kata-kata mereka. Generasi muda pun putus-asa. Mereka merasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari keadaan ini. Semua seolah sudah mati.

Sikap brutal para pemuda Bonek, para Bobotoh, dan lainnya, semua itu sebenarnya mengekspressikan ketidak-berdayaan mereka menghadapi situasi sosial di sekitarnya. Mereka tidak tahu harus bersimpati kepada siapa. Para politisi banyak bohongnya, para pengusaha bisnis sangat menindas, para agamawan sangat murah dalam menjual ayat-ayat, media-media massa hanya membingungkan akal, dan seterusnya.

Sejujurnya, sedih melihat kerusakan-kerusakan yang timbul karena ulah para Bonek. Tetapi lebih sedih lagi ketika kita melihat kerusakan moralitas yang menimpa hati ribuan para pemuda itu. Mereka tidak ingin mendapati semua itu, tetapi mereka tak berdaya untuk menghindarinya.

Ya Allah ya Rahmaan ya Nashir, tolonglah hamba-hamba-Mu ini. Tolonglah kami, tolonglah para Bonek dan kawan-kawan, tolonglah Ummat ini. Keluarkan kami dari kungkungan fitnah berat ini, kasihanilah kami, ampunilah kami ya Rabbi, innaka Ra’ufur Rahiim. Allahumma amin.

AMW.

Iklan