MENJAGA KEHIDUPAN DENGAN MANHAJ

April 29, 2015

>> Allah SWT menjaga kehidupan di bumi dengan menghadirkan insan-insan shalihin yang mendiami bumi. Dengan demikian akan turun sebab-sebab Keridhaan-Nya. Dalilnya, Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul AS untuk mengajarkan jalan keshalihan kepada manusia. Sebaliknya, bila insan durhaka dan mendustakan Allah, mereka dihalalkan adzab atasnya.

Tool to Safe Life

Tool to Safe Life

>> LAUT MATI (Death Sea) terletak di antara Yordan, Israel, Palestina. Tidak ada hewan atau tumbuhan hidup di laut ini. Airnya tidak dapat diambil manfaat & bau. Manusia tidak boleh lama-lama berendam di airnya, bisa dehidrasi. Di tempat inilah ribuan tahun lalu bercokol kaum Sodom. Kedurhakaan menyisakan derita ribuan tahun lamanya.

>> Itulah pentingnya kita menjaga keshalihan, dalam rangka menjaga kehidupan dan alam. Jangan menjadi pendurhaka yang mengundang malapetaka.

>> BERIKUT MANHAJ KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM:

#1. Menjalankan agama berdasarkan ILMU, yaitu ilmu pengetahuan Syariat yang kuat dan terpilih.

#2. Menjalani kehidupan sebagai IBADAH kepada Allah SWT, dg tanpa menyekutukan Dia dg sesuatu apapun.

#3. Menghidupkan SUNNAH Nabi dalam kehidupan sehari-hari, dalam tata-cara ibadah, dan menjauhi bid’ah.

#4. Mendukung usaha-usaha menghidupkan SYARIAT Islam dalam kehidupan sosial dan masyarakat.

#5. Melaksanakan DAKWAH Islam secara hikmah, bijaksana, santun.

#6. Mengutamakan PERSATUAN Ummat, saling hormat-menghormati antar elemen-elemen Muslim.

#7. Mendukung usaha-usaha SIYASAH untuk menekan kemungkaran dan menyokong kemakrufan.

#8. Melaksanakan usaha-usaha pemberdayaan kehidupan Muslim.

#9. Mengadopsi kemajuan teknologi untuk mendukung maslahat hidup Ummat di segala bidang.

#10. Menjaga konsep akidah AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH; sebagai koridor keagamaan Muslim.

#11. Menyebarkan akhlak RAHMAT ke segenap penjuru alam (semampunya).

#12. Melindungi sistem kehidupan Muslim dengan kekuatan JIHAD di jalan Allah.

>> Semoga Allah memberikan kita hidayah & taufiq untuk menempuhi jalan yang diridhai-Nya. Amin Allahumma Amin.

Tatar Pasundan, 24 April 2015.

(AM. Waskito).

SUMBER: Status facebook.

Iklan

Kalau Khalifah Itu Benar, maka Dia Harus Diqishash atas Darah Kaum Muslimin dan Pejuang Islam

Juli 3, 2014

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din, was sholatu was salamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in, amma ba’du.

Baru-baru ini mencuat deklarasi Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah di Irak. Seseorang segera dinobatkan menjadi Khalifah bagi kaum Muslimin. Pengumuman dilakukan melalui siaran video di Youtube. Masalah terbesarnya, sebelum orang ini dinobatkan sebagai Khalifah, tangannya telah berlumuran darah kaum Muslimin di Suriah, dan telah menyebabkan pembunuhan-pembunuhan kejam terhadap para pemimpin dan pejuang Islam di Suriah.

Jika benar telah tegak berdiri Daulah Islamiyah, maka pasti tujuannya adalah untuk menegakkan Syariat Islam itu sendiri; bukan karena ambisi MANIAK POLITIK, yaitu ingin punya label negara Islam tanpa komitmen menegakkan Syariat Islam. Jika mereka berniat menegakkan Syariat, maka terlebih dulu harus dicontohkan kepada diri mereka sendiri. Bukankah Nabi SAW pernah didatangi Usamah bin Zaid RA untuk meminta keringanan bagi seorang wanita mulia yang telah mencuri, lalu Nabi SAW tidak memberi keringanan apapun. Bahkan beliau berkata: “Lau saraqot fathimah ibti Muhammad, la qotho’tu yadaha” (seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya). Rasulullah SAW mencontohkan penegakan Syariat Islam dimulai dari diri dan keluarga beliau terlebih dulu.

"Khalifah" Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

“Khalifah” Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

Maka Khalifah yang baru diangkat itu harus di-qishash atas darah kaum Muslimin yang telah dia tumpahkan, jika benar mereka tulus ingin menegakkan Syariat. Kalau perlu ulama-ulama Islam dari berbagai negara Muslim turut terlibat dalam menuntutnya ke hadapan Mahkamah Islam. Maksudnya, jika semua ini memang tulus untuk menegakkan Syariat di muka bumi.

Mungkin ada yang berkata: “Para pembunuh bukan Khalifah itu sendiri, tapi anak buahnya. Jadi yang layak dihukum adalah anak buahnya.”

Jawabnya adalah: Apakah anak buahnya bisa melakukan pembunuhan, serangan, pengebomam, tanpa instruksi dari komandan-komandannya? Lalu apakah komandan-komandan itu bekerja sendiri, tanpa perintah dari pemimpin tertinggi mereka?

Sikap mereka dalam mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah para pejuang itulah pokok masalahnya. Hal itu jelas-jelas disampaikan melalui pernyataan juru bicara mereka. Salah satunya, dalam pernyataan yang berjudul: “Udzron ya Amir Al Qo’idah.” Bahkan sebelum itu, sang pemimpin jelas-jelas mengecam dan mensyukuri kehancuran Muhammad Mursi di Mesir, karena mereka terlibat dalam politik demokrasi. Ini adalah perkara-perkara yang disaksikan kaum Muslimin secara luas; disaksikan oleh kawan dan lawan, Muslim dan kafirin.

Seseorang yang didaulat sebagai Khalifah itu tidak bisa cuci tangan. Dia harus bertanggung-jawab atas tumpahnya darah kaum Muslimin, pembunuhan atas para pejuang Islam, dan terjadi konflik antar kaum Muslimin baik di Suriah maupun di Irak.

Banyak orang mengira, dengan telah menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah, mereka bisa bebas melakukan apa saja kepada umat manusia, bebas menuntut loyalitas penuh, bebas mengambil hak-haknya. Ini adalah prasangka yang sangat buruk. Jika demikian, berarti Daulah/Khilafah adalan instrumen untuk menindas manusia. Padahal sebaliknya, dengan menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah berarti mereka telah mengambil alih seluruh tanggung-jawab kehidupan kaum Muslimin. Di hadapan Khilafah Islamiyah yang syar’i, Ummat Islam boleh meminta apa saja kepada Khalifah, sekali pun hanya meminta sebuah jarum. Jika dia tak memberikan, harus diberikan penjelasan tentang udzur-nya. Jika ada satu masalah, sekalipun hanya seseorang tertusuk duri, dia boleh mengadukan masalahnya ke Khalifah. Karena memang fungsi Daulah/Khilafah adalah pelayan dan perlindungan kehidupan bagi kaum Muslimin. Dan satu lagi yang penting, mereka harus mulai memberlakukan Syariat Islam itu pada diri mereka dan keluarganya terlebih dulu.

Sebagian kaum Muslimin telah menegakkan sistem Islam secara otonom dalam skala terbatas, seperti Imarah Thaliban, Imarah Kaukasus, Kerajaan Saudi, Kerajaan Qatar, Kerajaan Brunei, dan sebagainya. Mereka tidak menuntut bai’at kaum Muslimin dan tidak memaksakan, karena mereka paham konsekuensinya. Dengan berani menerima bai’at, berarti berani menanggung segala hajat kehidupan orang-orang yang membai’at. Jika seorang Khalifah tidak memenuhi hak-hak orang yang membaiat ini, maka dia telah menzhalimi mereka, dan tidak akan mencium wangi surga.

Jika mereka tidak mengerti hal-hal seperti ini, maka bisa dikatakan: “Mereka suka bermain-main dengan istilah besar, tetapi tak mau memenuhi syarat-syaratnya.” Kami sendiri meyakini, Khilafah seperti ini telah dimulai dengan cara yang salah, yaitu menghalalkan darah kaum Muslimin; maka perkara demikian akan terus menyandera urusan orang-orang ini.

Nyawa Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Nyawa Pejuang Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Seharusnya kaum Muslimin berfokus di Suriah, dan lupakan segala fitnah yang merebak di Irak. Anggap saja semua itu tidak pernah ada, lalu jadikan sebaik-baik pelajaran agar tidak terulang. Perlu diketahui, secara teori Basyar Assad sudah kalah. Seluruh hasil-hasil capaian rezim Assad telah runtuh dan nama baik keluarga Assad telah hancur di mata rakyat Suriah dan dunia internasional. Posisi Basyar saat ini hanya simbol belaka, sedangkan yang memperpanjang usia rezim ini adalah kekuatan-kekuatan dari luar, seperti Iran, Libanon, Rusia, dan China.

Sejak awal kekuasaan Daulah itu sudah salah. Mereka ingin menegakkan Syariat dengan cara menghalalkan kezhaliman atas kaum Muslimin (yang tidak mendukung pandangan-pandangan mereka). Jika kita mendukung perkara seperti ini, berarti ikut berserikat dalam menghalalkan hak-hak kaum Muslimin. Padahal Nabi SAW jelas-jelas telah mengatakan: “Al muslimu akhul muslimi, haromun damahu wa maalahu wa ‘irdhuh” (seorang Muslim menjadi saudara Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya).

Apa hukumnya bagi siapa saja yang menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan; dan mengharamkan apa-apa yang telah Allah halalkan? Mereka halalkan darah dan harta Ummat; serta mengharamkan persaudaraan, kerjasama, bantu-membantu antar sesama Muslim. Jika demikian, apakah mereka itu pro Syariat atau pro thaghut? Bukankah thaghut adalah siapa saja yang ditaati untuk menentang Syariat Nabi SAW?

Menegakkan kebenaran itu sangat tidak mudah. Ada beribu was-was yang menimpa hati manusia setiap mereka ingin melangkah mendekati kebenaran. Mereka punya 1001 alasan untuk menolak sumber kebenaran, dengan alasan-alasan yang tidak syar’i di sisi Allah. Tetapi bagaimanapun juga kebenaran harus disampaikan, tidak disembunyikan. Ibnu Mas’ud RA tatkala menjelaskan makna Al Jamah, beliau berkata: “Maa wafaqol haqqo wa in kunta wahdak” (apa saja yang selaras dengan kebenaran, meskipun engkau hanya seorang diri). Kebenaran meskipun sedikit pendukungnya berfaidah bagi kelangsungan kehidupan Ummat, daripada kesalahan yang didukung banyak orang tapi mengancam kehidupan Ummat.

Wallahu a’lam bisshawab.

(Abu Halimah).


Manusia Sekuler Ekstrim Pun Membutuhkan Syariat Islam…

September 23, 2012

Syariat Islam Melindungi Eksistensi Manusia; Jika Mereka Tahu dan Mau Jujur Mengakuinya.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebagai seorang Muslim, tentu kita mengimani Syariat Islam. Kita berusaha mempelajarinya, mempercayainya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi tidak semua orang bisa menerima Syariat Islam; banyak di antara mereka justru menolak, meremehkan, atau menganggapnya sebagai musuh kehidupan.

Elit-elit politik sekuler, mereka sangat membenci Syariat Islam. Jangankan konsep Syariat dalam suatu tatanan yang utuh, istilah “Perda Syariah” pun sudah membuat mereka muntah-muntah dan insomnia (susah tidur). Di antara elit sekuler itu ada yang bersikap ekstrim, mereka terus berkampanye agar para aktivis Islam yang membela Syariat bisa dimasukkan dalam kategori musuh negara, musuh pembangunan, dan musuh NKRI.

Selain elit politik, yang terkenal memusuhi Syariat adalah media-media massa sekuler, dan wartawan-wartawan Islam phobia; pengusaha-pengusaha sekuler yang telah menghalalkan kapitalisme dan liberalisme; para seniman, para artis, selebritis yang memuja gaya hidup hedonis dan westernis; para aktivis LSM, para aktivis HAM, para aktivis kesetaraan gender, para aktivis pluralisme, para pendukung gay dan lesbian; para pengasong aliran sesat, khususnya Syiah, Ahmadiyah, dan Liberal; termasuk juga para perwira militer sekuler, para purnawirawan sekuler, anggota militer anti Islam, serta para desertir yang kerap dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha hitam; hal serupa ada pada korp kepolisian, anggota aktif dan pensiunan yang anti Islam dan sekuler; tentu saja tidak ketinggalan, para koruptor, para mafia, bandar narkoba, bandar judi, bandar prostitusi, bandar pornografi, dll. Semua orang ini, dalam eksistensi hidupnya, memiliki sumbangan besar dalam merobohkan tata-nilai dan Syariat Allah Ar Rahmaan.

Bukan hanya orang-orang itu (yang jumlahnya banyak); tetapi juga tokoh, aktivis, pemikir, penulis, pendakwah yang melabelkan dirinya dengan komunitas Muslim; tidak jarang mereka juga bersikap anti Syariat Islam. Mereka menampakkan diri sebagai tokoh Islam, tokoh ormas Islam, sebagai cendekiawan Muslim, atau bahkan sebagai ulama; tetapi sikap dan pemikirannya cenderung paranoid dengan missi Islamisasi kehidupan. Salah satu dari mereka pernah berkata: “Kalau Syariat Islam dilaksanakan di Indonesia, maka persatuan akan berubah menjadi persatean (pembantaian).” Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak siapa saja yang merasa alergi, ketakutan, atau phobia dengan Syariat Islam. Marilah kita buka pikiran, buka kejujuran, dan bersikap apa adanya; tanpa manipulasi, tanpa kamuflase, tidak perlu berpura-pura. Marilah kita lihat Syariat Islam dari perspektif hajat hidup manusia yang paling dasar, yaitu eksistensinya.

Sebagai manusia berakal, terpelajar, dan berbudi luhur; kita pasti mendukung segala hal yang bermanfaat untuk melestarikan kehidupan manusia di muka bumi. Misalnya, kita mendukung pelestarian lingkungan; kita mendukung kampanye “Go Green“; kita mendukung pengurangan emisi karbon; kita mendukung konservasi air dan hewan langka; kita mendukung kampanye anti penebangan hutan secara semena-mena; kita mendukung pemberantasan angka kemiskinan; kita mendukung pemberantasan buta huruf dan penyakit endemik; kita mendukung larangan perdagangan manusia; kita mendukung penghormatan atas HAM; dan lain-lain. Pendek kata, apapun yang berguna untuk meningkatkan martabat hidup manusia, kita mendukungnya.

Jika kita benar-benar berkomitmen untuk pembangunan manusia dan pemuliaan harkat hidup mereka di dunia; mestinya kita juga mendukung realisasi Syariat Islam dalam kehidupan. Minimal bersikap simpati dan tidak antipati. Sebab, Syariat Islam memiliki koneksi yang sangat kuat dengan kelestarian hidup manusia. Disini setidaknya ada 5 ALASAN yang bisa kita renungkan, seputar kontribusi Syariat Islam untuk menjaga eksistensi hidup manusia.

Baca entri selengkapnya »


Ulil Amri dan Ketaatan Politik Ummat

September 3, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bulan Syawwal sering dimaknai sebagai bulan “peningkatan”, khususnya peningkatan taqwa kita setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadhan. Syawwal memiliki korelasi kuat dengan tujuan ibadah shaum itu sendiri, “La’allakum tattaquun“.

Demi membuka lembar-lembar bulan Syawwal dan seterusnya dengan nilai-nilai PENAMBAHAN, berikut saya tulis sebuah topik menarik tentang kaitan antara Syariat Islam, Ulil Amri, dan kepatuhan politik Ummat terhadap lembaga Ulil Amri itu sendiri. Dan hal ini tidak lepas dari perselisihan yang terjadi di antara kita seputar penentuan momen Idul Fithri 1432 H.

Dalam konteks kehidupan di Indonesia, muncul pertanyaan serius: “Mana yang lebih tepat dilakukan oleh kaum Muslimin Indonesia, apakah mentaati penetapan momen 1 Syawwal menurut Pemerintah, atau memilih yang diyakini lebih benar daripada penetapan itu?”

Harmoni di Bawah Naungan Syariat Ar Rahmaan.

Pertanyaan ini kemudian melebar menjadi: “Apakah Pemerintah seperti yang berlaku di Indonesia ini layak disebut Ulil Amri, seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah?”

Sebenarnya sikap politik ini bagi saya pribadi bukan sesuatu yang baru. Dalam banyak kesempatan sudah saya jelaskan sikap politik itu. Minimal, sikap politik saya pribadi. Tetapi tidak mengapa diulang disini, sekalian diberi penjelasan lain, agar semakin jelas di mata Ummat. Insya Allah.

Konstruksi politik Islami setidaknya dibangun di atas 3 landasan utama:

PERTAMA, kaum Muslimin diperintahkan taat kepada Allah, taat kepada Rasul Allah, dan kepada Ulil Amri di antara kaum Muslimin. (Surat An Nisaa’: 59). Para ahli tafsir menjelaskan, makna Ulil Amri itu bisa dua macam: Pemimpin Ummat Islam dalam mengurusi kehidupan, atau para ulama yang membimbing dengan ilmu Syariat.

KEDUA, kewajiban kaum Muslimin untuk selalu menetapi Al Jamaah, dan tidak keluar dari ketaatan kepada Ulil Amri. Bila keluar dari ketaatan itu, mereka bisa mendapat kematian seperti mati jahiliyyah. Sebagian ulama hadits menjelaskan, seperti mati jahiliyyah maksudnya mati tanpa tanggung-jawab pemimpin atau kesaksian darinya seperti layaknya kematian orang kafir.

KETIGA, apabila terjadi perselisihan pendapat, dalam segala persoalan apapun, kembalinya ialah kepada Allah (hukum Al Qur’an) dan Rasul-Nya (hukum Rasul-Nya). Dalilnya, masih Surat An Nisaa’ ayat 59. Bahkan dalil ini masih kelanjutan dari dalil ‘athiullah wa ‘athiurrasula wa ulil amri minkum di atas.

Konsep politik Islam tak akan jauh dari ketiga prinsip ini, meskipun diungkapkan dengan bahasa/kalimat berbeda-beda. Ketiga prinsip di atas menjadi alas bagi tegaknya peradaban Islam di bidang siyasah (politik).

Pertanyaan yang kerap muncul: “Bagaimana dengan keadaan pemerintahan-pemerintahan yang berdiri di negeri-negeri Muslim? Mereka tidak menegakkan Syariat Islam, atau menegakkan sebagiannya dan melarang sebagian lainnya; apakah mereka bisa diklaim sebagai Ulil Amri?”

Di kalangan para penuntut ilmu, masalah seperti ini menjadi perdebatan pelik. Satu pendapat, menerima setiap penguasa sebagai Ulil Amri, bagaimanapun cara mereka mendapatkan kekuasaan. Salah satu contoh, ialah pendapat seorang ustadz sebagai berikut: Apakah Presiden Termasuk Ulil Amri? Pendapat lain, tak mengakui bahwa pemerintah sekuler seperti di Indonesia termasuk Ulil Amri (atau Wulatul Amri). Alasannya, Ulil Amri itu adalah pengurus urusan Ummat dalam hal-hal yang selaras dengan Syariat Islam.

Kalau kita mengkaji Sirah Nabawiyyah dari kehidupan dan perjuangan Nabi Saw, insya Allah kita akan mendapat bekal yang cukup untuk memahami segala musykilah (keruwetan) persoalan ini. Hanya saja masalahnya, sanggup kah kita menghadapi Sirah Nabawiyyah itu dengan hati lapang dada? Kalau tak sanggup, nah disana masalah utamanya.

Disini akan coba kita runut beberapa isu penting seputar politik Islami, dengan dalil perbuatan Rasulullah Saw sesuai lembaran-lembaran sirah kehidupan beliau dan para Shahabat Ra. Untuk memudahkan, disini akan dijelaskan dengan beberapa poin pertanyaan.

1. Apakah Rasulullah Saw tunduk kepada hukum jahiliyyah (non Islami)?

Jawabnya, TIDAK sama sekali. Rasulullah tidak tunduk kepada hukum non Islami apapun. Ketika berdakwah di Makkah selama 13 tahun, Rasulullah dipaksa untuk taat dengan hukum-hukum kaum musyrikin Quraisy. Namun Rasulullah tidak melakukannya. Puncaknya, beliau memilih hijrah ke Madinah daripada tunduk kepada hukum non Syariat Islami.

Ketika di Madinah pun, kaum Yahudi telah memiliki posisi politik kuat, dan mereka memiliki hukum-hukum yang berlaku atas kaumnya. Disana pun Rasulullah tidak tunduk kepada hukum Yahudi. Beliau hanya menjalin kerjasama damai dengan Yahudi yang kita kenal sebagai Piagam Madinah itu. Pernah terjadi, Umar bin Khattab Ra suatu saat membawa kitab Taurat dan ingin mengambil kebaikan-kebaikan darinya. Rasulullah mengingkari perbuatan Umar Ra itu, dan beliau bersumpah; jangankan hanya Umar, andai Nabi Musa As sendiri masih hidup, beliau harus tunduk kepada hukum Nabi Saw.

Lihatlah dengan jelas; saat masih dakwah maupun sudah berkuasa, Nabi Saw tak pernah mau tunduk kepada hukum non Islami.

2. Apakah wajib menegakkan hukum Islam bagi Ummat Islam dalam kehidupannya?

Jawabnya, YA! Wajib bagi kaum Muslimin menegakkan hukum Islam dalam kehidupannya, apabila mereka sanggup mewujudkan hal itu. Bila tak sanggup, mereka wajib mengusahakan hal itu, sekuat kemampuannya. Dalilnya adalah ayat Allah, “Fattaqullaha mastatha’tum” (taqwalah kalian kepada Allah sekuat kesanggupanmu).

Nabi Saw ketika mendapat kekuasaan di Madinah, beliau mulai menerapkan Syariat Islam secara bertahap sampai sempurna. Ketika beliau menaklukkan Kota Makkah, beliau seketika itu langsung menerapkan Syariat Islam di Makkah. Bentuknya berupa membersihkan area Ka’bah dan Kota Makkah dari segala berhala dan simbol-simbol kemusyrikan. Juga ketika itu beliau meminta bai’at dari penduduk Makkah, termasuk kaum wanitanya. Beliau menetapkan hukuman mati atas tokoh-tokoh penghina Islam di Makkah, dll. Ini adalah bukti sikap Nabi Saw dalam menegakkan Syariat Islam.

Sikap Nabi Saw itu lalu diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin Ra. Mereka menerapkan Islam di Jazirah Arab, Mesir, Persia, Syam, dll. yang telah berhasil ditaklukkan oleh pasukan Islam. Dimana kekuasaan Islam tegak, disana otomatis Syariat Islam berdiri.

Dalam kondisi kaum Muslim tidak memiliki wilayah kedaulatan Islam, maka berlaku hukum USAHA/PERJUANGAN dalam rangka menegakkan Syariat Islam atau hukum Islam. Hal itu seperti yang dilakukan Nabi Saw saat masih di Makkah.

3. Sejauhmana batasan pelaksanaan hukum Islam dalam kehidupan ini?

Secara hakiki, hukum Islam bersifat komprehensif (menyeluruh), dan kewajiban Ummat terhadap Syariat ialah masuk secara menyeluruh, seperti dalam dalil Al Qur’an: “Ud-khulu fis silmi kaaffah” (masuklah ke dalam agama ini secara menyeluruh). Nabi Saw melaksanakan Syariat Islam di Madinah secara tadarruj (bertahap) sampai ia sempurna, dengan ditandai turunnya Surat Al Maa’idah ayat 3, saat terjadi Haji Wada’. Itulah ayat yang menetapkan telah sempurnanya Syariat Islam, telah lengkap, dan diridhai Allah.

Shalat adalah unsur penting dalam Syariat Islam, tetapi ia bukan satu-satunya urusan dalam Syariat ini. Di Madinah atau di Makkah (setelah takluk ke tangan Islam), Nabi Saw tidak mencukupkan Syariat Islam semata-mata hanya dengan batasan Shalat. Justru saat turun ayat Al Maa’idah ayat 3, itu terjadi saat Nabi Saw sedang melaksanakan Haji Wada’. Bukan saat beliau lagi Shalat.

Bahkan Shalat adalah satu dari 5 unsur Rukun Islam. Seseorang menjalankan Shalat, tetapi hatinya menolak Rukun Islam yang lain: hukumnya kufur. Seperti ketika Khalifah Abu Bakar Ra memerangi orang-orang Muslim yang tak mau membayar Zakat Maal karena berkeyakinan bahwa hukum zakat itu hanya berlaku di jaman Nabi Saw saja. Mereka disebut murtadin, orang-orang yang keluar dari Islam; meskipun masih bersyahadat, masih menjalankan shalat, atau amal-amal lain.

4. Apakah semua jenis kekuasaan politik dan para penguasanya, dimana Ummat Islam hidup di bawah kekuasaan mereka, semua itu bisa diklaim sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya?

Ini adalah pendapat yang sangat berbahaya bagi keyakinan seorang Muslim, berbahaya bagi nasib kaum Muslimin, dan berbahaya bagi masa depan Islam itu sendiri. Siapapun yang berpendapat demikian secara sadar dan tahu ilmu; dia akan berhadapan dengan hisab Allah Ta’ala yang sangat sulit dan kesaksian Rasulullah Saw yang akan mendustakan pendapatnya.

Dinamakan Islam, karena agama ini telah menggantikan segala bentuk agama, ajaran, paham, peradaban jahiliyyah (non Islami). Maka itu dalam 3 ayat Al Qur’an disebutkan ayat luar biasa: “Huwal ladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqqi liyuzhhirahi ‘alad dini kullih” (Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas segala agama).

Ketika ditanda-tangani perjanjian Hudaibiyyah dengan musyrikin Makkah; Nabi Saw mengirim delegasi untuk menyampaikan surat dakwah ke Kaisar Hiraklius Romawi, Kisra Persia, Muqauqis di Syam, Raja Najasyi di Habasyah, Penguasa Mesir, Raja Oman, Bahrain, dll. Mereka dikirimi surat ajakan masuk Islam, agar mereka selamat dan rakyatnya selamat pula. Dalam setiap surat itu selalu dimulai dengan ucapan salam: “As salamu ‘ala man tabi’al huda” (keselamatan atas orang-orang yang mengikuti ajaran Islam). Nabi Saw tidak mengakui mereka sebagai Muslim, sehingga harus diberi salam seperti layaknya salam kepada sesama Muslim.

Andai semua penguasa politik itu merupakan Ulil Amri, tentu Rasulullah Saw tak akan menulis surat dakwah dan mengajak mereka masuk Islam. Sebelum wafat pun, Rasulullah sedang mempersiapkan pasukan perang untuk menghadapi pasukan Romawi di Syam, dipimpin Usamah bin Zaid Ra. Hanya pasukan itu belum menunaikan tugas, beliau sudah wafat.

(Dalam peristiwa pengangkatan Usamah bin Zaid Ra itu sangat tampak, betapa bijak Rasulullah Saw. Beliau pernah menegur keras Usamah ketika dia membunuh seseorang yang telah mengatakan “laa ilaha illa Allah”. Akibat teguran itu, Usamah merasa sangat trauma. Demi mengangkat kembali moral Usamah, agar dirinya bangkit dari rasa penyesalan besar. Nabi Saw menunjuk Usamah memimpin perang menghadapi ancaman Romawi. Padahal usia Usamah ketika itu baru 18 tahun. Kalau di era kita, baru usia anak SMA. Padahal saat itu masih banyak para Shahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, Khalid, Abdurrahman ‘Auf, Abu Dzar, Zubair, Thalhah, Saad bin Abi Waqash dll. Radhiyallahu ‘anhum. Inilah salah satu cara tarbiyah Rasulullah Saw. Beliau sangat peka hatinya. Salam dan shalawat -daiman abadan- untuk beliau atas segala teladan dan kemuliaan hidupnya).

5. Mungkinkah ada masanya kaum Muslimin hidup tanpa memiliki Ulil Amri? Adakah kenyataan seperti itu?

Jawabnya, ADA. Saat berdakwah di Makkah, Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra tidak memiliki Ulil Amri. Begitu pula, saat para Shahabat Ra di bawah pimpinan Ja’far bin Abdul Muthalib Ra hijrah ke Habasyah (kekuasaan Raja Najasyi), disana mereka juga hidup tidak di bawah Ulil Amri. Sebab para Shahabat disana mencari suaka politik dan tidak tunduk hukum kaum Nashrani di Habasyah (Ethiopia).

13 tahun di Makkah, Nabi Saw tidak berada di bawah Ulil Amri. Bahkan sekalipun beliau dilindungi Bani Hasyim, beliau tetap tak mengakui mereka sebagai Ulil Amri.

6. Bagaimana hukumnya sebuah kepemimpinan/pemerintahan yang tidak memutuskan hukum seputar darah kaum Muslimin, harta mereka, agama mereka, jiwa mereka, kehormatan mereka, kaum wanita mereka, anak-keturunan mereka, dll. berdasarkan hukum Syariat Islam; tetapi pemimpin negeri itu masih menampakkan diri melakukan Shalat? 

Tujuan diturunkan hukum Allah ke muka bumi, karena Allah hendak menghukumi urusan kehidupan manusia dengan hukum-Nya; terutama dalam urusan darah, akidah, harta benda, jiwa, kehormatan, keturunan, akal manusia, dll. Kalau bukan karena ini, untuk apa lagi Allah menurunkan agama-Nya?

Dalam Surat Al Maa’idah ayat 48 disebutkan, artinya:

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu -wahai Muhammad Saw- Al Qur’an secara haq, membenarkan Al Kitab yang ada di sisinya dan menjadi penguji atasnya; maka putuskan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah itu; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (sehingga berpaling) dari apa yang telah Allah turunkan kepadamu. Dan bagi setiap kalian (setiap Ummat) telah Kami jadikan Syariat dan Minhaj tertentu.”

Rasulullah Saw pernah marah besar kepada Usamah bin Zaid Ra ketika dia membunuh seseorang yang telah mengucap “laa ilaha illa Allah”. Beliau juga marah besar ketika ada seorang Shahabat yang terkena batu di kepalanya, lalu ada yang memerintahkan agar Shahabat itu tetap menyempurnakan wudhu, sehingga dirinya akhirnya meninggal. Nabi Saw pernah marah ketika melihat seorang Shahabat terlihat memakai cincin emas di jarinya. Dan lain-lain contoh. Di semua ini menjelaskan bagaimana cara Nabi Saw dalam menjaga jiwa manusia, darah manusia, agama manusia, berdasarkan Syariat Islam. Bukan berdasarkan Syariat non Islam.

Kepemimpin/regim politik yang tidak berdasarkan Syariat Islam, ya jelas tidak boleh diklaim sebagai Pemerintahan/Kekuasaan Islami. Otomatis segala atribut kepemimpinan Islam tidak berlaku atasnya, termasuk sebutan Ulil Amri. Dalilnya, ya cara Nabi Saw dalam menjalankan sistem pemerintahan/kekuasaan berdasarkan Syariat Islam itu sendiri.

Di Madinah, ada tokoh politik dan termasuk pemimpin kaum Arab Madinah, yaitu Abdullah bin Ubay. Ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay hampir saja dikukuhkan sebagai raja di Madinah. Secara zhahir dia Muslim dan mentaati ajaran Islam, termasuk menjalankan Shalat. Tetapi para Shahabat Ra tahu bahwa dia adalah pemimpin kaum munafiqin. Tidak sedikit masalah-masalah sosial muncul karena hasutan Abdullah bin Ubay ini, misalnya fitnah terhadap diri Aisyah binti Abi Bakar Ra, mundurnya orang-orang Madinah dari perang Uhud, tersebarnya isu-isu meresahkan di barisan Jihad, dll. Sebagian Shahabat, terutama Umar bin Khattab Ra meminta ijin kepada Nabi Saw untuk menamatkan riwayat Abdullah bin Ubay ini, tapi dilarang oleh Nabi Saw.

Andaikan kepemimpinan Islami cukup diwakili oleh perbuatan seorang pemimpin dengan mengerjakan Shalat; tentu Nabi Saw akan tunduk kepada kepemimpinan atau hukum Abdullah bin Ubay. Toh, dia pemimpin politik, dan secara zhahir menampakkan diri melaksanakan Shalat. Begitu juga, andaikan Daulah Islam cukup diwakili dengan perbuatan seorang pemimpin dalam melaksanakan Shalat, maka Sa’ad bin Muadz Ra serta tokoh-tokoh Anshar lain, mereka lebih berhak atas Khilafah daripada para Shahabat Muhajirin, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Radhiyallahu ‘Anhum. Tokoh-tokoh Anshar itu jelas melaksanakan Shalat, sangat beriman, ilmunya kokoh, dan Jihad-nya tak diragukan lagi.

Memang ada hadits yang menjelaskan tentang larangan memberontak kepada pemimpin yang masih melaksanakan Shalat, meskipun dirinya berbuat zhalim. Namun pemahamannya, pemimpin seperti itu berdiri di atas hukum Islam dan tidak mengganti hukum Islam dengan hukum-hukum jahiliyyah. Buktinya, adalah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Umayyah Andalusia, Dinasti Saljuk, Dinasti Mamalik, Dinasti Turki Utsmani, dll. Meskipun di antara mereka ada raja-raja yang zhalim, kejam, dan saling berebut kekuasaan; tetapi mereka sepakat RUJUK dan MELESTARIKAN Syariat Islam. Ini adalah bukti dari pengamalan sistem politik selama ribuan tahun dalam sejarah Islam. Justru, pemimpin-pemimpin sekuler yang mengganti hukum Islam, meskipun dirinya masih kelihatan melaksanakan Shalat; semua itu baru muncul di abad ke-20 M saja.

Kalau kita mengakui bahwa regim politik non Islami diakui sebagai regim politik Islami, diakui sebagai Daulah Islamiyyah, diakui sebagai Ulil Amri seperti yang diajarkan Kitabullah dan As Sunnah, maka konsekuensinya: Kita telah berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, kita telah membohongi Ummat, dan kita telah menuduh sistem kekuasaan yang berlaku di masa Rasulullah SAMA SAJA dengan sistem di mata kekuasaan non Islami. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dhalal wal fasad.

7. Bagaimana hukum kaum Muslimin yang hidup di bawah sistem non Islami, seperti sistem sekuler, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, paganisme (kemusyrikan), Nashrani, Yahudi, kesukuan, dll. yang tidak menerapkan hukum Islam? Bolehkah mereka tinggal disana?

Tergantung kepentingannya. Kalau dia tinggal dalam rangka dakwah dan memperjuangkan hukum Allah, hal itu benar; dalilnya ialah perjuangan Rasulullah Saw selama 13 tahun di Makkah. Beliau tetap bertahan di Makkah, sampai Allah memerintahkannya hijrah ke Madinah.

Kalau dia tinggal di bawah kekuasaan non Muslim, dalam rangka mencari suaka politik, dan mereka mendapat perlindungan politik di tempat itu; maka hal demikian diperbolehkan. Dalilnya, adalah hijrahnya para Shahabat Ra ke Habasyah (Ethiopia). Padahal hukum yang berlaku disana hukum Raja Najasyi dan kaum Nashrani.

Kalau dia tinggal di bawah kekuasaan non Islami, karena tidak ada negeri lain yang Islami; atau ada negeri lain, sedangkan mereka tak mampu/tak tahu arah jalan menuju negeri itu; maka kesalahan mereka dimaafkan. Baca Surat An Nisaa’ ayat 98-99.

Kalau dia tinggal di suatu negeri non Islami, dalam waktu tertentu, dalam rangka bisnis atau keperluan tertentu yang dibutuhkan; bersifat tidak menetap dan akan kembali ke negeri asalnya yang Islami; hal itu juga diperbolehkan. Seperti ada urusan safar, berdagang, berobat, mencari ilmu yang dibutuhkan, berdakwah menyebarkan Islam, menjalankan missi politik Islami, dll. Dalilnya, para Shahabat Ra di masa Nabi Saw juga berniaga ke negeri lain yang aman dan dapat menghasilkan keuntungan di dalamnya.

Tetapi bersikap lapang dada, tenteram hati, ridha, mencintai, suatu negeri di bawah kekuasaan non Islami, semata-mata karena negeri itu adalah negeri nenek-moyangnya; tanpa ada upaya perbaikan atau dakwah Islam; tanpa ada niat berhijrah ke negeri Islami, jika negeri seperti itu ada; maka sikap demikian tidak diperbolehkan. Itu sama seperti para Shahabat yang enggan berhijrah ke Madinah, memilih tetap tinggal di Makkah, padahal mereka mampu hijrah ke Madinah. Ini dilarang seperti dalam Surat An Nisaa’ ayat 97.

8. Bagaimana dengan pendapat, bahwa kaum Muslimin tidak boleh memberontak kepemimpinan politik, selama pemimpinnya masih shalat? Bahkan memerintahkan taat kepada pemimpin seperti itu, tidak boleh ghibah, tidak boleh mencela di depan umum, dll.?

Sekali lagi kita ingatkan. Shalat adalah Syariat besar dalam Islam, tetapi ia bukan satu-satunya Syariat Islam. Bahkan hakikatnya, Shalat adalah satu di antara 5 unsur Rukun Islam. Seseorang ikhlas menjalankan shalat, tetapi menolak hukum Syahadat, Zakat, Shaum Ramadhan, Haji; maka dia dianggap kufur. Ingat hukum Khalifah Abu Bakar Ra yang memvonis kufur orang-orang yang menolak hukum Zakat Maal di masanya. Lalu ada ulama yang mengatakan, siapapun yang menolak salah satu bagian Syariat Islam, karena tidak cocok dengan hawa nafsu atau akalnya; ia bisa disebut kufur juga.

Masalah utamanya itu bukan soal boleh atau tidaknya memberontak. Tetapi bagaimana keyakinan kaum Muslimin itu sendiri? Bagaimana mereka bisa menganggap suatu kepemimpinan disebut Ulil Amri, ketika mereka: “Menghalalkan agama lain selain Islam, menghalalkan kemusyrikan dan melindungi situs/ritual kemusyrikan, menghalalkan ribawi dan menjadikan ia soko guru perekonomian, menghalalkan seks bebas demi membatasi jumlah penduduk lewat kontrasepsi, menghalalkan aurat terbuka dan wanita memamerkan keseksian tubuhnya, menghalalkan perampasan harta negara oleh non Muslim asing, menghalalkan sistem Neolib/Kapitalistik yang menindas Ummat, menghalalkan hukum pidana kolonial dalam urusan darah-harta-jiwa kaum Muslimin, mengklaim para pendukung Syariat Islam sebagai tertuduh terorisme, dll.?” Atas alasan apa mereka mengklaim semua itu sebagai Ulil Amri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ini adalah kesesatan yang nyata, jelas, terang-benderang. Kita mengajak manusia-manusia yang masih berkubang dalam kesesatan seperti itu agar bertaubat kepada Allah Ta’ala, kembali ke manhaj Islami, dan kembali ke jalan Salafus Shalih yaitu Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra, dan para Shahabat Ra, dan kembali ke jalan para imam kaum Muslimin selama ribuan tahun. Mereka harus keluar dari kesesatan itu, jiwa masih dikandung badan.

Kalau kesadaran Islami, seperti manhaj Salafus Shalih itu pulih di tengah Ummat ini; maka kita tak perlu memberontak lagi. Insya Allah, bangsa ini bisa menjadi bangsa Islami, tanpa harus terjadi pemberontakan politik.

Jangan seperti selama ini. Hak-hak kemuliaan untuk Ulil Amri yang sesuai kriteria Syariat Islam, malah diberikan kepada “Ulil Amri” yang berdiri di atas hukum non Islami. Hal itu adalah KEDUSTAAN BESAR yang harus dijelaskan secara nyata kepada Ummat ini. Kita jadi seperti meletakkan mahkota emas ke atas kepala srigala. Na’udzubillah min dzalik.

9. Ada yang berpendapat, “Hukum Islam yang mana yang belum ada di Indonesia ini? Semuanya sudah ada, mengapa kita masih saja ribut soal penegakan hukum Islam? Lihatlah, ada bank Syariah, ada ibadah Haji, ada jilbab, label halal, Departemen Agama, MUI, dll. Apa lagi hukum Islam yang belum boleh di negeri ini?”

Cara melihatnya sederhana. Tujuan dasar Syariat Islam dikenal dengan sebutan Ushulul Khamsah atau Maqashidus Syariah. Intinya adalah 5 perkara: Menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, menjaga keturunan kaum Muslimin. Selama sebuah pemerintahan/kepemimpinan melaksanakan amanah 5 PRINSIP ini, ia bisa diklaim sebagai pemerintahan Islami, meskipun namanya bukan Negara Islam.

Lalu lihat dalam kehidupan bangsa: Apakah secara teori, UU, dan realitas, negara kita melaksanakan 5 prinsip tersebut? Coba Anda jawab secara jujur pertanyaan ini. Kalau merujuk ke Pancasila dan UUD 1945, posisi Ummat Islam tidak istimewa dibandingkan ummat yang lain. Malah posisinya sama saja di mata hukum negara.

Adapun soal Bank Syariah, jilbab, ibadah Haji, Depag RI, pendidikan Islami, dll. maka pertanyaannya: Sejauhmana posisi hukum dari kebijakan-kebijakan itu, dan apa pula pengaruhnya bagi kehidupan kaum Muslimin di negeri ini? Masalahnya, semua itu bukan merupakan HUKUM DOMINAN yang berlaku di negeri kita, dan tidak bisa menjaga hak-hak kaum Muslimin secara baik dalam urusan agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.

Intinya, selama belum ada jaminan secara penuh bagi perlindungan 5 URUSAN Ummat dalam soal agama, jiwa, harta, akal, keturunan, dengan perlindungan seperti yang dikehendaki Syariat Islam; maka tidak ada dalil untuk mengklaim, bahwa perjuangan penegakan Syariat Islam di negeri ini sudah berakhir.

Kita semua berjuang menegakkan Syariat Islam, bukan untuk apa-apa, bukan untuk siapa-siapa. Tetapi untuk melindungi agama, jiwa, harta, akal, keturunan, serta kehidupan kaum Muslimin. Jika atas perjuangan seperti ini lalu muncul tuduhan-tuduhan buruk; maka jawabnya: Tawakkalna ‘ala Allah, laa haula wa laa quwwata illa bihi.

10. Ada pertanyaan, “Mengapa sebagian orang suka mengkafirkan orang-orang yang berbeda pham? Mereka berpaham Khawarij karena suka mengkafirkan sesama Muslim, mengkafirkan pemerintah yang sah, dll.

Kalau kita membaca Sirah Nabawiyyah secara teliti, maka Rasulullah Saw tidak menjadikan metode TAKFIR sebagai landasan perjuangannya. Selama di Makkah, Rasulullah menetapkan metode: Dakwah, Tarbiyyah, dan Shabar. Lalu puncak dari perjuangan itu adalah Hijrah dari Makkah ke Madinah. Seharusnya, 4 metode ini yang dilakukan dalam membangun kekuatan Islam dan mencapai penegakan Syariat Islam.

Takfir adalah bagian dari Tahkim (pemberian vonis hukum). Takfir itu dalam perjuangan Islam tidak bisa ditempuh, sebelum kaum Muslimin memiliki OTORITAS hukum. Bagaimana akan mengkafirkan kalau legal hukumnya belum ada? Ya, hal itu sama saja seperti menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam di bawah pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam. Akibatnya bukan barakah, malah bisa menjadi fitnah. Maka gerakan-gerakan Islam harus menjauhi metode takfir sebelum kaum Muslimin memiliki otoritas kekuasaan Islami.

Kalau takfir yang bersifat umum, dalam rangka mengingatkan Ummat agar tidak terjerumus dalam kekafiran misalnya perkataan seperti ini: “Jauhi perbuatan syirik, sihir, dan menolong musuh-musuh Islam; agar kalian tidak jatuh dalam kekufuran!” Ucapan seperti ini diperbolehkan, karena bersifat umum dan merupakan peringatan. Setidaknya, kita boleh  menyebut seseorang kufur, asalkan berdasarkan Syariat Islam, berdasarkan bukti-bukti yang valid, dan hal itu ditujukan untuk memperingatkan Ummat.

Dalam kondisi kaum Muslimin tidak memiliki kekuasaan politik, sehingga bisa menerapkan Sistem Islami; kita tidak bisa menjadikan takfir sebagai metode perjuangan. Kecuali memberi peringatan-peringatan seputar batas keimanan dan kekufuran, untuk memberi peringatan Ummat agar tidak jatuh dalam kekufuran. Juga untuk membantah orang-orang tertentu yang sudah terang-benderang kekufurannya, agar Ummat tidak ikut kufur bersamanya.

TAMBAHAN PENTING: Meskipun begitu, tidak lantas kita harus menolak segala kebijakan Pemerintah di negeri ini. Tidak demikian. Kebijakan yang bersifat BENAR dan BERMANFAAT, tetap kita terima dan dukung semampunya. Tetapi kebijakan yang salah dan tidak sesuai Syariat Islam, tidak perlu didukung. Seperti sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal-hal yang ma’ruf saja). Seperti penentuan 1 Syawwal yang mengeliminasi kesaksian melihat hilal, itu harus ditolak. Untuk apa mengadakan Sidang Itsbat, kalau kesaksian melihat hilal malah dieliminasi? Jangan sampai masyarakat akhirnya menyimpulkan, bahwa Sidang Itsbat sejatinya adalah: majelis para ahli hisab, tapi dibumbui aksesoris rukyatul hilal. Ini jelas kebohongan yang nyata. Kita tidak boleh bersepakat di atas kebohongan seperti itu!

Maka dapat disimpulkan, bahwa Ulil Amri dalam Islam bukan semata-mata soal kekuasaan. Tetapi ia adalah kekuasaan yang dibangun di atas prinsip Syariat Islam, demi melindungi kehidupan kaum Muslimin. Bila tak memenuhi syarat dasar Syariat dan perlindungan kepentingan Ummat itu, maka ia tak bisa diklaim sebagai Ulil Amri. Hal demikianlah yang kita lihat dari ajaran Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra, para Shahabat Ra, dan imam-imam kaum Muslimin dalam sejarahnya.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Dan bila masih terus mengundang syubhat, keraguan, atau prasangka macam-macam; semata kepada Allah Ar Rahiim kami berlindung diri dari fitnah kesesatan dan kaum sesat. Semoga Allah Ta’ala melempangkan jalan kita menuju Keridhaan-Nya. Allahumma amin.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

Depok, 4 September 2011.

AM. Waskito.


“Bom Ulil Abdala” di Utan Kayu

Maret 16, 2011

Selasa sore, 15 Maret 2011, sekitar jam 4 sore, meledak sebuah bom di Radio Utan Kayu 68H, yang juga dikenal sebagai markas JIL (Jaringan Insan Liberal). Ini adalah “Bom Ulil Abdala” karena ia memang ditujukan untuk Ulil Abshar Abdala, pemimpin senior kaum penganut agama Liberalisme.

Kepala BNPT, Inspektur Jendral (Purn) Ansyad Mbai berkomentar terhadap kasus paket “Bom Ulil Abdala” ini. Komentarnya dimuat website Kompas. [Pelaku bom Utan Kayu jelas teroris. Targetnya tidak harus kepala negara atau pejabat pemerintah, tetapi siapa pun yang dipandang menghambat pencapaian kelompok tersebut].

Dan kalian juga sudah tahu kan siapa yang dianggap menghambat itu adalah musuh dan darahnya halal? Dan kalian ingat kan serangan atau target terhadap Ulil bukan yang pertama walau ada pernyataan bahwa selama menjabat di parpol, ini yang pertama kali. Bahkan, pada tahun 2004 sempat ada fatwa bahwa darah Ulil halal,” kata Ansyad Mbai. (Sumber: “Mbai: Pelaku Bom Utan Kayu Teroris“, nasional.kompas.com, 15 Maret 2011).

ANALISIS…

Adalah sangat tidak mungkin Ulil Abshar akan terbunuh dengan paket bom itu. Ide dasar pembuat bom itu adalah MEMFITNAH aktivis-aktivis Islam. Itu sangat tampak dari pernyataan Ansyad Mbai di atas. Bahkan oleh Ansyad bom itu dikaitkan dengan Fatwa FUUI Bandung yang memvonis Ulil Abshar halal darahnya. Hebatnya, Ansyad ingat lagi bahwa Fatwa Halal Darah itu muncul tahun 2004. Seolah, Ansyad sudah bersiap-siap dengan data, sebelum masuk ke kancah kasus “Bom Ulil Abdala” ini.

Sangat mengherankan. Ansyad Mbai belum melakukan investigasi apapun, sudah menegaskan bahwa pelaku pengirim paket bom itu adalah TERORIS. Masya Allah, segitu ya kualitas aparat keamanan kita, khususnya kualitas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Belum melakukan investigasi, sudah membuat judgement.

Padahal, pelaku pengiriman paket bom itu bisa siapa saja. Tidak melulu orang-orang yang dituduh teroris. Pelakunya bisa intelijen polisi, atau intelijen Densus88, untuk membuka lagi proyek terorisme. Bisa juga kaum Ahmadiyyah, yang terakhir-terakhir banyak dibubarkan dimana-mana. Bisa juga kalangan JIL sendiri, agar mendapat simpati dan belas kasihan. Bisa juga lawan-lawan politik SBY. Bisa juga intelijen Amerika, Inggris, Israel, China, dll. yang berkepentingan terhadap Indonesia. Atau bisa juga, ia perbuatan orang iseng, orang gila, psikopat, dll. Segala kemungkinan ada. Adapun soal surat dan isi surat yang menghalalkan darah, itu bisa dibuat siapapun.

Tanpa Syariat: Bahaya Datang Setiap Waktu!

Tapi sangat unik. Mengapa Ansyad Mbai, belum juga melakukan investigasi, langsung menghubungkan bom itu dengan fatwa halal darah? Cara demikian, selain tidak menunjukkan sikap PROFESIONAL aparat keamanan. Juga seakan Ansyad Mbai ingin membuat agar kasus “Bom Ulil Abdala” di Utan Kayu ini bergulir di masyarakat dengan KORIDOR fatwa halal darah itu.

Sebagai pemain di dunia intelijen dan kasus terorisme, Ansyad Mbai kelihatan sangat LUGU SEKALI. Padahal perkembangan dunia intelijen modern sangat penuh dengan ide-ide KONSPIRASI. Bayangkan, video yang diklaim sebagai kiriman dari kelompok Al Qa’idah, itu bisa dibuat oleh CIA, dengan rekayasa. Karena kita tidak tahu siapa sebenarnya pembuat video itu. Mereka sangat misterius. Bisa saja pembuatnya memang orang Muslim; tetapi bisa juga non Muslim untuk MEMFITNAH kaum Muslimin. Hal ini sudah biasa.

Maka itu, PERNYATAAN DINI dari Kepala BNPT Ansyad Mbai di Kompas itu sangat amat penting. Belum apa-apa, dia sudah menuduh teroris, dan mengaitkan dengan fatwa halal darah Ulil. Padahal pelaku pengirim bom itu bisa siapa saja, unlimitted person. Seakan, Ansyad tahu banyak tentang latar-belakang bom itu, kualitas operasionalnya, dan ke arah mana opini “Bom Ulil Abshar” itu harus dibawa. So what the real truth of this case?

HIKMAH…

Allah Ta’ala menurunkan Syariat Islam, bukan hanya sebagai PERINTAH untuk dilaksanakan. Tetapi Syariat itu juga memiliki fungsi besar sebagai PELINDUNG KEHIDUPAN kaum Muslimin. Nah, fungsi PROTECTOR ini yang selama ini banyak diabaikan. Padahal para ulama sudah menyebutkan tentang Maqashidus Syariah (tujuan-tujuan pelaksanaan Syariat). Tujuannya adalah: Melindungi agama, jiwa, harta, akal, keturunan kaum Muslimin.

Maknanya sangat jelas. Kalau Syariat dilaksanakan secara murni dan konsekuen di sebuah negara, maka kehidupan kaum Muslimin akan terlindungi disana. Sebaliknya, kalau sebuah negara tidak melaksanakan Syariat Islam, maka kehidupan kaum Muslimin TIDAK ADA JAMINAN untuk dilindungi. Sebab, instrumen pelindungnya memang tidak ada.

Kita harus memahami dengan baik, ISLAM dan IMAN adalah aset terbesar kehidupan seorang Muslim. Islam dan Iman-nya seorang Muslim adalah lebih tinggi dari dunia dan seisinya. Sebab, kalau Islam dan Iman itu rusak, sehingga seorang Muslim terjerumus ke neraka, maka meskipun dia memiliki harta-benda sepenuh bumi, semua itu tidak berguna sedikit pun di sisi Allah.

Karena begitu SENSITIF-nya urusan Islam dan Iman ini, maka Allah Ta’ala menurunkan instrumen Syariat Islam untuk melindungi kehidupan Ummat. Selama Ummat melaksanakan Syariat Islam, kehidupan mereka aman; sebaliknya, kalau meninggalkan Syariat Islam, mereka seperti rumah yang tak berpagar, tak berpintu, dan tak berjendela. Para agressor dan kriminal bisa kapan saja menghancurkan isi rumah itu.

Islam dan Iman adalah agama, keyakinan, dan kehidupan kita. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Maka Syariat Islam merupakan pelindung atas Islam, Iman, dan kehidupan itu.

NASEHAT…

Ya kalau hidup di Indonesia kita menemui manusia-manusia seperti Ansyad Mbai, Ulil Abshar, Gusdur, Bambang Hendarso, Gorries Mere, dan kawan-kawan ya jangan TERLALU BERSEDIH. Kita ini berbeda domainnya, berbeda akidahnya, berbeda missi tujuannya. Hamba Allah Ar Rahmaan pasti akan senantiasa mengibadahi Allah, kalau orang lain ya mengibadahi ilah-ilah mereka.

Jangan terlalu bersedih, jangan terlalu kecewa, sekaligus jangan terlalu berharap juga. Ya, selama kehidupan Ummat Islam di Indonesia ini tidak dilindungi Syariat Islam, maka kasus bom ini itu, bom A, B, C, dan seterusnya; atau kasus-kasus kekerasan dalam bentuk lain; pasti akan selalu terjadi.

Dan jangan heran juga kalau pribadi seperti Ulil Abshar itu sangat membenci Syariat Islam. Jangan terlalu heran. Wong, memang hati dan orientasinya sudah berbeda. Kita ini mengabdi kepada Allah Al Wahid, sementara mereka mengabdi ke selain-Nya. Hamba-hamba Allah pasti akan mengagungkan agama-Nya; sementara hamba tuhan selain Allah, pasti akan mengagungkan tuhan mereka.

Itu sudah menjadi SUNNATULLAH dalam kehidupan ini. “Wa laa tahinuu wa laa tahzanu wa antum a’launa in kuntum mu’minin” [janganlah kalian merasa hina dan janganlah bersedih hati, karena kalian adalah yang paling tinggi, kalau kalian beriman (kepada Allah Ta’ala)].

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Bandung, satu hari pasca “Bom Ulil Abshar”

AM. Waskito.

Baca juga: “Syaitan Di Sekitar Kita“.


Apakah Syariat Islam Kejam?

November 15, 2010

ARTIKEL 01:

Seorang aktivis demokrasi, Fajrul Rahman. Dia termasuk salah satu aktivis yang selama ini memperjuangkan dihapuskannya hukuman mati. Hukuman mati dianggap kejam, tidak sesuai dengan standar HAM.

Tetapi bagaimana kalau ada seseorang membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan (misalnya membela diri)? Dia sudah menghilangkan nyawa orang lain secara zhalim. Apakah pembunuh itu tidak boleh dibunuh karena telah membunuh orang lain secara zhalim? Apakah suatu keadilan, sang pembunuh tidak boleh dihukum mati, sementara ada manusia lain yang telah dia hilangkan nyawanya?

Ini hanya contoh kecil kerancuan berpikir manusia-manusia modern. Mereka mengaku membela HAM, tetapi mereka tidak membela hak-hak manusia yang telah dibunuh, dan hak-hak manusia lain yang terancam pembunuhan. Sepintas lalu gerakan menolak hukum mati seolah baik, karena humanis. Padahal hakikatnya, ia merupakan DISKRIMINASI atas hak-hak hidup korban dan masyarakat luas.

Islam Melindungi Masyarakat dan Mengancam Para Penjahat.

Seruan menolak hukuman mati sebenarnya merupakan bagian dari seruan untuk menolak Syariat Islam. Banyak kaum sekuler menyatakan kebenciannya kepada hukum Syariat Islam. Alasan mereka, “Syariat Islam itu kejam, sadis, barbar. Syariat Islam hanya cocok untuk kehidupan di gurun pasir ribuan tahun lalu!” Ya begitulah…

Untuk melihat apakah suatu hukum kejam atau tidak, ada TIGA KOMPONEN APLIKASI HUKUM yang harus kita ketahui. Ketiga komponen ini selalu tampak dalam setiap terjadi kasus kejahatan/kriminal.

[1] Pihak PELAKU kejahatan.

[2] Pihak KORBAN kejahatan.

[3] Pihak POTENSI kejahatan, baik potensi menjadi PELAKU maupun menjadi KORBAN. Ini adalah masyarakat luas.

Setiap terjadi kejahatan, selalu ada 3 komponen itu. Disana selalu ada pelaku, korban, dan potensi menjadi pelaku atau korban. Dimanapun Anda menyaksikan kejahatan, pasti tidak akan keluar dari 3 komponen itu.

Misalnya, ada seorang laki-laki membunuh orang lain secara zhalim. Pihak keluarga tidak menerima pembunuhan itu. Mereka menuntut sang pembunuh dihukum seberat-beratnya. Pihak keluarga korban mengatakan, “Nyawa harus dibayar nyawa! Dia membunuh, dia juga harus dibunuh!” Nanti setelah memasuki proses peradilan, sang pembunuh akan dihukum sesuai hukum yang diterapkan.

Kalau penerapan hukum itu ringan, ia akan sangat melukai hati pihak keluarga korban. Sangat menzhalimi hak-hak hidup korban. Dan ini akan membahayakan masyarakat luas. Nanti di antara mereka akan ikut-ikutan membunuh. “Sudah saja jadi pembunuh. Hukumannya ringan kok,” kata mereka beralasan. Sementara masyarakat lain sangat ketakutan, “Sekarang orang lain jadi korban. Nanti jangan-jangan giliran keluarga kami?”

Pihak yang paling diuntungkan dengan sanksi yang ringan siapa? Ya, sang pembunuh itu sendiri. Pihak pertama yang sangat diuntungkan oleh hukum seperti itu.

Kalau ada yang mengatakan, “Syariat Islam kejam. Syariat Islam biadab. Syariat Islam sadis, barbar!” Maka kita paham maksud seruan ini. Orang-orang yang menyerukan perkataan seperti itu pada hakikatnya ialah: Para pembela penjahat, para penolong kaum kriminal, sekutu para bajingan, sekutu para perampok, sekutu para koruptor, pelindung manusia-manusia jahat, penyengsara korban kejahatan, pembuat frustasi keluarga korban, serta mereka juga menyebabkan kejahatan menyebar-luas, menyebabkan manusia ketakutan atas kejahatan.

Syariat Islam bisa jadi kejam, bagi pelaku-pelaku kejahatan. Tetapi Syariat Islam sangat MENGAYOMI, MELINDUNGI, MEMBERI RASA ADIL, MEMUASKAH HATI, MENGOBATI LUKA orang-orang yang menjadi korban kejahatan, korban perbuatan rusak, kriminal, kezhaliman dan pengrusakan di muka bumi. Bahkan Syariat Islam -dengan ketegasannya kepada penjahat- sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan yang lain, dan memberi rasa aman bagi masyarakat luas.

Mengapa negara Barat mau mengupah agen-agennya, termasuk media-media massa, pakar, pengamat, akademisi, politisi, ahli hukum, aparat birokrasi, dll. untuk menyerang Syariat Islam? Mengapa, wahai Sauadaraku? Sebab mereka tahu, Syariat Islam merupakan hukum yang SANGAT UNIK. Unik sekali. Tidak banyak teori, tidak banyak cingcong, tetapi hasilnya sangat nyata dan cepat terasa.

Kalau pelaksanaan hukum Islam di Aceh tidak maksimal…ya bagaimana lagi, wong orang-orang GAM itu kebanyakan tidak mengerti Islam. Mereka berjuang untuk etnis Aceh, bukan untuk tegaknya Syariat Islam. Banyak aktivis-aktivis Islam yang concern dengan Syariat justru dimusuhi oleh orang-orang GAM.

Apakah hukum Islam kejam?

Dari sisi mana dulu melihatnya. Kalau dari sisi kepentingan PARA PENJAHAT, bisa jadi Syariat Islam sangat menakutkan mereka. Tetapi kalau dari sisi kepentingan KORBAN dan MASYARAKAT luas sebagai POTENSI, Syariat Islam adalah adil, harmoni, melindungi, efektif, dan berkah.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Gerakan Islam: Antara “Bis Kota” dan “Motor Baru”

Agustus 1, 2010

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang dimuat di eramuslim.com. Judul artikel tersebut ialah: Bagaimana Pola Perjuangan Menegakkan Islam? Artikel ini dimuat di eramuslim.com pada 1 Juli 2010.

Isi artikel ini antara digambarkan tentang garis perjuangan SM. Kartosoewirjo rahimahullah dan Darul Islam-nya di Jawa Barat, yang kemudian diikuti sebagian kaum Muslimin di provinsi-provinsi lain. Ending perjuangan ini, kandas dibabat oleh kekuatan militer. Kemudian ada partai Masyumi yang meraih suara significant di era Pemilu 1955 dan perjuangan mereka di tingkat Konstituante. Namun Masyumi juga dihabisi oleh kedigdayaan politik Soekarno dan Soeharto. Lalu pasca Reformasi, muncul gerakan politik melalui tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Hamzah Haz, PAN, PPP, PBB, PKB, termasuk PKS. Intinya, dalam gerakan politik kontemporer ini selain hasilnya tidak jelas, para pengusungnya juga tidak istiqamah.

Nusantara ibarat "bis kota" yang bisa memuat banyak penumpang.

Di akhir tulisan, redaksi eramuslim.com mengajukan pertanyaan yang sangat menarik, sebagai berikut: “Dengan pola yang dilakukan Sekarmaji Kartosuwiryo perjuangan menegakkan Islam dengan kekuatan senjata mengalami kegagalan, dan melalui pola parlemen juga mengalami kegagalan, dan bahkan partai-partai Islam yang ada telah mengubah indentitas mereka. Bagaimana pola perjuangan umat Islam di masa depan dalam menegakkan Islam di Indonesia, sampai terwujudnya sistem dan nilai Islam yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan ini?

Pertanyaan terakhir ini sangat menarik, “Bagaimana metode perjuangan kaum Muslimin di Indonesia ke depan, agar meraih kemenangan?” Banyak orang menanyakan masalah ini; banyak yang telah bertahun-tahun mencari jawaban atas pertanyaan itu; bahkan sebagian Ummat ini telah mendirikan “kepemimpinan” di atas kepemimpinan formal yang ada saat ini.

Sebagian saudara kita telah ada yang mendirikan Kekhalifahan Islam di Indonesia, dengan pemimpin mereka disebut sebagai Amirul Mukminin. Dan gerakan kekhalifahan ini banyak juga pengikutnya. Semua ini menjadi bukti, bahwa apa yang ditanyakan oleh eramuslim.com tersebut banyak juga ditanyakan oleh kaum Muslimin yang lain.

Disini, saya tidak akan menunjukkan jawaban atas pertanyaan itu. Sebab, pertanyaan ini sifatnya terbuka bagi seluruh pejuang-pejuang Islam di Tanah Nusantara ini. Jadi sangat tidak adil, jika ia harus dijawab oleh orang per orang. Setiap Muslim yang memiliki komitmen, harapan, dan optimisme bagi kemenangan Islam, layak memikirkan pertanyaan tersebut.

Saya akan coba mengajukan sebuah ANALOGI untuk menguak inti masalah perjuangan Islam di negeri ini. Analogi ini dibangun dari kesadaran atas realitas perjuangan Islam selama ini. Persis seperti gambaran yang disebut oleh eramuslim.com dalam artikel itu. Analogi ini ibaratnya seperti JEMBATAN untuk menghantarkan Ummat memahami akar masalah perjuangannya. Selanjutnya, ya pejuang-pejuang Islam ini yang harus mencarikan jawabannya.

“BIS KOTA” dan “MOTOR BARU”

Kalau digambarkan, keadaan kaum Muslimin di Indonesia ini seperti sebuah bis kota yang melaju di lalu-lintas padat di Jakarta. Namanya lalu-lintas padat, pasti penuh dengan kemacetan. Nah, kemacetan itu bisa diibaratkan sebagai problema kehidupan kaum Muslimin selama ini. Semua orang berpikir, “Bagaimana caranya agar perjalanan kita lancar, cepat sampai di tujuan, tidak terus-menerus macet seperti ini?”

Dan alhamdulillah, kaum Muslimin diberi anugerah kendaraan, BIS KOTA. Namanya juga bis kota, ukuran besar, muat banyak penumpang, tetapi jalannya lelet alias lambat. Sedikit-sedikit macet, sedikit-sedikit macet…(bukan seperti kata komedian, “Macet kok sedikit-sedikit?”).

Saat terus dihambat oleh kemacetan ini muncul reaksi dari sebagian penumpang bis kota. “Sudahlah, bosan kita macet terus. Saban hari macet, macet, macet…mana tahan terus begini?” Sementara kondektur dan sopir terus saja mengulang-ulang nasehat yang sama, “Sabar Pak, sabar Bu, sabar Mbak, sabar Mas, sabar Dik, sabar bocah kecil, sabar…” Begitu terus, kondektur dan sopir tak kenal lelah memberi nasehat kesabaran.

Kemudian terpikirkan sebuah ide. “Daripada macet terus begini, bagaimana kalau kita membeli motor baru saja? Motor baru tubuhnya langsing, kecepatan gesit, pasti sangat handal di tengah lalu-lintas macet ini. Ayo kita jual saja bis kota ini, lalu duitnya kita belikan motor baru. Dijamin setelah itu kita tidak akan mengalami macet lagi.”

Ide membeli motor ini diterima oleh sebagian penumpang bis kota, tetapi ditolak mentah-mentah oleh sebagian penumpang yang lain. “Iiih, sayang banget. Buat apa menjual bis kota, lalu membeli motor baru? Bis kota jelas lebih mahal dari sebuah motor. Lagi pula, penumpang yang banyak itu mau dikemanakan? Apa Anda rela, penumpang sebanyak itu akan tercerai-berai, lalu mereka dibajak oleh mobil-mobil yang lain?”

Begitulah, terjadi ikhtilaf antara penumpang bis kota yang ingin menjual bis kota, lalu membeli motor baru. Di sisi lain, para fanatikus bis kota tetap teguh dengan pendiriannya. Mereka menolak menjual bis kota, sebab hal itu sama saja dengan resiko menerlantarkan banyak penumpang. Bagaimanapun kendaraan motor hanya bisa memuat sedikit penumpang.

Ikhtilaf seperti inilah yang melanda gerakan-gerakan Islam, setidaknya dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Kita tertawan oleh perdebatan seputar “bis kota” dan “motor baru”.

ISLAM dan NUSANTARA

Kita lahir dan tumbuh di Nusantara ini; sebuah bangsa yang besar, luas, sangat beragam kultur, dan memiliki kekayaan alam luar biasa. Nusantara ini anugerah besar dari Allah Ta’ala yang tak bisa diingkari. Namun besarnya Nusantara ini juga menjadi hambatan serius bagi bangkitnya sebuah peradaban Islam yang kaffah di negeri ini. Tidak semua kaum di Nusantara ini Muslim; sebagian mereka non Muslim. Lazimnya keyakinan non Muslim, mereka tidak mau dipimpin oleh sebuah kekuasaan Islam. Bahkan, dari kalangan “Muslim” pun banyak yang menolak berlakunya sistem Islam. [Ironis memang, tetapi itu kenyataan].

Garis perjuangan yang ditempuh oleh Darul Islam di bawah pimpinan Al Ustadz SM. Kartosoewirjo adalah seperti ide menjual bis kota, lalu membeli motor baru yang lebih gesit. Perjuangan Darul Islam bersifat teritorial, yaitu bermula di suatu daerah tertentu, dan kelak diluaskan ke daerah-daerah lain. Resiko perjuangan ini, bisa saja NKRI akan terpecah-belah. Minimal, akan terjadi konflik politik di tubuh bangsa ini. Dan hal itu sudah terbukti dalam fakta sejarah di masa lalu.

Adapun garis perjuangan Masyumi, tetap dalam koridor NKRI. Serupa dengan para penumpang yang sabar naik “bis kota”. Mereka ingin tetap Nusantara ini bersatu-padu, tidak terpecah-belah. Meskipun resikonya, negara ini lambat sekali mencapai kemajuan Islam. Ya, selambat gerakan bis kota di tengah kemacetan lalu-lintas padat Jakarta. “Lebih baik sabar dalam kemacetan, daripada NKRI terpecah-belah,” begitu ide dasarnya.

Dua pilihan ini sama-sama memiliki landasan ijtihad. Bagi Masyumi, bangsa NKRI ini masih bisa diperbaiki, dengan cara menegakkan Syariat Islam di wilayah-wilayah mayoritas Muslim di negeri ini. Meskipun untuk mencapai harapan itu, tidak tahu sampai kapan akan tercapai? Bagi Darul Islam, mereka memulai kehidupan Islam secara kaffah dari teritorial yang terbatas dulu. Kalau wilayahnya terlalu luas, lebih sulit dikontrol.

Masyumi bersikap sabar atas kesulitan-kesulitan perjuangan. “Sayang sekali kalau NKRI ini sampai terpecah-belah. Nanti yang akan rugi adalah kaum Muslimin sendiri.” Di sisi lain, Darul Islam bersikap sangat praktis dan realistik. “Kalau menunggu seluruh kawasan NKRI ini mau tunduk kepada Islam, sampai kapan kita menunggu? Kerugian-kerugian terus mendera kehidupan Ummat, sampai kapan akan terus dibiarkan?”

Sungguh, tidak mudah mencari jawaban terbaik dari analogi “bis kota” dan “motor baru” ini. Semuanya memiliki timbangan kebajikan dan analisis resiko. Ibarat seorang mujtahid, mereka telah berjuang keras mengeluarkan pendapat terbaik yang mampu dikeluarkan.

Semoga Allah Ta’ala merahmati para pendahulu kita, orangtua-orangtua kita, senior-senior kita, para pejuang Islam, di masa lalu. Mereka telah memberikan darmabhakti-nya di jalan Islam, dengan sebaik-baik perjuangan yang disanggupi. Ya Allah rahmati para pendahulu kami yang telah lebih dulu beriman dari kami. Rahmati mereka, sempurnakan amal-amal mereka, berkahi anak-anak keturunan di belakang mereka. Allahumma amin ya Sallam ya Arhama Rahimin.

LALU SELANJUTNYA…

Nah, kini di jaman ini adalah jaman kita, jaman anak-cucu para pejuang Islam di masa lalu. Setelah kita memahami hakikat perselisihan para pendahulu kita dulu, lalu bagaimana sikap kita? Lalu apa yang bisa kita lakukan, untuk mewujudkan cita-cita universal Islam, yaitu menegakkan Kalimah Allah dan panji-panji-Nya secara kaaffah di muka bumi?

Ada beberapa saran yang bisa disampaikan disini. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, jangan putus-putusnya untuk selalu belajar dan mengajarkan Kitabullah dan As Sunnah. Inilah dua pusaka yang akan selalu mempersatukan kaum Muslimin di tengah segala khilaf mereka.

Kedua, mari kita sepakat dalam hal wajibnya menegakkan Syariat Islam di Nusantara ini. Kesampingkan dulu manhaj perjuangan; mari kita berbicara sebagai sesama Muslim yang sama-sama mendapat amanah dari Allah untuk menegakkan Syariat Islam di muka bumi.

Ketiga, mari kita berlomba mencari solusi atas kebuntuan perselisihan orangtua-orangtua kita di masa lalu, yang digambar sebagai perselisihan antara “bis kota” dan “motor baru” di atas. Jika “bis kota” yang ideal, apa saja kelebihan-peluangnya. Jika “motor baru” yang ideal, apa saja kelebihan dan peluangnya? Apakah ada ide lain di luar 2 pemikiran tersebut? Atau adakah ide yang bisa menggabungkan keduanya?

Keempat, hendaklah para pejuang Islam sering-sering melantunkan doa Qur’ani berikut ini: “Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquuna bil iman, wa laa taj’al fii qulubina ghil-lal lilladzina amanu, Rabbana innaka Ra’ufur Rahiim” (Wahai Rabb kami, ampuni kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan jangan adakan dalam hati-hati kami kedengkian kepada sesama orang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Santun dan Maha Penyayang). Doa ini insya Allah bisa menjadi terapi penyakit hati yang kerap bersarang di dada-dada kita.

Demikian yang bisa disampaikan. Memang tidak ada jawaban kongkrit yang diutarakan. Tetapi setidaknya kita bisa memahami situasi konflik internal gerakan Islam selama ini. Setelah disampaikan realitas masalah yang ada, ya selanjutnya kita perlu berjuang mencari jawaban terbaik.

Ahlan wa sahlan Ramadhan. Selamat menyambut shiyam Ramadhan 1431 H. Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita menunaikan amal-amal mulia di bulan suci Ramadhan. Allahumma amin ya Karim ya Rahmaan.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.