Teror Lagi…Teror Lagi…

Juli 18, 2009

Ada sebuah lagu yang cukup lucu:

Teror lagi…teror lagi… Gara-gara Si Komo lewat…

Tiada hari tanpa teror… Biar Indonesia tambah sumpek…

Payah, payah, payah sekali. Itulah kata-kata yang bisa diungkapkan menyambut terjadinya teror bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009, sekitar pukul 7.45 pagi. Siapapun pelakunya dan apapun motifnya, teror seperti itu sangat payah, dan tidak layak dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal sehat.

Taruhlah, kita langsung masuk ke tuduhan teratas, yaitu kepada kelompok Muslim radikal yang anti Amerika dan mendukung Al Qa’idah di bawah komando Usamah bin Ladin. Katakanlah, kita langsung ke kelompok ini. Tidak usah basa-basi, tidak usah banyak bacot, langsung saja ke kelompok ini.

Pertanyaannya:

[o] Mengapa mereka menjadikan Indonesia sebagai sasaran? Di Indonesia tidak sedang berada dalam situasi konflik berat seperti di Iraq, Palestina, Afghanistan, Chechnya, Kashmir, Somalia, atau Pakistan. Apakah pelakunya terlalu bodoh untuk membedakan antara Indonesia dengan negara-negara itu?

[o] Andai mereka menemukan alasan kuat untuk menyerang di Indonesia, mengapa sasarannya selalu sipil? Mengapa tidak sekalian saja face to face dengan aparat keamanan? Itu lebih gentle, ketimbang menyerang target-target sipil. Orang-orang sipil itu jelas tidak bisa apa-apa.

[o] Andai mereka harus melakukan serangan bom seperti itu, apa sih manfaatnya bagi perjuangan Islam? Apakah kedurjanaan Amerika seketika berakhir? Apakah negeri-negeri tertindas di Dunia Islam bisa seketika bebas? Apakah dengan itu, berbagai kezhaliman yang menimpa kaum Muslimin segera terobati? Demi Allah, aksi-aksi seperti itu tidak bermanfaat bagi perjuangan Islam. Justru semakin memayahkan kehidupan kaum Muslimin. Islam dan Ummatnya menjadi sasaran hujatan orang-orang kafir di seluruh dunia, karena aksi-aksi teror itu.

Kalau kita hitung-hitung secara cermat, manfaat yang diperoleh Ummat dengan adanya aksi-aksi seperti itu jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang kita terima. Meskipun aksi-aksi itu didalili dengan segala macam dalil, tetap saja hasil akhir dari semua itu: kerugian lebih besar menimpa Ummat. Singkat kata, ia termasuk perbuatan fasad fil ardhi (membuat kerusakan di muka bumi).

Dan orang-orang kafir sangat cermat menghitung nilai keuntungan dan kerugian ini. Ketika mereka menyadari, hasil akhir dari aksi-akasi teror itu dampaknya lebih merugikan kaum Muslimin. Maka mereka pun membuat konspirasi dengan mencetak berbagai macam aksi teror di muka bumi. Pelakunya mereka sendiri, tetapi mereka meninggalkan “jejak” dan “bukti-bukti” yang akan memposisikan Ummat Islam sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas aksi-aksi itu. Peristiwa WTC 11 September 2001 dan Bom Bali di Sari Club, 12 Oktober 2002 adalah kenyataan tak terbantahkan. Pada kedua aksi teror itu sangat kental tercium aroma konspirasi untuk menghancurkan kredibilitas Islam dan kaum Muslimin di mata dunia.

Lalu pertanyaannya, bagaimana caranya membedakan aksi teror untuk menodai citra Islam dengan aksi perlawanan pejuang Islam di medan-medan konflik?

Kaidahnya sangat sederhana, yaitu:

[1] Lihat siapa yang menjadi sasaran aksi kekerasan itu? Apakah sasaran militer atau warga sipil?

[2] Lihat di negara mana aksi itu dilakukan? Lalu perhatikan, apakah negara tersebut sedang mengalami konflik poliik hebat atau tidak?

Kalau aksi dilakukan dengan sasaran warga sipil, di tempat-tenmpat umum, dilakukan di negara-negara aman yang sedang tidak terjadi konflik di dalamnya (seperti di Indonesia, Amerika, Inggris, Saudi, Singapura, Malaysia, Australia, Filipina, dan lainnya). Dapat dipastikan bahwa aksi kekerasan itu adalah rekayasa untuk mencemarkan nama Islam dan kaum Muslimin. Haqqul yakin, itu adalah aksi penodaan citra Islam di mata dunia.

Argumentasinya sederhana saja: Para mujahidin sekalipun, meskipun mereka melakukan gerakan-gerakan militer, mereka sangat menjunjung tinggi etika (adab). Maka Anda perhatikan, aksi-aksi perlawanan dengan bom dan lain-lain itu selalu dilakukan di negara-negara Muslim yang memang sedang mengalami konflik via a vis menghadapi kekuatan non Muslim.

Di sisi lain, untuk membuat bukti-bukti rekayasa itu sangat mudah. Misalnya, beberapa orang kumpul di sebuah kost-kostan terpencil. Mereka memakai penutup muka semua dan berbicara di sebuah background tunggal. Lalu mereka membacakan pidato yang isinya rencana aksi, kecaman ke Amerika, janji syurga, mencaci-maki pemimpin politik, dan lain-lain. Kemudian direkam memakai handycam atau HP. Ya, yang begini saja sangat mudah dibuat. Bayangkan, di Indonesia ini banyak orang bejat membuat -maaf beribu maaf- video porno yang isinya adegan senggama di atas jalan dosa hina-dina. Lha, wong membuat video porno saja bisa, masak membuat drama “terorisme” seperti di atas tidak bisa? Dan kita tidak pernah tahu siapa yang asli membuat rekaman seperti itu. Bisa orang sesat, bisa intelijen asing, atau intelijen lokal. Itu bisa-bisa saja!

Terhadap teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton ini, ya silakan disimpulkan sendiri. Pokoknya, aksi kekerasan yang dilakukan di negeri aman dengan sasaran sipil, yang dilakukan dengan label “jihad”: Dapat dipastikan, ia adalah serangkaian teror untuk merusak citra Islam dan kaum Muslimin.

Jangan percaya dengan omong kosong media atau omong kosong para pengamat yang sok pintar. Mereka kalau disuruh membaca Al Fatihah saja belum tentu benar. Maka atas alasan apa kita mempercayai omong kosong mereka itu? Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Bandung, 18 Juli 2009.

AMW.

Iklan

Menanggapi Tulisan Kolom di Majalah SABILI

April 6, 2009

PENGANTAR PENULIS

Tulisan ini sebenarnya merupakan tanggapan terhadap sebuah tulisan kolom di majalah SABILI edisi No. 10/Dzul Hijjah 1429 H. Judul tulisan ini, Gerakan Wahabi Sebagai ‘Tertuduh’. Ia merupakan tanggapan terhadap tulisan kolom berjudul Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam yang ditulis oleh Saudara Agus Widiarto. Saya perlu segera merespon tulisan tersebut, karena semula saya berlangganan Sabili, dan sebagai pelanggan saya merasa tulisan itu tidak adil. Disana tergambar dengan jelas pemikiran stigmatisasi terhadap gerakan Islam, khususnya Wahhabiyyah. Alih-alih sang penulis akan memuji prestasi gerakan Wahhabiyyah, dia malah tenggelam dalam kesenangannya mencari-cari kesalahan dengan metode analisis picik.

Tidak lama setelah tulisan itu terbaca, saya segera menyusun tulisan jawaban sebagai hak jawab seorang pembaca terhadap media yang dibacanya. Mungkin berselang 3 atau 4 hari setelah dibaca, tulisan jawaban itu saya kirim via e-mail ke redaksi majalah Sabili. Namun sayang, beberapa kali kirim e-mail tersebut gagal sampai ke redaksi Sabili. Kalau tidak salah, dalam box e-mail Sabili sudah terlalu penuh kiriman e-mail. Saya coba kirim dengan beberapa versi alamat e-mail, tetapi masih saja gagal. Terakhir, saya kirim ke bagian marketing Sabili, dan alhamdulillah terkirim. Hanya sayangnya, sampai saat ini tulisan itu tidak pernah dimuat. Entah apa alasan redaksi tidak memuat. Atau mungkin artikel itu benar-benar tidak sampai ke tangan redaksi Sabili? Wallahu A’lam.

Karena di SABILI tulisan jawaban ini tidak termuat, ya akhirnya saya muat di blog sederhana ini. Semoga Allah meridhai, kaum Muslimin berkenan, dan atas dosa-dosa kita semuanya diampuni Al Ghafur Ar Rahiim. Allahumma amin ya Karim.

“GERAKAN WAHABI SEBAGAI TERTUDUH”

Kalau berbicara isu gerakan Wahabi di Indonesia, sebagian besar warnanya selalu negatif. Istilah “Wahabi” sendiri sejatinya merupakan pelabelan yang padat dengan sinisme. Warga Nahdhiyin sampai saat ini tidak pernah mengibarkan “bendera persaudaraan” terhadap gerakan ini. Seakan, apa yang mereka sebut Wahabi itu adalah realitas di luar Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Kolom yang ditulis Agus Widiarto, Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam, di Sabili No. 10/Th. XVI/6 Dzul Hijjah 1429 H, bukanlah kenyataan baru. Ia hanya stereotip yang selalu diulang-ulang dari waktu ke waktu. Termasuk terbitnya buku baru, Quo Vadis Salafi? Wajahnya sama, maksudnya sejalan, hanya berbeda operatornya saja.

Seharusnya kita bersikap obyektif, memandang sesuatu dari berbagai sisi, dan melepaskan diri dari kedengkian pemikiran; sehingga bisa secara fair menghargai kebaikan, apapun bentuknya, siapapun pelakunya. Jika tidak demikian, maka Ummat Islam tidak akan pernah membangun. Sebaik apapun hasil pembangunan, para pelakunya pasti memiliki cacat dan kelemahan. Kata ungkapan, “Al insan makanu khatha’ wa nisyan” (manusia itu tempatnya salah dan lupa). Orang-orang yang dianggap ‘non Wahabi’ 24 karat sekalipun, kalau mau dilacak, akan terkuak kesalahan dan aibnya.

Saat kita melihat gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; sering disebut gerakan Salafiyah atau Wahhabiyyah menurut yang lain; situasinya tidak se-simple dikotomi hitam-putih. Keragaman pemikiran, pola gerakan, dan aktualisasi dakwah, tampak disana. Perlu diketahui, dalam gerakan ini sejak awal selalu muncul komunitas ekstrem. Mereka dulu dikenali dengan sebutan Kafilah Al Ikhwan. Mereka tidak segan-segan menumpahkan darah siapa saja yang menolak pemikiran Wahabi. Tahun 1979 terjadi peristiwa “kudeta Masjidil Haram” oleh Juhaiman Al Utaibi dan pengikutnya. Di tahun-tahun terakhir muncul gerakan takfir yang diikuti aksi-aksi kekerasan. Semua ini merepotkan Kerajaan Saudi dan para ulamanya, sejak dulu sampai sekarang. Ekstremitas inilah yang banyak menyumbang citra negatif dakwah Salafiyah.

Pengamat yang apriori akan berhenti hanya sampai di titik memperpanjang daftar stigmatisasi. Namun bagi pengamat sportif, dia tidak gegabah menarik kesimpulan. Dakwah Salafiyah sendiri berkontribusi besar dalam isu Kebangkitan Islam di dunia. Hampir setiap gerakan Islam modern, sedikit banyak terimbas gerakan ini. Ikhwanul Muslimin, Jamaah Islamiyyah di Mesir, Jamaat Islami di Pakistan, Salafiyah di India, PAS di Malaysia, gerakan Islam modern di Indonesia (Muhammadiyyah, Al Irsyad, Persis, Masyumi, DDII, Hidayatullah, dll.), sampai gerakan Sanusiyyah di Maroko; disana terdapat jejak pengaruh Salafiyah. Dalam kaidah Ushulul ‘Isyrin (Prinsip 20) Ikhwanul Muslimin, sebagian prinsipnya jelas membawa misi pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah Nabi.

Kesalahan utama para pengamat ketika memandang gerakan Wahabi –termasuk kesalahan Agus Widiarto- ialah menganggap gerakan ini sebagai produk pemikiran Syaikh Ibnu Abdul Wahhab atau Ibnu Taimiyyah. Ini kesalahan serius. Pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah, dua syiar utama dakwah Salafiyah, sebenarnya merupakan penjabaran kongkret dari Dua Kalimat Syahadat. Sedang Kalimat Syahadat adalah kontrak asasi seorang Muslim dengan Rabb-nya.

Bagaimana Islam akan kembali berjaya dan setiap Muslim mendapati kejelasan arah hidupnya, jika mereka tidak kembali kepada Kalimat Syahadat? Apakah dianggap sebagai kesesatan, dengan mengembalikan Ummat Islam kepada asas agamanya? Ya, hati nurani Anda bisa menjawabnya.

Agus Widiarto menulis, “Wahabisme harus dipisahkan ke ruang berbeda dengan yang lain, ketika gerakan ini tak melanjutkan ijtihadiyah terhadap doktrin-doktrin agama.” Pertanyaannya, apakah untuk Dua Kalimat Syahadat masih dibutuhkan ijtihad? Jelas sangat tidak mungkin. Adapun dalam perkara fiqih atau muamalah, ulama-ulama Wahabi sangat progressif dalam ijtihad. Lihatlah konstruksi bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi! Ia merupakan fakta monumental sikap progressif ulama Wahabi dalam ijtihad.

Agus menutup tulisannya, “Jika pun Wahabisme dipandang sebagai gerakan puritan yang keras, kaku, dan intoleran, ia bukanlah mainstream pemikiran atau bahkan gerakan dakwah Islam di Indonesia yang penuh toleran.” Pertanyaannya, apakah kita lupa bahwa Dewan Wali Songo pernah mengeksekusi Syaikh Siti Jenar karena berpaham Wihdatul Wujud? Lihatlah, ternyata di masa sebelum Wahabi muncul, sikap tegas membela akidah Islam telah ada, di bumi Nusantara ini.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Bandung, 30 November 2008.

AMW.

Note: Maaf, tulisan ini sudah “cukup umur”. Ditulis akhir November, baru posting sekarang.