Shalat SHUBUH Kita ‘Kecepetan’

Juni 5, 2009

Sebuah informasi sangat mengejutkan saya baca di majalah Qiblati (link-nya ada dalam blog ini) edisi terbaru. Disana ada sebuah artikel berjudul, Salah Kaprah Waktu Subuh (Bag. I): Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq. Tulisan ini ditulis oleh seorang ulama dari Makkah yang menjadi narasumber Qiblati, Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi.

Singkat kata, Syaikh Mamduh dan redaksi majalah Qiblati pernah melakukan perjalanan pagi, sebelum Subuh, di Malang Jawa Timur. Saat di perjalanan terdengar kumandang adzan Subuh. Awak Qiblati ingin berhenti di sebuah masjid untuk Shalat Subuh. Namun Syaikh Mamduh tidak suka, sebab menurut beliau saat itu belum masuk waktu Subuh. Dalam pandangan beliau yang juga memang mengerti masalah-masalah ilmu Falak, adzan Subuh yang baru dikumandangkan itu (dan adzan semisalnya) terlalu cepat dari waktu Subuh semestinya.

Untuk memastikan pandangannya, Syaikh Mamduh Farhan menulis tulisan berseri tentang penentuan waktu Shalat Subuh itu. Kebetulan yang baru dimuat oleh Qiblati baru bagian 1. Pihak redaksi Qiblati mewanti-wanti, agar para pembaca tidak buru-buru mengambil kesimpulan sebelum tuntas membaca artikel tersebut. Dan insya Allah seri tulisan selanjutnya akan muncul di Qiblati. Semoga! Allahumma amin.

Dari tulisan yang sudah dimuat, Syaikh Mamduh menjelaskan bahwa banyak negara-negara Muslim yang waktu Shalat Subuhnya terlalu cepat (baca: kecepetan). Kata beliau, rata-rata kecepetan 9 sampai 28 menit sebelum waktu Subuh yang semestinya. Untuk Indonesia sendiri: kecepetan 24 menit. Hal ini bisa dilihat di artikel tersebut, di halaman 31-35. Sekali lagi, WAKTU SHALAT SUBUH KITA SELAMA INI KECEPATAN 24 MENIT.

Atas informasi ini saya merasa takjub sekaligus heran dengan kenyataan selama ini. Apa benar Shalat Subuh kita kecepetan ya? Kalau benar, wah bagaimana status shalat tersebut? Oke-lah, Allah akan memaafkan orang yang khilaf atau tidak tahu, tetapi bagaimana dengan Shalat Subuh kita selanjutnya?

Terus terang, saya menemukan sebuah bukti yang memperkuat pandangan Syaikh Mamduh di atas. Di komputer saya selama ini memakai penunjuk waktu yang dikeluarkan oleh situs IslamWay.com. Setiap masuk waktu shalat, secara otomatis terdengar adzan. Rujukan waktu sudah saya setting sesuai wilayah Bandung. Dalam software itu kota-kota di Indonesia banyak yang telah tercover, termasuk Bandung. Oh ya, rujukan penunjuk waktu shalat ini mengikuti Liga Muslim Dunia (World Muslim League). Ternyata, untuk waktu-waktu selain Subuh, kumandang adzan hampir bersamaan dengan waktu adzan di Indonesia. Kalau beda, mungkin beda beberapa menit saja. Tetapi untuk Subuh bedanya sekitar 25 menit, seperti yang disebutkan Syaikh Mamduh itu.

Dalam tulisannya Syaikh Mamduh menjelaskan, bahwa tiba waktu Subuh adalah ketika terbit FAJA SHADIQ (fajar sebenarnya). Saat itu di cakrawala telah muncul semburat terang secara merata. Bahkan indikasinya: jalan-jalan mulai tampak jelas (dengan asumsi tidak ada penerangan lampu di jalan). Adapun selama ini banyak orang mengira FAJAR KADZIB (fajar bohong) sebagai pertanda telah masuk waktu Subuh. Tanda fajar kadzib, di cakrawala tampak cahaya terang hanya di bagian tertentu saja. Namun cahaya terang itu hanya sebentar, kemudian ia akan hilang lagi. Sementara kalau fajar shadiq, ia akan terus terang, sampai matahari benar-benar terbit.

Kalau disuruh memilih, saya setuju dengan pandangan Syaikh Mamduh dan ingin mengubah orientasi waktu Shalat Subuh kami selama ini. Sebab selama bertahun-tahun saya menyaksikan perbedaan antara waktu Shalat Subuh kita dengan software adzan yang dikeluarkan oleh IslamWay.com itu. Kalaulah saya keliru men-setting waktu di komputer, pasti selisihnya tidak lama. Paling hanya beberapa menit saja. Tetapi perbedaan selama ini yang saya ketahui ya sekitar 25 menitan itu. Masak untuk waktu-waktu shalat lainnya hampir bersamaan, tetapi untuk waktu Shubuh telat sedemikian lama?

Namun karena ini memang menyangkut kepentingan kaum Muslimin se-Indonesia, ada baiknya majalah Qiblati bersedia membeberkan masalahnya secara panjang-lebar. Biar masyarakat lebih tahu. Kalau perlu lakukan diskusi dengan aparat-aparat keagamaan di Indonesia. Ya, untuk sharing informasi. Akan lebih baik, kalau masalah penentuan waktu Shubuh ini bisa dikupas dalam sebuah seminar nasional.

Implikasi persoalan ini sangat besar. Tidak ada salahnya kita buka pintu-pintu dialog seluas mungkin untuk sampai di titik kesimpulan akhir. Melalui tulisan ini saya sengaja ingin mengangkat masalah ini agar menjadi perhatian publik Muslim Indonesia. Bagaimana kalau kita sungguh-sungguh mencari titik final penentuan waktu Shalat Subuh ini? Sebab kalau selama ini memang shalat kita kecepatan dari waktu sebenarnya, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang menimpa kaum Muslimin selama ini.

Saya sangat menyarankan agar Qiblati mempercepat publikasi terhadap tulisan-tulisan berseri itu, lalu Qiblati memprakarsasi seminar nasional tentang penentuan waktu Subuh. Ini sungguh sangat penting dan urgen sekali bagi kaum Muslimin Indonesia. Harap tahu saja, waktu Subuh itu nanti ada kaitannya dengan puasa Ramadhan yang akan menjelang beberapa bulan lagi.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga ada upaya kesungguhan dari Ummat untuk berdialog mencari kebenaran; jika kemudian ternyata kesalahan ada di pihak kita, ya harus ada sikap legowo untuk melakukan koreksi. Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 5 Juni 2009.

Abu Muhammad Waskito.

Iklan