Bisnis Darah dan Nyawa Manusia

Agustus 16, 2010

Kalau melihat tukang jagal berjual beli daging, itu wajar. Apalagi di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fithri nanti, pasti sangat ramai tukang jagal jualan daging. Itu wajar, sebab yang dijual daging sapi, kambing, atau ayam. Ada juga yang menjual daging kuda, kerbau, atau onta. Tetapi kurang umum di masyarakat kita.

Adalah amat sangat keji dan biadab, bila ada yang sampai memperjual-belikan darah manusia, nyawa manusia, nama baik keluarga, masa depan anak-anak, bahkan kehidupan bangsa. Mendengar berita-berita seputar manusia dimutilasi saja sudah sangat ngeri, apalagi ada jual-beli nyawa dan kehidupan insan. Pasti bila ada jual-beli semacam itu, para pelakunya hanyalah syaitan-syaitan berbadan manusia.

Andaikan Kakak atau Adik Anda Menjadi Tersangka...

Tapi apa ada jual-beli darah dan nyawa manusia?

Ini ada. Faktual. Nyata. Buktinya di depan mata kita. Paling tidak faktanya muncul sejak sekitar 10 tahun terakhir. Khususnya sejak terjadi Tragedi WTC, 11 September 2001. Sejak itu, darah, nyawa, keluarga, masa depan anak-anak, dan kehidupan aktivis-aktivis Muslim menjadi sasaran teror, difitnah habis-habisan, dizhalimi secara semena-mena, diinjak-injak kehormatannya, dan seterusnya. Pihak-pihak yang melakukan teror itu secara riil mendapat donor (dana bantuan) asing, seperti dari Amerika dan Australia.

Aktivis-aktivis Islam diperlakukan seperti hewan buruan, dikejar-kejar, dikepung dengan poster “awas teroris” ditempel di mana-mana, dikepung, ditembaki, dibunuhi di jalan-jalan. Yang berhasil ditangkap hidup, diberi “pelatihan fisik” tertentu, sehingga muka dan badannya bonyok tidak karuan. Mereka ditampilkan di media-media massa sebagai Muslim garis keras, pemuda Islam radikal, pemuda ekstrim, kaum fundamentalis, dsb. Sembari mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri secara adil.

Pihak-pihak yang memangku “tugas negara” menyerang sasaran para aktivis Islam itu, mereka selalu haus membutuhkan publikasi media massa, mereka butuh blow up di mata masyarakat, agar benar-benar tercipta image, bahwa bangsa kita sebentar lagi akan dikuasai teroris. Dengan cara publikasi media itu, mereka mendapat dukungan asing, mendapat dukungan APBN, mendapat restu ini itu. Padahal mayoritas kasus-kasus terorisme itu merupakan rekayasa yang mengada-ada.

Ada banyak alasan untuk memahami bahwa kasus-kasus terorisme di Indonesia ini merupakan rekayasa belaka, tidak memiliki landasan kebenaran sama sekali. Masyarakat hanya dibohong-bohongi oleh berita-berita media yang diputar-balikkan tidak karuan. Berikut argumentasinya:

[1] Peristiwa teror bom di Indonesia, umumnya dimulai pasca Tragedi WTC, 11 September 2001. Sebelum itu, di Indonesia jarang terjadi teror bom. Setelah Bom Bali I, seakan negara kita langganan terjadi teror bom.

[2] Secara umum, pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris itu rata-rata orang fakir-miskin. Ini sangat jelas. Secara ekonomi mereka susah. Itu terlihat dari rumah, kondisi keluarga, kampung tempat tinggal, dll. Lalu darimana mereka bisa membeli amunisi, bahan peledak, senapan, pistol, sirkuit bom rompi, mobil, kamera, dan seterusnya. Untuk diri sendiri saja susah, apalagi mau membuat bom mobil?

(Pihak aparat beralasan, “Mereka dapat transfer dari donor orang asing di Saudi.” Bantahan, sejak WTC 11 September 2001, semua transfer dana untuk keperluan Islam, sekalipun untuk dakwah dan pendidikan, sangat sulit masuk ke Indonesia. Bahkan sejak Saudi merugi akibat Perang Teluk 1990-1991, mereka kesusahan membantu dakwah Islam di negara-negara Muslim).

[3] Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imran, mereka mengaku telah meledakkan bom mobil di depan cafe Paddy’s Club di Bali. Tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang bom ke-2 di Sari Club yang menewaskan ratusan orang Australia. Menurut sebagian saksi, bom kedua ini merupakan rudal yang ditembakkan dari arah pantai di Bali, jatuh mengenai kafe Sari Club. Imam Samudra Cs melakukan satu kesalahan, tetapi harus menanggung dua dosa sekaligus, termasuk peledakan di Sari Club. Bodohnya, dunia internasional tak peduli dengan fakta itu. Hati mereka sudah tertutup untuk melihat kebenaran.

[4] Dalam setiap aksi terorisme, selalu saja ditemukan video yang menggambarkan aksi tersebut. Termasuk video pada saat peledakan Bom Bali II, JW. Marriot dan Ritz Carlton. Video yang paling dramatis ialah seperti di JW. Marriot dan Ritz Carlton. Disana seperti ada kamera yang terus mengikuti gerak-gerik pelaku teror. Kalau memang sudah tahu ada aksi seperti itu, seharusnya pembawa kamera membuat peringatan sejak dini.

[5] Tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat kerap kali meledak, dan ledakannya seperti bom. Tabung itu mudah didapat, sangat murah lagi. Kalau para “teroris” ingin melakukan teror dengan bom, mereka pasti akan menggunakan tabung gas 3 kg. Tetapi kenyataan yang ada, tidak pernah ada aksi seperti itu. Ini menandakan, bahwa aksi-aksi yang diklaim sebagai terorisme selama ini, sangat mengada-ada.

[6] Banyak pihak mempertanyakan, kalau para aktivis itu benar-benar sebagai bagian dari Tanzhim Al Qa’idah, yang menyatakan jihad global melawan Amerika. Mengapa dalam kasus-kasus teror di Indonesia, tidak ada satu pun warga atau instansi Amerika menjadi korban? Seolah, pihak teroris sudah diberitahu agar menghindari sasaran yang berlabel Amerika. Katanya Al Qa’idah, tetapi Amerika selamat terus?

[7] Selama ini, isu seputar terorisme amat sangat menjadi MONOPOLI kepolisian. Seakan pihak lain, seperti anggota DPR, Komnas HAM, tim pencari fakta independen, tim advokasi Muslim, ormas Islam, atau tim independen asing, tidak boleh campur-tangan sama sekali. Monopoli opini oleh Polisi ini jelas membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembunuhan sipil secara sistematik oleh aparat.

[8] Setiap selesai satu kejadian teror, Polisi selalu mengumumkan, bahwa masih ada pelaku yang buron (DPO). Ini sangat menjengkelkan. Kalau kerja Polisi tuntas, seharusnya ringkus semuanya. Jangan dicicil sedikit-sedikit! Sangat kelihatan kalau Polisi ingin memperpanjang “sinetron terorisme” ini. Dengan panjangnya episode, jelas panjang pula harapan mendapat bantuan dana asing.

[9] Pernahkan kita membayangkan, bahwa negara Amerika sendiri yang disebut-sebut telah mengobarkan war on terror itu, mereka kini sudah bosan dengan isu terorisme. Bukan hanya Amerika. Negara-negara yang dulu ikut siaga dalam war on terror, mereka sudah mengendurkan ketegangannya, seiring lengsernya George Bush -laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Nah, mengapa Indonesia seperti sangat mensyukuri acara teror-teroran ini? Di negara asal terjadi Tragedi WTC saja sudah reda, kok disini masih laku?

[10] Perhatikan para pengamat terorisme yang muncul di media-media massa. Orangnya dari dulu itu-itu saja. Nashir Abbas jelas, Sidney Jones, Mardigu, Hendropriyono, Ansyad Mbai, Abdurrahman Assegaf, Umar Abduh, dll. Peristiwa teror di Indonesia seperti sebuah ritual yang diulang-ulang. Dan setiap “ritual” terjadi, para “pendeta” dalam ritual itu selalu orang-orang yang sama.

[11] Bahkan cara-cara media dalam meliput kasus-kasus teror itu nyaris sama. Hanya tempat, waktu, dan deskripsinya berbeda. Tetapi secara umum, model peliputan medianya, sama saja. Kalau tidak salah, orang-orang media sebenarnya bosan juga dengan kasus “jual-beli darah dan nyawa” itu, tetapi mereka seperti tidak ada pilihan.

[12] Isu terorisme di Indonesia seperti sebuah kanker mematikan. Mengapa demikian? Mulanya semua ini dibiarkan, tetapi lama-lama membesar menjadi kanker di tubuh bangsa kita. Bayangkan, semua pihak, selain kalangan Islam, nyaris tak mau bersuara membela kepentingan pemuda-pemuda yang dikejar-kejar sebagai teroris itu. DPR bisu, partai-partai bisu (terutama partai label Islam), Gubernur/Walikota bisu, Menteri bisu, aktivis HAM bisu, aktivis LSM bisu, media massa membisu (dari melakukan advokasi), ormas Islam membisu, gerakan mahasiswa membisu, BEM membisu, HMI membisu, dll. Seolah, semua pihak sudah sepakat untuk sama-sama menzhalimi aktivis-aktivis Islam yang rata-rata fakir-miskin itu. Allahu Akbar, bagaimana mereka bisa berharap akan tegak keadilan di negeri ini, sementara terhadap kezhaliman yang nyata-nyata di depan mata, mereka bisu? Ini menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa sejatinya kebanyakan orang Indonesia ini berkarakter MUNAFIK.

[13] Kasus terbaru, yang diklaim oleh kepolisian sebagai terorisme di Aceh. Media-media massa, terutama MetroTV dan TVOne, ikut-ikutan mempublikasikan hal tersebut. Padahal sejatinya, seperti disebut dalam situs suara-islam.com, latihan militer di Aceh itu bukan untuk menyerang SBY saat 17 Agustus 2009. Itu adalah latihan para pemuda Islam yang semula rencananya akan  diberangkatkan ke Ghaza. Latihan ini ada dua tahap, pertama tahun 2008 untuk persiapan ke Ghaza. Ini ada videonya, seperti yang ditayangkan di TV-TV. Lalu latihan kedua, akhir 2009 sampai awal 2010. Latihan kedua ini sangat kuat peranan Sofyan Tsauri dalam menjerumuskan pemuda-pemuda Islam itu dalam jebakan kasus terorisme. Latihan yang dirancang Sofyan Tsauri untuk kasus terorisme.

Sofyan Tsauri sendiri mengakunya sebagai desertir polisi Depok. Katanya desertir, tetapi bisa memakai Mako Brimob Kepala II Depok untuk latihan menembak dengan peluru tajam. Hebat kali Si Sofyan ini? Sofyan ini seorang desertir polisi yang memiliki kuasa seperti Kapolri. Hebat kali dia? Dari semua tertuduh teroris di Aceh, hanya Sofyan ini yang diperlakukan istimewa. Tidak dibelenggu, tidak ditutup mata, boleh memakai kacamata hitam, dan naik kendaraan pribadi yang mulus tentunya. Hebat kali Si Sofyan? Dia sudah menjalankan bisnisnya dengan sempurna.

[14] Polisi selama ini selalu bangga dan penuh senyum kalau memberitakan kejadian-kejadian terorisme. Seharusnya mereka sedih dan merasa sangat malu, “Kok dari dulu memberantas teroris tidak selesai-selesai. Polisi ini apa saja kerjanya?” Banyak masalah tidak selesai. Makelar kasus, Susno Duajdi, Anggodo-Anggoro, Bank Century, Gayus Tambunan, Ramayana, dst.

Dan aneka argumentasi yang kerap menjadi tanda-tanya bagi para pemerhati kasus-kasus terorisme di Indonesia. Intinya, seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya: “Syaitan itu ada dua jenis, jenis jin dan jenis manusia. Syaitan jenis manusia adalah tukang fitnah, durhaka, pendosa, sangat keji.” Mereka tidak segan-segan untuk menjual-belikan darah, nyawa, dan kehidupan manusia, demi keuntungan dunia yang sangat kecil. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hebatnya lagi, yang menjadi sasaran jebakan terorisme itu rata-rata pemuda Muslim yang baik, bermoral, aktivis Islam, rajin ke masjid, bhakti pada orangtua, cinta keluarga, hidup sederhana, bahkan fakir-miskin. Ini adalah kezhaliman luar biasa. Kezhaliman sezhalim-zhalimnya. Bagaimana Indonesia akan bisa lolos dari kehinaan, bencana alam, dan sengsara, kalau kezhaliman seperti ini terus didiamkan?

Dan lebih hebat lagi, hebat bin ajaib, mayoritas kaum Muslimin, selain para aktivis Islam dan para penggiat Syariat Islam, rata-rata membisu semua atas kezhaliman luar biasa ini! Allahu Akbar! Bagaimana kelak kalau mereka ditanya di alam kubur, ditanya di Akhirat? Dimana pembelaan mereka atas nestapa Ummat Muhammad Saw?

Ya Allah, ya Rahiim, ya Rahmaan, rahmati, rahmati, rahmati, kaum Muslimin ini. Mereka sudah melakukan perbuatan luar biasa, dengan berdiam diri atas penderitaan pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris dan penderitaan keluarga mereka. Masya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, ampuni kami ya Rabbal ‘alamiin.

Allahumma inna na’udzubika minas syaithanir rajiim, wa min an yahdhurun. Allahumma inna na’udzubika wa bi Izzatika min syarri wa zhulumatis syayathin wa ahzabihim ajma’in. Allahumma dammir hum tadmira, wa qat-tha’ aidihim wa arjulihim, wa farriq quwwatahum wa makrahum, wa anzil lahum hizyun fid dunya wal akhirah, wa zalzil hayatahum zilzalan katsiran, laa yazalu dzalikal zilzala hatta yatubuna ilaikal Ghafuur. Allahumma inna nas’aluka ‘afiyatan kamilan min kulli syayathin, wa syarrihim, wa zhulumatihim, wa makrihim jami’an. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

Syaitan Di Sekitar Kita

Agustus 15, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat penting bagi kita untuk memahami hakikat syaitan dan mengenali sifat-sifatnya. Dalam Al Qur’an syaitan disebut sebagai ‘aduwun mubin (musuh yang nyata). Bagaimana bisa kita waspada terhadap musuh yang nyata, jika kita tidak memahaminya? Sungguh, pemahaman terhadap hakikat syaitan ini akan memberikan maslahat besar dalam kehidupan Muslim.

Selama ini, menurut pandangan umum, yang disebut syaitan adalah hantu (ghost) yang suka menakut-nakuti orang. Atau paling jauh, masyarakat memahami syaitan sebagai jin yang merasuk ke tubuh, lalu membuat orang kesurupan; jin yang membantu tukang sihir, jin yang digunakan para dukun untuk memperkaya diri, melempar tenung, santet, dll. Cakupan syaitan lebih jauh dari sekedar jin durhaka yang banyak menyesatkan manusia. Bahkan ada syaitan yang lebih bahaya dari itu.

PANDANGAN SALAF

Ketika menafsirkan ayat Al Qur’an dalam Surat Al Baqarah ayat 14, “Wa idza khalau ila sya-ya-thi-nihim” (ketika mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka); Abi Malik rahimahullah mengatakan, “Syaitan-syaitan mereka maksudnya pemimpin-pemimpin mereka, pembesar mereka dari kalangan pendeta-pendeta Yahudi, kepala-kepala kaum musyrikin dan munafiqin.” Ibnu Mas’ud Ra dan sebagian Shahabat Nabi Ra mengatakan, “Syaitan-syaitan mereka adalah pemimpin mereka dalam kekufuran.” Ibnu Abbas Ra. mengatakan, “Dari kalangan Yahudi yang menyuruh mereka berdusta dan menyelisihi apa yang datang kepada Nabi Saw.” Demikian dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal. 67.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Dan syaitan itu adalah siapa saja yang keluar dari pandangannya berupa kejahatan.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid III, hal. 230). Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah, “Syaitan adalah apa saja yang durhaka, dan syaitan itu bisa dari golongan manusia dan jin.” (Jilid I, hal. 67). Ibnu Katsir menyimpulkan, “Bagaimanapun yang shahih adalah seperti sebelumnya, yaitu hadits Abu Dzar Ra, bahwa bagi manusia ada syaitan dari kalangan mereka (sesama manusia), dan syaitan adalah setiap sesuatu yang mendurhakainya.”  (Jilid III, hal. 231).

Syaitan tidak hanya sebatas jin, dari kalangan manusia juga ada syaitan. Mereka adalah orang-orang yang durhaka, memusuhi kebenaran, memusuhi risalah Nabi Saw, pemimpin-pemimpin kekufuran dari kalangan kafirin, musyrikin, munafiqin. Semua ini adalah syaitan yang kita diperintahkan berlindung kepada Allah, a’udzubillah minas syaithanir rajiim, jika melihatnya.

Syaitan bukanlah makhluk, tetapi KARAKTER (sifat). Siapa saja yang ada padanya sifat kekufuran, pengingkaran terhadap kebenaran, permusuhan terhadap kebajikan, mendurhakai Syariat Nabi Saw, menzhalimi hak-hak kaum Muslimin; mereka semua adalah syaitan. Bahkan syaitan bisa berupa binatang. Nabi Saw mengatakan, “Anjing berbulu hitam adalah syaitan.” (HR. Muslim).

SYAITAN MANUSIA

Syaitan bisa berupa jin, makhluk ghaib yang tak terlihat mata. Syaitan jenis ini bisa masuk ke dalam darah manusia, bisa membuat orang lalai mengalami kesurupan, bisa disuruh-suruh oleh tukang sihir untuk mencelakai manusia, bisa menakut-nakuti orang lemah iman, dll. Tetapi syaitan juga bisa berwujud: Pejabat birokrasi, pemimpin partai politik, bankir, wartawan media, presenter TV, pakar politik, pengacara, kepala polisi, anggota satuan khusus, koruptor, pemain bisnis, pelaku kriminal, preman, artis, selebritis, penceramah, penipu berkedok ustadz, dll.

Warning: Syaitan Jenis Manusia Lebih Berbahaya!!!

Syaitan dari jenis jin, mereka melihat kita, tetapi kita tak mampu melihat mereka. Sedangkan syaitan dari jenis manusia, mereka bisa melihat kita, sementara kita juga tak mampu melihat isi hati mereka. Tubuh mereka seperti manusia biasa, tetapi hatinya syaitan. Syaitan dari jenis manusia ini justru sangat berbahaya. Mereka disifati oleh Nabi Saw dengan ucapan, “Qulubuhum syaithan fii jusmanil insi” (hati-hati mereka syaitan, dalam tubuh manusia).

Kalau ada manusia yang mengatakan, “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an,” tidak diragukan lagi bahwa orang itu adalah syaitan. Kalau kita melihat wajahnya, atau mendengar namanya disebutkan, lebih baik kalau mengucapkan, a’udzubillah minas syaithanir rajiim.

Begitu pula kalau ada pejabat birokrasi atau satuan militer yang terang-terangan memusuhi Syariat Islam, membenci Syariat Islam, memusuhi sistem Islam, memerangi perjuangan menegakkan Islam, memusuhi para aktivis pembela Islam; tidak diragukan lagi, mereka adalah syaitan dan kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatannya. Bila kita tak mampu menghadang kezhaliman mereka, maka doakan agar mereka sadar dan bertaubat. Jika mereka durhaka, dan tidak mau bertaubat, semoga mereka dikutuk oleh Allah, dihancurkan bisnisnya, dirusak kehormatannya, dicerai-beraikan harta-bendanya, serta dirusak kehidupan anak-isteri dan orangtuanya. Amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Begitu pula, kalau ada yang berpendapat, Syariat Islam tidak relevan lagi, Syariat Islam hanya cocok di jaman batu di Arab, Nabi Muhammad tidak perlu dibela, homoseksual halal, Al Qur’an harus diedit, hadits Nabi harus dibuang, Islam sama benarnya dengan agama lain, orang non Muslim bisa masuk syurga asalkan baik hatinya, dll. Tidak diragukan lagi, semua itu adalah syaitan. Kalau mampu, hentikan kezhaliman mereka; kalau tidak, bantah kesesatan-kesesatan mereka; kalau tidak mampu juga, doakan kebinasaan bagi mereka.

KARAKTER SYAITAN

Ada yang berpendapat, bahwa syaitan adalah siapa saja yang mengikuti jejak Iblis laknatullah ‘alaih. Pandangan seperti ini tidak jauh dari kebenaran. Pada hakikatnya pemimpin segala kejahatan adalah Iblis. Maka siapa saja yang mengikuti jejaknya adalah syaitan. Ibnu Jarir At Thabari mengatakan, “Syaitan adalah apa saja yang durhaka, dan syaitan itu bisa dari golongan manusia dan jin.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid I, hal. 67). Para pengikut Iblis jelas termasuk kaum durhaka ini, bahkan mereka adalah puncak-puncaknya kedurhakaan. Iblis sendiri missi hidupnya hanya satu, yaitu mengajak manusia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Lalu bagaimana sifat-sifat syaitan itu?

[PERTAMA], syaitan itu percaya kepada Allah, namun mereka mendurhakai-Nya. Sifat Iblis seperti itu. Iblis percaya kepada Allah, namun mendurhakai-Nya. Ketika terjadi Perang Badar, syaitan mendorong kaum musyrikin berperang melawan Rasulullah dan para Shahabat. Tetapi setelah kaum musyrikin masuk dalam peperangan, syaitan lari meninggalkan mereka. Syaitan itu mengatakan, “Aku berlepas diri dari kalian (orang-orang musyrikin), aku melihat apa yang kalian tidak melihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (Al Anfaal: 48).

Sangat salah kalau Anda menyangka bahwa syaitan itu tidak tahu tentang Allah. Mereka tahu, bahkan mungkin mereka bergelar profesor dalam studi Islam. Namun sayangnya, pengetahuan itu tidak membuat mereka beriman dan beramal shalih. Mereka tahu dan percaya, tetapi durhaka kepada Allah Ta’ala. Maka jangan terkecoh jika ada orang yang fasih mengucapkan, “Assalamu’alaikum, alhamdulillah, insya Allah, masya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tetapi perilakunya memusuhi Syariat Islam.

[KEDUA], syaitan itu sudah putus-asa dari mendapat rahmat Allah. Iblis juga demikian, ia putus-asa dari mendapat rahmat Allah. Maksudnya, di mata Iblis dan syaitan, mereka sudah sangat yakin bahwa dirinya akan masuk neraka, dan tak ada harapan masuk syurga. “Diri kami kotor, penuh dosa, kami sudah terlalu banyak zhalim ke manusia. Kami tak ada harapan masuk syurga, pintu-pintu taubat sudah tertutup, kami sudah pasti akan masuk neraka,” demikian sifat putus-asa para syaitan itu.

Iblis berkata kepada Allah, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka (anak-cucu Adam As) dari jalan-Mu yang lurus.” (Al A’raaf: 16). Ayat ini menggambarkan puncak keputus-asaan Iblis terhadap rahmat Allah. Setelah berbuat salah, tidak mau diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis bukan bertaubat, malah menyombongkan diri.

Dalam hadits dijelaskan, jika seorang Muslim membaca Al Qur’an, lalu menjumpai Ayat Sajadah, lalu dirinya bersujud, seketika itu syaitan akan menyingkir sambil menangis. Syaitan berkata, “Celakalah dia (syaitan mengutuk orang yang melakukan sujud)! Dia diperintahkan sujud, lalu mau bersujud, sehingga dia mendapatkan syurga. Sedangkan aku diperintahkan sujud, namun aku durhaka, maka bagiku siksa neraka.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

Banyak pejabat, kepala polisi, hakim, jaksa, pengusaha, politisi, pakar politik, selebritis, penipu berkedok ulama, dll. mereka merasa berlumuran dosa, penuh kezhaliman, penuh kejahatan. Begitu putus-asanya, sampai mereka tak lagi merasa takut dengan neraka, dan tak berharap akan masuk syurga. “Dosa atau neraka, biar kami tanggung sendiri,” begitu ucapan yang sering mereka ucapkan.

[KETIGA], syaitan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak masuk neraka. Para syaitan sadar dirinya akan masuk neraka, dan mereka tahu siksa neraka amat sangat berat. Maka mereka tak mau masuk neraka sendirian. “Enak saja, mereka mau bebas. Aku disini tersesat, mereka mau selamat. Tidak bisa! Kita harus sama-sama sesat, sama-sama masuk neraka. Aku tidak mau masuk neraka sendirian. Kalau aku rusak, mereka juga harus rusak,” begitu klaim para syaitan itu. Maka Anda akan menjumpai para syaitan ini terus bergerak mencari kawan. Para pemabuk mencari pemabuk baru, kaum pezina akan menarik pezina-pezina baru, penggila narkoba mencari korban narkoba lain, polisi jahat akan menyesatkan polisi-polisi baru, pejabat korup akan mencetak koruptor-koruptor baru, wartawan amoral akan mencari kader wartawan sejenis, selebritis bejat akan mencari kawan dalam kebejatan, guru-guru kesesatan akan mencari murid-murid baru, dan seterusnya.

Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh (bagi kalian). Bahwasanya syaitan itu mengajak bala tentaranya (para pengikutnya) agar mereka menjadi penghuni neraka sa’ir.” (Faathir: 6).

Banyak orang-orang baik di Indonesia ini menjadi rusak karena dijerumuskan oleh syaitan-syaitan itu. Lalu orang-orang baik yang telah tersesat tersebut menjerumuskan orang-orang lain, agar sama-sama menjadi syaitan seperti diri mereka. Orang-orang seperti ini sering mengucapkan kata-kata berbisa, misalnya, “Ayolah coba makan babi. Kalau sedikit gak apa-apa kok. Namanya juga anak muda, boleh main-main seks. Itu tandanya mereka normal. Korupsi itu dilarang, kalau ketahuan. Kalau tidak ketahuan, itu halal. Yang haram saja sudah didapat, apalagi yang halal? Bukan laki-laki sejati, kalau tidak pernah memakai PSK. Coba narkoba ini! Gratis kok. Nanti kalau suka, silakan beli.” Kata-kata seperti ini sangat keji dan rusak. Tetapi mudah menyesatkan manusia lemah akal.

[KEEMPAT], syaitan banyak sekali berbohong mendustai manusia. Berbohong adalah karakter dasar Iblis. Iblis pernah menipu Adam As dalam soal pohon khuldi, sehingga Adam dan isterinya terusir dari neraka. Iblis membisikkan kepada Adam, “Hai Adam, maukah kamu aku beritahu pohon khuldi dan kerajaan yang tak akan binasa?” (Thahaa: 120). Iblis menipu Adam dengan mengatakan, kalau Adam memakan buah dari pohon itu, dia akan kekal di syurga seperti para Malaikat.

Para syaitan banyak sekali menipu manusia, melalui perkataan-perkataan menipu. Mereka bicara di depan TV, di hadapan wartawan-wartawan, di hadapan jamaah pengajian, di hadapan rapat terbuka, di forum-forum rapat partai, di hadapan masyarakat luas. Mereka berbicara sambil memutar-mutar lidahnya, menggerakkan kepala, dan tangannya. Mereka berbicara tentang keadilan, penegakan hukum, pemerintahan bersih, bebas korupsi, kesejahteraan, kemajuan, persatuan bangsa, dll. Tetapi kenyataan yang ada sangat jauh dari harapan. Kata-kata mereka ke Barat, sementara kenyataan yang ada lari ke Timur. Tidak ada kata-kata yang bisa dipegang, selain kebohongan belaka.

Hebatnya lagi, mereka sering sekali mengucapkan kata, “Alhamdulillah, assalamu’alaikum, insya Allah, rahmatan lil ‘alamiin, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dll.” Seolah diri mereka beriman, santri, komitmen dengan Islam. Padahal semua itu hanya kedok belaka.

[KELIMA], para syaitan mengisi hidupnya dengan membuat kerusakan sebanyak-banyaknya di muka bumi. Sebagai makhluk yang dikutuk, tidak ada pilihan bagi syaitan, selain membuat kerusakan sebanyak-banyaknya, selagi diri mereka masih punya kemampuan merusak.

Dalam Al Qur’an disebutkan komitmen syaitan untuk merusak kehidupan manusia, “Aku benar-benar akan menyesatkan mereka (manusia), aku akan bangkitkan angan-angan kosong mereka, aku akan suruh mereka (berbuat kejahatan), maka mereka pun memotong telinga-telinga ternak, dan aku akan perintahkan mereka mengubah-ubah ciptaan Allah. Maka siapa yang menjadikan syaitan sebagai wali dengan meninggalkan Allah, maka dia telah rugi serugi-ruginya.” (An Nisaa’: 119).

Perbuatan rusak kaum syaitan ini sangat banyak. Mereka menghalalkan ribawi, menghalalkan wanita membuka aurat, menghalalkan pornografi di media-media, menghalalkan prostitusi dan minuman keras, menghalalkan pembunuhan atas pemuda-pemuda Islam yang istiqamah, menghalalkan fitnah atas ustadz dan ulama, menghalalkan aliran sesat, menghalalkan pemiskinan terhadap rakyat lemah, menghalalkan korupsi dan skandal, menghalalkan kebohongan publik, dll. Mereka juga mengharamkan Syariat Islam, mengharamkan pembelaan terhadap Muslim yang teraniaya, mengharamkan nikah dini, mengharamkan nikah sirri, mengharamkan poligami, mengharamkan dakwah, mengharamkan majlis taklim, mengharamkan Jihad Fi Sabilillah, dan seterusnya.  Kaum syaitan ini mengisi kehidupan dengan kemungkaran, serta membenci kebajikan.

Dan hebatnya, di antara kaum Muslimin ada yang mengukuhkan mereka sebagai ulil amri, lalu memberikan perlakuan-perlakuan istimewa kepadanya. Pemimpin seperti itu ditaati, didoakan, dihormati, dipuji, dilarang dicela, dilarang di-ghibahi, dst. Bila diingatkan, mereka tidak terima, dan menuduh orang-orang yang mengingatkan sebagai teroris khawarij. Padahal perbuatan durhaka para pemimpin itu sudah sangat nyata. Hal-hal yang baik diharamkan, sedangkan hal-hal yang buruk malah dihalalkan. Semua ini sudah cukup disebut sebagai kufrun bawahan.

Dalam Surat An Nisaa’ ayat 119 di atas disebutkan, “Wa man yatta-khi-dzis syai-thana wali-yan min dunillah, faqad kha-sira khus-ranan mubinan” (dan siapa yang menjadikan syaitan sebagai wali dengan meninggalkan Allah, maka benar-benar dia rugi serugi-ruginya). Semoga mereka segera bertaubat dari kesesatan, rujuk kepada kebenaran, dan bersama berjuang membela Islam. Allahumma amin.

Posisi ulil amri sangat jelas dalam Islam, yaitu siapa saja yang menunaikan kepemimpinan politik dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kepemimpinan itu didedikasikan untuk menjaga: agama, jiwa, harta-benda, akal, dan keturunan kaum Muslimin. Jika ada kepemimpinan yang merusak ke-5 urusan Ummat itu, jelas ia bukan ulil amri seperti yang diinginkan Islam. Ia adalah imarah syaithaniyyah.

PENUTUP

Wahai kaum Muslimin, lihatlah kehidupan di sekitarmu! Apa yang Anda saksikan? Apakah disana ada keadilan, kemakmuran, pemerataan, ketenangan bathin, perlindungan hidup, martabat yang mulia, keimanan yang tumbuh subur, serta kebajikan yang luas? Demi Allah, kita sama-sama menyaksikan bahwa kehidupan bangsa kita jauh dari harapan-harapan itu.

Beberapa tahun lalu, sebuah lembaga internasional menyebut Indonesia masuk kategori failed nation (negara gagal). Disini korupsi subur, pelayanan publik buruk, transparansi buruk, taraf pendidikan warganya rendah, kualitas gizi buruk, dst. Hingga orang non Muslim pun mengakui, bahwa kehidupan bangsa Indonesia sangat buruk. Peringkat korupsi di negeri ini selalu top. Bahkan pelanggaran HAM juga top, terutama terkait pembunuhan pemuda-pemuda Muslim yang dituduh terlibat terorisme. Mereka dibunuh dimana saja, tanpa mekanisme pengadilan.

Jika para pemimpin baik, shalih, dan lurus, tidak mungkin akan tercipta kehidupan ancur-ancuran seperti ini. Jelas tidak mungkin! Islam adalah, rahmatan lil ‘alamiin. Jika pemimpin-pemimpin shalih, ‘alim, dan taqwa, pasti akan tersebar barakah yang luas dalam kehidupan masyarakat. Hanya saja karena kebanyakan pemimpin dan elit di negeri ini berkarakter syaitan, maka inilah yang terjadi dan kita saksikan, kehidupan penuh angkara murka, rusak lahir-batin, agama dan dunia.

Kini Anda telah paham kenyataan ini. Janganlah lagi tertipu dan tersesatkan. Kenali sifat-sifat syaitan, lalu jauhilah mereka. Berkumpullah dengan orang-orang yang shalih, binalah kekuatan, dan perjuangkan masa depan Islam. Jangan ragu untuk bersikap tegas atau berlepas diri dari para syaitan itu. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Pemimpin kita.

Allah menjadi Wali bagi orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dan orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah para thaghut, mereka mengeluarkan orang-orang kafir itu dari cahaya menuju kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 257).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.