Presiden SBY, Kasihanilah Rakyat Indonesia!

Agustus 12, 2010

Yang kami hormati:

Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Presiden SBY, semoga Bapak dalam keadaan sehat dan bugar untuk melaksanakan amanah memimpin rakyat Indonesia yang jumlahnya sekitar 230 juta jiwa ini, baik Muslim maupun non Muslim.

Melalui pernyataan ini, saya selaku salah satu anak bangsa, meminta Bapak agar melaksanakan janji-janji Anda dalam kampanye Pilpres maupun pidato-pidato politik, untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, memakmurkan kehidupan mereka, menegakkan keadilan, memberantas korupsi, meningkatkan taraf pendidikan, memajukan pertanian, dll. Pendek kata, Bapak sudah berjanj akan mensukseskan pembangunan, membina keamanan-ketenteraman, dan keselamatan hidup masyarakat luas.

Bencana Alam Sangat Menyusahkan Rakyat Kecil!!!

Bapak SBY, kasus penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pada pagi hari, 9 Agustus 2010 di Banjar Patroman, adalah kesalahan besar yang dilakukan Pemerintahan Bapak. Khususnya aparat kepolisian. Kita masih ingat, ketika Bapak memerintahkan pegawai-pegawai Istana Negara untuk tidak jadi menebang sebuah pohon besar di depan Istana. Instruksi Bapak itu berguna menyelamatkan eksistensi sebuah pohon. Seharusnya Bapak juga bisa menginstruksikan bawahan Bapak untuk menyelamatkan seorang ustadz sepuh, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Tentang keabsahan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini berikut rentetan peristiwanya, bolehlah kita perdebatkan. Pihak Pemerintah, khususnya Polri meyakini bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merupakan otak dan pendukung dana kegiatan terorisme di Aceh. Sementara kalangan ormas Islam (yang pro Syariat Islam), mereka menolak keras penangkapan itu. Apalagi semua ini dilakukan saat menjelang Ramadhan 1431 H. Bolehlah kita memiliki argumentasi masing-masing. Tetapi saya ingin mengingatkan KONSEKUENSI BERAT dari penangkapan tokoh yang istiqamah seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu.

Dalam hadits shahih, sekaligus hadits qudsiy, Allah Ta’ala berfirman: “Man ‘aa-da liy waliyan, faqad adzantu lahu bil harbi” (siapa yang memusuhi seorang wali-Ku [maksudnya, wali Allah], maka Aku nyatakan perang terhadap-nya).” (HR. Bukhari-Muslim).

Bapak SBY yang saya hormati…

Bila Bapak menghormati sebuah pohon di depan Istana, tidak jadi memerintahkan menebangnya, karena di pohon itu diduga “ada penunggunya”. Bagaimana Bapak akan membiarkan Densus88 dan Polri menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, bahkan dengan cara-acara berlebihan di tengah jalan? Apakah Bapak tidak khawatir, bahwa seorang Abu Bakar Ba’asyir termasuk salah satu wali Allah di negeri ini? Apakah Bapak tidak khawatir jika Allah menyatakan perang kepada Anda, kepada Polri, bahkan kepada rakyat Indonesia yang diam membisu melihat Ustadz Ba’asyir dianiya? Wahai Bapak SBY, apakah Anda tidak merasa takut membiarkan semua ini?

Saya ingin mengingatkan Anda terhadap REALITAS BESAR, sekaligus hal ini untuk mengingatkan rakyat Indonesia. Pada tahun 2003 lalu, kepolisian meringkus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di RS PKU Muhammadiyah Solo. Ustadz Ba’asyir dijemput paksa, didorong-dorong, dibawa pergi dengan mobil; bahkan untuk sekedar buang kecil saja, Ustadz Ba’asyir harus melakukannya di botol air mineral, karena dilarang oleh aparat polisi.

Lalu apa yang terjadi sesudah kejadian jemput paksa itu?

Tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004, wilayah Aceh dan sekitarnya dilamun Tsunami yang sangat dahsyat, sehingga total menewaskan manusia sekitar 150.000 jiwa. Sekitar 100.000 jiwa adalah korban di wilayah Indonesia. Tidak berselang lama setelah Tsunami, terjadi gempa hebat di Yogya. Menewaskan manusia sekitar 5000-6000 orang, dengan angka kerugian materi sangat besar. Setelah gempa Yogya, terjadi “Tsunami Jilid II” di Pangandaran Ciamis dan sekitarnya. Disini juga jatuh korban jiwa dan kerugian material sangat besar.

Tiga kejadian bencana sangat mengerikan terjadi, menurut sebagai orang, karena sikap zhalim para penguasa (Megawati dan SBY) kepada para aktivis Islam, khususnya kepada ulama sepuh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dan Allah telah berjanji akan memerangi siapa saja yang memusuhi wali-wali-Nya.

Maka Bapak SBY…

Secara pribadi saya memohon kepada Anda, agar mengasihi kehidupan rakyat Indonesia ini. Kasihanilah rakyat kecil yang memang sudah sengsara hidupnya. Kasihanilah masyarakat yang sekian lama selalu menjadi “obyek pelengkap penderita”. Mereka tidak berdaya menghadapi kesulitan hidup dan kemiskinan yang merata. Mereka tidak berdaya menghadapi fenomena kejahatan, penipuan, kekerasan, korupsi, dll. Apalagi jika kemudian hidup mereka akan ditambah-tambah dengan benacana-bencana alam mengerikan?

Kasihanilah rakyat Indonesa, Pak SBY. Anda adalah pemimpin nasional RI. Takdir Anda memimpin rakyat Indonesia, termasuk memimpin urusan kami. Kesempatan berkuasa di tangan Anda hendaklah digunakan untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat, membangun kesejahteraan masyarakat, membangun martabat bangsa, menyingkirkan kejahatan, mafia hukum, dan sebagainya. Jangan gunakan kekuasaan di tangan Anda untuk memuaskan ambisi diri sendiri dan kelompok; untuk membiarkan kesengsaraan dan nestapa merajalela; untuk mempersilakan orang-orang kuat menganiaya orang-orang lemah; untuk mengundang datangnya bencana demi bencana.

Bapak SBY, kami mengingatkan Anda agar mengasihi rakyat kecil, rakyat Indonesia. Perlu Anda ketahui, sekejam-kejamnya seorang Imam Samudra dengan tindakannya yang diklaim aparat hukum sebagai terorisme itu; dalam hatinya dia memiliki niat mulia. Imam Samudra hidup di tengah rakyat yang menderita hidupnya, sengsara nasibnya. Imam ingin memperbaiki kehidupan ini dengan memperjuangkan Syariat Islam. Meskipun kemudian almarhum Imam Samudra dkk. melakukan aksi kekerasan yang seharusnya tidak dilakukan. Dan alhamdulillah, sebelum wafatnya, mereka sudah meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya.

Sekejam-kejamnya aksi terorisme yang dilakukan Imam Samudra, hal itu dilakukan karena kuatnya semangat dia untuk memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia yang centang-perenang. Niatnya mulia, meskipun caranya melanggar hukum nasional. Jadi, teringat legenda Robin Hood yang dikenal di masyarakat Britania. Imam Samudra tidak jauh dari legenda Robin Hood itu. Hatinya mulia, sangat peduli dengan nasib rakyat, tetapi caranya keras.

Pak SBY, cukuplah karakter Saudara Imam Samudra ini menjadi NASEHAT BESAR bagi Anda dan jajaran aparat Polri. Di balik hati manusia yang amat sangat dimusuhi negara dan Polri itu sebenarnya ada niat mulia membela kehidupan rakyat Indonesia dari sengsara dan nestapa. Maka sudah sepantasnya, Anda wahai Pak SBY, memiliki hati yang lebih baik dari Imam Samudra. Buktikan bahwa Anda lebih baik dari musuh Anda, Imam Samudra dkk!

Caranya, Anda buktikan sifat pengasih Anda kepada rakyat Indonesia ini! Lepaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan secara gentle mintalah maaf kepadanya! Juga mintalah maaf kepada kalangan pemuda-pemuda Islam yang selama ini teraniaya dengan isu terorisme. Dengan cara demikian, berarti Anda telah menghindarkan kehidupan rakyat Indonesia dari ancaman bencana-bencana alam.

Jika nasehat ini Anda anggap sepi, lalu kezhaliman itu terus berlangsung, sembari mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli atas kezhaliman ini, saya menasehati bangsa ini agar menyiapkan kesabaran, kesabaran, kesabaran, kesabaran, dan kesabaran yang panjang. Ada hari-hari sulit yang akan kita hadapi setelah ini.

Demikian nasehat yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf bila ada kata dan kalimat yang tak berkenan di hati Anda. Terimakasih atas semua perhatian dan pengertian Bapak! Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Wassaalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Bandung, 2 Ramadhan 1431 H/12 Agustus 2010.

Abu Muhammad Waskito ibn Boeang.


Surat Terbuka untuk Fans Manchester United (MU) di Indonesia

Juli 19, 2009

Kepada yang kami hormati: Para fans tim Manchester United (MU) dan pecinta sepak bola di Tanah Air.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Saudara-saudara budiman. Sebagaimana sudah sama-sama kita ketahui, hari Jum’at pagi 17 Juli 2009 kemarin, sekitar pukul 7.45 WIB, telah terjadi teror bom di dua hotel internasional di Jakarta, yaitu hotel JW. Marriott dan hotel Ritz Carlton. Tentu saja, teror ini sangat biadab dan buruk akibatnya. Salah satu dampak langsung dari teror tersebut ialah pembatalan acara pertandingan tim Manchester United (MU) asal Inggris dengan Timnas Indonesia yang sedianya diselenggarakan di Gelora Bung Karno Jakarta, tanggal 20 Juli 2009. Pembatalan disampaikan oleh manajer MU Sir Alex Ferguson dalam sebuah konferensi pers di Kuala Lumpur Malaysia, tidak lama setelah teror bom terjadi di dua hotel di atas.

Sangat dimaklumi kalau Saudara-saudara sangat kecewa dan marah akibat pembatalan acara tersebut. Selain Anda sudah mengantongi tiket yang harganya cukup mahal, Anda juga sudah menantikan acara ini sejak bulan-bulan lalu. Bahkan promo acara itu sendiri sangat gencar melalui media-media massa, termasuk di ruang-ruang publik. Bisa dimaklumi kalau para fans berat MU atau para pecinta sepak bola di Tanah Air merasa marah atau kecewa sekali. Bisa dimaklumi.

Sebagai orang berakal saya sangat kecewa atas terjadinya teror bom itu, termasuk implikasinya berupa pembatalan pertandingan antara tim MU dengan Timnas Indonesia. Meskipun saya bukan penggemar MU, tetapi pembatalan even olahraga yang sudah dipromosikan secara besar-besaran karena peristiwa teror, adalah sangat menyakitkan. Apakah negeri ini begitu kacau sehingga sebuah even besar yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan lamanya harus dibatalkan karena alasan terorisme? Negeri kita seolah seperti negeri-negeri di Afrika yang rawan konflik, sehingga tidak aman untuk menggelar acara-acara publik besar.

Gagal Tampil di Gelora Bung Karno. Karena Teroris!

Gagal Tampil di Gelora Bung Karno. Karena Teroris.

Kalau mau jujur, kita bisa bercermin pada peristiwa-peristiwa yang sering terjadi. Acara-acara publik besar selama ini sudah biasa terjadi di Indonesia, baik acara hiburan seperti konser musik, acara politik seperti kampanye-kampanye, acara keagamaan seperti tabligh akbar, bahkan even-even sepak bola seperti kompetisi Djarum Super League, Piala Copa, Piala Asia, dan lain-lain. Dalam ribuan acara-acara besar itu tidak pernah satu pun yang diserang oleh teroris. Begitu juga saat tim Bayern Munchen beberapa waktu lalu datang ke Indonesia, tidak ada satu pun hidung pemain Munchen yang cedera karena serangan teroris. Mengherankan memang, sebuah even besar gagal diselenggarakan karena alasan terorisme.

Bahkan andai dalam peristiwa teror itu yang menjadi sasaran adalah Presiden SBY karena beliau tidak disukai untuk menjadi Presiden lagi. Mengapa teror itu dilakukan di dua hotel yang Presiden SBY tidak ada di dalamnya? Mengapa ketika Presiden SBY dan pendukungnya melakukan kampanye terakhir di Gelora Bung Karno, beberapa hari sebelum Pilpres 8 Juli 2009, mereka tidak diserang teroris? Aneh sekali, teroris malah menyerang dua hotel yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pilpres. Bahkan mengapa, selama ratusan kali Presiden SBY mengadakan kunjungan dan pertemuan politik selama kampanye, tidak ada sedikit pun serangan teroris menimpanya? Jelas sekali, antara realitas teror di JW. Marriott dan Ritz Carlton dan logika yang diklaim Pemerintah, terdapat jarak yang amat jauh. Ujungnya dimana, pangkalnya dimana?

Baca entri selengkapnya »