Memahami Kepemimpinan Islam

Desember 23, 2009

Masalah imarah, imamah, khilafah, atau sulthan sudah lama menjadi pembicaraan Ummat Islam. Intinya, ini adalah masalah kepemimpinan politik di suatu negara. Ada kalanya, pemimpin itu adalah seorang Khalifah, atau seorang Sulthan, atau seorang Malik (raja), atau seorang Presiden, dan lainnya. Tetapi semua merujuk pada makna imamah/imarah, kepemimpinan Ummat.

Kalau kaum Syiah memahami imamah sebagai tokoh-tokoh suci, selalu benar, fatwa-fatwanya diikuti secara mutlak. Mereka dimuliakan luar biasa, bahkan diberikan sifat-sifat ‘uluhiyyah (ketuhanan) kepada para imam mereka. Para imam Syi’ah katanya menentukan syurga dan nerakanya manusia, diridhai atau dimurkainya seseorang oleh Allah, dan lain-lain. Maka maksud imamah itu bukanlah versi Syi’ah ini, melainkan kepemimpinan Ummat secara umum saja. Siapapun yang diamanahi tugas memimpin dan mengurus hajat hidup kaum Muslimin.

Orang-orang Shufi dan Murji’ah memandang bahwa setiap penguasa adalah Ulil Amri yang harus ditaati setelah mentaati Allah dan Rasul-Nya. Tidak peduli pemimpin itu menganut ideologi sekuler, nasionalis, demokrasi, kapitalis, liberalis, dan sebagainya. Selama pemimpin itu diketahui KTP-nya Islam, dia didaulat sebagai Ulil Amri. Sementara itu, kaum Khawarij justru anti terhadap kepemimpinan Ummat. Jangankan pemimpin-pemimpin Muslim biasa, Khalifah Utsman Ra dan Khalifah Ali Ra, mereka lawan. Di jaman Khalifah Ali, beliau memerangi kaum Khawarij di daerah Nahrawan. Di mata Khawarij, yang berhak menjadi pemimpin adalah mereka, dengan akidah seperti mereka pula.

Kedua pandangan di atas sama-sama ekstremnya, sama-sama salahnya. Adapun Ahlus Sunnah berdiri di tengah-tengah kedua pandangan di atas. Kalau semua kepemimpinan dianggap Ulil Amri, tidak peduli akidah yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan itu, maka hal ini sama saja dengan merusak kaidah-kaidah agama. Berarti tidak ada artinya Islam mengatur hukum halal-haram dalam segala perkara (termasuk dalam kepemimpinan)? Berarti perjuangan Nabi Saw dan para Shahabat dengan segala peperangan (Jihad) yang mereka tempuh, untuk membangun kepemimpinan Islam dan menjaganya dari segala rongrongan, semua itu dianggap kosong belaka. Kalau semua kepemimpinan politik dianggap Ulil Amri, berarti kita telah “mengislamisasikan” nilai-nilai jahiliyyah. Kekuasaan yang salah, mungkar, tidak Islami, lalu diklaim sebagai urusan Islam (Ulil Amri).

Pandangan Khawarij juga salah. Dalilnya, sederhana saja, yaitu kepatuhan para Shahabat Ra. terhadap kepemimpinan Nabi Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra. Itu dalilnya. Para Salafus Shalih mentaati pemimpin Islam, shalat di belakang mereka, berjihad bersamanya, berhari raya bersamanya juga. Kalau para Shahabat Ra membenarkan para Amirul Mukminin di masanya, bagaimana sampai Khawarij mengingkarinya?

Perlu dimaklumi juga, masalah imamah/imarah itu pada dasarnya adalah masalah MUAMALAH. Namun ia adalah muamalah yang amat sangat penting, sangat menentukan kehidupan kaum Muslimin. Sebagai masalah muamalah, ia terikat hukum halal-haram. Kalau kepemimpinan itu sesuai Kitabullah dan Sunnah, ia adalah kepemimpinan yang halal. Kalau bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah, ia adalah haram. Jadi, kepemimpinan adalah salah satu obyek dalam pembahasan Syariat Islam. Ia bukan subyek yang menentukan hitam-putihnya hukum yang berlaku.

Sekali lagi ingat, kepemimpinan itu obyek Syariat Islam, ia bukan subyek penentu hukum. Kepemimpinan dalam Islam hanyalah OPERATOR HUKUM Syariat, bukan PEMBUAT HUKUM. Dalam Islam, seorang pemimpin tidak boleh menyimpang dari Syariat Islam. Dalilnya, adalah pidato Khalifah Umar bin Khattab Ra ketika diangkat menjadi Khalifah. Beliau memohon diluruskan, jika dirinya menyimpang dari Syariat. Maka ada seseorang yang mengacungkan pedang, akan meluruskan Khalifah dengan pedang, jika beliau menyimpang.

Sebagian orang begitu SENSITIF membahas masalah-masalah seperti shalat memakai celana panjang, shalat memakai baju lengan pendek, laki-laki memakai baju “Nashrani” bukan baju jubah, wanita harus bercadar, tidak boleh memakai jins, mencela orang menjadi PNS, mencela orang masuk dinas TNI, mempermasalahkan hukum mentaati “lampu merah”, dan sebagainya. Terhadap hal-hal seperti itu mereka sangat sensitif.

Tetapi ketika bicara tentang Penegakan Syariat Islam, Sistem Islami, Kepemimpinan Islami, Khilafah Islamiyyah, Kedaulatan Islam, Ekonomi Islam, Sains Islam, dan sebagainya, mereka seperti “kerupuk kesiram air”. Jangankan peduli, mendukung, atau setidaknya toleransi. Mereka malah menuduh kaum Muslimin lain yang sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam dengan tuduhan: Hizbiyyah, ahli bid’ah, khawarij, pemberontak, tergesa-gesa, terjerumus urusan politik, dsb.

Padahal urusan penegakan Syariat Islam itu berhubungan dengan masalah darah, harta, jiwa, agama, keimanan, ibadah, kehormatan, keselamatan, serta kehidupan Ummat Islam. Secara akal sehat, kita pasti bisa membedakan, mana yang lebih penting antara urusan “shalat dengan celana panjang” dengan “menjaga darah, harta, kehormatan” Ummat Islam. Ya, orang berakal bisa membedakan keduanya secara jelas.

Banyak orang yang mengaku berilmu, penuntut ilmu, ashabul hadits, ashabus Salafiyyah, ahlul ilmi, dan sebagainya. Mereka tidak bisa membedakan kepemimpinan Islami dan kepemimpinan sekuler. Ini adalah musibah besar. Jadi, ibarat seperti seorang profesor ahli fiqih, tetapi ketika ditanya hukum daging babi, dia ragu-ragu. Apa ya hukumnya? Mungkin ada khilaf disana? Ini masih didiskusikan? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Anak kecil itu lho bisa membedakan “ini orang shalat di masjid”, dan ini “orang sembahyang di gereja”. Anak-anak SD itu bisa memahami hal itu dengan mudah. Adapun, ini ada serombongan “para ahli ilmu”, tetapi tidak bisa membedakan dengan jelas, mana itu Sultan Islami? Dan mana itu Sultan Jahiliyyah?

Dalam sejarah kaum Muslimin, kita mengenal ada EMPAT MACAM kepemimpinan. Secara teori ia ada, dan secara fakta sejarah ia terbukti. Ke-empat macam kepemimpinan itu pernah dialami Ummat Islam.

[1] Sultan Islami yang bersikap adil. Dia adalah pemimpin Islami di atas sistem Islami, dan berlaku adil dalam kepemimpinannya. Contoh, Rasulullah Saw, Khulafaur Rasyidin Ra, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid, Muhammad Nuruddin Zanki, Shalahuddin Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dll.

[2] Sultan Islami yang bersikap zhalim. Dia adalah pemimpin Muslim, di atas sistem Islami, tetapi berlaku zhalim kepada kaum Muslimin. Contoh, Hajjaj Ats Tsaqafi, Al Ma’mun di jaman Imam Ahmad yang memaksakan akidah “Al Qur’an adalah makhluk”, Abbas pendiri Daulah Abbassiyyah yang membantai keluarga Umayyah, dll. pemimpin zhalim yang menyengsarakan Ummat.

[3] Rais Daulah yang bersikap adil. Dia adalah pemimpin bagi kaum Muslimin, tidak menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya, tetapi bersikap baik kepada kaum Muslimin. Contoh Raja Najasyi Ra, Mahathir Muhammad di Malaysia (sebelum ada konflik dengan Anwar Ibrahim), Ziaul Haq di Pakistan, pemimpin-pemimpin Eropa yang bersikap adil kepada kaum Muslimin yang hidup sebagai minoritas di negerinya. Jadi kepemimpinan disini bersifat umum, bukan kepemimpinan Islami, tetapi sang pemimpi menghargai hak-hak Ummat.

[4] Rais Daulah yang bersikap zhalim. Banyak pemimpin seperti ini, di jaman modern ini. Mereka sekuler, sekaligus Anti Islam. Banyak korban berjatuhan akibat kepemimpinan semacam itu, baik di Indonesia, Pakistan, Mesir, Aljazair, Syria, Libya, Irak, Iran, Libanon, dsb. Sudah tidak Islami, zhalim lagi. Kegelapan di atas kegelapan.

Ini adalah perkara yang jelas, bagi siapapun yang mau menggunakan akal dan hatinya. Ketentuan yang berlaku dalam Islam adalah: “Athiullah wa athiurrasula wa ulil amri minkum” (Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya, dan pemimpin di antara kalian. An Nisaa’ 59). Ketika menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir mengutip beberapa hadits yang menceritakan tentang komandan yang memerintahkan apapun kepada prajurit di bawahnya, termasuk memerintahkan perbuatan yang membinasakan (masuk gua penuh api). Maka Nabi Saw memberi kaidah, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam perkara makruf saja).

Pertanyaannya, apakah pemimpin-pemimpin sekuler di Dunia Islam (seperti contoh di Indonesia) menyerukan melakukan perbuatan makruf dan mencegah kemungkaran?

Untuk menjawabnya, kita harus menilai secara jujur kepemimpinan ini. Nilai dengan sejujur-jujurnya, tanpa kecenderungan memusuhi atau mencintai. Secara obyektif saja, tanpa tendensi apapun, selain hanya demi mencari kebenaran hakiki. Tentu dalam menilainya, kita menggunakan pedoman Kitabullah dan Sunnah. Sebab, itulah pedoman asasi kehidupan orang-orang beriman. “Jika kalian berbeda pandangan dalam suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (An Nisaa’ 59).

Cobalah berani secara jujur melakukan analisis terhadap kehidupan di Indonesia. Sebagian fakta yang saya peroleh dari penelitian tentang kepemimpinan ini, antara lain:

[=] Tidak ada satu pun hukum negara yang mengatakan, bahwa syarat menjadi pemimpin formal adalah Muslim dan shalih secara agama.

[=] Agama resmi negara ada 5, salah satunya Islam. Negara memandang semua agama sama benarnya, tidak ada keistimewaan tertentu pada agama tertentu.

[=] Semua warga negara memiliki kedudukan sama di mata hukum.

[=] Syiar Islam tidak menjadi azas kebudayaan nasional.

[=] Negara tidak bertanggung-jawab secara khusus memikirkan tentang keselamatan jiwa, harta, agama, akal, keturunan Ummat Islam. Semua warga negara diperlakukan sama.

[=] Negara mengadopsi nilai-nilai Islam yang dianggap positif di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, bahasa, dll. tetapi tidak menjadikan Islam sebagai rujukan utama.

[=] Negara tidak memandang setiap yang diharamkan oleh Islam, otomatis diharamkan oleh negara. Ribawi, pornografi, prostitusi, liberalisme akidah, kapitalisme ekonomi, dll. tidak dianggap haram sebagaimana Islam memandang perkara-perkara itu.

Dengan demikian jelas masalahnya. Tidak ada yang diragukan lagi. Sifat Imamah Islamiyyah seperti yang diajarkan dalam Islam tidak ada di negeri ini. Bisa jadi tidak ada karena tidak ada figurnya, atau karena tidak ada dasar hukumnya, atau karena kedua-duanya.

Namun bukan berarti kita harus memberontak, melawan penguasa, menghadang mereka di jalan-jalan, memusuhi mereka siang-malam. Tidak demikian. Sebab Nabi Saw saat di Makkah juga tidak berbuat seperti itu. Kita harus tekun menyampaikan dakwah kepada seluruh manusia, baik rakyat maupun penguasa. Sampaikan penjelasan dengan sebaik-baiknya, sehikmah-hikmahnya. Berdakwah sekuat kesanggupan untuk menyebarkan penerangan.

Semoga penjelasan seperti ini bermanfaat. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”

September 11, 2009

Alhamdulillahil A’la laa haula wa laa quwwata illa billah. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Shalatan wa salaman ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau kita menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, maka disana kita jumpai begitu banyak masalah-masalah berat yang menimpa Ummat ini. Permasalahan itu seperti “benang kusut” yang sangat rumit, komplek, dan tidak jelas ujung-pangkalnya. Banyak orang membuat sintesa tentang solusi semua persoalan ini. Ada yang menyerukan, “Kita kembali kepada majelis ilmu dan kajian akidah.” Ada yang menyerukan, “Kita terjun ke dunia politik praktis.” Ada yang menyerukan, “Mari kita membangun ekonomi berbasis Syariah.” Ada pula yang menyeru, “Ummat membutuhkan media massa cerdas.” Begitu banyak seruan-seruan itu, sehingga Ummat seperti berada di persimpangan jalan. Dan setiap penyeru itu mengklaim jalan yang dipilihnya adalah cara terbaik yang harus ditempuh. Tidak lupa, mereka mengejek jalan yang lain, mengkritisi, atau menghinanya.

Disini kita akan mencoba merunut masalahnya, memahami pemikiran-pemikiran, memperhatikan realitas, melakukan diskusi, sampai menemukan kesimpulan akhir yang diharapkan. Insya Allah.

<>MASALAH KOMPLEK <>

Masalah yang dihadapi Ummat Islam saat ini, dalam skala Indonesia maupun dunia, amat sangat komplek, rumit, dan sulit menemukan ujung-pangkalnya. Di antara masalah-masalah itu adalah sebagai berikut:

Masalah Eksternal: Budaya Barat merajalela. Media massa Barat mendominasi. Tekanan politik negara-negara Barat membelenggu negara Muslim. Dominasi ekonomi negara atau lembaga kapitalis dunia. Merajalelanya sistem ekonomi ribawi. Penyusupan agen-agen asing. Provokasi agen asing untuk menciptakan perpecahan di Dunia Islam. Gerakan Kristenisasi. Gerakan Zionisme dan kekejaman Israel di Palestina. Invasi negara-negara Barat ke dunia Islam. Peredaran narkoba, miras, perjudian, pelacuran skala internasional. Penyebaran wabah-wabah penyakit berbahaya. Sistem pendidikan Barat yang menerapkan metode “cuci otak” terhadap pelajar-pelajar Muslim. Stigma terorisme dan penghancuran aset-aset Ummat karena tuduhan terorisme. Dan lain-lain.

Masalah Ineternal: Kebodohan Ummat dalam segala sisinya. Kemiskinan dan lemahnya ekonomi. Perpecahan antar jamaah, komunitas, organisasi, dan lembaga Islam. Perselisihan pendapat dalam berbagai macam masalah. Kerusakan moral, khususnya di kalangan generasi muda. Fenomena korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan dan bisnis swasta. Aneka macam kasus kriminal dengan segala modusnya. Perasaan inferior (minder) sebagai Muslim. Pertentangan antara gerakan Islam dengan pemerintah-pemerintah berkuasa. Konflik politik internal. Bercokolnya ideologi-ideologi sekuler. Berkembangnya aliran-aliran sesat yang membahayakan agama. Lemahnya kualitas SDM. Minimnya perhatian terhadap kebutuhan informasi. Sikap materialisme masyarakat. Sikap phobia terhadap dakwah. Dan lain-lain.

Banyak sekali masalah yang kita hadapi, baik dari dalam maupun luar. Begitu banyaknya, sampai kita hampir putus-asa, “Bagaimana cara memperbaiki semua ini? Bisakah semua ini diperbaiki? Atau memang jaman sudah dekat Hari Kiamat, sehingga kita lebih baik menanti Imam Mahdi saja?” Padahal yang disampaikan di atas masih sebagian masalah, belum seluruhnya.

Kalau mencermati satu demi satu masalah itu, pasti kita akan keletihan. Waktu kita pasti habis untuk memikirkan semua masalah ini, sebelum ia berhasil diperbaiki. Akibatnya, kita akan putus-asa. Tetapi kalau kita mampu melihat INTI MASALAH-nya, insya Allah akan tumbuh optimisme dalam hati.

Lalu dimana inti masalah itu?

Saudaraku rahimakumullah jami’an. Apa yang Anda saksikan berupa beribu-ribu masalah yang menimpa Ummat ini, pada dasarnya semua itu adalah “MASALAH HILIR” belaka. Ia adalah masalah akibat, bukan pemicu dari semua masalah itu. Jadi, sejak semula telah ada “MASALAH HULU”, kemudian ia terus berkembang menimbulkan beribu-ribu “masalah hilir”. Ibarat aliran sungai, ketika di hulu sudah kotor, maka sampai ke hilir airnya semakin kotor.

Jadi, beribu-ribu masalah yang kita hadapai saat ini pada hakikatnya adalah AKIBAT dari suatu persoalan tertentu. Kalau Anda ingin menghabiskan waktu untuk memperbaiki satu demi satu masalah itu, sampai Hari Kiamat pun Anda tidak akan sanggup melakukannya. Jika air di hilir kotor, jangan habiskan energi Anda untuk menjernihkan air itu. Tetapi segeralah berangkat ke hulu, lalu perbaiki sumber masalah yang mengotori air disana.

Masalah ekonomi, media, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, pergaulan, budaya, keilmuwan, perselisihan pendapat, ibadah, syiar, dakwah, perjuangan, kepemimpinan, politik, keamanan, dan seterusnya; jika semua itu diselesaikan satu per satu, yakinlah sampai Hari Kiamat pun tidak akan selesai-selesai. Solusinya harus menyeluruh, integral, dan menukik ke inti masalahnya.

<> KUNCI SEGALA MASALAH<>

Dalam Islam ada sebuah urusan yang sangat besar pengaruhnya. Jika urusan itu baik, seluruh urusan lainnya akan baik. Jika urusan itu buruk, maka seluruh urusan akan ikut buruk. Ia adalah urusan PEMERINTAHAN.

Baik buruknya keadaan suatu negeri, tergantung SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku di negeri itu. Sistem pemerintahan meliputi: Kepemimpinan, UU, sistem manajemen, kinerja aparat (SDM), penegakan hukum, dan kebijakan politik. Jika di semua sisi urusan itu berlaku tata-nilai Islami, maka hasilnya adalah maslahat besar. Sebaliknya, jika di semua sisi urusan itu diterapkan tata nilai jahiliyyah (non Islami), maka akibatnya adalah kekacauan, penderitaan, dan kesengsaraan hidup yang meluas.

Jika suatu negeri menganut sistem Islami, itu berarti mereka telah menjernihkan air di hulu. Sehingga hasilnya mereka bisa berharap akan mendapati air jernih di hilir. Dengan menerapkan sistem jahiliyyah, maka sampai Hari Kiamat pun, jangan pernah berharap negeri itu akan hidup adil, makmur, damai, dan sentosa. Semua itu hanyalah omong kosong yang tidak ada wujudnya.

Lalu apa dalilnya, bahwa sistem Islami mutlak dibutuhkan suatu negara jika mereka menginginkan meraih kejayaan lahir-batin, dunia Akhirat?

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang bisa menjelaskan hal itu. Di antaranya adalah ayat berikut ini: “Maka jika datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38). Dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala (sistem Islami) secara konsisten, dijamin suatu negeri akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan.

Maka ibadahilah Rabb (Pemilik) Rumah ini (Ka’bah), yaitu (Rabb) yang telah memberi makan mereka untuk menghilangkan kelaparan, dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Al Quraisy: 3-4). Dengan menyembah Allah, Dia akan menyempurnakan nikmat-Nya, dengan memberi manusia kecukupan pangan dan memberi mereka rasa aman dari marabahaya.

Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, maka tidak diterima (amal-amal) darinya, dan kelak di Akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85). Ayat ini tidak hanya bicara tentang pilihan agama seseorang, tetapi juga tentang pilihan sistem kehidupan yang dianut suatu bangsa. Bangsa yang memilih sistem non Islami, maka amal-amal penduduk negeri itu akan diangkat berakahnya. Akibatnya, setiap nikmat yang mereka peroleh tidak memberi kepuasan; sementara musibah dan bencana terus-menerus menimpa mereka.

Nabi Saw sendiri amat sangat menekankan, agar kaum Muslimin komitmen dengan sistem Islami seperti yang beliau contohkan, dan dicontohkan pula oleh para Khulafaur Rasyidin Ra. Dalam hadits yang terkenal dari ‘Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi Saw bersabda: “Dan siapa yang masih hidup (dalam usia panjang) dari kalian, dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka cukuplah bagi kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pimpinan (dari Allah Ta’ala). Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari segala urusan yang diada-adakan (bid’ah), sebab setiap bid’ah itu adalah kesesatan. “ (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Sistem kehidupan yang dicontohkan Nabi adalah sistem Islami. Begitu pula dengan sistem yang dianut para Khulafaur Rasyidin Ra. Maka seharusnya Ummat Islam konsisten dan istiqamah dengan sistem ini. Bukan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, ketika Ummat Islam menempuh sistem jahiliyyah, demokrasi, parlementer, nasionalisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan sebagainya. Semua sistem semacam itu hanya membuat manusia SAKIT saja.

Selama ribuan tahun, sejak jaman Nabi Saw sampai tahun 1924 saat Khilafah Utsmaniyyah di Turki runtuh, kaum Muslimin tidak pernah sekali pun mengambil sistem jahiliyyah. Ummat berada di atas jalan Islam, meskipun kondisi mereka mengalami masa pasang-surut. Justru setelah era nasionalisme berlaku di dunia Islam, dan lenyapnya sistem Islami, kaum Muslimin hidup terlunta-lunta. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk. Bahkan ada yang menyebut, kondisi Ummat Islam seperti gelandangan yang tidak karuan nasibnya.

Baca entri selengkapnya »