JASMERAH dan JASHIJAU

Mei 10, 2015

>> Di masa lalu, Ir. Soekarno kemukakan sbuah slogan hebat JASMERAH. Artinya: “JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH.” Ini lalu jadi slogan umum.

>> Filosof mengatakan: “Sebuah bangsa yang tidak peduli dengan sejarah, dia tak punya masa depan.”

>> Al Qur’an dan As Sunnah banyak skali bicara tentang SEJARAH kaum terdahulu, agar kita mereguk hikmah & renungan.

>> Tapi kenapa mesti JASMERAH? Mengapa bukan jas kuning, coklat, hitam, atau ungu? Ya karena “jas merah” identik warna PNI (partai Soekarno). Lihat PDIP merah juga. Partai komunis juga pakai warna merah.

>> Perlu juga kiranya kita kemukakan slogan JASHIJAU. Dalam kultur Nusantara, warna hijau menandakan warna Islam. Identik dengan warna DAUN dan ALAM NATURAL.

>> JASHIJAU…JAngan Sekali-kali HIlangkan JAsa Ummat (Islam).

>> Tiada Indonesia tanpa Islam. Kalau agama mayoritas bukan Islam, bangsa ini sudah TERPECAH BELAH sejak dulu. Karena kita ini MULTI KULTUR & ETNIS.

>> Saat Indonesia berbentuk RIS, pemimpin Masyumi, M. Natsir, galang dukungan agar kita kembali ke format NKRI. Itu dikenal sebagai MOSI INTEGRAL NATSIR.

>> Dalam perjuangan kontra kolonial dan kemerdekaan; Ummat Islam tak henti-henti mempersembahkan patriot, pahlawan, dan syuhada. Atas fakta itu lalu Ummat Islam “diberi hadiah” dengan adanya DEPARTEMEN AGAMA.

>> Tiada Indonesia tanpa Islam. Tiada NKRI tanpa jasa Ummat Islam.

>> Bila kini ada gerakan MASSIF & SISTEMIK untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan bangsa dan negara. Maka kami katakan: “JASHIJAU… Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ummat!”

>> Dalam pertarungan politik masa kini, jangan ragu kemukakan: J.A.S.H.I.J.A.U.

>> Kata Nabi SAW: “Tidak bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.”

Bumi Allah, 3 Mei 2015.
AM. Waskito.


Orde Lama dan Sistem Islam

Oktober 2, 2009

Ada sebuah tulisan bagus di eramuslim.com, ditulis oleh Bang Rizki Ridyasmara. Judulnya, “Ayat-ayat Allah SWT dalam Gempa di Sumatra“. Secara umum, tulisan ini bagus, mengajak kita secara dalam merenung kembali tentang nestapa hidup di negeri ini. Intinya, bencana-bencana alam itu muncul karena kedurhakaan manusia (Indonesia) belaka. Juga karena kesalahan rakyat dalam memilih pemimpin yang benar dan lurus. Menurut Bang Rizki, pemimpin saat ini masih satu paket dengan gerakan New World Order yang dikendalikan orang-orang Luciferian.

Kalau mau membaca artikel lengkapnya, silakan di:

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-allah-swt-dalam-gempa-di-sumatera.htm

Tapi ada satu bagian tulisan itu yang ingin dikomentari. Sebenarnya ini sudah lama, tapi ingin disampaikan saat ini, karena berbagai alasan teknis. Ada beberapa penggal kalimat dalam tulisan itu (di luar tema inti) yang sebenarnya perlu diluruskan. Isinya sebagai berikut:

Kedua, 44 tahun lalu, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 merupakan tonggak bersejarah bagi perjalanan bangsa dan negara ini. Pada tanggal itulah awal dari kejatuhan Soekarno dan berkuasanya Jenderal Suharto. Pergantian kekuasaan yang di Barat dikenal dengan sebutan Coup de’ Etat Jenderal Suharto ini, telah membunuh Indonesia yang mandiri dan revolusioner di zaman Soekarno, anti kepada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Nekolim), menjadi Indonesia yang terjajah kembali. Suharto telah membawa kembali bangsa ini ke mulut para pelayan Dajjal, agen-agen Yahudi Internasional, yang berkumpul di Washington.

Nah, pada bagian di atas, kita perlu memberi catatan-catatan. Secara umum, baik Soekarno atau Soeharto itu sama-sama sekuler. Kalau Soekarno sekulernya bledag-bledug (blak-blakan), sementara Soeharto sekulernya diselimuti kesantunan tata-krama Jawa. Tapi hakikatnya, sama-sama sekuler. Dan di akhir Pemerintahannya Soeharto dekat dengan kalangan Islam. Meskipun hal itu tidak serta-merta bisa mengubur semua dosa-dosa politiknya.

Adapun catatan yang ingin disampaikan terhadap paragraf di atas adalah sebagai berikut:

[1] Ketika kita memposisikan Soeharto sebagai agen Kapitalisme, solusinya tidak harus Soekarno. Ini catatan besar yang harus selalu diingat. Solusinya seharusnya adalah Islam itu sendiri. Seperti kata ungkapan, “Al Islamu huwal hal” (Islam itulah solusinya).

[2] Kalau kita mencela Soeharto, tidak harus lalu memuji Soekarno. Soekarno tidak kalah brutalnya dari Soeharto. Di antara dosa-dosa Soekarno antara lain: Menolok Piagam Djakarta, menulis teks Proklamasi sendiri (sangat singkat dan ada coretan-coretan), menyetujui perjanjian Linggardjati, Renville, KMB. Dalam salah satu klausul KMB, Indonesia harus menanggung hutang Belanda yang nilainya miliaran gulden. Soekarno juga membabat habis gerakan DI/TII, mengeksekusi mati SM Kartosoewiryo rahimahullah, dia membubarkan Masyumi, mentoleransi pemberontakan PKI Madiun, memaksakan ideologi NASAKOM, hingga akhirnya terlibat dalam gerakan PKI tahun 1965. Banyak sekali dosa-dosa Seokarno, termasuk sebutan-sebutan “berbau syirik” baginya seperti “Yang terhormat paduka yang mulia, pemimpin besar Revolusi..” dll. Sebutan-sebutan itu adalah “cuci otak” yang membuat rakyat Indonesia sampai saat ini masih terus menyimpan kekaguman spiritual kepadanya.

[3] Andaikan Soekarno tidak terlibat New Word Order, bukan berarti dia bisa bebas dari segala beban dosa. Bukankah waktu itu istilah New World Order sendiri belum populer? Bahkan ketika itu masih ada blok Timur Uni Soviet yang anti kapitalisme Amerika. Soekarno bukanlah manusia yang mandiri, dia tetap membebek juga kepada ideologi materialisme. Dalam banyak tulisannya, Soekarno itu mengakui sangat kagum dengan pemikiran Karl Marx. Apa manusia macam begini yang hendak kita bela? Na’udzubillah min dzalik.

Perlu diingat juga, tidak ada tokoh-tokoh Islam jaman Orde Lama yang memberi rekomendasi kepada Soekarno. Kalau ada adalah Hamka rahimahullah yang berbesar hati tetap menyalati Seokarno, meskipun beliau pernah dipenjara oleh Soekarno.

Intinya, sejak jaman Kemerdekaan RI, negara kita tidak pernah dipimpin secara benar. Baik Soekarno, Soeharto, maupun era Reformasi, semuanya dilandasi nilai-nilai sekularisme-materialisme. Tidak ada yang mau memimpin negara ini dengan ideologi Islam, dengan tata nilai Islam, dengan panduan manhaj Rabbaniyyah. .

Disini saya terkesan oleh sikap Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah. Ketika menyikapi satu kalimat dalam Piagam Djakarta, “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Ketika banyak orang berselisih tentang redaksi yang tepat untuk kalimat itu, Ki Bagoes menawarkan konsepnya yang jenius. Beliau mengusulkan agar kalimat itu ditetapkan “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam, tanpa embel-embel bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sungguh mengagumkan usulan Ki Bagoes rahimahullah itu. Saya acungi dua jempol untuk beliau. Andai dalam jari-jari tangan ini ada 10 jempol, insya Allah akan saya acungkan semuanya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.



Politik Itu Kejam? Ya Iyalah…

Maret 14, 2009

“Politik itu kejam!” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Orang-orang yang biasa berjalan dengan panduan etika, menjunjung tinggi moral, serta hidup bersendikan kejujuran; mereka mengerti makna ungkapan itu.

Salah satu wajah kekejaman dunia politik dapat dipahami dari ungkapan lain yang tidak kalah populernya. Disana disebutkan, “Dalam politik tidak ada lawan abadi atau kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi!” Artinya, lawan politik hari ini bisa menjadi kawan politik esok hari; begitu pula kawan politik hari ini, bisa menjadi lawan politik esok hari. Status lawan dan kawan bisa ditetapkan secara mendadak, tergantung keuntungan politik yang akan didapat.

Disini kita akan membahas sebagian bukti “kekejaman” dunia politik dengan segala macam intrik, siasat, dan pergumulan di dalamnya.

Koalisi SBY-JK

Sebuah contoh, pasangan SBY-JK dalam Pemilu 2004. Pasangan ini pada awalnya tidak didukung partai-partai besar. Mereka adalah pasangan minor yang tidak dianggap bernilai. SBY mau berpasangan dengan JK, karena JK adalah mantan menteri sekaligus penguasaha kaya; sementara JK mau menjadi wakil SBY, karena dia yakin pesona SBY bisa memenangkan Pilpres 2004.

Untuk memenangkan Pemilu 2004, Partai Demokrat sebagai pendukung utama SBY berusaha menggandeng siapa saja. Salah satunya ialah PBB (Partai Bulan Bintang), meskipun ia tidak lolos electoral threshold. Sejak awal Pilpres, ketika sebagian aktivis Islam menghembuskan isu SBY sebagai “antek Amerika”, PBB sudah menjadi mitra setia Partai Demokrat. Ketika Pilpres putaran kedua, SBY lolos menghadapi pasangan Mega-Hasyim. Nah, saat itu semua mata yang tadinya meremehkan SBY, bahkan menyebutnya sebagai “antek Amerika”, mendadak berubah rasa. Dengan segala kecanggihan silat-lidah bahasa diplomasi, mereka mulai merapat ke SBY-JK dan menawarkan dukungan. Disini sangat tampak, bahwa para pendukung baru itu sangat berambisi mencapai kekuasaan. Maka jadilah skema koalisi-koalisi baru mendukung pasangan SBY-JK. Sementara Golkar waktu itu belum menentukan langkah, sebab mereka masih harus mendinginkan rasa “sakit hati” akibat pasangan jagoannya kalah (Wiranto dan Shalahuddin Wahid). “Ngadem dulu dah,” mungkin begitu bahasa lugu para politisi Golkar waktu itu.

Uniknya, koalisi PD dengan PBB mulai terabaikan. PD lebih tertarik melihat teman-teman partai yang agak “gemukan”. Padahal PBB adalah sohib PD ketika banyak aktivis Islam menuduh SBY sebagai “antek Amerika”. PBB mau menjadi bumper SBY, tetapi mulai terabaikan ketika SBY-JK didatangi kekuatan-kekuatan politik yang lebih potensial. Keterabaian PBB terus bergulir, setelah Pemerintahan SBY-JK memegang tampuk kepemimpinan. Puncaknya ketika Yuzril Ihza sebagai Menkumdang dan HAM dicopot oleh SBY-JK, diganti orang lain. Orang-orang PBB jelas sakit hati banget. Sikap politik PBB terakhir, mereka merasa kapok menjalin koalisi tanpa ada komitmen kesetiaan. (Tapi kalau misal SBY menjadi presiden lagi, lalu PBB diberi tawaran posisi menteri lagi, saya yakin tawaran itu akan mereka terima juga. Ya dalam politik kan istilah “sakit hati” itu relatif. Ia bisa diatur-atur, asal ada “bagi hasil” yang cocok).

Tapi bukan berarti saya bersimpati kepada PBB. Ini hanya sekedar penjelasan tentang aplikasi filosofi politik sekuler, “Dalam politik tidak ada lawan abadi atau kawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.”

Baca entri selengkapnya »