Hutang Bangsa Indonesia kepada Syariat Islam

November 25, 2010

ARTIKEL 12:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang membenci jika Syariat Islam diberlakukan di Indonesia. Kalangan seperti itu misalnya politisi sekuler, tokoh-tokoh NU, kalangan TNI, Polri, tokoh-tokoh akademisi, media-media massa sekuler, aktivis LSM, misionaris gereja, kaum seniman, dll. Di mata mereka, Syariat Islam akan berdampak menghancurkan NKRI. Tetapi pada saat yang sama, setelah merdeka 65 tahun kondisi NKRI justru sangat terpuruk. Sementara faktanya, bangsa ini tidak pernah sebentar pun melaksanakan Syariat Islam.

Bangsa Ini Berhutang Besar Kepada ISLAM.

Saat diatur paham nasionalis-sekuler, keadaan NKRI ancur-ancuran seperti saat ini. Di sisi lain Syariat Islam dibenci setengah mati, padahal bangsa ini tak pernah sehari pun melaksanakan sistem Syariat Islam, sejak merdeka. Sesuatu yang belum pernah dilaksanakan dibenci mati-matian, sedangkan sesuatu yang justru sudah gagal selama 65 tahun terus dipuja-puja. Aneh sekali memang. Syariat Islam tidak boleh dituduh sedikit pun, karena memang belum pernah diterapkan di Indonesia.

Di jaman sebelum NKRI, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah melaksanakan Syariat Islam. Terbukti, hidup mereka baik-baik saja. Tidak pernah terdengar di masa itu ada isu kelaparan, kemiskinan, tragedi kemanusiaan, wabah penyakit, bencana alam mengerikan, dll. Bahkan di masa itu, kaum Muslimin beberapa kali berhasil mengusir penjajah. Hanya karena kelicikan penjajah dan keserakahan bangsawan-bangsawan pemuja syahwat, akhirnya bangsa ini terjajah kaum kolonial. Menurut catatan sejarah, Amangkurat I, putra Sultan Agung di Mataram Yogya, pernah mengumpulkan 5000-6000 ulama atau ustadz dari seluruh Jawa, lalu dia bantai orang-orang shalih itu seluruhnya. Itu pun kalau Mataram dianggap sebagai kerajaan Islam, padahal kemusyrikan di dalamnya pekat sekali.

Sejujurnya, banyak sekali jasa-jasa Syariat Islam bagi bangsa Indonesia. Banyak sekali jasa Syariat Islam bagi keutuhan NKRI. Hanya saja, semua itu tidak tampak di mata orang-orang bodoh. Mereka tahunya hanya membenci, membenci, dan membenci Syariat Islam, sambil tidak tahu malu sehari-hari merasakan pertolongan Syariat Islam. Mereka membenci sesuatu yang bermanfaat melindungi, menyelamatkan, memberi sejahtera, dan kehidupan baginya.

Jasa Syariat Islam sangat besar bagi bangsa ini. Adapun bagi tokoh-tokoh seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Azyumardi Azra, Dawam Rahardjo, Musdah Mulia, Syafi’i Ma’arif, dan sejenisnya; demi Allah jasa-jasa mereka terhadap bangsa ini tidak ada seujung rambut pun dibandingkan jasa-jasa Syariat Islam. Bahkan Syariat Islam telah “menghidupi” orang-orang tersebut. Tanpa Islam, mereka tak ada harganya di mata manusia.

Berikut ini sebagian jasa-jasa Syariat Islam bagi kehidupan bangsa Indonesia:

(1) ISLAM MENYATUKAN BANGSA INDONESIA. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Dalam tubuh bangsa ini terdapat sangat banyak etnis dan berbeda-beda bahasanya. Demi Allah, bukan Pancasila atau Sumpah Pemuda yang menyatukan bangsa ini, tetapi Islam lah penyatunya. Andaikan di negeri ini bukan mayoritas Islam, NKRI tak akan pernah terbentuk selamanya. Lihatlah bangsa-bangsa di Eropa, Afrika, atau Asia yang bukan mayoritas Muslim! Mereka berpecah-belah dalam negeri-negeri kecil, meskipun sama-sama Nashrani, meskipun sama-sama Hindu, Budha, atau penganut Taoisme. Islam membuat bangsa ini bisa disatukan. Padahal perbedaan etnis itu sangat berpeluang memecah-belah bangsa.

(2) SPIRIT ANTI PENJAJAHAN. Tidak dipungkiri, bahwa Islam adalah agama yang sangat anti penjajahan. Islam tidak pernah menjajah siapapun, dan tidak mentoleransi penjajahan dimanapun. Dalam ajaran Islam, penjajahan adalah puncaknya kezhaliman, maka akan dilawan sampai titik darah penghabisan. Sejak jaman Pangeran Baabullah di Ternate, Fatahillah, Adipati Yunus, Sultan Iskandar Muda, sampai era Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cik Di Tiro, sampai era penjajahan Jepang, bahkan sampai era kemerdekaan, Islam selalu menjadi spirit perlawanan anti penjajah. Jendral Soedirman dalam berbagai kesempatan selalu menyebut hadits Nabi Saw yang bermakna, “Siapa yang tak pernah mempersiapkan diri untuk berjihad, atau tidak ada niat di hatinya suatu ketika untuk berjihad, maka dia akan mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” Jika dalam masa modern perlawanan anti penjajahan itu tidak muncul, karena dalam kesadaran bangsa Indonesia kondisi kita selama ini merdeka (padahal sejatinya terjajah).

(3) ISLAM MEWARNAI SEJARAH BANGSA INI. Banyak sekali catatan sejarah yang disandarkan kepada Islam di negeri ini. Mulai dari sejarah kedatangan saudagar-saudagar pendakwah Islam, sejarah kerajaan-kerajaan Islam, sejarah perlawanan Muslim menentang penjajahan, sejarah tokoh-tokoh Muslim, sejarah bangunan-bangunan peninggalan Islam, sejarah karya-karya Muslim, sejarah pustaka Islami, dan sebagainya. Andaikan semua catatan sejarah Islam itu dihapus dari diri bangsa ini, kita akan kehilangan teramat banyak catatan sejarah. Mungkin akan kehilangan 70 % catatan sejarah yang kita miliki.

(4) ISLAM MEMBENTUK BAHASA INDONESIA. Peranan Islam dalam membentuk bahasa Indonesia sangat kuat. Tokoh-tokoh Muslim, media-media Muslim, organisasi-organisasi Islam sudah memilih bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, sebelum ada Sumpah Pemuda tahun 1928. Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Muhammadiyyah, NU, Persis, Al Irsyad, sudah memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, sebelum Sumpah Pemuda. Padahal saat yang sama organisasi seperti Boedi Oetomo lebih suka memakai bahasa Belanda dan Jawa, sebagai bahasa pengantar komunikasi mereka. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata-kata seperti: Kalimat, bait, syair, syarat, wajib, waktu, bina, pasal, masyarakat, rakyat, majelis, dewan, badan, jasmani, musyawarah, wakil, musibah, kitab, kertas, daftar, sakit, kesumat, pikiran, kalbu, lezat, nafas, insan, serikat, paham, hukum, istirahat, sifat, urusan, dll. Belum kata-kata yang sudah jelas merupakan bagian dari Islam, seperti: Al Qur’an, Syariat, Shalat, Sunnah, fiqih, nikah, ukhuwwah, muamalah, Ramadhan, Haji, dll. Semua itu adalah serapan dari bahasa Arab yang dimasukkan oleh bangsa kita ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kalimat ini, “Masyarakat menyadari makna pemahaman dan ilmu dengan akal pikiran.” Dalam kalimat ini seluruhnya diambil dari bahasa Arab, selain ‘dan’ dan ‘dengan’. Andaikan semua sumbangan Islam ini dihapus dari bahasa Indonesia, kita akan kehilangan konten bahasa yang besar. Belum lagi pengaruh bahasa Arab dalam struktur (grammar) bahasa Indonesia.

(5) ISLAM MENJIWAI RUH PANCASILA & UUD 1945. Inilah adalah fakta besar yang selama ini tidak diakui. Bahkan banyak aktivis Islam tidak menyadari masalah ini. Dapat dikatakan, tanpa peranan Islam, bangsa Indonesia tak akan pernah punya Pancasila dan UUD 1945. Dalam Pancasila ada 5 sila, yang masing-masing intinya: Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua nilai-nilai itu diajarkan dalam Islam, seluruhnya. Begitu juga Pembukaan UUD 1945 yang intinya: Sifat anti penjajahan, mensyukuri kemerdekaan sebagai rahmat Allah, cita-cita melindungi jiwa rakyat Indonesia, mensejahterakan bangsa, mencerdaskan bangsa, dll. semua itu sangat kuat dijiwai oleh SPIRIT ISLAM. Dari mana lagi bangsa ini belajar nilai-nilai moral demikian, kalau bukan dari khazanah Islam. (Tetapi bukan berarti pula seluruh isi UUD 1945, terutama bagian batang tubuh, mencerminkan nilai-nilai Islami). Maka itu tidak mengherankan kalau orang-orang Liberal tidak pernah mau menengok Pancasila dan UUD 1945. Mereka selalu berdalih dengan kalimat “Bhineka Tunggal Ika”. Darimana kalimat itu diperoleh? Dari lambang Garuda Pancasila, bagian pita yang dicengkeram kaki garuda itu. Lihatlah, orang-orang Liberal itu mencari dalih apa saja yang bisa dipakai, meskipun hanya sebuah kalimat di kaki garuda.

Baca entri selengkapnya »

Iklan