Beberapa Bentuk Ungkapan Spontan

Maret 27, 2013

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar adanya ucapan-ucapan spontan. Bentuknya macam-macam, ada yang Islami, ada yang umum, ada yang bersifat etnikal (kedaerahan).

Ucapan spontan ini biasa diucapkan ketika terkejut, merasa takjub, kesakitan, mendadak terjadi insiden, sangat gembira sekali, sangat sedih sekali, dan sebagainya. Pokoknya, momen-momen spontan.

Berikut ucapan-ucapan spontan dengan berbagai versinya. Disini disebut sesuai bunyi lafadz, bukan ejaan:

== Masya Alloh (semua ini terjadi dengan kehendak Allah).

== Subhanalloh (Maha Suci Allah).

== Allohu Akbar (Allahu Maha Besar).

== Laa ilaha illalloh (tiada sesembahan selain Allah).

== Astaghfirulloh (aku mohon ampun kepada Allah).

Hati Manusia Selalu Terikat dengan Tuhan (Allah Ta'ala).

Hati Manusia Selalu Terikat dengan Tuhan (Allah Ta’ala).

== Ucapan “astaghfirullah” kemudian di-indonesiakan menjadi: Astaga! (Malah ada yang mengatakan: Astaga naga! Lebay…).

== Ya Alloh (paling banyak diucapkan oleh ibu-ibu, atau mbak-mbak).

== Ya Ilahi (artinya, wahai Tuhanku).

== Ya Robbi (wahai Rabb-ku).

== Ya Robbana (wahai Rabb kami).

== Ya Ilah (wahai Tuhan).

== Ya Ela (versi orang Betawi, ketika melihat orang lebay).

== Duile (versi Benyamin S dalam film-film masa lalu).

== Duh Gusti Kang Moho Agung (versi orang Jawa, artinya: wahai Tuhan yang Maha Agung).

== Ya Tuhan (versi umum orang Indonesia, Muslim atau non Muslim).

== Oh My God (versi Inggris-Amerika, sangat populer).

== OMG (singkatan Oh My God, versi anak-anak ABG).

== …

Apa lagi ya? Ada yang tahu, atau mau menambahkan? Ayolah… Mungkin ada versi-versi dari bahasa daerah lain?

Nah, itu sebagian ungkapan spontan yang biasa diucapkan. Hal ini menandakan bahwa manusia tidak bisa lepas dari harapan dan bergantung kepada Tuhan (Allah Ta’ala). Semoga Allah selalu melindungi, merahmati, dan memberikan petunjuk hidayah dan penjagaan kepada kita (kaum Muslimin). Amin ya Rabbal ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Tsunami 2: Ayat-ayat Allah di Tengah Bencana

Desember 30, 2008

Bencana gempa bumi dan Tsunami di Aceh, telah menorehkan kepedihan mendalam di hati Ummat Islam Indonesia, khususnya kaum Muslimin di Aceh Darussalam. Namun Allah juga berkehendak menghibur kita dengan ayat-ayat Kekuasaan-Nya yang bertebaran di sekitar bencana ini.

Sebagian ulama membedakan ayat-ayat Allah dalam dua bentuk, yaitu ayat-ayat tersurat (tertulis dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi) dan ayat-ayat tersirat yang bertebaran di seluruh penjuru alam semesta. Ayat-ayat tersirat itu bisa berupa kesempurnaan arsitektur ciptaan Allah di alam, atau berupa Sunnatullah yang bergerak tetap tanpa ada perubahan, atau berupa kejadian-kejadian luar-biasa yang menurut akal sehat mustahil terjadi, atau berupa tanda-tanda peringatan Allah agar manusia sadar diri, bahkan bisa berupa bukti-bukti pertolongan Allah terhadap hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Sebagian kalangan menyebut ayat-ayat tersirat ini dengan istilah al ayatul kauniyyah.

Di sekitar kejadian bencana alam di Bumi Aceh Darussalam, muncul begitu banyak tanda-tanda Keagungan Allah yang sulit diingkari oleh setiap mata, telinga, dan hati manusia yang masih berfungsi. Hanya hati-hati yang buta saja yang akan mengingkari ayat-ayat Allah itu. Bahkan seandainya terjadi bencana yang 10 kali lebih memilukan dari gelombang Tsunami di Aceh ini, hati-hati mereka tetap keras, lebih keras dari batu. Na’udzubillah min dzalik.

Karena sesungguhnya, bukanlah pandangan mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dada.” (Surat Al Hajj: 46).

Kemudian setelah itu hati-hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras dari itu. Padahal di antara batu itu ada yang mengalir sungai-sungai darinya, dan di antaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya.” (Surat Al Baqarah: 74).

Ayat-ayat Kauniyyah

Dengan mengikuti berita-berita media massa seputar bencana alam di Aceh, terutama liputan MetroTV, ia akan membuat hati-hati manusia Indonesia melembut dan segera insyaf dari segala kekeliruan yang selama ini digeluti. Bahkan dengan menyimak sebagian kecil berita saja, kita seharusnya sudah menyungkurkan wajah, bertaubat kepada Allah dengan sebaik-baik taubat.

Di antara kejadian-kejadian luar biasa yang kita saksikan melalui media-media massa, antara lain sebagai berikut:

[1] Wajah sejuk jenazah anak-anak balita

Kematian anak-anak balita dalam ketenangan luar biasa, layaknya anak-anak yang tertidur pulas. Meninggal akibat tenggelam akan menyisakan tanda-tanda, terutama di urat leher jenazah. Namun bayi-bayi itu meninggal dalam keadaan penuh tenang. Bukan hanya satu bayi, namun, puluhan, ratusan, bahkan ribuan bocah-bocah kecil di Nanggroe Aceh Darussalam.

Gambar sebagian bayi-bayi itu diperlihatkan dengan jelas dalam tayangan spot live event Metro TV bertajuk Indonesia Menangis. Saya menduga, anak-anak itu telah diwafatkan terlebih dulu, sebelum air bah menggulung badan mereka. Tidak ada yang mustahil jika Allah telah menghendakinya.

[2] Masjid-masjid tetap berdiri kokoh

Selama bencana, hampir seluruh kawasan yang dilanda banjir rata dengan tanah. Dari pantauan foto satelit, terlihat daerah-daerah yang tersapu Tsunami berubah total 90 % dibandingkan kondisi semula. Ia seperti lapisan pasir kering di atas lantai licin, lalu diguyur oleh air dalam jumlah besar, maka lantai pun mengkilat seperti sediakala. Uniknya, banyak masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh meskipun lingkungan di sekitarnya telah rata oleh banjir.

Masjid-masjid itu sempat diabadikan oleh kamera, lalu foto-fotonya beredar luas di internet. Dalam hal ini Masjid Raya Banda Aceh Baiturrahman menjadi induk dari semua masjid-masjid yang tetap kokoh berdiri. Selama bencana terjadi masjid menjadi tempat berlindung Ummat Islam dari amukan bencana. Menutut Hasyim, seorang juru kamera amatir yang mengabadikan peristiwa monumental banjir di tengah Banda Aceh, arus air di luar Masjid Raya Baiturrahman sangat deras, namun di sekitar masjid arus itu justru tenang. Bahkan di dalam masjid sendiri air bergerak pelan, tidak membahayakan.

Sebagian orang membantah, masjid-masjid itu dibangun dengan fondasi yang kokoh sehingga tidak roboh. Satu sisi, darimana mereka tahu apakah fondasi masjid itu dibuat sangat kokoh? Apakah mereka ikut bekerja ketika masjid itu dibangun? Lagi pula, apakah fondasi masjid di Aceh dibuat melebihi kekokohan fondasi bangunan-bangunan lain seperti rumah-rumah mewah, hotel-hotel, gedung bertingkat, kantor-kantor BUMN, kantor pemerintahan, markas militer, PLN, Pertamina dan lain-lain? Apakah dana masyarakat untuk membangun masjid melimpah-ruah melebihi dana perusahaan-perusahaan besar ketika mereka membangun gedung?

Atau mungkin mereka berkata, semua ini hanya kebetulan terjadi. Allahu Akbar, bagaimana disebut kebetulan jika ia terjadi di banyak masjid, lebih dari satu atau dua masjid? Apakah masjid-masjid itu satu sama lain saling kompak untuk melawan terjangan banjir Tsunami? Jika kekompakan itu ada, mungkin manusia-manusia berhati batu itu yang menjadi saksi ikrar kekompakan mereka.

Baca entri selengkapnya »