List Artikel Seputar Syiah (Rafidhah)

Maret 5, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Berikut ini beberapa artikel seputar Syiah yang telah dimuat di blog “abisyakir”. Sengaja dimuat sebagai list, untuk memudahkan menelaah. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

[o]. Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah.

[o]. Untuk Allah, Lalu Untuk Sejarah.

[o]. Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia.

Kalau tanganmu panas tersentuh api, hindarilah induknya segala api (neraka), selagi masih ada kesempatan hidup…

[o]. Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an.

[o]. Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

[o]. Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran.

[o]. Kebohongan Syaikh Idahram Atas Nama Arifin Ilham.

[o]. Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami.

[o]. Antara Anjing dan Manusia.

[o]. Wahai Muslimin Tolonglah Saudaramu di Suriah!

[o]. Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Tulisan-tulisan ini lumayan untuk berbagi pengetahuan. Bisa ditambahkan juga, artikel berjudul: 10 Logika Dasar Penangkal Syiah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari kesesatan dan bid’ah dan memberikan husnul khatimah. Allahumma amin.

Admin blog.

Iklan

Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami

Februari 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak awal saya percaya bahwa Said Aqil Siradj akan celaka; sungguh-sungguh akan celaka. Mengapa ada asumsi seperti itu? Apakah ada dendam, dengki, atau benci ke Said Aqil Siradj? Apakah hal itu berdasarkan kalkulasi politik, hitung-hitungan mekanisme pencitraan publik, atau analisis media? Apakah berdasarkan wangsit, mimpi, ilham, dan sejenisnya?

Bukan, bukan sama sekali. Dasarnya adalah hukum keadilan itu sendiri. Dalam Surat Ar Rahmaan, Allah Ta’ala mengatakan: “Wa wadha-al mizan, allaa tath-ghau fil mizan, wa aqimul wazna bil qisthi,  wa laa tuqshirul mizan” (Dia -Allah- telah meletakkan mizan keadilan, maka janganlah melampaui mizan itu, dan tunaikanlah timbangan secara adil, jangan mengurangi dalam timbangan). Ayat-ayat ini sangat menekankan, betapa dalam kehidupan ini Allah sudah meletakkan mizan keadilan, maka setiap insan dilarang melampaui mizan tersebut. Kalau melampauinya, berarti ia telah berbuat kezhaliman. Dalam hadits, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabba: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatin fil akhirah” (takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Akhirat nanti).

Said Aqil Siradj telah banyak berbuat kezhaliman, khususnya ketika dia baru datang dari Arab Saudi, setelah menyelesaikan studi doktornya. Baru juga sampai di Indonesia, Said sudah berkata: “Inni tubtu min Wahabi” (aku bertaubat dari Wahabi). Dalam masa 14 mendapat beasiswa di Ummul Qura Makkah, Said Aqil begitu segut (gembul) dalam makan-minum, menikmati uang saku, mendapat penginapan, fasilitas, transportasi, dan segalanya yang dibutuhkan. Bahkan 4 orang anak-anak Said, lahir di Makkah, dalam naungan kemurahan kaum Wahabi. Tetapi setelah Said kenyang dari semua itu, dia mendadak “bertaubat” dari Wahabi.

"Said Datang, Badai Menyerang" (sumber foto: mediaindonesia.com).

Bukan hanya soal taubat dari Wahabi, Said Aqil juga mulai gandeng-renteng dengan Syiah (Iran). Selain tentunya, gandengan dengan Bank Dunia, dalam rangka “memerangi teroris”. Said tak segan-segan mulai membela simbol dan ajaran Syiah. Dia bahkan menjadi sponsor utama terbitnya “Trilogi Idahram” yang isinya amat-sangat memfitnah dakwah Wahabi dan orang-orang yang meniti jalan di atas dakwah itu (atau yang tidak terkait sekalipun). Permusuhan Said tidak tanggung-tanggung, dia mengklaim bahwa Wahabi adalah musuh negara, karena kebanyakan “teroris” berpaham Wahabi. Itu menurut klaim dia. Hingga di majalah Tempo, secara terang-terangan Said mengaku diri sebagai penganut Syiah.

Disini kita lihat betapa berat kezhaliman yang sudah dilakukan oleh Si Said ini. Dia sudah diberi kemurahan oleh orang lain; bukan berterimakasih, atau sekedar menghargai semua itu. Tetapi dia balas semua kebaikan orang dengan permusuhan, adu-domba, fitnah, penyesatan, penikaman, dan sebagainya. Obsesi Said, dia berharap agar kaum Wahabi diperangi di Indonesia, seperti Densus88 memberanras para terduga teroris selama ini. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Nah, alasan-alasan itulah yang membuat Said jatuh dalam bencana dan kecelakaan perih. Tidak ada tempat lari baginya, meski harus ke ujung dunia sekalipun. Mengapa? Sebab dalam diri dan kehidupan Said sudah tertanam sangat banyak jasa-jasa baik orang lain. Kebaikan-kebaikan yang pernah dia terima akan menjadi “kanker” yang akhirnya menyerang dirinya sendiri, dari segala arah, dengan tiada satu pun mampu mencegah. Said berbeda dengan Abdurrahman Wahid. Kalau Wahid melakukan permusuhan kepada Islam dengan modal sendiri (atau modal keluarga), maka Said memusuhi Islam, lewat jasa baik manusia lain.

Salah satu dari bentuk kecelakaan Said, selain serial lain yang pasti akan menimpanya, adalah terbongkarnya perjanjian rahasia antara Said dan elemen-elemen Iran. Berita lengkapnya di situs hidayatullah.com berikut ini:

Syuriah PBNU Batalkan Kerjasama dengan Iran

Hidayatullah.com–Syuriah PBNU dikabarkan telah membatalkan kerjasama dengan Iran. Kabar ini disampaikan HM. Cholil Nafis, Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU kepada www.hidayatullah.com, (11/02/2012), Sabtu pagi.

Menurut Cholil Nafis, diam-diam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-‘Alamiyah, Qom, Iran.  Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Said Aqil menandatangani MoU itu bersama Muhammad Zain (Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz PBNU) dan Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat ikut dalam rombongan,” kata Cholil.

Kata Cholil, sebelumnya Said Aqil selalu menyangkal adanya MoU tersebut. Namun, ketika ditunjukkan dokumen itu, Said Aqil tidak bisa mengelak lagi. Pada Desember 2011 lalu, MoU itu pun dibatalkan oleh Dewan Syuriah PBNU.

Cholil mengatakan, MoU itu dibatalkan karena diputuskan secara sepihak tanpa musyawarah. Lagi pula, katanya, PBNU menilai Iran bukanlah pihak yang tepat untuk diajak kerjasama, khususnya dengan NU.* (Publikasi: Sabtu, 11 Februari 2012).

Selain itu, kecelakaan besar yang diterima Si Said adalah gelombang Tsunami yang menimpa kaum Syiah di Indonesia saat ini. Sepanjang sejarah Nusantara, belum pernah Syiah mendapat perlawanan sangat besar, dari segala penjuru, dan sangat telak; kecuali saat ini. Ajaran-ajaran sesat Syiah benar-benar dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kelicikan, konspirasi, kebejatan, kezhaliman, kebohongan, serta kehinaan mereka; walhamdulillah, berhasil disampaikan kepada Ummat Islam, seterang-terangnya. Hingga semua ini menyadarkan kaum Muslimin, sehingga ada upaya MUI untuk segera mengeluarkan fatwa sesat bagi Syiah.

Semua itu adalah akibat dari perbuatan-perbuatan provokasi Said Aqil Siradj yang sangat nafsu dalam menyerang dakwah Sunnah,  tanpa ampun. Di sisi lain, Said Aqil juga sangat nafsu ingin “mengkudeta” kedudukan dai-dai senior Syiah, seperti Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Umar Shihab, dll. Kalau dai-dai itu semula selalu menampilkan diri dengan pembawaan lembut, penuh perhitungan, dan bersikap “cinta damai”; maka Said juga muncul dengan sikap arogan, bledag-bledug, memfitnah, menyerang, dan seterusnya.

Bersama sekumpulan anak-anak muda Syiah yang sudah kenyang “main mut’ah” Syiah melakukan gerakan politik tersendiri, keluar dari mainstream Jalaluddin Cs. Sepertinya Said ingin menjadi imam Syiah untuk kawasan Asia Tenggara. Itu kan “jabatan menggiurkan”… Ya kan Said? Namun karena dia terlalu nafsu, sehingga melakukan serangan-serangan tidak kira-kira. Akibatnya, kini Said menjadi sakit; dia terhimpit dimana-mana; dicurigai dimana-mana; bahkan mengalami penolakan-penolakan dari ulama-ulama senior NU (Jawa Timur).

Said…Said… engkau lupa, bahwa setiap hujatanmu kepada Wahabi, Salafi, atau kaum Sunni; semua itu akan kembali menjadi LAKNAT bagi dirimu sendiri. Mengapa wahai Said? Sebab terlalu banyak jasa-jasa baik orang yang kamu musuhi, kini semua jasa itu bersarang dalam tubuhmu, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap laknatmu wahai Said, akan kembali ke dirimu sendiri.

Harapan yang bisa disampaikan, ialah agar Ummat benar-benar sadar, bahwa: Setiap kezhaliman itu akan berbalas kecelakaan bagi para pelakunya. Innallaha laa yuhibbuz zhalimin (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zhalim).

Said…Said…semakin lama engkau semakin sakit…

Al faqir ila Rahmatillah

(Joko Waskito bin Buang).


Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia!

Januari 4, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Cara-cara misionaris Syiah (Rafidhah) dalam menjerat manusia, agar mengikuti ajaran mereka; tak ubahnya seperti cara-cara misionaris Kristen. Mereka ini wajib dihadapi, diwaspadai, ditangkal, dan dihentikan aksi-aksi misionarisasinya. Kaum Muslimin bisa kufur kalau secara sadar mengikuti akidah mereka.

Apakah ajaran Syiah (Rafidhah) sedemikian sesat sehingga bisa menimbulkan kekufuran bagi mereka yang mengikutinya?

Banyak segi dalam ajaran Syiah itu yang bisa membuat para penganutnya kufur dari jalan Islam, antara lain:

(o) Melaknat para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, khususnya Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, dan lain-lain. Perbuatan melaknat ini kekufuran, sebab Allah Ta’ala sudah ridha kepada para Shahabat (At Taubah: 100).

(o) Meyakini bahwa isteri-isteri Nabi, Radhiyallahu ‘anhunna, bukan termasuk Ahlul Bait Nabi. Dalam Surat Al Ahzab ayat 33 jelas-jelas disebutkan bahwa isteri-isteri Nabi adalah Ahlul Bait beliau. Allah mengakui mereka sebagai Ahlul Bait Nabi, tetapi kaum Syiah tak mengakui. Hebat betul.

(o) Meyakini bahwa Kitab Suci Al Qur’an sudah diubah oleh para Shahabat, sehingga Al Qur’an di sisi kita selama ini dianggap palsu. Ini adalah tuduhan sangat jahat dan keji. Keyakinan ini bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah akan selalu menjaga Al Qur’an.

(o) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah adalah manusia ma’shum, terjaga dari kesalahan, kata-kata mereka merupakan dasar hukum agama. Hal ini sama saja dengan meyakini, bahwa ada syariat baru yang diturunkan Allah setelah sempurnanya Syariat Islam. Jelas ini bertentangan dengan Al Maa’idah ayat 3. Bahkan ia seperti keyakinan Ahmadiyyah yang meyakini ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad Shalallah ‘Alaihi Wasallam.

(o) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah memiliki sifat rububiyyah (ketuhanan) yang sebenarnya hanya layak menjadi sifat Allah Ta’ala. Ini adalah akidah kemusyrikan yang jelas-jelas bertentangan dengan TAUHID.

(o) Meyakini akidah Bada’, yaitu selalu muncul ilmu-ilmu baru yang sebelumnya belum diketahui oleh Allah Ta’ala. Dengan akidah ini, kaum Syiah bisa menampung ajaran apapun, sekalipun kekufuran yang amat sangat kufur. Karena ia dilegitimasi dengan pemikiran, “Selalu muncul ilmu Allah yang baru. Hal-hal baru, kalau menarik, boleh diambil.” Keyakinan ini sama saja dengan membuang Syariat Islam dari dasar-dasarnya.

(o) Melegalkan perzinahan melalui praktik Nikah Mut’ah. Pelaku nikah mut’ah kalau melakukan perbuatan itu karena dorongan nafsu, dengan tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram (telah diharamkan oleh Nabi), maka masih mungkin dia akan diampuni Allah Al Ghafuur. Tetapi kaum Syiah mengklaim, nikah mut’ah itu amal shalih yang besar pahalanya. Hal ini sama saja dengan “al istihlal bi maa haramallahu bihi” (menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah). Sikap demikian termasuk jenis kekufuran.

(o) Meyakini bahwa kaum Ahlus Sunnah halal darahnya, halal hartanya, halal kehormatannya; ini adalah keyakinan bathil yang mewajibkan para penganutnya terkena hukum kekufuran. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kullu muslim ‘alal muslim haramun ‘irdhuhu wa maaluhu wa damuhu” (setiap Muslim atas Muslim lainnya, diharamkan kehormatan, harta, dan darahnya). [HR. At Tirmidzi].

Dengan keyakinan-keyakinan seperti di atas, maka gerakan misionaris Syiah SERUPA belaka dengan gerakan Kristenisasi. Kalau mereka berhasil memasukkan seorang Muslim ke dalam kelompoknya, itu sama seperti telah berhasil memurtadkan dia.

Disini kita perlu mengenali cara-cara kerja misionaris Syiah Rafidhah, agar kita bisa mewaspadai, menghindari, atau mematahkan cara-cara licik mereka. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ‘afiyat dan salamah. Amin.

Berikut ini cara-cara yang biasa dilakukan misionaris Syiah Rafidhah untuk menjerat manusia, antara lain:

[1]. Mereka mula-mula akan melihat calon target yang akan mereka dakwahi. Target ini bisa dikelompokkan dalam jenis: ‘alim, pertengahan, awam. Orang alim dianggap “klas A”, orang pertengahan dianggap “klas B”, dan orang awam dianggap “klas C”. Untuk masing-masing target berbeda pola dakwahnya.

[2]. Bagi orang ‘alim, misionaris Syiah akan mulai menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Mereka akan berlagak ilmiah. Tujuannya, akan menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits Nabi. Bagi orang pertengahan, mereka akan kemukakan hadits seputar “pentingnya mempunyai imam”. Mereka akan mengeluarkan hadits, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbaiat kepada seorang imam, maka matinya mati jahiliyyah.” Nanti, tafsir imam itu akan mereka arahkan untuk mengimani imam-imam Syiah (termasuk Khomeini). Bagi orang awam, mereka akan masuk dari cerita-cerita seputar penderitaan Husein bin Ali di Karbala, cerita seputar Hasan bin Ali, juga cerita seputar “Ali yang dizhalimi”.

[3]. Untuk memantapkan keyakinan kepada ajaran Syiah, mereka akan mengemukakan tentang hadits “Ghadir Khum”. Ini standar sekali. Misionaris Syiah akan mengklaim, bahwa dulu waktu Nabi menjelang wafat, beliau menyampaikan pesan, agar kaum Muslimin sepeninggal beliau selalu berpegang kepada Kitabullah dan Ahli Bait beliau (Ali, Fathimah, Hasan, Husein, dan lainnya). Menurut penelitian Prof. Dr. Ali Ahmad As Salus (penulis kitab monumental Ensiklopedi Sunnah-Syiah), tidak ada satu pun hadits seputar Ghadir Khum ini yang shahih. Rata-rata lemah atau palsu. Justru beliau menguatkan hadits Nabi, bahwa kaum Muslimin akan senantiasa selamat dan lurus, selama berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Melalui hadits “Ghadir Khum” itu, kaum Syiah mulai membangun rasa kekaguman, penghambaan, kehinaan diri, di hadapan sosok-sosok Ahlul Bait. Nah, praktik penyembahan Ahlul Bait dimulai dari sini.

[4]. Misionaris Syiah akan menangkal kemungkinan para pengikutnya untuk lari dari ajaran Syiah, dengan cara mengajak mereka terjerumus dalam praktik “kawin kontrak” alias nikah mut’ah. Baik laki-laki maupun perempuan akan didorong untuk melakukan nikah mut’ah. Kalau tak mau, akan dipaksa-paksa supaya mau. Kalau seseorang sudah sekali saja pernah merasakan nikah mut’ah, misionaris Syiah akan sujud syukur. Satu sisi, kalau ada pemuda/pemudi yang melakukan nikah mut’ah, dia akan terdorong untuk “lagi dong”. Kalau sudah sering, maka tidak akan ada “jalan pulang” bagi manusia-manusia malang itu. Nikah mut’ah bukan hanya sebuah keyakinan sesat, tetapi juga merupakan metode untuk menjerat pengikut agar tidak berani keluar dari kelompok mereka. Kalau ada yang berani keluar, akan ditakut-takuti, “Awas lho ya, kamu sudah melakukan ML dengan si anu dan si anu. Kalau kamu keluar dari Syiah, akan kami bongkar kedok kamu!” Dengan ancaman itu, para pengikut Syiah tersebut menjadi ketakutan.

[5]. Untuk menyempurnakan keikut-sertaan seseorang pada paham Syiah, mereka akan diberi pendalaman, misalnya berupa ajaran TASAWUF, ritual menyiksa diri, ritual mengutuk Shahabat, doktrin permusuhan kepada Ahlus Sunnah, pentingnya dakwah menyebarkan ajaran Syiah Rafidhah, dan lain-lain. Ini sudah stadium kronis. Bahkan kalau ada pemeluk Syiah yang ketahuan terkena penyakit kelamin atau HIV, hal itu harus ditutupi serapat-rapatnya.

[6]. Selain cara di atas, misionaris Syiah juga menggaet manusia melalui peluang kerja, mengisi posisi jabatan penting, memberi proyek, peluang bisnis, memberi beasiswa ke Iran, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan penyusupan kemana-mana. Mereka masuk ke MUI, ormas Islam (seperti Said Aqil Siradj di NU), masuk ICMI, Republika, masuk UIN, lembaga pendidikan Islam, partai politik (seperti PAN), komunitas ini itu, dsb.

Begitulah cara-cara yang kerap dipakai oleh misionaris Syiah untuk meruntuhkan akidah Islam, lalu membawa Ummat murtad dengan meyakini keyakinan bathil mereka. Para misionaris Syiah sebenarnya bisa dikenali dari wajah mereka yang tampak berbeda, sebagai hasil dari kebiasaan berdusta, berzina (nikah mut’ah), dan mengutuk Shahabat. Tetapi di mata orang biasa, hal ini agak sulit dikenali.

Semoga apa yang ditulis ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari bahaya kaum Syiah Rafidhah, sebab bahaya mereka tak berbeda jauh dengan bahasa misionaris Kristen. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, fid dini wad dunya wal akhirah. Allahumma amin.

[Abah Syakir].


Apakah Pembagian Tauhid Merupakan Bid’ah?

Desember 2, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dalam buku Syaikh Idahram ke-3, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW), di bagian akhir disebutkan keterangan tentang fatwa Dewan Fatwa Mesir (Darul Ifta’ Al Mishriyah), bahwa pembagian tauhid menjadi dua (Uluhiyyah dan Rububiyyah) merupakan pembagian yang bid’ah dan sesat. Si penulis tidak mencantumkan teks asli fatwa itu karena di dalamnya ada tulisan “Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah” (doa dari ulama anggota Darul Ifta’). Begitu takutnya si penulis jika doa “rahimahullah” ini dibaca oleh kaum Muslimin, sehingga dia tidak menerjemahkan fatwa itu secara penuh. Hanya disebutkan isinya saja. Begitulah gaya penulis sesat ini dalam menipu Ummat yang dia anggap awam dan gampang dikelabui. Banyak sekali cara-cara licik menghiasi bukunya. Nas’alullah al ‘afiyah.

Jalan-jalan Ilmu Tauhid untuk Mengenal Allah Ar Rahmaan.

Kembali ke soal pembagian tauhid menjadi Uluhiyyah dan Rububiyyah. Katanya, pembagian tauhid seperti ini bid’ah, sesat dan menyesatkan. Syaikh Idahram mengatakan dalam bukunya: “Padahal sesungguhnya, tauhid hanya satu dan integral tidak terpisahkan. Pembagian tauhid seperti faham Wahabi ini adalah akal-akalan mereka untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawasul dengan ibadahnya, bertawasul dengan kebenaran nabinya, dan bertawasul dengan kebenaran orang saleh ataupun Al Qur’an al-Karim.” (USMSW, hal. 324).

Penolakan terhadap pembagian tauhid ini sudah terdengar sejak beberapa tahun lalu. Lengkapnya, pembagian tauhid itu meliputi tiga, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wa Shifat. Bukan hanya dua. Dr. Hidayat Nur Wahid pernah mengeritik pembagian tauhid ini, katanya ia merupakan pembagian bid’ah, yang tidak dikenal di masa Rasulullah Saw dan Shahabat Ra. Topik ini diangkat oleh Syaikh Idahram sebagai tambahan serangannya kepada kaum yang dia klaim sebagai “Salafi Wahabi”.

Pertanyaannya, apakah pembagian tauhid dengan 3 pembagian itu merupakan bid’ah? Sesat dan menyesatkan? Akal-akalan kaum Wahabi?

Dalam kesempatan ini kita akan membuktikan, bahwa pembagian tauhid itu sudah benar, sesuai Syariat Islam, dan bukan bid’ah (apalagi sampai sesat menyesatkan). Apa yang dituduhkan sebagian orang dalam topik ini hanyalah pendapat emosional, dalilnya lemah, dan terkesan dicari-cari. Lembaga setingkat Dewan Ulama Mesir sekalipun, kalau pendapatnya keliru, harus diabaikan.

Baca entri selengkapnya »


INFO BUKU BARU: “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

November 13, 2011

PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya, buku yang kami proses sekian lama ini terbit juga, dengan segala pertolongan Allah. Judul besarnya, “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW). Judul penjelas: “Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram“. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cover Buku BAKW.

Kaum Wahabi adalah Gerakan Dakwah yang Banyak Berjasa bagi Ummat. Mereka Bukan Kelompok Malaikat. Nasehat bagi Mereka Sangat Terbuka, tetapi Bukan Fitnah.

DATA BUKU

Tebal buku, xxviii + 416 halaman. Menggunakan softcover dan bagian isi buku art paper. Ukuran buku standar, 13,5 cm x 20,5 cm. ISBN: 978-979-592-578-1. Dan terakhir, harga eceran buku Rp. 69.000,- (belum diskon).

SINOPSIS (teks cover belakang).

Belakangan ini beredar buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seseorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”.

Kalau sekadar kritik yang obyektif, tentu tak masalah. Karena setiap orang dan kelompok bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong, bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah.

Bayangkan saja, akibat beredarnya buku Syaikh Idahram itu, sebuah kegiatan pengajian ditutup karena dituduh Wahabi. Padahal, apa yang dimaksud dengan Wahabi itu tidak jelas definisinya. Jangan sampai masyarakat awam diadu domba oleh buku fitnah semacam itu.

Belum reda kontroversi buku pertama sudah muncul buku kedua,“Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik” (MMKKUK); kemudian muncul lagi, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW). Maka situasi fitnah pun kian merebak.

Baca entri selengkapnya »


Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

Juli 11, 2011

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj.

Baca entri selengkapnya »