Syiah Itu Dipelihara Amerika…

September 2, 2012

(Edited version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: “Ahmadiyah dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika.” Saya merasa, ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.

MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi bersikap “main mata” kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!

Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara “bertema konflik” untuk menutupi “hakikat kemesraan” yang tidak terlihat.

Mari kita coba lihat data-datanya…

Antara “Benci” dan Cinta. Sulit Dibedakan Antara Keduanya.

[1]. Khomeini itu sejak muda (remaja) tinggal di Perancis. Disebutnya, tinggal di pengasingan. Baru menjelang Revolusi Syiah tahun 1979, dia pulang kampung. Tinggal di Perancis sejak muda sampai jenggotnya agak memutih, dapatkah dikatakan bahwa Khomeini bersih dari invasi pemikiran dan politik yang dipaksakan Barat kepadanya? Sangat tidak mungkin. Rata-rata semua tokoh politik dari Asia yang pernah diasuh di negara Barat, rata-rata kalau pulang ke negeri masing-masing akan membawa agenda politik dari “majikan-nya”.

[2]. Sebelum Iran dikelola oleh Khomeini dan kawan-kawan, penguasa politik disana ialah Reza Pahlevi. Sebenarnya orang ini Syiah juga dan menjadi boneka Amerika. Tetapi Pahlevi lebih kental dunia politiknya, sedangkan Khomeini terkenal dengan IDEOLOGI Syiah-nya. Ketika Barat mencabut peran Pahlevi dan menggantikannya dengan Khomeini; hal itu terjadi karena mereka ingin mengubah strategi, dari pendekatan politik menjadi pendekatan ideologi; dengan menjadikan akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyari sebagai basisnya. Akidah ini jauh lebih berbahaya ketimbang manuver-manuver politik Reza Pahlevi. Sebab pada hakikatnya, akidah Imamiyah Itsna Asyari (atau Syiah Rafidhah) adalah kekufuran yang nyata. [Kalau ada ketua ormas Islam tertentu yang ragu dengan kekufuran akidah Syiah ini, saya ajak beliau untuk berdebat terbuka, bi idznillahil ‘Azhim].

[3]. Banyak sandiwara dilakukan untuk menutupi missi sebenarnya, bahwa Khomeini sebenarnya adalah boneka Amerika, tak ubahnya seperti Reza Pahlevi. Pertama, Amerika tidak segera menginvasi Iran di bawah kepemimpinan Khomeini, seperti mereka menginvasi negara-negara yang penguasanya digulingkan tanpa restu Amerika. Kedua, disana digambarkan bahwa ada sekian puluh helikopter marinir Amerika saling bertabrakan satu sama lain ketika hendak menyerang Iran. Bukti-bukti seputar serangan helikopter yang gagal ini tidak banyak diperoleh, selain dari info-info media. Benarkah heli-heli itu bertabrakan, atau sengaja di-setting agar bertabrakan? Atau jangan-jangan semua itu hanya opini media saja, tanpa bukti yang jelas? Bandingkan cara Amerika itu dengan invasi mereka ke Irak, Afghanistan, Columbia, Vietnam, bahkan infiltrasi ke Indonesia (pada peristiwa PKI 65). Ketiga, sepertinya ada “solusi damai” antara Amerika dengan keluarga Reza Pahlevi, sehingga setelah itu tidak ada “dendam politik” keluarga Pahlevi kepada Khomeini. Padahal layaknya tokoh-tokoh politik Persia, tabiat dendam sangatlah dominan. Keempat, secara massif Khomeini melakukan kampanye, bahwa Amerika adalah SETAN BESAR. Kampanye ini mendapat respon besar di dunia Islam. Karena ia memang sebuah strategi untuk mendapatkan SIMPATI kalangan Dunia Islam, yang mayoritas Ahlus Sunnah dan anti Amerika. Kelima, tidak lama setelah Revolusi Iran, negara itu terlibat dalam konflik besar Iran Versus Irak di bawah Sadam Husein. Ending dari konflik Iran-Irak ini, malah Irak dimusuhi oleh Amerika dan Sekutu, serta negara-negara Timur Tengah; setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.

[4]. Sejak lama Iran selalu dikaitkan dengan isu anti Amerika dan anti Israel. Bahkan ia masuk dalam kategori “axis of evils” (negara-negara poros kejahatan). Tetapi ia sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat dalam perang melawan Amerika, atau perang melawan Israel (musuh bangsa Arab di Timur Tengah). Jadi sebagian besar perang disini sifatnya hanya “kampanye verbal” saja. Tidak heran jika Iran kerap dijuluki sebagai NATO (no actions talk only). Begitu juga, Hamas semakin terjebak dalam posisi sulit ketika organisasi itu menjalin kerjasama dengan Teheran. Iran adalah negara yang paling menikmati hasil kampanye anti Amerika dan Israel; tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah terlibat perang sedikit pun melawab Amerika dan Israel.

[5]. Tidak diragukan lagi, bahwa Syiah Iran turut membantu invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak. Katanya, dua invasi ini tidak akan pernah berhasil, tanpa bantuan Syiah Iran. Dulu di zaman Pemerintahan Burhanuddin Rabbani (Mujahidin), Syiah telah menelikung pemerintahan itu melalui Jendral Rasyid Dustum di bagian Utara. Begitu juga Pemerintahan Irak saat ini, pasca invasi Amerika ke Irak, presidennya Jalal Talabani dan PM-nya Nuri Al Maliki, keduanya adalah bagian dari penganut Syiah. Lihatlah, Amerika lebih ridha Irak di bawah pemimpin Syiah daripada negara itu di bawah Saddam Husein yang merupakan bagian masyarakat Sunni.

[6]. Kita tentu masih ingat skandal Iran-Contra pada waktu-waktu lalu. Singkat kata, Iran dikesankan sangat bermusuh-musuhan dengan Amerika. Tetapi lewat skandal itu terbukti, Iran bekerjasama mesra dengan Amerika. Iran memasok minyak ke Amerika, lalu hasil keuntungan jual-beli minyak “ilegal” ini oleh Amerika disalurkan untuk membiayai gerakan Kontra di Kolumbia. Iran sendiri merasa diuntungkan, sebab mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan mereka (khususnya untuk biaya konflik dengan Irak). Sandiwara besar abad 20 ini akhirnya terkuak, baik Iran maupun Amerika menanggung malu. Lalu dengan entengnya Amerika mengorbankan Kolonel Oliver Stone sebagai tokoh yang bertanggung-jawab atas skandal memalukan itu.

[7]. Fakta besar yang tidak diragukan lagi, bahwa Iran memiliki reaktor nuklir yang dikembangkan untuk kebutuhan energi dan militer. Hal ini sudah tidak diragukan lagi. Berulang kali Amerika, Inggris, dan Sekutu mengancam akan menyerang Iran. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, bahkan tidak akan terjadi; karena mereka sebenarnya satu kepentingan. Bandingkan, ketika Amerika mengancam negara-negara Muslim Sunni, seperti Irak dan Afghanistan; sekali diancam, langsung dihajar, meskipun akibatnya ekonomi Amerika mesti ambruk.

[8]. Di Indonesia, posisi Syiah selalu dibela oleh tokoh-tokoh Liberalis, seperti Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Said Aqil Siradj, bahkan Amien Rais. Belakangan, Mahfud MD ikut-ikutan membela Syiah dan berlagak memojokkan kaum Sunni di Madura. Anda pasti paham mengapa tokoh-tokoh Liberal ini selalu melindungi Syiah? Ya, karena memang job description-nya, mereka harus membela Syiah.

[9]. Media cetak yang sangat giat membela Syiah sejak zaman Orde Baru adalah majalah Tempo. Media ini punya peran besar dalam mempromosikan citra positif Syiah di mata kaum Muslimin Indonesia; media ini benar-benar telah banyak menyesatkan opini rakyat Indonesia, seputar Syiah. Media ini sejak lama dikomandoi Goenawan Mohamad, salah seorang jurnalis yang sejak lama disinyalir sebagai kaki tangan Amerika di Indonesia.

[10]. Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh pro Zionis yang banyak mendukung dan membela Syiah. Dia berdalih, “Membela minoritas.” Tetapi pada saat yang sama, dia justru sangat anti dengan minoritas aktivis Islam, yang selalu menjadi bulan-bulanan politik Orde Baru dan Orde Reformasi. Katanya membela minoritas, tetapi kok malah acuh tak acuh dengan kezhaliman rezim terhadap para aktivis Islam yang sebenarnya minoritas itu? Wahid sama sekali tidak pernah membela keluarga korban Tanjung Priok, Talangsari Lampung, DOM Aceh, korban konflik Ambon, korban konflik Poso, korban pembantaian Sampit (Sambas), tahanan politik Muslim, bahkan tidak pernah membela tokoh-tokoh Petisi 50 yang notabene kalangan umum. Di zaman Orde Baru, Wahid menjadi bagian dari anggota MPR Fraksi Golkar, dan sangat mendukung kekejaman rezim terhadap para aktivis Islam. Nah, itulah sosok “dajjal kecil” yang sering dielu-elukan sebagai “pembela minoritas”. Di zaman Orde Baru, posisi Syiah selalu dalam pengawasan ketat; tetapi di era Wahid, atau tepatnya tahun 2001, berdirilah IJABI, ormas Syiah pertama di Indonesia. Ormas ini juga direstui si orang itu, sehingga di mata penganut Syiah, nama Wahid begitu harum.

[11]. Berulang kali kita saksikan bagaimana Said Aqil Siradj membela Syiah, melindungi Syiah, sembari tangan dan mulutnya terus-menerus menyerang kaum Wahabi. Tapi lucunya, Said Aqil ini tidak berani berhadap-hadapan dengan pengurus PWNU Jawa Timur, atau MUI Jawa Timur, atau MUI Madura yang jelas-jelas telah memfatwakan kesesatan Syiah. Pernah pengurus PWNU Jawa Timur datang ke kantor PBNU di Jakarta, untuk menyerahkan fatwa Syiah sesat yang telah mereka sepakati. Waktu itu mereka sudah siap audiens dengan pengurus PBNU, termasuk Si Sail Aqil. Sampai pertemuan selesai, Si Said tidak menemui para pengurus PWNU Jatim. Alasannya, “Lagi macet di jalan.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Said, Said…orang sepertimu kok beralasan “jalanan macet”? Beberapa waktu lalu Said ini datang ke Amerika, berkunjung ke Bank Dunia. Disana dia diberikan komitmen dukungan dana unlimitted, untuk memerangi terorisme (yang nanti ujung-ujungnya tuduhan itu dia arahkan ke Wahabi; semoga Allah Ta’ala membinasakan manusia yang satu ini dan para loyalisnya karena kekejian fitnah mereka; amin Allahumma amin). Kalau kembali ke momen pemilihan Ketua PBNU di Makassar, pada tahun 2010. Seminggu sebelum pemilihan ketua, dua kandidat calon ketua PBNU dipanggil ke Cikeas untuk bertemu Pak Beye. Entahlah, apa yang dikatakan Beye dalam pertemuan itu. Pokoknya setelah itu Shalahuddin Wahid terlihat tidak semangat memperebutkan kursi Ketua PBNU. Dan akhirnya, Said Aqil Siradj ini yang terpilih sebagai Ketua PBNU. Dulu di masa kepemimpinan Wahid sebagai Presiden RI, Si Said ini amat sangat loyal; sehingga berkali-kali dia menyerang Amien Rais dengan perkataan kasar. Salah satunya, kurang lebih, “Itu warga NU di bawah, sedang mengasah golok.”

[12]. Di Indonesia berkali-kali terjadi kerusuhan bermotif isu agama. Salah satunya dalam isu Syiah, seperti peristiwa Sampang, Bangil (Pasuruhan), penusukan ustadz NU di Jember, dan lainnya. Tetapi SBY rata-rata tidak pernah bersuara tentang kerusuhan ini. Jika ada komentar, ia selalu memojokkan kalangan Sunni dan menguntungkan posisi Syiah; seperti dalam komentar terakhir dia soal kasus Sampang kemarin. Pertanyaannya, sebagai kepala negara, mengapa SBY tidak berusaha melindungi akidah mayoritas kaum Muslimin di Indonesia yang bermadzhab Ahlus Sunnah? Kok dia justru lebih peduli dengan kelompok minoritas Syiah? Ya, kita tahulah, siapa SBY…

[13]. Ketika merebak isu “war on terror” di dunia, Indonesia gegap gempita menyambut isu tersebut. Salah satu akibatnya, kesempatan beasiswa belajar di Saudi diawasi sangat ketat. Sejak proses seleksi, pemberangkatan, hingga kuota beasiswa itu, diawasi sedemikian rupa. Banyak pelajar yang sedianya ingin belajar agama, merasa kesulitan. Termasuk dalam urusan kerja, bisnis, dagang, dan lainnya. Tetapi sebaliknya, kerjasama beasiswa, kunjungan tokoh, serta dakwah dengan Iran justru semakin marak. Ribuan pelajar Indonesia saat ini lagi nyantri di Iran; nanti kalau pulang mereka akan mendakwahkan agama perbudakan manusia atas manusia yang lain (pada hakikatnya, setiap pribadi Syiah adalah budak dari imam-imam Syiah di Persia).

[14]. Sampai detik ini, Amerika tidak pernah menjadikan para aktivis Syiah sebagai sasaran “war on terror” sebagaimana mereka menjadikan kaum Wahabi sebagai sasaran itu. Padahal kalau melihat “kampanye verbal” dari para dai-dai Syiah, mereka TAMPAK sangat anti Amerika dan Zionis. Kalangan Wahabi yang hati-hati saat bicara tentang Amerika, tidak segan-segan diteroriskan; sedangkan aktivis Syiah yang sehari-hari dzikirnya menyerang Amerika dan Zionis (tentu saja, dengan menyerang para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Radhiyallahu ‘Anhum), tidak pernah diapa-apakan. Coba lihat, dalam kasus Sampang kemarin, aktivis Syiah membuat ranjau dari bom ikan dan paku-paku; tetapi Densus 88 tidak pernah menyatroni rumah Tajul Muluk dan kawan-kawan.

[15]. Ketika sebagian aktivis Muslim melakukan latihan militer, untuk persiapan jihad ke Palestina, pasca terjadi Tragedi Ghaza 2008-2009 lalu; mereka segera ditangkapi dan diposisikan sebagai teroris. Tetapi terhadap aktivis Syiah yang melakukan latihan-latihan militer, tidak ada satu pun yang ditangkapi aparat. Bahkan ada yang bilang, mereka dilatih oleh instruktur baret merah. Jadi ini seperti lelucon yang terus diulang-ulang. Betapa sensitif aparat keamanan kepada para pemuda Sunni, ketika mereka ingin berjuang ke Palestina; tetapi tidak sensi sama sekali kepada aktivis-aktivis Syiah yang terus menyusun kekuatan milisi.

Singkat kata, eksistensi Syiah di Indonesia sangat sulit untuk ditertibkan (apalagi dibubarkan), karena ia memang dilindungi oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika. Sebagaimana Barat membutuhkan paham Liberal untuk merusak ajaran Islam, mereka juga merasa sangat diuntungkan dengan eksistensi paham Syiah.

Siapapun yang memeluk akidah Syiah Rafidhah secara sadar dan mengerti; dapat dipastikan dia akan keluar dari Islam. Mengapa? Karena dalam akidah itu mereka meyakini Al Qur’an tidak murni lagi; hak Kekhalifahan Ali sebagai azas agama melebihi Tauhidullah; batalnya Syariat Islam, diganti syariat perkataan pribadi imam-imam Syiah (yang tidak bisa dibuktikan otentisitasnya); mereka mencaci-maki, menghina, menyerang pribadi isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, menganggap keduanya sebagai thaghut dan kekal di neraka; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, dan menghalalkan harta, darah, dan kehormatannya; mereka menghalalkan nikah Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi dan para Shahabat; dan lain-lain keyakinan sesat.

Inti keyakinan Syiah Rafidhah, adalah kedurhakaan kepada Syariat Islam, mempertuhankan imam-imam, menjadikan dendam politik sebagai akidah tertinggi, mengkafirkan kaum Muslimin, menodai kehormatan para Shahabat yang dicintai oleh Al Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam; serta semua itu dibungkus di balik kamuflase “mencintai Ahlul Bait Nabi”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah keyakinan kufur, sehingga siapa yang meyakini semua ini secara sadar; dia otomatis kufur. Tidak berbeda sama sekali antara seorang Muslim yang masuk Kristen, Hindu, Budha, dengan orang yang masuk Syiah Rafidhah (Imamiyah) ini.

Wahai Ahlus Sunnah…Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, melemahkan Anda, atau meruntuhkan Anda. Karena Anda berdiri di atas Al Haq. Anda berdiri di atas Syariat Islam yang suci, Kitabullah dan Sunnah yang mulia, Akidah Tauhid yang kokoh; serta Anda berdiri di atas Keridhaan Allah Ar Rahman, insya Allah wa bi idznihi. Tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, siapapun diri mereka; apakah Amerika, Inggris, NATO, nuklir Iran, jamaah Syiah Rafidhah seluruh dunia, dan seterusnya. Karena kita (Ahlus Sunnah) ditolong oleh Ar Rahmaan, lantaran selalu berpegang kepada Kesucian Syariat Islam, serta memuliakan Ahlul Bait Nabi semurni-murninya, tanpa mengkultuskan dan menodai hak-hak Uluhiyah dan Rubbubiyyah Allah Ta’ala.

Pegang selalu kemurnian akidah Ahlus Sunnah, dan jangan dilepaskan karena alasan apapun. Sekalipun kita mati, biarlah mati di bawah naungan bendera SUNNAH NABI Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jangan pernah lepaskan akidah ini, wahai Ahlus Sunnah. Karena akidah inilah yang akan menjadikan Islam tetap eksis di muka bumi; karena akidah inilah yang akan menjadikan Syariat Islam yang suci tetap terpelihara; karena akidah inilah yang akan menyatukan kita dengan barisan Sayyidul Mursalin, isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para Shahabat, serta imam-imam Ahlus Sunnah sepanjang masa, hingga hari ini.

Jangan pernah dilepaskan, wahai Saudaraku. Bahkan bercita-citalah kalian untuk mati dalam rangka membela BENDERA RASULULLAH sampai titik darah terakhir! Adapun terhadap omongan eli-elit politik sesat, serta bajingan-bajingan moral, abaikan saja. Semua itu tak akan memberi madharat sedikit pun kepada Allah yang Maha Suci. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 September 2012. Minal faqir ila rahmati Rabbi,

AM. Waskito.

Iklan

Syafi’i Ma’arif Seperti “Lawyer” KPK

September 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada yang aneh dari kelakuan Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif setelah duduk dalam Komisi Etik KPK yang diketuai Abdullah Hehamahua. Seperti kita ketahui, KPK baru-baru ini membentuk komisi etik untuk menyelidiki dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh pejabat-pejabat KPK terkait kasus Nazaruddin.

Senja di Ujung Jalan. "Tak tahu, nak kemana awak mau melangkah?"

Namanya juga komisi etik, seharusnya lapangan kerjanya seputar etik keprofesian atau kelembagaan. Sama lah kalau ada kasus etik di dunia pendidikan, kampus, kedokteran, media massa, militer, kepolisian, dll. Kita paham bahwa posisi anggota komisi etik hanya dalam domain ETIK itu sendiri. Tetapi entahlah, di tangan “Buya” Syafi’i Ma’arif yang bergelar “profesor doktor” itu, ruang lingkup seperti ini tidak dipahami dengan baik. Kesan yang muncul Syafii Ma’arif malah seperti menjadi “lawyer” KPK.

Beberapa indikasi yang bisa disebutkan, antara lain:

[1]. Dalam posisinya sebagai anggota Komisi Etik KPK, Syafi’i Ma’arif atau Abdullah Hehamahua sering menyerang Nazaruddin sebagai “pembohong”. Hal itu mereka katakan di media-media massa. Ini adalah SANGAT ANEH. Aneh sekali, untuk tidak dikatakan KONYOL. Tugas Komisi Etik kan bukan menilai Nazaruddin, tapi menyelidiki dugaan pelanggaran kode etik pimpinan-pimpinan KPK. Mereka boleh menanyai Nazaruddin sebagai SAKSI, bukan sebagai tersangka. Adapun hasil penyelidikan Komisi Etik itu jelas hanya berkaitan dengan posisi pejabat-pejabat KPK. Mereka tak boleh ngomong apapun soal Nazaruddin, sebab itu bukan sasaran kerja mereka.

[2]. Syafi’i Ma’arif selain sangat “nafsu” saat memojokkan Nazaruddin, dia juga “nafsu” dalam membela posisi Chandra Hamzah. Bahkan dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV (TVOne), Selasa pagi, 20 september 2011, Syafi’i Ma’arif begitu PUAS dalam memuji-muji profil Chandra Hamzah. Syafi’i katakan bahwa Chandra Hamzah itu sangat pintar sekali, kalau berbicara runut dan detail, sangat tahu UU KPK, mantan aktivis, dll. Seharusnya “Buya” Syafi’i bisa menambahkan pujian sebagai berikut: “Ehm…ternyata Chandra itu ganteng juga ya. Kalau saya punya anak gadis, saya ambil menantu dia.”

Sangat tidak layak (kalau tidak disebut IRONIS) seorang anggota Komisi Etik KPK memberikan penilaian KEPRIBADIAN kepada orang yang sedang diselidiki kasus etik yang melibatkan dia. Syafi’i Ma’arif kan bukan anggota DEWAN JURI acara-acara TV seperti Pildacil, AFI, Indonesia Mencari Bakat, kontes dangdut, dll. Kalau melihat hal seperti ini, jelas anggota Komisi Etik KPK sudah cenderung berpihak pada pejabat-pejabat KPK itu sendiri.

[3]. Dalam wawancara dengan media di atas, Syafi’i Ma’arif berkali-kali menangkis tuduhan Nazaruddin, pertanyaan Boni Hargens, pertanyaan presenter TV, yang dialamatkan ke pejabat-pejabat KPK. Ini sangat aneh. Syafi’i Ma’arif ini kan anggota komisi etik. Dia bukan seorang “lawyer”. Namanya anggota komisi etik, Syafi’i harus TUTUP MULUT dulu untuk menjawab pertanyaan seputar orang-orang yang sedang diselidiki Komisi Etik. Tahan dulu Bapak, jangan “nafsu” duluan. Tahan diri, jangan masuk ke arena yang bukan hak Bapak untuk menjelaskan. Bayangkan saja, keputusan resmi Komisi Etik belum keluar, tetapi Syafi’i sudah “nafsu” membela posisi Chandra Hamzah. Ini kan aneh. Jangan-jangan hasil keputusan Komisi Etik itu sendiri sudah ketahuan kemana arahnya?

[4]. Dari sisi etika, saat dialog di TVOne itu, Syafi’i Ma’arif duduk dengan posisi selangkangan sangat terbuka, menghadap ke kamera. Kalau melihat hal itu, tampak sangat risih. Sampai presenter wanita di TV itu sengaja tidak berbicara bertatap muka face to face. Dia seperti setengah memalingkan muka. Orang se-indonesia yang menyaksikan dialog itu jadi seperti diberi “selangkangan full”. Dalam etika ketimuran, cara seperti ini sangat tidak etik.

[5]. Pada tanggal 21 September 2011, Syafi’i Ma’arif sangat mengejutkan, melakukan kunjungan ke LP Cipinang, untuk bertemu dan berdialog dengan Wafid Muharam, tersangka kasus korupsi Wisma Atlet SEAGAMES. Menurut info media, Syafi’i bicara satu jam dengan Wafid Muharam. Padahal siang harinya, Wafid Muharam akan menjalani persidangan di Tipikor.  Syafi’i Ma’arif dengan penampilan seperti seorang makelar tanah itu, tampak kerepotan ketika tahu banyak wartawan sudah menantinya di depan gerbang LP.  Seperti biasa, orang-orang semodel Syafi’i ini segera berkelit dengan aneka bahasa basa-basi. Dia bilang bahwa kunjungan ke LP Cipinang itu dalam kapasitas dia sebagai PRIBADI, bukan anggota Komisi Etik KPK. Ha ha ha…siapa Pak Profesor yang mau percaya omongan Anda? Anda ini omongan sangat tinggi, sok berwibawa, dan intelek. Padahal kelakuan seperti makelar tanah. (Berita seputar kunjungan Syafi’i Ma’arif ke LP Cipinang disiarkan MetroTV, 21 September 2011).

Boni Hargens menyebut Komisi Etik KPK sudah melampaui batas, atau offside. Tetapi Syafi’i Ma’arif berkali-kali membela diri dengan mengatakan seperti, “Saya mempertaruhkan reputasi saya selama sekian tahun sekian tahun. Saya tidak main-main disini.”

Komentar saya: “Kalau Bapak ingin reputasinya terjaga, tidak tercoreng, ya jaga reputasi itu dengan SIKAP BAPAK SENDIRI yang adil, jujur, netral, dan moralis. Menuduh Nazaruddin di depan umum dengan kata-kata bohong atau pembohong, bukan tipikal orang bermoral; sebab tugas Bapak bukan menyelidiki posisi Nazaruddin.”

Akhir kata, sosok usia lanjut seperti Prof. Syafi’i Ma’rif ini SEHARUSNYA layak didoakan agar mendapat rahmat, hidayah, dan husnul khatimah. Tapi ketika mengingat bagaimana reputasi sosok satu ini dalam membela ide-ide kaum SEPILIS, dalam menyerang tokoh dan aktivis dakwah Islam, dalam menyerang missi Syariat Islam; maka doa seperti itu tak perlu diberikan. Justru, kita bisa melihat bahwa Syafi’i Ma’arif menerima sebagian akibat dari perbuatan-perbuatannya, sebelum dia wafat.

Selamat berjuang Pak Tua! Semoga menjadi “lawyer” yang handal!

AMW.

_________________________________

CATATAN: Untuk para komentator, mohon jangan memakai nama “anonymous”. Ini tidak fair. Kalau ada yang seperti itu, mohon maaf akan langsung dihapus. Mohon dimaklumi!


Beberapa Opini Aktual

November 30, 2010

OPINI, edisi 27 Desember 2010.

“KEKALAHAN TIMNAS & INTRIK BOLA”

Saudaraku…

Anda sudah menyaksikan laga Timnas Indonesia Vs Malaysia? Anda sudah tahu hasilnya, Timnas kalah 3 : 0 ? Bagaimana perasaan Anda? Anda kecewa? Anda marah? Anda benci melihat Timnas dipecundangi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia? Anda mau marah, Saudaraku?

….  …. ….

Mari-mari sini! Mari saya tunjukkan RAHASIA BESAR tentang dunia sepak-bola. Mari saya tunjukkan REALITAS yang jarang sekali dibahas di media-media massa. Tetapi itu ada dan nyata.

"Hati-hati Indonesia! Kami akan menang 3 : 0. Harga mati, man!"

Mari Saudaraku… Silakan duduk dulu. Minumlah dulu, biar Anda merasa lega. Kita akan sedikit bincang-bincang. Semoga pembicaraan ini bisa menawarkan dahagu, karena kecewa dengan kekalahan tim Firman Utina dan kawan-kawan. Disini ada rahasia besar yang perlu engkau tahu.

Mula-mula, ini baru permulaan, kalau melihat Timnas kalah, janganlah terlalu kecewa. Biasa-biasa sajalah. Kita menang Oke; kita kalah juga tidak apa-apa. Ya, ini cuma games, jangan terlalu dibuat STRESS.

Salah seorang putriku, SMP baru kelas 1. Dia pendukung Timnas juga. He he he… maklum orang Indonesia. Ketika dia mendengar Timnas kemasukan 1 gol, segera dia mengeluh, lalu menjauhi TV. Dia naik ke tempat tidur, mengambil selimut, lalu tidur. Keesokan paginya, sudah dia lupakan soal kekalahan Timnas. Ya, mestinya kita begitu juga. Ringan-ringan saja… Tidak usah dibuat stress, apalagi depressi.

Justru yang harusnya kita SEDIHKAN, adalah ketika tanggal 26 Desember 2010 kemarin itu adalah: Peringatan 6 tahun Tragedi Tsunami di Aceh. Seharusnya, sebagai manusia yang masih punya akal-budi, kita malu ketika melupakan tragedi dahsyat itu. Iya kan? Sehebat-hebatnya kekalahan Timnas, tidak ada satu pemain yang terbunuh di Bukit Jalil. Sementara 6 tahun lalu, ada sekitar 150 ribu manusia wafat karena Tsunami.

Kalau lupa soal Tsunami…ya sudahlah. Moga tahun depan tidak lupa ya…

Saudaraku…

Dunia sepakbola itu dunia BISNIS BESAR. Duitnya gede banget… Pengaruh sosial dan politiknya besar. Tidak mungkin lah urusan bola itu semata hanya urusan: teknik bermain, formasi permainan, strategi pelatih, fisik pemain, suasana psikologi di lapangan. Tidak mungkin itu…

Saudaraku, banyak orang berkepentingan terhadap kemenangan suatu tim, dan kekalahan tim lain. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha, agar hasil pertandingan sesuai yang mereka harapkan. Disini pasti banyak sekali INTRIK-INTRIK kotor untuk mempengaruhi hasil pertandingan.

Contoh mudah dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, sebagian penonton tim Malaysia melakukan sorotan SINAR LASSER ke muka pemain-pemain Indonesia. Tetapi ini bukan intrik yang terlalu serius. Masih ada intrik lain yang lebih kejam dan kasar…

Sebelum Babak II pertandingan, seorang kawan mengatakan, para penjudi di Malaysia sedang bergerak untuk memenangkan Tim Malaysia. Teman itu mengatakan, “Nanti kita lihat saja pada Babak II. Mungkin akan terjadi sesuatu.” Benar saja, pada menit ke-54 pertandingan sempat terhenti sebentar karena protes pemain-pemain Indonesia, soal laser. Momen semacam itu sudah dikatakan teman saya tersebut.

Ketika saya tanya, “Bagaimana bentuk intervensi para penjudi Malaysia?” Katanya, mungkin mereka akan menekan panitia, wasit, atau manajemen Timnas Indonesia, untuk memenangkan tim Malaysia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, intrik-intrik semacam ini sering terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di level pertandingan sekelas Liga Primer Inggris, atau Piala Champions sekalipun. Bahkan trik-trik kotor itu banyak dikeluhkan oleh publik sepakbola Indonesia dalam lingkup kompetisi ISL.

Ayolah, buka matamu… Intrik-intrik itu ada dan nyata. Bukan hanya dalam Piala AFF. Bahkan dalam Piala Champions sekalipun. Tentu kita masih ingat, betapa kesalnya Barcelona FC ketika kalah dalam pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala Champions tahun 2009 lalu.

Mourinho ketika itu mengatakan, “Ingat, kami dulu di Chelsea juga pernah dicurangi oleh Barcelona.” Ceritanya, saling curang-mencurangi.

Lalu intrik apa lagi?

Ada lagi, yaitu SIHIR. Mungkin Anda sulit percaya. Tetapi itu ada dan nyata. Sihir sering dipraktikkan untuk memenangi suatu pertandingan. Di Piala Dunia, tim asal Afrika atau Amerika Latin sering dituduh melakukan praktik-praktik sihir.

"Sepakbola Bisnis Besar. Kita Harus Menang. Apapun Caranya!"

Sejujurnya, aku sendiri pernah menyaksikan praktik sihir itu, saat ikut pertandingan level bocah SD, di kampung ku dulu. Di depan mataku, praktik sihir itu dilakukan. Waktu itu aku ikut dalam pertandingan bola itu. Orang-orang di kampung sering menyebut dengan istilah: “Main dukun!” Istilah itu populer kami dengar di berbagai pertandingan bola tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.

Ciri permainan yang menggunakan trik SIHIR: “Tim yang didukung mendapat kemenangan dengan cara mudah. Sementara tim lawan sangat kesulitan mengembangkan permainan, meskipun skill mereka bagus. Dan lebih sulit lagi untuk menembus gawang.”

Misalnya, dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, Tim Malaysia bisa mendapat 3 gol hanya dalam tempo 10 menit. Ini adalah produksi gol yang sangat mudah. Padahal di Babak I, mereka gagal membuat satu gol pun. Dan kemenangan 3 : 0 itu sesuai prediksi Rajagopal. Hebat kan? Rajagopal sudah memperkirakan kemenangan 3 : 0, dan ternyata terbukti. Hebat…

Di sisi lain, Timnas bermain sangat buruk. Banyak pemain Timnas bermain seperti “pemain bodoh”. Berkali-kali membuat kesalahan, umpan tidak akurat melulu… Kalau menembak ke gawang, melenceng terus.

Dari pengalamanku menyaksikan pertandingan SIHIR di masa kecil… Pertandingan seperti di Bukit Jalil itu jelas memakai intrik-intrik Sihir. Sekali lagi alasannya: “Sepakbola adalah bisnis besar, politik besar, pengaruh sosial besar.” Segala cara akan dilakukan, untuk meraih kemenangan.

Tapi ada kabar baiknya… Ternyata, pelaku praktik sihir ini bukan hanya dalam pertandingan Timnas Vs Malaysia. Sampai di level Liga Primer dan Piala Chamions Eropa, ada praktik semacam itu. Ada dan nyata…

Bayangkan… Arsenal pernah kalah 3 : 0 (atau 3 : 1 ya) dari Manchester United, di kandang Arsenal. Bayangkan? Apa mungkin bisa terjadi kekalahan setelak itu di kandang Arsenal? Begitu juga, Real Madrid baru-baru ini kalah 5 : 0 oleh Barcelona FC di kandang Barcelona. Apa mungkin tim sekuat Real Madrid bisa kalah setelak itu? Padahal Barca tidak selalu menang besar menghadapi lawan-lawannya di kandang Barca.

Sekali lagi, ciri permainan Sihir: Tim tertentu menang dengan mudah, tim lawan hampir-hampir tidak bisa main sama sekali. Semua kemampuan teknik, strategi, arahan pelatih, dll. seolah tak berguna sama sekali.

Saya yakin, kekalahan Timnas di Bukit Jalil Malaysia lebih karena kekalahan akibat permainan Sihir dari luar lapangan. Sebab secara teknik atau teori permainan bola, tidak ada REASON yang bisa dijelaskan.

Saudaraku…

Sangat telat kalau kita baru mengetahui hal ini saat sekarang. Sihir itu bisa diterapkan di berbagai bidang yang sesuai tabiat sihir itu sendiri. Media-media massa tidak pernah mau mengungkap faktor sihir, begitu juga pemaian, pelatih, offisial, komentator, dll. Mengapa? Sebab kalau peranan sihir dijadikan tolok-ukur, nanti sepakbola jadi tidak laku.

Singkat kata… kita selama ini ya hanya ditipu, ditipu, dan ditipu saja dengan pemberitaan soal sepakbola itu. Kita hanya menjadi mainan media-media massa. Sejujurnya, pertandingan sepakbola yang fair, jujur, dan menyenangkan itu hanya IMPIAN belaka. Terlalu banyak intrik-intrik yang bermain di balik pertandingan bola.

Ke depan… Kita jangan terlalu senang dengan kemenangan sepakbola; juga jangan terlalu sedih dengan kekalahannya. Nikmati permainannya saja, jangan lihat skornya! Anggap, siapa yang menang ialah para best player, meskipun di lapangan mereka kalah.

Kalau kita seperti selama ini… Menganggap kemenangan dari sisi skor, terserah bagaimanapun caranya. Pasti kita akan menjadi “budak-budak” pemberitaan seputar bola. Janganlah Saudaraku…capek!

Oke Saudaraku, sampai disini saja obrolan kita. Santai sajalah…seperti putri saya yang memilih tidur, lalu melupakan kekalahan. Ringan kan? Justru kita seharusnya merasa sedih, ketika tidak ingat peringatan 6 tahun Tsunami di Aceh. Untuk itu jelas harus berduka…

Matur nuwun, nggih!

=====================================================

OPINI, edisi 24 Desember 2010.

“SAUDARAKU, TOLONGLAH TITIPAN NABIMU INI!”

Yatim-Piatu: Titipan Nabi Saw Untuk Kita Semua...

Ada rasa kesedihan mendalam ketika membaca artikel berikut ini: “Yatim-Piatu Mewarisi Hutang Rp. 45 juta.” Artikel ini dimuat voa-islam.com, 23 Desember 2010.

Saudaraku…

Apalah artinya hidup di dunia ini? Apalah artinya… Tidak ada yang bisa kita sombongkan, apapun, sedikit pun. Kita ini hanyalah hamba-hamba Allah yang dhaif, fakir, tidak berdaya. Tanpa pertolongan dan ijin-Nya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah: karunia dari-Nya. Hanya kepada Allah kita bersujud, merintih, menghiba, dan mengharapkan pertolongan.

Ya Allah ya Rahiim… teramat banyak, teramat besar, teramat rumit cobaan-cobaan yang menimpa Ummat Sayyidul Mursalin -shallallah ‘alaihi wa sallam- ini. Banyak orang papa, banyak manusia fakir, banyak pemuda terasing, banyak wanita teraniaya, banyak anak-anak kehilangan masa-masa bermainnya. Ya Allah, amat sangat berat cobaan bagi hamba-hamba-Mu ini. Kami hanya kuasa menulis, mengadu kepada-Mu, serta meneteskan air mata kesedihan… Ya Allah ya ‘Aziz kasihilah hamba-hamba-Mu ini, kasihilah kami ya Rabbi… hendak kemana kami kan mengadu?

Ya Allah, kami ridha dengan-Mu ya Allah… kami ridha mentaati-Mu, kami ikhlas menerima tuntunan-Mu, kami menuruti-Mu sekuat kesanggupan kami… Kami beramal, tetapi kami juga melakukan kesalahan; kami berjuang, tetapi juga jatuh dalam kezhaliman; kami terus berusaha melakukan perbaikan, tetapi kami pun mengulang-ulang kesalahan kami.

Ya Allah, di atas segala kedhaifan kami ini, kami dapati Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau Maha Pemaaf, kasih-Mu melebihi adzab-Mu, Engkau lebih sayang kepada kami daripada diri kami sendiri, Engkau memberikan kami karunia-karunia besar yang tidak kami minta, Engkau mencegah berbagai fitnah dan bencana menimpa diri kami, ketika amal-amal kami justru sangat dekat kepada bencana-bencana itu. Ya Allah, Engkau selalu memaafkan kami, ketika tiada henti kami menyakiti-Mu. Ya Rabbi maafkan kami, maafkan kami ya Rahmaan, maafkan kami ya Raa’uf.

Ya Allah, tolong anak-anak kami… tolonglah orangtua-orangtua kami… tolonglah para pemuda Islam… tolonglah wanita-wanita Muslimah… tolonglah para mujahidin ya Rabbi… tolonglah para ustadz yang ikhlas mengajar Ummat… tolonglah para ulama yang menjadi benteng-benteng agama ini…

Ya Allah ya Nashir, tolonglah anak-anak kami yang yatim-piatu… tolonglah amanah Rasulullah Saw ini… tolonglah mereka, kasihi mereka, hapuslah kesedihan mereka, berikan mereka ISTIQAMAH di atas agama-Mu, berikan mereka kecukupan rizki dan pertolongan atas setiap kesulitannya… tolonglah mereka ya Allah ya Hafizh ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah ya Ghaniy, tolonglah hamba-hamba-Mu yang dermawan… yang lembut hati, pengasih kepada kaum lemah, air matanya mudah sembab karena mengasihi Ummat Nabi Saw, tangan-tangannya begitu hangat dan dermawan mengelus kepala anak-anak kaum Muslimin yang malang… ya Allah ya Rahmaan, tolonglah mereka… berkahi rizki-nya, berkahi keluarganya, tolonglah usahanya, kekalkan kebahagiaan dan keselamatan baginya… sebab mereka menolong, mengasihi, menjaga TITIPAN NABI Saw, yaitu anak-anak yatim-piatu yang lemah dan menderita.

Ya Allah terimalah doa-doa kami ini. Amin Allahumma amin, ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

———————————————–>>>

Untuk menolong anak-anak kita di atas (Fikri dan Dinda), silakan menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 0878.8651.3321. Bantuan bisa dikirim ke rekening almarhumah: BCA an. Elly Mariati no rek. 7020.180.514 atau melalui redaktur voa-islam.com.

================================================

Baca entri selengkapnya »